My Beloved CEO

My Beloved CEO
Karena Kau


__ADS_3

Daryan tidak menghiraukan Freya datang, meski wanita cantik yang rela meninggalkan tugasnya di playgrub Winston, terkejut melihat pria ini sedang asyik membaca koran.


Freya mengkerutkan dahinya.


‘Apakah ia tidak mendengar apa yang kutanyakan tadi?’ gumam Freya dalam hati.


Sedangkan wajah Daryan sungguh merah, ia sengaja menutupi wajahnya menggunakan kertas koran itu agar Freya tidak tahu.


‘Aduh bagaimana ini? Mendengar suaranya saja membuatku hampir mati!’ celetuk Daryan membatin.


Merasa tidak dihiraukan, Freya memutuskan untuk meninggalkan pria aneh ini. Lagipula guru cantik tersebut melihat bahwa Daryan baik-baik saja.


Ia bahkan bisa membaca dan duduk santai di singgasananya.


Freya masih menatap Daryan sembari kembali berucap dalam hati, ‘Dia memang pria yang egois, menyuruh seseorang sesuka hati. Pasti ia meminta agar wanita itu menelponku tadi!’


“Tuan Daryan Jefferson, maaf sebelumnya. Aku pikir kau baik-baik saja dan aku juga masih ada banyak urusan di yayasan, kalau begitu aku akan balik saja ya.” Freya berbalik badan.


“Tunggu!” teriak Daryan seperti tidak ingin Freya jauh darinya.


Mendengar teriakan itu membuat Freya repleks mengarah ke belakang. Ia menatap wajah Daryan seperti kepiting rebus.


Sontak hal ini membuat Freya berlari kecil mendekati tuannya.


“Kau kenapa, Tuan? Apakah benar kau sedang sekarat?” tanya Freya sambil meletakkan telapak tangannya di dahi pria itu.


Dan wajah Freya benar-benar khawatir akan kondisi Daryan saat ini.


Manik mata Daryan membesar, napasnya sulit untuk di atur dan tubuhnya kaku seperti baru disengat listrik.


Jantungnya terus berdetak kencang, sampai Freya dapat mendengarnya.


Otomatis wanita muda cantik ini memegangi otot Daryan dan ia mendekatkan daun telinganya ke sisi dada pria itu.


Semakin kencang! Kencang! Dan Kencang ....


Sepertinya Daryan benar-benar hampir mati.


Cengkraman tangan Freya begitu lembut membuat Daryan malah mendorong wanita ini.


Braaggh!


“Aawww!” teriak pelan Freya.

__ADS_1


Freya masih menatap dengan tajam mata Daryan, ia sungguh tidak paham apa yang terjadi dengan tuannya itu.


Sedangkan Daryan tidak mampu untuk melihat mata indah yang dimiliki oleh Freya.


‘Sial! Kenapa aku bisa seperti ini?’ geramnya dalam batin.


“Sepertinya kau sedang sakit, Tuan Daryan. Kenapa kau tidak ke rumah sakit saja?” ungkap Freya karena menyadari mungkin saja ayah Kelvin sedang sakit meski ia tidak panas.


Daryan masih tetap diam, mematung tanpa menuturkan sepatah kata apa pun.


Freya melipat kedua tangannya di dada, ia memiringkan wajahn.


Hmm!


“Apakah kau sedang jatuh cinta, Tuan?” celetuk Freya.


Hal ini sontak membuat Daryan melotot, dan napasnya kembali tidak bisa terkontrol.


“Apa? Tidak! Aku tidak mungkin jatuh cinta denganmu!” teriak Daryan.


Hah?


Freya bingung dengan teriakan yang dilontarkan oleh Daryan.


Apa yang di lihat dan di dengar oleh Daryan barusan hanya ilusi dari pikirannya, yang tidak bisa berhenti memikirkan gadis polos nan cantik ini.


Aarrg!


Daryan segera menggelengkan kepalanya.


“Kau kenapa Tuan?” tanya Freya yang semakin khawatir akan tingkah laku Daryan begitu aneh.


“Ini semua gara-gara kau!” bentak Daryan.


“Lho, kenapa gara-gara aku?!”


“Saya juga tidak tahu,” jelas Daryan sembari memijat-mijat dahinya.


Freya memperhatikan Daryan secara detail, kancing kemeja pria itu terbuka dua ke bawah dan rambut yang selalu dilihatnya rapi dan klimis kini berantakan.


Mungkin saja pria ini memang sedang sakit!


Menurut Freya, Daryan tidak lah demam melainkan ada hal yang membuat dirinya seperti ini.

__ADS_1


Gelagaknya juga tidak seperti biasa, bahkan pria yang memiliki tatapan tajam melebihi burung elang ini, kini enggan melihat mata Freya.


‘Ini sungguh tidak beres!’ Freya bermonolog.


“Tuan, maaf aku berbicara sepertinya ini, mungkin saja kau sedang mengalami gangguan di dalam. Sebaiknya kau pergi saja ke seorang psikolog?” tanya Freya pelan, karena ia takut Daryan akan marah jika wanita ini mengatakan jika tuannya sedang mengalami gangguan jiwa.


Daryan melihat manik mata Freya, kini ia menatap tajam wanita itu.


“Apa? Kau mengatakan saya gila?” bentak Daryan.


Otomatis Freya melambaikan tangan. “Bukan Tuan! Bukan begitu maksudku, melihat kondisi Tuan yang sangat aneh dan gelagak yang tidak seperti biasa, mungkin saja Tuan sedang mengalami sakit ...”


“Sakit jiwa?” sahut Daryan sebelum Freya menyelesaikan ucapannya.


Begitu polos, Freya malah menganggukkan kepala yang berarti menyetujui apa yang dikatakan oleh pria itu.


Daryan bangkit dari tempat duduknya. Ia mendekati Freya selangkah demi langkah, hal ini membuat wanita tersebut melangkah mundur.


Tatapan Daryan benar-benar menyeramkan. Entah apa yang dipikirkan olehnya kini.


Sampai Freya tidak bisa mundur lagi karena ada pembatas dinding.


“Tuan, apa yang akan kau lakukan kepadaku?” tanya Freya sembari gelagapan.


“Iya, mungkin benar katamu tadi. Saya mengalami sakit jiwa dan hampir mati, ini semua karenamu!”


Daryan meletakkan tangannya di samping tepat di atas kepala Freya, lalu tangan satunya mengangkat dagu wanita itu.


Bola mata Freya berkaca-kaca. “Sebenarnya apa tujuan Anda memanggilku kemari, Tuan?”


“Saya juga tidak tahu, saya ingin kau ada di sisi saya selamanya!”


Daryan menutup mata, sembari ingin menyentuh bibir tipis Freya menggunakan bibirnya.


Namun, hal itu tidak jadi terlaksana. Padahal hampir sedetik lagi, Daryan bisa merasakan manisnya bibir Freya Burton.


Duubraaak!


Pintu ruang kerja Daryan di dobrak seseorang.


“Sayang, apa yang sedang kau lakukan!” teriak seorang wanita.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2