
"Selama ini Kidz adalah musuh terbesar dirinya, ia berperang dengan dirinya untuk mengendalikan fikirannya agar mampu melindungi Shali, anakku."
"Ia tidak memberi sedikitpun celah untuk shali terluka, Ia menutup Shali dari dunia, bahkan Kidz tanpa sadar ia telah membentuk kekuatan besar yang luar biasa yang sewaktu-waktu bisa mengancam nyawanya. Karena ia selalu mengasah fikirannya untuk membuat benteng bagi Shali.
"Ha..ha..ha kau bercanda Khalisa? tidak mungkin aku tidak mengenal siapa anakku." Khalid merasa ini hanyalah lelucon yang tidak lucu.
"Semua yang di katakan Khalisa benar Kidz. Aku dan Ren sudah melihat langsung kekuatan Kidz."
"Semua di luar nalar manusia." dokter Arya berusaha menjelaskan kebenarannya pada Khalid.
"Apa ini benar Ren? apa papa satu-satunya orang bodoh disini?"
"Kenapa tidak ada yang memberitahuku akan hal ini? Soon Ji? Kau juga mengetahui hal ini?
"Sama sekali saya tidak mengetahui hal ini tuan."
"Ren juga baru mengetahuinya pa, saat Kidz memaksa Ren untuk membawa Shali kaluar dari rumah ini. Selama ini yang Ren tau Kidz tidak bisa bicara dan mengalami kelumpuhan otak."
"Demi apapun, aku merasa orang yang paling lugu dan bodoh di rumah ku sendiri."
"Kalian memberikan ku serangan bertubi-bertubi saat ini. Tunggu dimana Khz? dimana mamamu Ren?"
"Ren belum menemui mama sejak tadi pa."
"Ia akan sangat terkejut sekaligus sedih melihat kenyaataan ini."
"Aku harus mencarinya, untuk memberitahukan segalanya." Saat Khalid akan melangkah keluar ia di hentikan oleh dokter Arya.
"Tunggu Khalid, itu bukan hal penting. Yang terpenting sekarang adalah keselamatan Kidz dan Shali."
"Aku menyaksikan langsung Kidz menghadapi makhluk itu dengan mempertaruhkan nyawanya. Keberadaan Shali saat ini hanya mampu menyelamatkan Kidz untuk sementara."
"Maksudmu dokter? Shali dan Kidz saat ini memang bersama.? dan tidak di dimensi ini?"
"Lebih tepatnya begitu Khalid. Ruangan ini sama sekali tidak di penuhi dengan teknologi. Jangankan Cctv dan komputer. Jaringan sekuat apapun tidak mampu mengendalikan ruangan ini."
"Inilah yang menjadi kendala untuk menemukan keberaan mereka, Karena aku dan Ren tidak memiliki jejak apapun." Dokter arya benar- benar kebingungan saat ini.
"Anakku dalam bahaya sementara aku tidak mampu berbuat apapun. Kekuatanku hanya berfungsi oleh jaringan. Sementara aku harus menemukan anakku yang memiliki jaringan sendiri di otaknya yang aku sendiri tidak menyadari terbuat dari apa semua ini."
"Apa yang harus aku perbuat?" Khalid merasa frustasi.
"Ini karena kau dokter, jika kau tidak memiliki ide untuk membuat bayi tabung pada Khalisa, Shali dan Kidz tidak akan terhubung satu sama lain, kekuatan besar itu tidak akan terjadi. Tentu Kidz tidak akan mengalami hal ini. Tidak akan ada Shali, tidak akan terjadi apa-apa pada anakku.
Kau selalu mencampuri urusan keluarga ku. Kau selalu menjadi benalu disini. Kau mengambil keputusan Seakan-akan kau adalah bagian dari keluarga ini."
__ADS_1
"Sekarang secara tidak langsung kau sudah menempatkan Kidz dalam bahaya. Kau menciptakan monster berbahaya dalam diri anakku."
"Kau harus bertanggung jawab.!"
"Khalid, kau tidak mengerti. Aku hanya ingin yang terbaik untuk Kidz dan Khz."
"Siapa kau yang sudah menentukan kebaikan keluargaku.? Seharusnya aku yang membuat keputusan apa yang terbaik bagi mereka."
"Papa cukup, papa tidak boleh berkata seperti ini pada kakek, kakek hanya ingin kebahagian kami."
"Kakek? dia bukan kakek mu."
"Tapi kakek sudah ada selama ini pa. Kakek melindungi kami selama ini."
"Sekali lagi papa katakan Ren, dia bukan siapa-siapa lagi. Kekacauan ini ulahnya, Aku kehilangan Kidz juga karena ulahnya."
"Papa cukup.! papa tidak berhak berbicara seperti itu kepada orang yang membuat papa bisa ada kedunia ini."
"Ren? apa maksudmu?"
"Ada didunia ini? maksudmu?"
"Arghhhh... papa tidak berhak untuk menyalahkan kakek atas apa yang terjadi setelah semua pengorbanan kakek untuk papa."
"Rennuy stop... jangan lanjutkan. Kakek mohon."
"Sudah saatnya kek, jangan buat pengorbanan kakek sia-sia lagi."
"Tidak Ren, ini bukan saat yang tepat. Kakek mohon."
"Maafkan aku kakek, aku sudah tidak tahan. Papa tidak boleh menyimpan kebencian pada orang yang paling berjasa pada hidup nya."
"Apa-apaan ini Ren?. Apa maksud dari ucapanmu?"
"Orang yang papa kira benalu, egois, hanya mementingkan keinginannya itu adalah ayah kandung papa. Kakek ku, kakek yang selama ini mencintai kami lebih dari apapun. Kakek yang didalam tubuh papa mengalir darahnya."
"Hahaha... lelucon apa lagi ini Ren?."
"Aku sudah cukup pusing dengan keberadaan Kidz. jangan tambah lelucon tidak masuk akal ini.!"
"Aku tidak bercanda papa.!"
"Dokter Arya adalah ayah kandung papa. Kakek menyembunyikan identitasnya selama ini agar bisa tetap di samping papa, menjaga papa, mendampingi kami."
"Bahkan Kakek mengorbankan hak nya sebagai ayah agar papa tetap mengizinkannya ada ditengah-tengah kami."
__ADS_1
"Jadi tidak masuk akal jika ia menginginkan sesuatu hal buruk terjadi pada Kidz aku dan saudara ku yang lain."
"Ren kau salah, Ayah papa telah tiada sebelum kelahiran papa. Dan mendiang nenekmu tentu saja tidak salah akan hal itu."
"Bisakah kau jelaskan itu dokter Arya? agar anakku Ren tidak salah paham."
"Aku tidak mungkin tidak mengetahui ayah kandungku." Khalid kali ini benar-benar tampak gusar. Pikirannya benar-benar kacau.
Semua kenyataan yang ia temui saat ini benar-benar tidak masuk akal.
"Itu benar Khalid. dokter Arya adalah ayah kandungmu. Khalisa pernah mengatakan padaku bahwa Dokter Arya bukan orang lain dalam keluarga ini." Mona angkat bicara.
"Maksudmu? Kau juga mengetahui hal ini?
"Benar Khalid, Khalisa memiliki kemampuan yang hampir sama dengan Shali dan Kidz. Tapi karena Shali dan Kidz memiliki kemampuan yang dibawa saat mereka kecil maka kemampuan otak mereka berkembang dengan pesat. Sementara Khalisa berperan menjadi mediator penghubung antara mereka."
"Hal ini kemungkinan terjadi karena otak buatan yang ditanam padanya hanya mampu melatih otak bawaan agar berfungsi sempurna."
"Jadi apa yang Kidz dan Shali ketahui Khalisa juga ketahui."
"Benar, Khalisa mengetahui identitas dokter Arya saat kami pertama kali keluar dari rumah. Tepatnya Kidz sudah mengetahui hal ini sejak lama."
"Benar papa, Kidz lah yang memberi tahuku akan hal ini."
"Aku berhutang banyak penjelasan padamu Khalid, aku berjanji akan menjelaskannya nanti."
"Saat ini yang terpenting Kidz dan Shali, terlalu lama kita mengundur waktu, semakin jauh kita dari jejak Kidz dan Shali."
Khalid terdiam sejenak, dan menatap tajam pada dokter Arya. Tatapannya menjadi tatapan sedih dan penuh pertanyaan. Tubuh dan fikirannya menolak percaya. Tetapi apapun menjadi tidak mustahil setelah keanehan dan kenyataan yang ia terima akhir-akhir ini.
°
°
°
°
°
°
Terkadang kenyataan memang harus dihadapi walaupun tidak disaat yang tepat. Masih mau tau kan perjuangan Khalid menemukan Kidz dan Shali.?
Author bakalan kasih kejutan-kejutan besar untuk mengobati kerinduan Kesayangan author di dunia realstoryKhalid yah.
__ADS_1