
Sudah 2 pekan berlalu, saat ini Khalisa terlihat lebih tenang. Tidak ada tanda-tanda kesadaran yang di tunjukkan Khalisa. Ia hanya seperti wanita yang tertidur pulas tanpa helaan nafas.
Khz dan dokter Arya tetap melangsungkan rangkaian pengobatan yang mereka rencanakan. Tanpa diketahui oleh siapapun, termasuk Khalid dan Mona.
Khz mendatangi Dokter Arya di ruangannya,
"Guru ada yang ingin aku perlihatkan."
Khz mengarahkan Komputer yang berada di hadapan Dokter Arya, dan membuka program rekap data kesehatan Khalisa.
"Saat ini Kondisi otak bawaan Khalisa sangat tenang, tidak memberikan respon apapun pada tubuhnya. Bisa di katakan obat yang kita berikan berhasil."
"Kau benar, aku sudah menyiapkan rangkaian tugas untuk otak buatan yg tertanam, jadi untuk sementara waktu mereka berbagi tugas. Otak bawaan akan istirahat sejenak, dengan begini kita bisa mengatur sepenuhnya sistem tubuh Khalisa melalui otak buatan. Kau harus pastikan tidak ada siapapun yang boleh tahu.
"Baik guru. "
"Persiapkan dirimu Khz.."
Khz terdiam sejenak mendengar perkataan gurunya, ia tak begitu memahami tapi ia tetap mematuhinya.
°°°
Khz sedang asik bermain dengan Kidz, Siang hari terasa sejuk menyapa, Khz memberi Kidz susu dan membawanya ke hutan buatan, suasana sejuk membuat Kidz tersenyum hingga tak lama tertidur di pelukan Khz.
"Satu hal yang mama sesali sayang, Mama tidak bisa memberikan hak kalian sebagai anak, Kalian tidak bisa merasakan ASI langsung dari mama, semoga Kidz dan anak mama yang lainnya memaafkan mama yah.
Tiba-tiba seorang perawat memanggil Khz, "Maaf Nyonya, Nona Khalisa dalam kondisi kritis. Dokter Arya dan yang lainnya sudah berkumpul disana."
"Tolong letakkan Kidz di tempat tidurnya, awasi dia."
"Baik nyonya."
Khz melihat Mona sudah tersandar pada sudut ruangan, kakinya terlihat sudah tak sanggup menahan tubuhnya. Pandangannya kosong,
Dokter Arya sedang mencoba memompa jantung Khalisa dengan kedua tangannya.
Setelah beberapa menit,
titt...tit...tit...
Dokter Arya berhenti, lalu melihat pada arah jam menunjukkan pukul 14.25
"Catat waktu kematiannya."
Seorang perawat menggangguk dan mencatat waktu kematian Khalisa. Perawat itu selanjutnya mematikan seluruh alat penunjang pernafasan Khalisa.
__ADS_1
Mona langsung berlari pada Khalid yang sedang berdiri di samping dokter Arya. Ia langsung menghujami Khalid dengan pukulan bertubi-tubi.
"Khalid.... Khalid... Kau merampas hidup ku, nyawaku, harapan ku, demi anakmu, demi istrimu kau mengorbankan nyawa adikku.. Khalid... aku membenci mu." Mona melepaskan seluruh tangisnya dihadapan para dokter dan seisi ruangan.
Khalid hanya terdiam menerima kemarahan Mona, belum puas ia memukul Khalid Mona langsung menghujami seluruh dokter termasuk Dokter Arya dengan perkataan.
"Masih adakah data yang kau butuhkan tuan Dokter Arya terhormat, dan kalian dokter terbaik di dunia belum cukupkan tubuh adikku menjadi bahasan ilmiah kalian?"
Khalid langsung menghentikan Mona, ia menggenggam bahu Mona lalu memandang lekat- lekat wajah Mona
"Apa kau melihat wajah kepuasan di mataku? sekarang bukan persoalan siapa yang menjadi bahan pengujian, tapi ini diluar kuasa ku Mona. Aku mohon tenang lah."
"Kuasa mu katamu? hahah hahah hahaha.
Harusnya sebelum istrimu mengajukan adikku menjadi urutan pertama dalam program ini. Kau seharusnya tidak memberikan pilihan antara adikku atau anakmu, kenapa tidak istri tercintamu saja yang kau berikan nomor urut pertama. Oh iya aku lupa, kau begitu mencintainya lebih dari apapun, karna itu kau mengorbankan orang asing seperti aku dan adikku dalam situasi ini.
Wah hebat, kau orang terbaik dimata keluargamu, kau juga pahlawan.
Mari kita lihat bagaimana aku melakukan pertukaran nyawa adikku pada istrimu."
Khalid mencerna baik-baik ucapan Mona, ia tertunduk letih menghadapi hal ini.
Mona langsung membalikkan badannya, dan berlalu menuju keluar ruangan. Saat sampai di pintu ia melihat Khz berdiri dengan wajah datar yang tidak, bisa tertebak.
" Adikku sudah tiada, Suamimu milikku!."
°°°°
Proses pengurusan jenazah Khalisa diurus oleh Dokter. Mona mengurung dirinya seharian dikamar sambil menggenggam tangannya "Sayang.. maafkan kakak, kakak lebih memilih meihatmu terbaring lemah tak berdaya seumur hidup kakak dari pada harus melihat kepergianmu. Kakak tidak bisa hidup sebatang kara di dunia ini. Khalisa maafkan kakak."
°°°°
Berhari-hari berlalu setelah kepergian Khalisa, Mona masih terlihat terpukul, Khalid turun tangan sendiri merawat dan membujuk Mona untuk makan, tapi sia-sia, Mona benar-benar terpuruk ia sudah menyesal menaruh harapan hidup adiknya pada Khalid.
Mona pun terbaring lemah, kondisinya benar-benar lemah. Ia harus di infus dan hanya menerima asupan makanan dari slang infusnya.
Perhatian Khalid sejenak teralihkan dari Khz dan Kidz, rasa bersalahnya yang terlalu besar karna telah gagal menjaga amanah dari Mona membuatnya harus bertanggung jawab penuh atas Mona.
Khz merasa ikut andil atas kepergian Khalisa. Ia lebih memilih menjaga jarak dengan Khalid bahkan ia membiarkan Khalid tertidur di kamar Mona karna kelelahan menjaga Mona seharian.
tok..tok..tok
"Apa aku mengganggumu Nyonya Khz.?"
"Guru.. silahkan masuk, tidak sama sekali aku baru selesai menidurkan Kidz."
__ADS_1
"Apa kau sudah mulai terbiasa? aku tau kau terluka, aku tau kau tak punya pilihan lain, Ingat ucapanku dahulu saat kau pertama kali dipertemukan dengan ku "Semua akan indah pada akhirnya, jika belum indah belum akhirnya."
"Aku selalu ingat guru, karena itu aku bisa tetap tenang walaupun berada di situasi sesulit apapun."
"Aku tau kau kuat, bersabarlah terkadang situasi yang terlihat tidak seperti kenyataannya. Sekarang kau harus mendukung Khalid, jangan biarkan ia sendiri menghadapi ini."
°°°
Setelah mengakiri percakapan dengan Dokter Arya, Khz memutuskan untuk melihat Khalid yang tengah berada di kamar perawatan Mona.
Ia melihat Khalid dengan telaten merawat Mona yang sedang terlelap karna baru saja diberikan obat tidur herbal oleh perawat. Khalid dengan lembut mengusap kening dan wajah Mona yang dipenuhi oleh keringat, Mona selalu mengalami mimpi buruk setiap malam semenjak kepergian Khalisa.
"Bagaimana perkembangannya? Apa dia baik-baik saja?."
"Masih sama, Mona masih belum bisa menerima kepergian Khalisa. oh iya Kenapa kau belum tidur? atau kau baru saja terbangun? hari sudah larut malam istirahatlah."
"Aku agak lelah, bolehkah aku tidur sambil memelukmu?"
"Maafkan aku sayang, aku terlalu kawatir dengan keadaan Mona, hingga aku mengabaikan mu. Baiklah mari kita ke kamar."
tiba-tiba..
"Khalid...." Suara lirih Mona memanggil nama Khalid,
Khalid langsung menoleh ke arah Mona dan mendekat.
"Mona.. kau bangun? Apa suara ku membangunkanmu? Maafkan aku, tidurlah, istirahatlah kembali. Aku disini menjagamu, aku tidak akan membiarkan kau sendirian, tidurlah."
Khz terdiam melihat pemandangan menyedihkan di hadapannya. Hati Khz hancur, benar - benar hancur, ia merasa perlahan rasa kasihan Khalid berubah menjadi rasa tanggung jawab yang besar, ia langsung teringat akan perkataan Mona, perlahan Mona akan menggantikan posisi Khz di hidup Khalid. Karena Khalid lah yang memaksanya hadir di kehidupannya. Mau tidak mau, Khz harus menerima kenyataan bahwa Mona saat ini bagian dari hidup Khalid.
°
°
°
°
°
°
°
Jangan baper dulu yah kesayangan author. Khalid cuman ingin berlaku adil kok.
__ADS_1
yukkk.. bantu author buat semakin semangat.
jangan lupa vote yang banyak yah.. muachhh