
Kegelisahan menghampiri gadis ini. Ia tidak bisa menahan linangan air matanya, yang masih menunggu hasil dari operasi sang ibu.
“Bu, Freya selalu mendoakan agar Ibu cepat pulih,” harapnya sembari terus mondar-mandir di depan ruang operasi.
Kemudian ia memijat keningnya yang terasa begitu berat.
Operasi tidak akan berjalan sebentar membutuhkan waktu berjam-jam. Wanita malang ini memutuskan untuk duduk dan tidak henti-hentinya ia memanjatkan doa.
‘Tuhan, tolong kami. Semoga operasi Ibu dilancarkan,” Freya memohon dalam hati.
Ia melamun sejenak, tiba-tiba bayangan wajah pria menyebalkan itu mendatangi pikirannya.
“Kenapa, bayangan wajahnya muncul!”
Freya menggelengkan kepala, ia berusaha untuk memudarkan wajah Daryan yang masih melekat di otaknya.
“Kenapa harus pria itu!” gumamnya kembali.
Ia merasa ada yang salah dengan Daryan Jefferson. Pria yang sepertinya pernah bertemu dengan Freya.
Tiba-tiba ia mengingat kejadian waktu sebelum Alesya di bawa ke rumah sakit elite ini.
Setahun yang lalu ...
“Bu, Ibu harus ke rumah sakit. Tunggu, Freya akan meminta bantuan ya, Bu,” rintih Freya seraya menangis histeris karena melihat Alesya sudah tergeletak di lantai.
Kondisi wanita setengah baya itu sungguh memprihatinkan, ia mengalami batuk berdarah sudah 3 bulan yang lalu.
Namun, Alesya kekeh tidak ingin dibawa ke rumah sakit, karena ia mengetahui kondisi ekonomi keluarganya yang bisa dikatakan memburuk.
Ia hanya bisa mengandalkan gaji putrinya yang tidak seberapa untuk membeli obat dan kebutuhan lainnya.
Alesya tidak ingin merepotkan Freya, yang merupakan tulang punggung keluarga kecil ini.
__ADS_1
“Ti-dak Sa-yang, Ibu masih bisa bertahan,” ucap Alesya terbatah-batah.
Tidak menghiraukan apa yang dikatakan ibunya, Freya segera berlari mencari rumah sakit terdekat.
Freya tidak memiliki pilihan lain lagi. Hanya ada rumah sakit swasta yang dikenal elite untuk kalangan bawah sepertinya.
“Masalah pembiayaan nanti saja, aku harus mencari cara agar Ibu di rawat terlebih dahulu saat ini,” gumamnya yang memberanikan diri ke dalam untuk menanyakan hal ini.
Ia bertanya kepada wanita yang menjaga di bagian resepsionis, “Nona, mohon maaf saya ingin bertanya bagaimana cara memesan ambulance? Ibu saya sedang kritis di rumah.”
Wanita muda yang bekerja di bagian resepsionis berdiri. Ia seperti melihat rendah ke arah Freya karena pakaian wanita ini yang lusuh.
Netra matanya melihat sinis ke arah Freya dari ujung kepala sampai ujung kaki yang tampak sangat khawatir.
“Begini Nona, jika kau ingin menyewa ambulance, kau harus membayar pembiayaan administrasinya dulu.”
Perkataan tersebut sangat berat bagi Freya, karena tabungannya benar-benar sudah habis untuk membeli obat sang ibu yang sangat mahal.
Wanita malang ini meletakkan kedua tangannya di depan dada, ia memohon kembali agar diberikan keringanan dalam penanganan ini.
Belum selesai berbicara, Freya sudah mendapatkan jawaban ketus dari wanita itu, “Tidak bisa, Nona. Aturan di sini, proses administrasi dulu baru kami bisa membantu Anda.”
“Saya janji, Nona. Tolong lah saya,” Freya memohon setulus-tulusnya agar wanita itu bisa memberikan kesempatan kepadanya.
Namun, tiba-tiba ada pria yang mengenakan jas abu dan tatanan rambut begitu klimis mendekati bagian resepsionis. Posisinya ada di depan Freya.
“Ada apa ini?” tanyanya dengan suara serak.
Wanita muda itu menundukkan kepalanya, ia hormat kepada pria yang terlihat berwibawa itu.
Wanita bagian resepsionis itu segera menceritakan apa yang terjadi.
Freya hanya terdiam, ia tidak bisa melihat wajah pria itu. Setelahnya, pria itu segera pergi tanpa melihat ke arah Freya.
__ADS_1
Wanita muda itu menundukkan kepalanya, tiba-tiba ia meminta maaf kepada Freya.
“Mohon maafkan sikap saya tadi, Nona. Atas perintah dari Beliau kami akan mengurus penanganan untuk ibu Anda. Dan Beliau juga memberikan perawatan ibu Anda selama 6 bulan secara gratis, setelah ini kami akan segera memprosesnya.”
Merasa penasaran, Freya bertanya begitu polos, “Nona, jika saya boleh tahu, orang yang memerintahkan Nona, siapa ya?”
“Beliau adalah pemilik dari Royal Hospital ini.”
Ingatan masa lalu itu Freya tepis, “Apakah benar, pria yang aku temui itu adalah Daryan?”
Freya masih ragu, pria yang ia temui di awal itu bukanlah pria yang ia tahu saat ini.
CEO muda yang membantunya sangat baik dan begitu berwibawa, jauh berbeda dengan Daryan.
Atau mungkin Daryan memiliki kembaran?
Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa CEO muda itu adalah pria yang membantunya dulu.
Gleek!
Pintu ruang operasi terbuka, dokter yang menangani Alesya mendekati Freya.
Begitu pula dengan wanita muda ini, “Bagaimana, dok? Hasil dari operasi ibu saya?”
“Berjalan lancar, Nona. Namun, Nyonya Alesya harus menangani perawat khusus setelah ini. Nona sudah bisa pulang, jangan khawatir akan kondisi beliau.”
Rasa yang begitu khawatir sejak tadi perlahan memudar, setelah mendengar ucapan dari dokter tersebut.
Freya menuruti apa kata sang dokter, lagipula tubuhnya begitu lelah dan sangat mengantuk. Ia memutuskan pulang ke rumah.
“Bu, Freya akan kembali datang besok setelah mengajar diplaygrub.”
Baru saja ingin melangkah meninggalkan rumah sakit, ia kembali didatangi oleh Daryan.
__ADS_1
Dan pria itu mengatakan, “Aku butuh kau malam ini!”
Bersambung.