
Deg!
Entah mengapa hati Freya seperti terasa sesak. Ia memegangi dada, napasnya susah untuk di atur.
“Kau kenapa, Freya?” tanya Daryan cemas.
Pernapasan Freya tidak dapat dikontrol, bahkan ia sudah untuk menarik napas dan hal itu membuat tubuhnya lemas. Dengan cepat Daryan menggendong wanita itu menuju parkir mobil.
Brraaggh!
“Pak Daryan?” teriak Clara kebingungan melihat wajah Daryan yang begitu khawatir dengan posisi menggendong Freya.
“Pak, apakah saya perlu meminta supir untuk mengantar Anda?” Clara mengikuti Daryan, dengan berlari.
Kaki Daryan sungguh panjang, sehingga membuat langkah kakinya begitu cepat.
“Tidak perlu Sektretaris Clara. Saya saja yang akan mengantar Freya, dan tolong hubungi pihak Royal Hospital untuk menyiapkan ruang VIP!” suruh Daryan kepada Clara.
“Baik, Pak Daryan!” Clara mengangguk dan ia kembali ke meja kerja untuk segera menghubungi pihak rumah sakit.
Dengan menginjak pedal gas begitu kuat, mobil mewah Bugatti La Voiture Noire keluaran dari negara Prancis ini melaju dengan kecepatan tanpa batas.
‘Kenapa ekspresi wajahnya sama seperti Yaya, pada saat ia meninggalkanku untuk selamanya?!’
***
“Tuan Jefferson, sepertinya Ian dan Yaya akan tumbuh menjadi pria dan wanita yang tampan dan cantik. Apakah kita tidak mencoba menjodohkan mereka sejak kecil?” ujar pria yang memiliki senyum bersahaja kepada sahabatnya.
Heh!
Pria yang tengah duduk santai di taman bunga, dikediaman mewahnya tersenyum bahagia.
Ia meneguk teh sembari menjawab pertanyaan rekan bisnisnya itu, “Saya baru saja ingin mengatakan hal ini, Tuan Burton. Saya sangat setuju dengan pendapat Anda, lagian melihat kedekatan Ian dan Yaya membuat saya bahagia.”
“Jika Yaya sudah berusia 23 tahun dan Ian berusia 27 tahun kita gelarkan pernikahan di tanah kelahiran Saya, di London,” tegas Burton kepada temannya itu.
__ADS_1
“Saya setuju,” sahut Jefferson.
Mereka baru saja kenal setahun, dalam project membangun properti dan bisnis farmasi di New York. Namun, kedua lelaki setengah baya ini sudah sangat akrab sekali, bahkan mereka akan menikahkan masing-masing putra putrinya suatu saat nanti.
“Yaya Sayang, sini Nak. Waah bidadari ayah yang sangat cantik,” ucap Burton sembari memeluk putri kecilnya.
Ian pun juga mendekati sang ayah.
Pria yang sejak kecil memiliki wajah bak pangeran seperti di negeri dongeng itu berbisik kepada ayahnya, “Pa, wajah Yaya sangat cantik ya. Apakah Ian boleh menikahinya ketika sudah dewasa nanti?”
Mendengar ucapan putra tunggalnya yang baru berusia 14 tahun itu, membuat Jefferson menahan tawa. Ia tidak habis pikir, Ian sudah bisa mengetahui gadis cantik.
Wajah Jefferson memerah, ia menutup bibir. Ia sangat berusaha agar tawanya tidak terlihat putra kecilnya itu.
“Pa, kenapa? Apakah ada yang salah dari ucapan Ian tadi?” tanya lelaki kecil itu sembari memegangi lengan sang ayah.
Ian selalu melihat Yaya dengan tatapan berbinar, ia ingin hidup bersama dengan cinta pertamanya ini selamanya.
Begitu pula Yaya, ia melihat Ian seperti sosok yang dapat menjaganya dari anak-anak usil yang suka mengganggunya.
“Yaya, ketika aku sudah besar nanti, maukah kau menjadi istriku?” Ian selalu mengatakan hal manis kepada Yaya.
Gadis cantik itu mengangguk.
Namun, tiba-tiba ada bencana gempa bumi yang sangat dahsyat datang menghampiri kota New York 13 tahun yang lalu.
Pada saat itu, Ian dan Yaya sedang bermain. Tapi sayangnya, Yaya tertimbun partikel reruntuhan.
Ian berusaha keras agar bisa menyelamatkan Yaya, tapi sayang semenjak itu cinta pertamanya dan rekan bisnis sang ayah tidak ada kabar sama sekali.
***
Di ruang VIP, Daryan bermimpi tentang hal itu kembali.
“Aaaa! Tidak!” Ia berteriak kencang di samping Freya yang sedang terlentang di brankar.
__ADS_1
Hussh! Huussh!
Daryan mengatur napasnya. “Hah! Ternyata aku sedang bermimpi!” ujarnya sembari memegangi dada.
Sampai saat ini, peristiwa 13 tahun silam merupakan kejadian yang tidak bisa ia lupakan.
Ia sangat menyesal, seandainya dirinya waktu itu memiliki kekuatan lebih, maka Yaya akan selamat dan mungkin mereka akan menjadi sepasang suami istri saat ini.
Tapi kenangan hanyalah kenangan, bayangan Yaya selalu menghantui Daryan.
Entah mengapa, semenjak ia bertemu dengan Freya. Daryan seperti melihat sosok Yaya versi dewasa, tapi ia bersikeras cinta pertamanya memiliki sifat lemah lembut. Tidak seperti Freya yang sangat kasar dan seperti laki-laki, suka melonjorkan pukulan maut.
“Tidak mungkin wanita ini adalah Yaya!” gumamnya.
Dengan detail ia melihat wajah Freya yang masih berbaring tak berdaya.
“Apakah ia memiliki sakit asma? Kata dokter ia mengalami trauma yang luar biasa? Trauma apa yang penah ia alami sampai membuatnya seperti ini?” celetuk Daryan seraya memegangi lembut pipi Freya.
Tanpa sadar, pria yang bisa dikatakan susah tertarik dengan wanita ini segera melepaskan sentuhan lembutnya itu.
“Astaga! Kenapa aku malah menyentuhnya? Apakah aku hanya terhanyut oleh kenangan Yaya? Tapi tidak mungkin Freya adalah Yaya, secara wajah cinta pertamaku itu seperti bidadari. Sangat berbeda jauh dengan wanita ini!”
Daryan kembali memperhatikan wajah Freya, tapi memang benar semakin ia melihat secara detail Freya persis dengan Yaya.
Pria ini juga memperhatikan kalung yang Freya kenakan.
“Sepertinya kemarin-kemarin ia tidak mengenakan perhiasan di lehernya,” gumam Daryan seraya ingin melihat mainan kalung itu.
Hah!
Sontak ketika melihat mainan dari kalung itu, Daryan terkejut. Bola matanya membesar dan tangannya gemetaran, tiba-tiba ia meneteskan air mata.
“Permata biru yang aku berikan kepada Yaya dulu!”
Bersambung.
__ADS_1