
“Apakah wanita ini adalah Yaya?” tanya Daryan sangat kebingungan.
Ia tidak habis pikir.
Padahal Daryan yang di sapa sejak kecil dengan nama Ian itu melihat begitu jelas, teman lamanya dijatuhi reruntuhan.
Mustahil sekali Yaya akan selamat!
Sejak kejadian gempa yang melanda kota besar itu, kedua orang tua Daryan ditemukan meninggal dunia.
Detik itu juga, Daryan tidak ingin orang-orang memanggilnya dengan sebutan Ian lagi. Menurutnya nama itu adalah nama sial yang merengut nyawa kedua orang tua dan juga cinta pertamanya.
Daryan tidak pernah tahu nama asli Yaya yang sebenarnya, namun ia baru ingat nama ayah gadis kecil itu.
“Burton? Tuan Burton, aku ingat nama keluarga ayah Yaya adalah Burton,” gumam Daryan.
Dan ternyata Freya juga memiliki nama marga yang sama yaitu Burton.
“Tidak salah lagi, wanita ini adalah Yaya!” keyakinan Daryan sangat kuat ketika ia melihat permata biru yang melingkar di leher wanita itu.
Ia tidak sabar menunggu kesadaran Freya.
CEO muda yang memiliki hati begitu dingin ini sangat penasaran dengan Freya, yang kini menjadi istri kontraknya.
“Pantas saja, semenjak ketemu dengannya dada ini terasa sesak dan berbarengan ada detakan kencang yang begitu aneh. Ternyata Freya adalah Yaya!”
Beberapa jam kemudian, Daryan tertidur di samping brankar pasien dengan memeluk erat lengan Freya.
Wanita ini berusaha membuka mata pelan-pelan.
“Kenapa sisi kananku terasa berat?” tanya Freya seperti ada beban berat di lengan kanannya.
__ADS_1
Ia menoleh ke samping, manik mata wanita ini berkabut. Ia seperti baru saja melihat sosok pria layaknya pangeran yang ia kenal.
“Bentuk wajahnya seperti Kak Ian, seandainya kami tidak perpisah pada saat gempa besar melanda kota, mungkin saja aku akan benar menjadi istrinya saat ini,” gumam Freya sembari tidak henti tersenyum memandangi wajah indah Daryan.
Sama seperti Daryan, musibah gempa bumi yang terjadi 13 tahun silam menumbuhkan luka batin pada Freya.
Hal itu membuat trauma berat bagi wanita cantik ini, terkadang sampai sekarang Freya akan sesak napas bila mengingat kejadian-kejadian mengerikan tersebut.
Sejak itu keluarga Burton bangkrut total, tidak ada sisa usaha ayah Freya sama sekali. Mereka pun memutuskan untuk kembali ke kota asal.
Karena suatu alasan, Burton seperti membuang tanggung jawab. Sang ayah malah meninggalkan Freya kecil, dengan nama panggilan yang diambil huruf dua ke kebelakang secara berulang, yaitu Yaya dan sang ibu, Alesya.
Burton malah bersedia menjadi kekasih wanita kaya raya tua. Karena ia tidak ingin hidup susah berjualan dipinggir jalan dan kerja serabutan.
Semua perlakukan sang ayah membuat Freya menjadi tidak menyukai pria, kecuali Ian. Pria lembut yang pernah melamarnya saat masih kecil berusia 10 tahun.
Jika diingat-ingat kejadian manis bersama Ian, Freya bisa senyum-senyum sendiri seperti orang gila.
“Apa kabarmu, Kak Ian? Apakah kau masih mengingat gadis kecil yang pernah kau lamar sewaktu kecil?” ucapnya, tanpa sadar mengelus-ngelus pipi Daryan, pria yang sangat ia benci!
Suara samar-samar Freya terdengar melalui dalam mimpi pria itu.
Ia langsung terbangun, menoleh ke arah Freya dengan mata melotot terkejut.
“Apakah kau sudah sadar, Freya?” tanya Daryan sangat cemas.
Freya hanya mengangguk.
“Apakah ...” Freya dan Daryan melontarkan pertanyaan secara berbarengan.
Hal itu membuat keduanya terdiam, kedua insan ini memiliki masing-masing pertanyaan yang bercabang.
__ADS_1
“Kau juga ingin bertanya, kalau begitu kau saja terlebih dulu, Freya.” Daryan mempersilahkan istri kontraknya itu.
Namun, Freya masih saja memiliki firasat buruk kepada pria yang selalu membuatnya kesal itu.
‘Kenapa sikapnya menjadi lembut seperti ini? Apakah ia memiliki motif lain?’ Freya bermonolog.
“Tidak, kau saja terlebih dulu Tuan Daryan. Aku memiliki banyak pertanyaan kepadamu yang harus aku ucapkan,” jelas Freya sembari tersenyum paksa.
Daryan menggelengkan kepalanya, “Tidak, kau yang pertama mengajukan pertanyaan. Kau adalah seorang wanita, Freya. Aku harus mengalah dari wanita.”
‘Heleh, tumben sekali sikapnya seperti ini!’ celetuk Freya kembali dalam hatinya.
“Baiklah, kalau begitu. Aku ingin bertanya, apakah kau pernah tinggal di New York mungkin sekira 13 tahun tepatnya?”
Deg!
Baru mengeluarkan satu pertanyaan, dada Daryan sesak. Ia yakin bahwa dirinya sedang berbicara dengan gadis yang ia puja-puja sejak dulu.
Namun, seperti biasa Daryan tidak langsung membuka kartu. Ia berpura-pura tidak tahu dan memcoba menjawab dengan kebohongan.
“Kenapa kau bertanya seperti itu? Apakah ada kenangan seseorang di sana yang membuatmu tidak bisa melupakannya?”
Freya mengangguk, wanita ini menjawab jujur.
“Iyaa, ada seseorang yang kunanti-nanti sejak dulu. Waktu itu ia melamarku, tapi sayangnya kita belum sempat mengadakan acara resmi. Aku benar-benar kehilangan dirinya, tapi tidak dengan kenangannya,” ucap Freya sembari meneteskan air mata.
Freya sangat merindukan sosok Ian, pria yang selalu memperlakukannya dengan baik.
“Jika aku adalah dia, apakah kau mau menikah dan mengadakan acara resmi denganku, Freya?”
Bersambung.
__ADS_1