My Beloved CEO

My Beloved CEO
Wajah Familiar


__ADS_3

Sreekk!


“Kenapa ia lama sekali? Sudah ku bilang, Kelvin benar-benar menginginkannya saat ini!” geram Daryan sembari membuka gorden di mana Freya berendam.


Bola mata Freya membesar, ia sangat terkejut, “AAAAAAAAAAAA!”


Teriakan wanita cantik begitu keras. Ia segera menutupi gundukan tebal yang hampir saja di lihat Daryan.


Untung saja air dalam bathtub berlinangan busa, sehingga tubuh Freya tidak bisa diekspos oleh mata Daryan.


Pria ini pun kaget, ia memalingkan pandangannya dan segera berkata, “Cepatlah! Kelvin sudah menunggumu!”


Tanpa mengatakan apa pun, Daryan kembali menutup gorden itu.


Deg! Deg!


Ia memegangi dadanya, detakan kencang terdengar. “Apakah tadi aku melihatnya?”


Pria ini pun hanya menggelengkan kepala dan kembali berceletuk, “Wanita kampungan itu bukan tipeku!”


Daryan menunggu Freya di kamar sang putra.


“Pa, apakah bena Ibu Eya datang kemali?”


Sejak tadi Kelvin sudah tersadar, dan Daryan berjanji kepada putranya ini untuk mengajak Freya ke kediamannya.


Daryan mengelus-elus rambut Kelvin dan menatap dengan penuh cinta kepada putranya itu.


“Iya Sayang, Ibu Eya sebentar lagi kemari. Tunggu ya ...” Daryan mengecup kening putranya.


Namun, tidak henti-henti ia membayangkan kejadian sebelumnya.


Namanya seorang pria, tidak ada yang dapat menghindari pemandangan indah seperti tadi!


Tok! Tok!


“Permisi Tuan Daryan, saya mengantar Nona Freya untuk menemui Tuan Kelvin,” ucap wanita setengah baya, pelayan kepercayaan Daryan.


“Masuk saja Oh, pintunya tidak dikunci.”


Hana membuka pintu dan ia segera mempersilahkan Freya untuk masuk ke dalam, “Silahkan Nona, Tuan sudah menunggu Anda.”


Freya menganggukkan kepalanya, “Lalu kau tidak ikut Hana?”


Hana menggelengkan kepala, “Tidak Nona, saya menunggu di luar saja.”

__ADS_1


Freya melangkahkan kaki dengan perlahan-lahan untuk mendekati Kelvin. Secara bersamaan Daryan menoleh ke belakang dan bola matanya bergerak dari atas sampai ke bawah, melihat penampilan Freya.


‘Piyama? Dia memakai piyama?’


Tatapan Daryan begitu beda hal ini membuat Freya mengkerutkan dahinya.


“Kau sedang melihat apa, Tuan Daryan?”


Daryan kembali menggelengkan kepalanya, membuyarkan pikiran yang tidak-tidak.


Mendengar suara dari orang yang dikenal, membuat Kelvin menaikkan kepalanya untuk melihat Freya.


“Ibu Eya,” panggil Kelvin sangat bahagia.


Freya pun segera mendekati anak murid kesayangannya itu, “Kelvin, apakah kau sudah baikan Sayang?”


Namun, ketika Freya melangkah menuju ke arah anak kecil tersebut, Daryan menarik tangan Freya, ia mendekati mulutnya ke daun telinga ibu angkat Kelvin.


“Jangan sampai membuat Kelvin cemberut, atau bahkan menangis, jika aku sampai melihatnya tamat riwayatmu malam ini!”


‘Tamat riwayat, maksudnya apa?’ Freya tidak mengerti dengan maksud Daryan.


CEO muda itu duduk di sofa masih di dalam kamar Kelvin. Setiap detik dan menit melihat gerak-gerik wanita yang ia curigai adalah wanita pemeras harta.


“Ibu Eya, Evin sangat senang Ibu ada di sini,” tutur Kelvin memberikan senyum manis kepada ibu gurunya itu.


“Ibu dengar Kelvin sakit. Ibu harap Kelvin cepat sembuh yaa, Ibu akan semangat mengajar kamu dan teman-teman Kelvin juga.” Suara Freya begitu lembut, ia sekali-kali menyentuh pipi putra dari Daryan.


Horee!


Entah apa yang dirasakan Kelvin saat ini. Ia begitu bahagia, senyumnya benar-benar terpancar. Hal ini membuat Daryan semakin terheran.


“Apa yang diucapkan wanita itu? Kenapa Kelvin sangat bahagia?” gumamnya sambil meninggikan leher seperti jerapah.


Pandangannya tidak pernah putus, ia ingin memastikan bahwa Kelvin aman.


Daryan menoleh jam dinding yang ada di sebelah kiri. Jarum jam menunjukkan pukul 1.13 dini hari.


“Wanita itu, mengapa masih mengajak bicara Kelvin? Apakah dia sengaja melakukan hal ini, agar Kelvin bergadang dan akhirnya sakit lagi!” gerutu Daryan sembari bangkit ingin membentak Freya.


Namun, jauh seperti yang Daryan pikirkan ternyata Freya sedang mendongeng dan mata Kelvin sudah tertutup.


Freya penuh kesabaran menepuk-nepuk pelan paha Kelvin. Daryan yang tadinya ingin murka, sengaja memperlambat langkah kakinya.


Wanita itu tidak menyadari bahwa Daryan sudah ada di dekatnya. Mata Freya benar-benar berat dan tubuhnya sangat sakit.

__ADS_1


Seharian ini ia menjalankan kejadian yang diluar dugaannya. Beberapa menit setelah Kelvin tertidur, Freya pun ikut tidur di samping anak yang menggemaskan itu.


Sembari berucap, “Bu, besok pagi-pagi sekali Freya akan ke rumah sakit.”


Baru saja memejamkan mata sedetik, wanita ini sudah tertidur lelap.


Kroougk!


Suara dengkuran Freya, membuat Daryan kesal.


Hah!


“Wanita ini, tidak tahu malu sama sekali!”


Namun, melihat wajah Freya yang begitu kelelahan membuat pria ini sedikit iba kepadanya.


“Hmm! Apakah ia mengalami kehidupan yang sulit?”


Daryan mengambil selimut untuk menutupi tubuh putranya. Setelah itu Daryan memberikan kecupan di kening Kelvin.


“Sayang, selamat malam. Semoga Kelvin selalu sehat.”


Daryan kembali lagi menoleh ke arah Freya dengan jarak wajah yang begitu dekat dengannya. Ia menatap detail wajah manis dari wanita yang menjadi rivalnya ini.


Namun, ia sedikit merasa aneh bentuk wajahnya begitu familiar.


“Ia seperti Yaya.”


Rambut panjang Freya jatuh, dan Daryan menyampingkan rambut wanita ini keselah telinga.


Merasa ada yang meraba, dengan kuat Freya melemparkan pukulan. Wanita ini mengira ada nyamuk yang mengisap darah segarnya.


Plak!


Aaggh!


Daryan begitu terkejut, tapi Freya tetap dengan posisi tidur yang lelap, tanpa berkutik sedikitpun.


Pria ini mengusap-usap kepalanya karena merasa sakit akibat pukulan maut dari mantan atlet bela diri ini.


“Dasar wanita aneh dan gila!” umpatnya lalu segera meninggalkan kamar Kelvin.


Tapi ia sedikit penasaran dengan Freya, ia kembali menoleh ke arah wanita itu dengan berkata, “Apa benar dia Yaya?”


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2