
Seperti janji Daryan, hari ini adalah waktunya untuk memanjakan putra kecilnya itu. Setelah memandikan Kelvin, Freya menuju ke kamar utama seperti yang diperintahkan Daryan tadi.
Seperti biasa, pria yang identik dengan penampilan rapi itu menunggu di sofa sembari membaca buku. Melihat ada yang membuka pintu, Daryan menoleh ke belakang.
“Kelvin sudah mau ditinggal?” tanyanya yang kembali fokus melanjutkan membaca.
Hu’um! Freya mengangguk. Dan ia ingin segera bersiap-siap.
“Kau mau mandi sekarang?” Basa-basi Daryan.
“Iya, kan sebentar lagi kita akan ke taman rekreasi bukan?” tanya Freya meyakini calon suaminya itu.
“Oke, baiklah. Kau bisa mandi sendiri? Atau perlu aku yang mandikan?” goda Daryan meletakkan bukunya dan memandang Freya dengan penuh keusialan.
Jelas perkataan yang mengundang perkara itu membuat pipi Freya memerah seperti udang rebus. Ia tidak tahan harus melihat manik mata yang dimiliki Daryan, bisa-bisa hatinya semakin tidak waras.
Freya berlari kecil menuju kamar mandi, seperti menghindari apa yang dikatakan kekasihnya itu.
“Hey, kenapa lari seperti itu Freya? Tunggu dulu kau belum menjawab pertanyaanku,” goda Daryan kembali sembari tersenyum puas, dikarenakan tingkah Freya yang seperti kelagapan.
Beberapa menit kemudian, Freya sudah selesai memakai dress simple yang telah disiapkan oleh Daryan. Tapi ia sedikit kesusahan karena resleting ada di belakang tepat dipunggungnya.
Daryan melihat Freya, lalu ia beranjak dan segera menarik resleting itu. “Sudah!”
__ADS_1
Namun sebelum benar-benar meninggalkan Freya dengan posisi membelakanginya, bibir tipis Daryan mencium leher bagian belakang Freya.
Hal ini membuat wanita itu membesarkan kubil matanya, lalu dengan cepat mengarahkan wajahnya ke Daryan.
Pria itu seperti tidak tahu apa yang sudah ia lakukan. “Kenapa? Ada yang salah?” tatapan Daryan begitu tajam.
Manik mata Daryan seperti memberikan pancaran kepada Freya. Wanita ini melirik bibir Daryan yang sebagai pelaku sudah memberikan bekas kecupan di bagian sensitif wanita ini.
Entah mengapa, Freya memegangi pipi calon suaminya itu. Lalu ia dengan berani menyentuhkan bibirnya dan merasakan manis bibir Daryan.
Sontak hal ini membuat Daryan sedikit terkejut, manik matanya membesar. Namun, ia juga senang dengan tingkah Freya yang seperti ini.
Dengan cepat Freya mendorong tubuh Daryan,. Padahal pria ini berharap ada hal yang lebih istimewa dilakukana oleh Freya selanjutnya.
Freya tidak berani lagi melihat mata Daryan, dan ia juga tidak habis pikir emosinya tadi tidak terkendali untuk mencium pria yang akan menjadi suaminya beberapa hari lagi.
“Maafkan aku ...” ucap Freya yang dipotong oleh Daryan.
Pria ini menarik dagu Freya dan menatap secara detail wajah pujaan hatinya itu. “Kau sama sekali tidak salah, Freya? Jangan lagi mengatakan maaf, aku malah senang dengan apa yang kau lakukan tadi.”
Perbincangan itu berhenti, pada saat Kelvin dengan paksa memerintahkan Hana dan pelayan lainnya untuk ke kamar ayah dan ibunya.
“Pah, kenapa lama sekali ...” Kelvin memanyunkan mulutnya ke depan. Terlihat anak lelaki ini tidak sabar menunggu.
__ADS_1
Freya dan Daryan saling memberikan tatapan, mereka berdua langsung tersenyum. Untung saja mereka tidak melakukan apa pun pada saat Kelvin datang.
Daryan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Iya Sayang, tadi Mamah lama sekali pakai bajunya.” Daryan sengaja memberikan penerangan seakan Freya yang lama dandan.
Kedik mata Freya menatap Daryan. Lalu ia dengan cepat merangkul calon istrinya lalu berbisik, “Apa kau mau menjelaskan sebenarnya yang terjadi tadi?”
Ucapan itu semacam ancaman dari Daryan, yang membuat Freya tidak bisa mengatakan apa pun. Bisikan itu juga kembali membuat pipi ibu sambung Kelvin memerah.
“Mah, kenapa pipi Mamah sangat meral? Apakah Mamah sedang sakit?” tanya Kelvin yang begitu polos.
Daryan tersenyum-senyum dari balik tangan yang diletakkan di bibirnya.
“Ah, tidak ada apa-apa Sayang. Ibu Eya tidak sakit kok, ayo kita bergegas saja ke taman rekreasi,” ajak Freya sembari menyubit lengan Daryan.
Daryan tidak henti-henti tersenyum karena tingkah Freya yang sangat menggemaskan baginya.
Mereka pun keluar dan Daryan mengendong putranya serta diikuti Freya yang asyik bercanda dengan Kelvin.
Dari pojok, Anya menyempitkan bola mata.
“Sialan! Aku tidak ingin mereka bahagia, kau harus mati Freya!”
__ADS_1
Bersambung.