My Code Ilunga..

My Code Ilunga..
Memecahkan Misteri II


__ADS_3

Di dimensi lain Kidz dan Shali berjuang untuk keluar dari jebakan pusaran mata air yang besar. Sekuat apapun tenaga mereka tetap kalah dari gulungan air.


Kidz melihat Shali berusaha untuk bernafas, entah mengapa ia hanya terfokus pada keselamatan Shali. Ia ikut memberi Shali instruksi teknik untuk mengontrol nafas dengan gerakan semampunya.


Shali semakin terlihat panik, hal itu membuat ia semakin kesulitan bernafas. Saat Shali akan memejamkan matanya Kidz langsung meraih tangan Shali. Mereka berdua pun kelelahan dan akhirnya menyerah pada keadaan.


Setelah beberapa saat.


Shali dan Kidz perlahan membuka matanya, dan mereka memperhatikan di sekeliling mereka bukan lagi air, bukan hamparan kosong nan luas tapi mereka terdampar di sebuah taman yang dipenuhi dengan tumbuhan indah, perlahan Kidz membantu Shali untuk bangun dan berdiri."


Aroma indah dari bunga bermekaran menambah kenyamanan yang mereka rasakan.


"Jika dari awal aku menyadari mata air itu membawaku kesini aku tidak harus susah payah menahan nafas karena berada di pelukanmu. Dengan senang hati aku akan menenggelamkan tubuhku tadi, huft.."


Shali merasa begitu frustasi.


Saat akan melangkah Kidz menahan tubuh Shali "Tunggu ini bukan seperti yang kau pikirkan, setelah apa yang kita lalui aku yakin ini bukan hal mudah seperti yang terlihat. Kita harus lebih berhati-hati."


"Lepaskan aku, kau terlalu berlebihan dan jaga tanganmu.! Jangan sampai niatmu akan membuatku merasa kaulah ancaman ku yang sesungguhnya.! Mengerti."


"Dasar wanita kecil berkepala batu."


Wajah indah Shali sesungguhnya membuat seluruh lelaki akan terbuai karena keteduhannya. Tapi Sikapnya yang terkadang tertutup, dingin dan pendiam membuatnya sulit untuk berinteraksi dengan baik.


Hanya dengan Kidz ia mampu memperlihatkan jati dirinya. Karena memang Kidz lah yang selama ini yang berada di alam pikiran Shali.


Benar saja saat akan melangkah rumput yang sebelumnya datar lembut dan sejuk berubah menjadi keras dan tajam.


Shali memperhatikan langkahnya "Ohh ooo.."


rerumputan yang Shali injak berubah menjadi bebatuan yang tumbuh menjadi bukit yang terjal.


Pijakan Shali langsung membuatnya kehilangan keseimbangan. Dengan cepat Kidz menangkap tubuh Shali.

__ADS_1


"Kau lihat?"


"Iya..iya.."


Kidz mulai menaiki bebatuan yang terbentuk dari langkah Shali, ia melanjutkan langkahnya dan semakin tinggi mengikuti bukit bebatuan hingga mencapai puncak. Dan alangkah terkejutnya Kidz, bebatuah itu tidak lagi di kontrol oleh langkah mereka melainkan bebatuan itu tumbuh menjadi bukit yang terjal dan memenuhi seluruh taman.


"Oh tidak.. tempat apalagi ini?"


Shali yang mengikuti langkah Kidz tertegun tak percaya kali ini hal apa lagi yang akan menyelamatkan mereka.


"Kidz apa kau tau kita berada dimana?"


"Apa aku sudah tiada..? kenapa aku berada seperti diantara syurga dan neraka?"


"Oh Tuhan."


Shali benar-benar tidak bisa membayangkan ia harus naik turun bukit yang tak berujung.


Tangisan Shali pecah.. ia bingung hal apa kedepannya yang harus ia temui lagi? Kesulitan apa lagi yang harus mereka jalani.


"Tenanglah Shali, ini pasti ada jalan keluarnya."


"Tidak... Ibu.. aku ingin ibuku."


Kidz langsung memeluk Shali, ia berusaha untuk menenangkannya. Walaupun Shali terlihat bertingkah kacau seperti anak kecil yang kehilangan harapan, Kidz benar-benar bisa merasakan keputusasaan Shali.


Saat Kidz memeluk Shali tiba-tiba bukit itu bergetar, getarannya begitu kuat hingga membuat retakan-retakan pada bukit bebatuan.


Kidz dan Shali terkejut, mereka hampir terjatuh akibat getaran itu. Mereka melihat retakan yang terjadi ternyata menyimpan nyala api yang berkobar diantara bebatuan.


"Kidz aku rasa ini akhir dari segalanya."


Shali menggelengkan kepalanya seakan ia tidak percaya hidupnya akan berakhir seperti ini.

__ADS_1


"Tidak Shali aku yakin kita akan selamat, Kau harus tenang."


Kidz menggengam tangan Shali dengan erat. Kali ini ia harus berfikir lebih keras hal apa yang harus ia lakukan. Jika sebelumnya ia melawan pusaran air. Kini ia harus melawan kobaran api.


Dan ia tidak tahu hal buruk apa yang akan terjadi jika ia terpeleset dan masuk kedalam kobaran api ini, apakah ia akan berpindah tempat kembali atau malah ia akan berakhir dengan sia-sia.


Shali menangkap wajah keraguan dan kebingungan Kidz. Ia sadar bahwa kini Kidz tidak memiliki rencan apapun.


"Kita harus menyerah Kidz, ini bukan situasi dimana kita harus melawan. Ini bukan hal dalam batas kemampuan kita."


"Menyerah?" Kidz berfikir sejenak.


"Benar itu jawabannya. Kau cerdas Shali benar-benar cerdas."


Shali selalu dibuat kebingungan dengan Kidz, lelaki ini selalu memahami dengan cepat maksud dari ucapan Shali, padahal Ia sendiri tidak menyadari arti dari ucapannya.


"Maksudmu benar? aku sama sekali tidak mengerti."


°


°


°


°


°


°


¶Penasaran kan sama ide-ide Kidz dalam memperjuangkan hidupnya. maafkeun kegabutan Author yah. Lagi belajar untuk membangun dunia Realstory Kidz dalam genre yang lebih menarik tentunya.


Yuk coment.. Ditungguya kesayang author.

__ADS_1


__ADS_2