My Beloved CEO

My Beloved CEO
Bebas dari Jeratan


__ADS_3

Hosh! Hosh!


Napas Freya terasa sesak, baru pertama kali ia melakukan hal ini bersama seorang pria.


Sontak Daryan segera memberhentikan apa yang menjadi di luar kendalinya. Ia menatap bibir Freya masih basah akibat liurnya.


‘Astaga aku sudah bertindak di luar kendali!’ Daryan membatin.


Kemudian, ia memalingkan pandangannya. Ia tidak ingin terus berada di situasi seperti ini, jika tidak ia akan menghancurkan Freya.


Daryan memegangi bahu wanita muda itu dan mengangkatnya. Freya di letakkan di samping dan ia memijat kepala sembari, “Cepat pakai saja pakaianmu!”


Entah mengapa kepalanya terasa begitu berat karena hasrat yang ingin ia keluarkan tidak bisa ia salurkan.


‘Aku tidak mungkin melakukan hal itu dengan wanita ini!’ tegasnya dalam hati.


Daryan tidak ingin membuat Freya benar-benar melakukan hal tersebut bersamanya. Sebenarnya sejak awal ia hanya ingin menakuti Freya, karena ia tidak suka dengan tingkah laku dari wanita muda ini.


Ia menggelengkan kepala sembari memijat-mijatnya.


Melihat hal itu Freya memberikan sentuhan lembut kepada Daryan di bagian bahunya.


“Apa kau tidak apa-apa, Tuan Daryan?”


Namun, Daryan dengan kasar menepis sentuhan itu.


Tatapannya tiba-tiba begitu sinis, lalu membentak Freya, “Sudah kukatakan kepadamu, cepat pakai busanamu!”


Freya sungguh bingung, tanpa bertanya lagi ia memutuskan untuk mengambil baju dan celananya itu.


Sambil bergumam, “Ia benar-benar pria gila yang pernah aku temui!”


Freya sudah rapi dengan pakaian yang sopan serta tertutup, ia berdiri menunggu arahan Daryan. Sejak tadi Daryan hanya melamun dan diam tanpa mengatakan apa pun.


Daryan masih membayangkan ketika ia keblablasn, maka ia sudah menikmati hal itu bersama Freya saat ini.


Namun, Daryan memikirkan akibatnya. Ia tidak ingin Freya mengalami tekanan mental, atas apa yang ia perbuat.


Memaksa untuk melayaninya dengan wanita yang tidak pernah melakukan hal itu, membuat Daryan serasa tidak memiliki hati sama sekali.


Daryan menutup wajahnya sembari menggelengkan kepala kembali.


Hah!


“Apa sih yang aku lakukan tadi!” teriaknya.


Kali ini Freya tidak akan bertanya, ia masih menunggu Daryan untuk memerintahkannya.


Daryan bangkit dari ranjangnya yang super empuk itu, kemudian ia meletakkan kedua tangan di kantong celana panjangnya sambil memandangi Freya.

__ADS_1


“Kau beruntung, Freya! Saya enggan melanjutkan permainan itu, tapi tidak menuntut kemungkinan saya akan memintanya karena kau belum melunasi hukuman tersebut! Sekarang juga kau keluar dari kamar saya!” suruh Daryan dengan tatapan tajamnya.


Atas perintah Freya menunduk dan hatinya sungguh bahagia karena Daryan menurunkan niatnya.


Yes!


‘Akhirnya aku terbebas dari pria gila itu!’ Freya bermonolog.


Freya tersenyum sumringah dan ia tidak sadar tingkahnya itu dilihat oleh semua pelayan di sana terutama, Oh Hana.


Hal itu membuat wanita setengah baya ini sangat penasaran.


Ia mendekati Freya memberi salam, “Nona Freya, maaf saya menanyakan hal ini. Apakah Tuan Daryan membuat Anda bahagia?”


Hana tersenyum-senyum sendiri, karena ia baru pertama kali melihat ada seseorang yang dipanggil secara pribadi dengan Daryan tersenyum.


Freya terkejut, ia menoleh ke arah kanan.


“Ahh, tidak ada apa Hana,” elak Freya kepada Hana.


Hana tahu, pastinya Freya tidak akan langsung ingin bercerita. Kemudian, Hana berucap, “Nona Freya, sejak tadi Tuan Kelvin sudah menunggu Anda di kamarnya. Ia tidak mau makan malam ataupun melakukan apa, katanya ia ingin bertemu Anda.”


Freya mengangguk, ia segera ke kamar Kelvin yang diantar dengan Hana.


Di sampainya di kamar, Freya disambut bahagia dengan Kelvin.


Begitu pula Freya mendekat dan mereka saling memberikan pelukan hangat satu sama lain.


Namun, beberapa menit kemudian Daryan membuka pintu kamar Kelvin.


Ia melihat putra bermain bersama Freya.


“Kelvin, biarkan ibu gurumu pulang sekarang!”


Sontak perkataan itu membuat anak kecil ini terkejut, ia baru saja didatangi dengan wanita yang sangat ia sayangi, tapi kenapa ayahnya berbicara seperti itu.


Freya hanya terdiam, ia melihat ke arah Daryan yang mengatakan hal tersebut secara tiba-tiba.


Namun, menurut Freya apa yang bicarakan Daryan membuatnya senang, karena saat ini juga ia bisa segera menjengguk sang ibu yang masih berbaring di rumah sakit.


“Kenapa, Evin ingin Ibu Eya tetap di sini, Pa ...” ucap Kelvin begitu manja kepada Daryan.


Pria itu memasang wajah datar, tumben sekali ia memberikan ekspresi seperti itu kepada putra yang sangat ia cintai ini.


“Kelvin, tolong kali ini turuti apa yang Papa perintahkan ya, Nak.”


Setelah itu ia memanggil Hana, “Pelayan Oh, tolong urus Kelvin. Saya ingin berbicara sebentar dengan Freya.”


“Ikuti saya!” suruh Daryan kepada Freya.

__ADS_1


Freya menuruti apa yang diperintahkan pria ini, sembari melihat ke arah Kelvin yang ingin menangis akan kepergiaannya.


“Pa, tapi Ibu Eya akan ke sini lagi kan?” teriak Kelvin bertanya.


“Iya, tentu saja Sayang.”


Di sisi lorong, Daryan berhenti ia menghadap ke arah wanita cantik itu.


“Sekarang juga kau boleh pulang, besok kau mengajar kan? Dan kau ingin menjenguk ibumu juga pastinya.”


Nada bicara Daryan beda, kini sedikit agak halus.


Namun dengan tatap sama yang begitu tajam.


Dalam hati Daryan berbicara, ‘Jika wanita ini masih di mansionku, pastinya aku sudah gila dan bertindak seenaknya! Aku harus mengusirnya dengan cara halus seperti ini.’


Freya sedikit tidak percaya dengan tindakan Daryan yang berubah.


‘Kenapa pria ini bersikap baik? Apa mungkin ada hal lain yang tersirat di baliknya?’


Daryan memerintahkan supir pribadi miliknya untuk mengantar Freya pulang.


Secara bersamaan, Freya mendapatkan pesan dari temannya mengenai ada pekerjaan part time malam ini di club.


Kebetulan restoran Italia tempat ia bekerja sekarang sedang tutup.


Di dalam mobil Freya menjawab tawaran dari temannya itu, “ Baik Bella, aku akan segera menuju ke tempatmu sekarang.”


Hal itu adalah kesempatannya untuk mencari rejeki tambahan, agar ia bisa melunasi hutangnya dengan Daryan.


Ia tidak mau selamanya bekerja menjadi istri kontrak Daryan. Meskipun, ia tidak tahu sampai kapan dirinya baru bisa mengumpulkan uang dalam jumlah besar untuk bebas dari pria angkuh tersebut.


“Bagaimanapun aku harus membayar hutangku dengan Daryan!” gumamnya.


Freya menyuruh supir untuk diberhentikan, karena rumah Bella ada di dekat sini.


“Tuan, antar aku sampai di sini saja.”


Supir itu mengangguk.


Ia segera menelpon, “Bell, aku sudah di depan rumahmu.”


Bella menyambut Freya, dan mereka bersiap-siap untuk ke tempat hiburan malam itu.


Sebenarnya Freya enggan bekerja di sana, tapi demi hutangnya lunas, pekerjaan apa pun akan ia lakoni. Lagian kata Bella, Freya hanya memberikan minuman saja tanpa melakukan hal aneh.


“Freya, nanti kau harus tampil cantik dan sexy yaa, aku akan mengenalimu dengan seseorang!”


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2