
Tidak ada pilihan lain, mau tidak mau Daryan harus menuruti apa yang dikatakan mantan kekasihnya itu. Karena ia paham betul, tabiat buruk dan keras kepalanya Anya.
Jika sampai ia membantah perintah Anya, mungkin saja bayi yang dikandung tak berdosa tersebut akan menemui ajal.
Namun, Daryan tidak sebodoh Anya pikirkan. Ia juga memiliki rencana agar Anya tidak lagi mengganggu kehidupannya bersama Freya.
Secara bersamaan, Daryan sangat memikirkan perasaan cinta pertamanya itu. Apalagi pria ini akan mengajak Anya tinggal bersama, dengan kondisi berbadan dua.
Tapi Daryan yakin, Freya akan mengerti dengan situasi seperti ini.
Anya masih menatap tajam dengan makna penuh harap dari manik matanya. Menunggu jawaban dari Daryan yang akan mengizinkannya menjadi nyonya besar di mansion mewah milik mantan kekasihnya.
“Aku akan memberikanmu kesempatan, Anya. Tapi ingat kau hanyalah sebatas mantan kekasih, tidak lebih di dari itu!” tegas Daryan.
Senyum licik Anya tersirat pada saat Daryan memalingkan padangannya.
‘Kau tidak akan pernah kulepaskan, Daryan! Aku akan membuat Freya menjauh dari kehidupanmu, lalu akulah yang akan menjadi nyonya besar seutuhnya!’ celetuk Anya dalam hati.
Akhirnya mereka pun menuju ke kediaman Daryan. Dalam mobil pria itu hanya diam saja, tanpa mempedulikan Anya sama sekali.
Dalam pikirannya hanya ada Freya.
Ia tidak tega dengan calon istrinya itu mengetahui hal ini.
“Kenapa kau diam saja, Daryan? Apakah semua ini adalah beban bagimu?” tanya Anya menyudutkan Daryan.
Pria itu bungkam, ia enggan untuk membalas pertanyaan yang menurutnya tidak penting.
“Apa kau tidak mendengarkanku?” Anya kembali bertanya.
Daryan hanya melirik dengan sinis.
‘Kenapa wanita ini sangat menyebalkan! Kenapa aku bisa menjalin hubungan dengannya dulu!’ Daryan bermonolog.
__ADS_1
Sampainya di mansion.
“Pelayan Oh, tolong bawa Anya ke kamar khusus tamu. Saya akan istirahat bersama Freya malam ini berdua,” suruh Daryan.
Pria ini sengaja berbicara seperti itu, untuk membuat Anya sadar bahwa kehadirannya tidak diharapkan.
Bola mata pelayan separuh baya itu membesar, ia begitu terkejut mendapati Anya yang tiba-tiba kemari.
Begitu pula Anya, yang sangat terkejut ternyata Freya memiliki hak istimewa. Sampai wanita itu boleh tidur bersama di kamar utama Daryan.
“Selama ini kau tidak memperbolehkanku masuk ke kamarmu? Apa memang benar wanita ja ...!”
“Tutup mulutmu, Anya! Aku peringatkan kepadamu ya, jangan mengatakan hal itu lagi kepada calon istriku!” tunjuk Daryan dengan mata melotot kepada mantan kekasihnya itu.
“Pelayan Oh, cepat ajak Anya ke kamarnya. Lagipula ia harus istirahat untuk kesehatan bayi yang dikandungnya,” perintah Daryan kembali.
Hal ini kembali membuat Oh Hana terkejut.
‘Nona Anya hamil? Apakah bayi itu dari Tuan?’ Hana membatin.
Ayah dari Kelvin ini masih memiliki hati nurani, membiarkan seorang wanita yang pernah menjadi kekasihnya tinggal di rumah besar dengan fasilitas memadai.
Ia hanya ingin anak yang dikandung Anya sehat dan bisa tumbuh sempurna seperti Kelvin.
Greek!
Ia membuka pintu kamarnya, melihat Freya tidur lelap. Arah matanya melihat jam dinding menunjukkan pukul 2 dini hari.
Daryan tersenyum tipis, raut wajah Freya yang menawan membuatnya tenang.
Ia mencoba memberikan sentuhan lembut di kepala wanita itu, menatap hangat ke arah Freya.
“Maafkan aku Freya, sebenarnya ada hal yang harus kau ketahui tentang Kelvin. Terima kasih banyak karena sudah menyayanginya sebagai anak sendiri. Aku pun begitu, sebenarnya Kelvin bukan anakku. Ia adalah putra dari kakak perempuanku yang telah meninggal dunia bersama sang suami dalam kecelakaan pesawat, pada saat Kelvin berusia beberapa bulan.” Daryan masih mengelus kepala Freya, lalu memberikan kecupan di kening.
__ADS_1
Ia merebahkan tubuh dan tertidur pulas.
Keesokan paginya, Freya terkejut.
“AAAA ...” Ia berteriak seperti melihat setan.
Daryan memecengkan salah satu matanya.
“Huaamm!”
“Kau kenapa, Freya?” tanya Daryan sembari ingin memeluk Freya.
Wanita itu hanya terkejut, karena tidak biasa tidur bersebelahan dengan seorang pria.
“Aku tidak berbuat macam-macam kok, Freya. Tenang saja,” jelas Daryan.
“Tuan, bisakah kita menjengkuk Ibu sekarang?”
Perasaan Freya tidak enak, karena sudah lama ia tidak menjengkuk sang ibu. Meski sudah di rawat dengan dokter pilihan Daryan.
Pria itu membuka matanya.
Ia berkedip beberapa kali, berusaha menyadarkan diri dari mimpi yang masih tersirat dalam lantunan pikirannya.
“Ayo, aku juga ada urusan ke rumah sakit.”
Mereka bersiap-siap untuk ke Royal Hospital.
Daryan masih belum memberitahu mengenai ada Anya di rumahnya saat ini.
Ketika mereka turun ke lantai dua, Anya terlihat seperti nyonya besar. Ia menaikkan kakinya ke sisi meja dan menyuruh para pelayan untuk memijat seluruh badan serta kakinya.
Manik mata Freya membesar, ia menatap Daryan seperti ingin mendapatkan jawaban dari yang ia lihat saat ini.
__ADS_1
“Setelah di dalam mobil, nanti aku akan jelaskan semuanya.”
Bersambung.