
Kidz berfikir sejenak apa yang harus ia lakukan agar mampu sampai di pohon dengan cepat dan selamat.
Ia melihat kebawah dan memperhatikan kaki nya dan kaki Shali. "Jika empat lebih cepat maka dua lebih baik."
"Maksudnya? aku sama sekali tidak mengerti."
Tanpa fikir panjang Kidz langsung mengendong Shali.
"Arg Kidz.. apa-apa an ini? lepaskan.. lepaskan aku."
Shali memberontak di pelukan Kidz, "Diam atau kau akan aku tenggelamkan. Jika langkahmu saja bisa membuat mata air bagaimana dengan tubuhmu jika terjatuh kepermukaan tanah ha? kau kira aku suka mengangkat tubuhmu yang berat ini ha?"
Shali langsung faham maksud dari Kidz, Dua mata air lebih baik dari pada empat mata air.
Kidz langsung mempercepat langkahnya. Ia hanya fokus pada tujuannya untuk sampai di pohon itu agar ia mampu menghentikan keanehan ini.
"Kidz aku menahan nafas.. aku berusaha tidak bergerak tapi aku mohon bisa kah kau berjalan sedikit pelan?"
"Diam atau kau akan aku tinggalkan disini.!"
"Baiklah manusia sangar."
Setelah berjalan cukup jauh, Kidz berhenti sejenak untuk mengambil nafas. Tapi ia baru sadar ternyata semakin mendekat ke pohon tanahnya pun semakin lunak, hampir menyerupai lumpur hisab.
Kidz melihat kebawah, ia merasa bebannya semakin berat. Kakinya seperti tertahan, ia berusaha sekuat tenaga mengangkat kakinya. Tapi tubuhnya semakin terbenam ke dalam. Saat ini pilihan meletakkan Shali dalam pelukannya adalah pilihan yang salah.
"Kidz apa kau sedang melepaskanku? kenapa kita semakin terbenam?"
__ADS_1
"Tanahnya sedang tidak bersahabat Shali, ambil nafas dalam-dalam kita akan tamasyaaa ai......"
Belum sempat Kidz melanjutkan ucapannya mereka sudah jatuh kedalam lubang tanah yang terbentuk oleh air.
"Arghhhhhh tolongggggggggggg"
teriakan Shali menggetarkan hati Khalisa.
°°°°
"Alesha..... tidak... tidak...."
"Khalisa kau baik-baik saja? Khalisa..."
Mona langsung menenangkan adiknya. Ia mendudukkan Khalisa di atas tempat tidur Kidz.
Khalisa yang sedari tadi fokus untuk membangun komunikasi dengan Shali, tiba-tiba teriak. Ia merasakan Shali dalam bahaya.
"Apa ada informasi tentang Kidz?" Khalid langsung membalikkan badannya menghadap Khalisa.
"Apa yang kau lihat Khalisa?"
Dokter Arya membantu Khalisa untuk mengetahui keberadaan Kidz.
"Aku merasakan kecemasan Alesha, ia seperti berada di hamparan tak berpenghuni, air, basah, langkah kaki. Kepanikan. Terakhir aku merasakan Alesha masuk kedalam sebuah lobang besar, entah itu jurang. Yang jelas mereka sedang tidak baik-baik saja." Tangisan Khalisa pecah memikirkan nasib anakknya.
"Arrggggghhhh tempat macam apa itu? kita tidak bisa mengetahui tempat atau lokasi yang sesuai dengan penglihatan Khalisa dengan cepat. Ini akan memakan waktu."
__ADS_1
"Tenanglah Khalid, kita bisa menyelesaikan permasalahan ini dengan baik."
"Apa kau melihat tanda khusus dari lokasi itu? Air? apa itu air yang banyak? laut? sungai? danau? atau apa saja yang kau lihat ayo katakan."
"Aku merasakan panasnya terik matahari, aku merasakan langkah kaki Alesha, lalu ada air, dan aku merasakan kepanikan mereka. Lalu aku melihat lobang yang sangat besar, mereka masuk kedalam lobang itu."
"Tapi itu bukan seperti laut atau genangan air yang dalam, aku hanya merasakan setiap langkah Alesha menjadi dingin seperti air."
"Ya Tuhan... aku tidak bisa menggunakan teknologi apapun untuk menolong anakku."
Khalid mulai putus asa.
"Tempat apa itu? mereka di alam yang berhubungan dengan air, tapi bukan laut atau semacamnya?."
dokter Arya memutar otak agar mampu menyelesaikan teka teki ini.
°
°
°
°
°
°
__ADS_1
°
Masih kebingungan selanjutnya Shali n Kidz berada di lokasi seperti apa?