
Bulu kuduk Freya merinding mendengar perintah itu, terlebih Daryan tersenyum seperti ingin melancarkan suatu niat.
Karena ada Kelvin, Freya terdiam dan terus mengikuti Daryan.
“Kenapa kau mengikuti, Freya? Sudah ku bilangkan tadi langsung saja ke kamarku.” Pria itu memberhentikan langkah menatap wanita yang ingin ia nikahi minggu depan.
“Tapi Tuan,” ragu Freya.
“Turuti saja perintahku!”
Karakter Daryan tetap saja tidak bisa berubah, ia masih suka memerintah orang dengan sesuka hati.
Daryan mengangkat dagunya untuk memerintahkan Hana mengantar Freya ke kamar.
“Pelayan Oh, tolong antarkan istriku ke kamar!”
Sontak hal ini membuat pelayan yang terkenal akrab dengan tuannya itu terkejut.
Bola matanya melirik Freya.
Sembari segera menundukkan kepala dan berucap, “Baik Tuan Daryan.”
Meski pernah menjalin hubungan dengan Anya Lawrence, sekalipun Daryan tidak mengizinkan mantan kekasihnya itu masuk ke kamar.
Freya menatap datar pria yang begitu lembut dengan Kelvin.
“Nona Freya, ayo kita ke kamar Tuan,” ajak Hana.
Wanita itu bungkam, tak berbicara lagi. Namun, Hana penasaran sekali.
“Nona, apakah benar yang dikatakan Tuan jika ...”
“Aku bukan istri dia, Hana.” Lirik Freya pasrah.
‘Sepertinya ada sesuatu dengan Tuan.’ Hana membatin.
“Silahkan Nona, beristirahatlah.”
Freya membungkuk, hormat kepada Hana.
Ketika Freya masuk ke kamar itu, ia mengingat suatu malam yang mengcekam. Daryan mengambil kesucian Freya dan itu membuatnya berteriak.
__ADS_1
AAAA!
Namun, entah mengapa ia senang ketika Daryan memanggilnya dengan sebutan istri.
Ia benar-benar tidak paham dengan jalan pikir pria itu.
Tidak mandi, Freya hanya duduk di sofa empuk Daryan dan melihat ada sebuah foto kecil yang terpajang di atas meja.
Ia menyempitkan manik matanya sembari menyondongkan tubuh, penasaran siapa yang berada di foto itu, ia pun beranjak.
Sontak hal ini membuatnya benar-benar tercengang.
“Kenapa foto masa kecilku ada di sini?” tanya Freya tak habis pikir.
Greek!
Seperti ada yang buka pintu, Freya melirik lalu meletakkan foto itu kembali.
“Sedang apa kau di sana?” tanya Daryan mendekat.
Layaknya terciduk seperti pencuri, Freya menggelengkan kepala serta manik matanya melirik entah kemana.
“Anu, tadi aku hanya ...”
“Apakah kau masih ragu mengenai aku ini Ian?”
“Aku memoto mu pada saat bermain di taman bunga belakang rumahku, apakah kau masih ingat itu? Ohh iya, kau ingin menikah juga denganku kan?” lanjut Daryan mengingat masa lalu.
Freya menunduk, seperti ada yang ia pikirkan.
“Jadi memang benar kau?”
“Iya, aku ini adalah calon suamimu,” jawab Daryan tersenyum.
Tidak hanya itu, Daryan masih menyimpan foto-foto lainnya serta bukti lainnya seperti barang yang pernah Freya beri.
“Ini boneka rajut yang kau berikan kan?” Daryan mengambil sesuatu benda yang sangat ia jaga.
Seketika air mata Freya menetes.
Sebegitu Ian menghargai pemberiannya dulu.
__ADS_1
“Itu adalah sesuatu yang kuberikan kepada cinta pertamaku.” Freya mengusap matanya yang telah basah.
“Kau juga menyimpan kalung permata pemberianku dulu, terima kasih ya, Freya,” tutur Daryan lembut.
Setelah mendengar itu, Freya menangis sesegukan tak berdaya. Ia masih tidak menyangka, pria yang menyebalkan ini adalah sosok pria idamannya.
Tidak ada yang bisa mengalahkan sosok Ian sampai saat ini direlung hati, Freya.
“Hey, kenapa kau menangis.” Peluk Daryan.
“Aku masih belum menyangka, kau adalah pria yang kutunggu-tunggu sejak lama. Ku kira aku tidak akan pernah bertemu denganmu, Kak Ian.”
Daryan tersenyum dan mengelus-ngelus kepala Freya dengan halus.
“Aku juga masih tidak menyangka, kau adalah Yaya!”
Daryan begitu lelah, ia memutuskan untuk membasuh diri dan setelahnya di susul Freya.
Dengan rambut basah dan hanya mengenakan kemeja size jumbo milik Daryan, membuat inner beauty Freya terpancar.
Daryan memalingkan padangannya, pipinya memerah karena melihat pancaran kecantikan wanita itu.
‘Sial, kenapa dia sangat cantik sekali!’
Pada saat Freya mendekat, karena ia ingin mengambil ponselnya yang ada di atas meja. Daryan berkata, “Tolong jangan dekat-dekat.”
Ia berucap hal itu karena ingin menghindari kesalahannya untuk kedua kali. Dalam hati tersirat kali ini ia harus menjaga Freya, bukan malah merusakannya. Namun, beda dengan logikannya yang mengatakan bahwa Freya sudah menjadi milik dirinya seutuhnya.
“Lho kenapa? Aku hanya ingin mengambil ponselku saja, Kak.”
Daryan tidak berani melihat wajah Freya, ia beranjak ke ruang kantor yang ada di samping kamarnya.
‘Sabar Ian, kau tidak boleh melakukan hal itu lagi!’
Freya hanya melirik gerak-gerik Daryan yang begitu aneh.
‘Apakah ia sering seperti ini?’ tanya keheranan tanpa menghentikan Daryan.
Di ruang kerja, ia duduk dengan menyilangkan kakinya sembari memijat-mijat kepala. Entah apa yang dipikirkan pria ini.
Namun, tiba-tiba ponselnya berbunyi.
__ADS_1
“Temui aku sekarang juga di apartemen, jika tidak aku akan lompat dari lantai 25!” ancam seseorang dari dalam telepon.
Bersambung