
Freya hanya tersenyum, ternyata meski luarnya Daryan begitu cuek dan dingin. Ia adalah pria yang sungguh perasa.
Wanita cantik ini memegangi tangan pria yang kini menjadi kekasih, sekaligus calon suaminya itu. “Daryan, aku tahu kau mungkin sangat khawatir. Hal itu semuanya wajar, tetapi tidak wajar jika hal tersebut mengganggumu. Jangan terlalu dipikirkan yaa, biarkan saja apa yang akan dilakukan Anya nanti. Aku yakin kita akan bisa melewatinya.”
Manik mata Daryan memancarkan kaca-kaca halus. Dengan cepat ia menarik tangan Freya dan memeluk tubuh wanita tersebut.
“Terima kasih ya, Freya. Kita akan menjalankannya berdua.”
Setelahnya, mereka berpamitan kepada Alesya. Freya mencium kening sang ibu dan kemudian mencium pundak tangan wanita yang sangat ia cintai.
Hari ini rencana Daryan mengajak Kelvin ke sebuah taman rekreasi, ia sudah sangat jarang memberikan waktu luang kepada keponakan kesayangannya itu.
Sampai di rumah, Anya menampilkan wajah masamnya. Ia terlihat sangat cemburu pada saat Daryan memegangi tangan Freya begitu mesra menggiring calon istrinya ke kamar utama.
Freya hanya terdiam, ia tidak ingin berususan dengan wanita yang pernah menjadi kekasih Daryan dulu.
Mereka berdua di sambut oleh Kelvin, dan anak yang menggemaskan itu memeluk erat Freya.
__ADS_1
“Mamah ...”
Freya tersenyum dan melirik Daryan bahagia.
“Evin sekalang akan memanggil Ibu Eya, Mamah ...”
Kelvin begitu senang akan kedatangan Freya. Dan ia melirik sang ayah, sepertinya ada hal yang harus ia tanyakan.
“Pah, kenapa tante Anya ada di sini?” celetuk Kelvin dengan bibir yang dimayunkan, sangat terlihat jelas anak lelaki ini sangat tidak menyukai kedatangan wanita itu.
Freya memandang Daryan, ia akan memberitahu pemahaman kepada Kelvin. Karena ia melihat Daryan sulit untuk menjelaskan kepada keponakan yang sudah diangkat menjadi putranya itu.
Namun, Kelvin tetap memasang wajah tidak sukanya.
“Tidak Mah, ia seperti nenek sihir. Evin tidak suka dengannya!” Kelvin melipat kedua tangan yang diletakkan di depan dada, lalu memalingkan pandangan enggan melihat Freya dan Daryan.
Kedua orang tua ini melirik satu sama lain, Daryan mendekati Kelvin. Ia melipat lututnya menghadap sang putra. Dipegang pipi Kelvin dengan sangat lembut.
__ADS_1
“Sayang, apa yang dikatakan Mamah benar. Papah hanya ingin menolong tante Anya saja, bukannya sebagai manusia harus saling menolong agar kita selalu di sayang Tuhan?” bujuk Daryan kepada Kelvin.
“Tapi Pah, Evin tidak suka tante Anya,” bantah kembali Kelvin.
Daryan melemparkan senyum tulusnya, ia kembali memberikan pemahaman agar Kelvin bisa mengatur rasa tidak suka menjadi rasa menerima sedari kecil.
“Tidak suka ya, jika Papah tidak suka dengan Kelvin apakah Papah akan marah? Tidak kan, Kelvin harus bisa menahan rasa tidak suka menjadi rasa menerima yaa, agar kita selalu bahagia.” Meski Daryan yakin, perkataannya sekarang sulit dipahami dengan sang putra, tapi harapannya agar Kelvin tumbuh menjadi seorang pria yang dapat menjaga emosinya.
“Vin, kita hari ini ke taman rekreasi yaa. Papah mau ganti baju dulu sama Mamah,” lanjut Daryan.
Kelvin tidak mau kalah!
“Tidak, Evin mau sama Mamah, Pah!”
Sontak protes yang dilakukan Kelvin membuat Freya dan Daryan tersenyum malu. Setelahnya Freya ke kamar Kelvin dulu untuk memandikan putranya ini.
Di sisi lain Anya sedang melihat kebahagian keluarga kecil ini. Ia tidak akan pernah memberikan kesempatan Freya mendapatkan kesempurnaan yang diberikan Daryan.
__ADS_1
“Aku tidak akan membiarkan dia menggantikan posisiku menjadi Nyonya di keluarga ini, dasar wanita perebut dan sama sekali tidak tahu diri! Apa dia tidak pernah mengaca sama sekali, sudah memiliki wajah yang pas-pasan dengan strata sosial yang jauh beda dengan Daryan. Aku harus segera melenyapkannya! Lihat saja dia tidak akan tenang, bahkan nyawanya akan aku buat melayang!”
Bersambung.