
Freya berteriak, tubuhnya kaku dan deruan tangisan menghiasi mata indahnya. Kini ia berada dipangkuan sang ibu yang sedang mengeluarkan darah begitu banyak dalam mulutnya.
Darah tersumbar di wajah Freya. Hal ini membuat wanita itu gemetaran, mulutnya gagap berkata pada Alesya, “I-bu yang ku-at yaa ... Tung-gu Fre-ya a-kan me-manggil dok-ter un-tuk se-gera me-nangani Ibu.”
Wanita yang sangat berbakti ini mengusap air mata yang tidak bisa berhenti.
“Bu, tunggu sebentar ya.” Freya dengan cepat mencari bantuan.
Namun, pada saat Freya ingin keluar ada 4 dokter ahli segera masuk dan membawa Alesya ke ruang operasi.
Hal ini membuat Freya terkejut karena ia melihat Daryan ada di balik pintu bersama sejumlah dokter ahli lainnya.
Sosok pria tampan yang sangat Freya benci kini menampilkan kewibawaannya.
“Saya benar-benar kecewa dengan kinerja kalian semua! Apakah sebagai dokter kalian ingin pasien mati terlebih dahulu karena mereka tidak mampu membayar administrasi rumah sakit? Apalagi mengatakan harus membayar pembiayaan rumah sakit terlebih dahulu baru bisa di operasi?”
Daryan menggelengkan kepalanya, tampak raut wajah pria ini begitu kecewa kepada para dokter yang telah bekerja di rumah sakit miliknya.
Pada saat Freya bercerita tentang kisah ibunya terkait penunggakan pembiayaan rumah sakit di Royal Hospital, ada oktum dokter yang tidak mau melakukan operasi padahal penyakit diderita Alesya begitu parah, pria ini telah menghubungi pihak rumah sakit.
Baru beberapa detik yang lalu, ia memerintahkan 4 dokter kepercayaannya untuk segera menangani kasus dari Alesya Baker.
Daryan tidak menyadari, putri Alesya ternyata sudah ada di balik pintu ruang inap. Freya bersembunyi sambil mendengar teriakan tegas dari Daryan untuk para dokter yang bekerja dengannya.
“Saya tidak ingin mendengar ataupun mengetahui tentang hal ini lagi! Keselamatan pasien adalah prioritas utama rumah sakit ini. Jika saya sampai mengetahui ada oknum seperti itu lagi, secara hormat saya mengatakan Anda semua harus keluar dari Royal Hospital saat ini juga!”
Tangan Freya yang menutupi mulutnya gemetaran. Ternyata Daryan tidak seangkuh dan searogan yang ia bayangkan.
Daryan dan para dokter telah bubar, kaki wanita muda ini ikut gemetaran. Dan ia tersimpuh di atas lantai dingin rumah sakit, membayangkan ibunya yang kritis.
Sedetik saja Freya terlambat datang, mungkin nyawa sang ibu sudah melayang.
Ia menangis dengan melipat lutut dan meletakkan kepalanya di atas tangan.
__ADS_1
Wajah dan sebagian anggota tubuhnya berlumuran darah dari Alesya. “Ibu, apakah Ibu baik-baik saja? Freya berharap operasi Ibu bisa berjalan lancar.”
Ternyata Daryan tidak benar-benar pergi. Ia masih berdiri di balik tembok ruang inap Alesya.
Tiba-tiba ia mendengar tangisan keras.
“Siapa yang menangis kencang di malam hari?” Daryan melihat jam mewahnya menunjuk pukul 7 malam.
Ia mencoba mencari sumber suara dan masuk ke dalam ruang inap, lalu ia melihat ada seorang wanita yang menangis.
Namun, ia tidak bertanya apapun. Ia hanya melihat wanita itu dari atas dan memutuskan untuk kembali keluar.
Freya tidak merasa ada seseorang yang sempat menegoknya. Setelah beberapa menit berlalu, wanita yang menyadari harus segera bangkit ini pun memutuskan mencari sang ibu di ruang operasi.
Greekk!
Pada saat Freya membuka pintu, ia melihat sosok lelaki yang sejak tadi menunggunya di depan ruangan inap tersebut.
Daryan menempelkan tubuhnya di sisi tembok dan melipat kedua tangan.
Tampak cuek melanjutkan langkah ke arah ruang operasi, Freya sama sekali tidak menoleh ke Daryan.
“Hey, mau kemana kau?” sapa Daryan dengan suara seraknya.
‘Sepertinya aku mengenal suara itu?’ tanya Freya dalam hati dan segera menoleh ke arah belakang.
Freya terkejut, ternyata Daryan sejak tadi masih terdiam di sini.
“Kenapa kau masih ada di sini?”
“Masih? Berarti kau tahu sebelumnya aku ada di sini?” tanya balik CEO muda pemilik Royal Hospital ini.
Wanita yang terlihat malang karena rambutnya acak-acakan, sebagian tubuh terdapat bercak darah serta mata yang lebam membuat aura kehidupan wanita ini tenggelam.
__ADS_1
“Ckckck!” Daryan menggelengkan kepala dan kini ia mulai menatap kasian kepada Freya.
“Lihatlah kondisimu saat ini, sungguh memalukan. Rambut acak-acakan dan bercak darah dimana-mana. Kau berjalan di lorong rumah sakit ini bisa dilempari karena mungkin orang-orang akan mengira kau adalah arwah gentayangan, yang akan beraksi menakut-nakuti manusia,” lanjut Daryan yang menilai kondisi Freya.
Wanita tersebut tidak diam, entah emosinya membeludak dan ia berteriak kepada pria itu.
“Mau aku dikira setan, makhluk halus, arwah gentayangan. Kau tidak pantas mengatakan hal seperti itu. Apakah kau pikir semua ini adalah lelucon, hah? Ibuku sedang di rawat dan kini sedang menjalankan operasi. Bercak darah yang menempel ditubuhku adalah darah yang tersumbar dari Ibu.!”
Daryan terdiam tidak menjawab teriakan dari wanita yang ia benci itu.
“Kau bisa saja mengatakan hal tadi karena kau tidak pernah mengalami di mana ibumu hampir kehilangan nyawa dengan begitu kristis dihadapanmu!” lanjut Freya yang tidak bisa menahan emosi lagi terhadap Daryan.
Freya tidak lagi mempedulikan Daryan, ia segera melanjutkan langkahnya menuju tempat tujuan untuk menanyakan kondisi sang ibu.
Pria tampan ini mematung, bibirnya tidak bisa mengatakan hal apa-apa lagi. Baru kali ini dia dibentak dengan seseorang semasa hidupnya.
Sungguh luar biasa keberanian Freya memarahi seseorang yang sangat berpengaruh di kota ini.
Namun, Daryan juga tersadar perkataannya yang ia lontarkan tadi mungkin sangat keterlaluan. Tidak pantas ia berucap seperti itu karena ini terkait akan nyawa seseorang.
“Tuan, apakah Anda tidak apa-apa?” ujar seseorang yang berada di sekitar Daryan. Ia adalah orang kepercayaan Keluarga Jefferson untuk menjaga CEO muda ini dari kecil.
“Tidak Sean, aku baik-baik saja. Kau bersembunyilah lagi.”
“Tapi Tuan, wanita itu sudah berkata lancang kepada Anda. Apa yang harus saya lakukan kepadanya?” tanya Sean Smith kembali.
“Sudah kukatakan tidak apa. Dan ingat, kau jangan menyentuh wanita menyebalkan itu karena Kelvin sangat menyukainya. Aku sungguh lelah dan ingin pulang, kau lanjutkan saja pekerjaanmu,” perintah Daryan kepada pria yang mengenakan topi hitam tampak begitu misterius.
Freya menunggu sang ibu yang masih menjalankan operasi selama 5 jam. Ia menyesali perkataannya tadi yang mungkin begitu lancang kepada Daryan.
Ia pun baru tersadar bahwa Daryan Jefferson merupakan CEO muda pemilik Royal Hospital ini.
“Apakah perkataanku sangat keterlaluan kepadanya? Apa yang harus aku lakukan? Ternyata aku sedang berhadapan dengan orang berpengaruh di kota ini? Berarti CEO muda yang pernah menolongku untuk membawa Ibu kemari adalah dia?”
__ADS_1
Bersambung.