My Beloved CEO

My Beloved CEO
Pertemuan di Club


__ADS_3

Entah mengapa perasaan Freya tiba-tiba tidak enak, setelah mendengar apa yang diucapkan temannya tadi.


Terlebih ia sama sekali belum pernah ke tempat seperti itu.


“Apakah semua pelayan di sana harus tampil cantik dan sexy, Bella?” tanya Freya kepada temannya yang sedang berdandan.


Wanita yang tengah berdandan dengan make up menor dan memakai pakaian glamor itu mengangguk.


“Tentu saja Freya.”


“Cepat pakai dress merahmu itu,” suruh Bella kepada temannya.


Namun, semua pemikiran yang buruk sempat terlintas di otak wanita cantik ini segera membuyar.


Tidak mungkin Bella akan mencelakakannya!


Ia mematuhi apa yang diperintahkan Bella. Freya tampak begitu sexy dan menawan, ia terlihat semakin cantik.


Namun, wanita yang memakai baju berbahan minim ini sangat risih, sejak tadi ia menurunkan dress ketat itu agar menutupi pahanya yang putih mulus.


“Bukan kah pakaian seperti ini terlihat tidak sopan, Bell?”


Heh!


Bella tersenyum remeh, mendengar apa yang dikatakan oleh temannya.


“Mana ada orang di club malam yang berpakaian sopan. Freya ... Freya” Bella menggelengkan kepalanya.


Beberapa menit kemudian, mereka bersiap untuk berangkat ke club malam Victoria.


Hingar bingar kemeriahan club malam membuat semua orang menikmatinya, terkecuali Freya yang tidak biasa dengan tempat seperti ini.


Ritme musik dj menambah semua orang ingin bergojet ria.


“Ayo, Freya ikuti aku,” ajak Bella.


Mereka berdua sedang duduk di sofa yang sudah di pesan terlebih dahulu. Bella seperti sedang menghubungi orang yang akan di temuinya.


Dreet! Dreet!


“Hanphone mu berbunyi, kenapa tidak diangkat?” tanya Daryan.


Secara bersamaan pria ini pun berada di club malam Victoria, karena pikirannya dibuat bimbang oleh Freya.


“Ah, biarkan saja. Ayo lanjut pembicaraanmu tadi mengenai wanita itu,” ucap Daniel, teman Daryan yang sejak tadi mendengar masalah di alami CEO muda ini.


Daryan meneguk alkohol begitu banyak.


Melihat temannya itu begitu kacau, ia tersenyum geli.

__ADS_1


“Tumben sekali aku melihat kau seperti ini Daryan. Aku jadi penasaran dengan wanita muda yang menjadi ibu pengganti Kelvin. Pada saat kau putus dengan Anya, kau bahkan tenang-tenang saja,” tutur Daniel.


Glek! Glek!


Pikiran Daryan tidak terkendali.


“Dia itu beda Daniel, semua wanita yang aku temui pasti akan takhluk kepadaku. Tapi dia tidak, bahkan berani membentak dan melawanku apa yang menurutnya benar.”


Pok! Pok!


Daniel menepuk punggung temannya.


“Aku pikir dia sudah berhasil mendapatkan hatimu,” bisik Daniel dengan senyum mengganggu temannya itu.


Namun, Daryan masih tetap saja mengelak. 


“Aku tidak mungkin menyukainya!” tegas Daryan seraya meminta bartender untuk memberikan dia vodka.


Melihat temannya yang setengah sadar membuat Daniel mengambil alkohol yang akan diminum Daryan.


“Sudah ... sudah, Daryan jangan minum terlalu banyak. Perutmu kan begitu sensitif!”


Daniel menghindari alkohol itu dari Daryan.


“Biarkan aku meminumnya, Daniel. Agar rasa aneh ini hilang, dan bayangan wanita gila itu bisa terhempas jauh,” kata Daryan setengah sadar.


“Kau ini tampan dan memiliki kuasa, mendapatkan wanita seperti itu mudah untukmu Daryan. Aku tahu cara agar kau semangat lagi. Ambilah wanita yang sudah aku bayar, aku tiba-tiba tidak ingin melakukan hal itu.”


Daniel pun memapang tubuh pria tampan itu ke sebuah kamar yang telah di pesannya.


Ia berjalan sembari mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang.


“Bell, kau di mana? Apakah kau sudah membawa wanita yang telah aku inginkan?”


“Sudah Tuan, aku sekarang ada di sofa dan bersama wanita yang Tuan inginkan,” jawab Bella begitu bahagia.


Freya semakin was-was, karena Bella begitu mencurigakan.


“Iyaa baik Tuan, aku akan segera ke kamar 303 dan membawa wanita yang telah Tuan pinta,” jawab Bella dari ponselnya.


Wanita cantik ini mencoba memberanikan diri untuk bertanya kepada Bella.


“Bell, apa maksudmu mengenai wanita yang dia inginkan?”


Bella hanya tersenyum, dan berucap seraya memegangi bahu Freya.


“Kau akan mendapatkan uang banyak, Freya. Kau sempat bercerita tentangku kan, kau harus segera mendapatkan uang dalam jumlah yang begitu besar. Aku akan membantumu, tidak perlu khawatir,” jelas Bella.


"Tapi, bukan dengan cara ini yang ku maksud Bel. Dengarkan aku!" teriak Freya.

__ADS_1


Namun, hal itu tidak sama sekali digubris oleh Bella. Wanita muda ini gelap mata, ia menghalalkan berbagai cara untuk meraup keuntungan dari pria kaya raya seperti Daniel.


Berkali-kali Freya ingin melepaskan pegangan erat Bella, tapi wanita malang ini tidak mampu.


"Aku bukan menjualmu, Freya. Kau hanya perlu melayani Tuan Daniel sejam saja, dan setelah itu kau akan mendapat uang banyak dari ku!"


Freya meneteskan air mata.


Sampai di depan kamar 303. Bella mengetok pintu.


Setelahnya lelaki berparas menawan muncul dari balik pintu.


Ia tersenyum melihat kedatangan Bella dan wanita yang diinginkannya.


"Hallo Bell, lama tidak bertemu. Terima kasih sudah membawa wanita ini." Lirik Daniel ke arah Freya.


Wanita muda tersebut hanya bisa menundukkan kepala saja.


"Sepertinya Nona Freya tidak suka dengan saya,” ucap Daniel sembari sedikit menggoda Freya.


Freya melirikkan tatapannya dengan sinis.


“Tapi aku sangat menyukai wanita sepertimu, Nona. Sifatmu yang menunjukkan bahwa kau tidak ada ketertarikan sama sekali denganku,” lontar Daniel sembari merayu wanita muda itu.


Daniel berbisik kepada Bella, “Bel saat ini aku sedang tidak mood. Tiba-tiba kepalaku pusing sekali, tapi tenang saja wanita ini tetap melayani temanku. Aku pulang lebih dulu yaa.”


Wanita muda itu menepuk-nepuk pelan bahu Bella.


Kemudian Daniel melirik Freya sembari mendekatkan bibirnya ke daun telinga wanita cantik tersebut. “Nona Freya, pria yang kau layani saat ini adalah pria yang sangat tampan. Dia akan membuatmu mabuk kepayang dan kau benar-benar di ajak ke surga duniawi dengannya.”


“Bel, aku serahkan semua kepadamu ya,” teriak Daniel sembari menaikkan tangannya.


Bella segera menyeret Freya untuk masuk ke kamar tersebut.


“Ayo, Freya. Kau harus melayani teman Tuan Daniel.”


Tanpa diberikan kesempatan untuk berbicara, Freya di dorong dan ia di kunci dari luar dengan Bella.


“Bel, aku mohon padamu buka pintunya. Aku tidak bisa melakukan hal ini, tolong Bell,” lirih Freya seraya mengetok-ngetok pintu.


“Kau harus menikmatinya Freya, memang awalnya sakit nanti juga kau ketagihan,” teriak Bella dari luar, setelahnya ia segera meninggalkan Freya.


‘Sungguh tega kau Bell, aku kira kau benar-benar temanku.’ Freya membatin.


Freya menutup wajahnya yang hampir mengeluarkan air mata. Tidak tahu apa yang bisa ia perbuat lagi.


Padahal ia sudah lolos dari jeratan mengerikan yang dibuat oleh Daryan, tapi kali ini ia harus melayani seorang pria yang tidak ia kenal.


Lalu ia melihat di atas ranjang, pria yang sedang tertidur pulas.

__ADS_1


“Apakah aku harus melakukannya dengan pria ini?”


Bersambung.


__ADS_2