My Heart Choice

My Heart Choice
Prolog


__ADS_3

..."Hatiku memang mudah jatuh. Tapi kamu bisa memegang kata-kata ku ini. Ketika aku sudah menjalani hubungan dengan kamu atau pun bukan kamu. Aku akan menjalaninya dengan serius dan aku pastinya akan setia"...


...***...


Zanna. Perempuan yang mudah jatuh cinta. Tidak bisa dipungkiri terkadang Zanna dengan mudahnya menaruh hati pada pandangan pertama.


“Dia lucu"


“Dia ganteng"


“Dia pintar"


“Dia bikin nyaman"


“Dia bikin adem kalau diliat"


“Suaranya bagus"


“Dia asik orangnya"


“Dia nyambung kalau diajak cerita"


“Dia alim"


Itu adalah ucapan Zanna ketika ditanya kenapa dia bisa menyukai pria yang membuatnya menaruh hati, dan masih banyak jawaban lain selain itu.


“Za, bisa gak sih lo gak mudah suka sama orang apalagi yang baru lo jumpai dan baru lo kenal,” ucap Riana, sahabat Zanna.


“Emang salah ya kalau gue menyukai seseorang?” tanya Zanna dengan puppy eyes.


“Gak salah, tapi yang salahnya itu lo muudaaahh banget suka sama orang. Ya syukur kalau orang yang lo suka orang baik-baik dan menyukai lo balik. Ini? Lo gak mandang latar belakang mereka, kemarin lo suka sama anak geng motor, kemarin lagi lo suka sama anak yang suka nongkrong di bar, kemarin-kemarinnya lagi lo suka sama anak yang suka kabur dari rumah, dan banyak lagi jenis-jenis manusia yang gak bener latar belakangnya. Nanti lo suka sama siapa lagi? Om-om? Duda? Atau suami orang lain?” repet Riana.


“Ishh lo jahat banget, ya kali gue suka sama suami orang. Ya, kan, gue suka sama mereka karena sebab. Masalah latar belakang mereka, siapa tau gue bisa ngerubah mereka ke arah yang lebih baik lagi. Lagian lo gak boleh kali asal ngejudge orang dari luarnya. Lagian gak semua jenis cowok kali yang gue suka, gue milih-milih juga lah. Tapi, btw kalau om-om ogah banget gue, kalau duda gak masalah, asal dudanya itu hot daddy,” Zanna tersenyum sendiri, yang membuat Riana memutar mata jengah dan memilih meninggalkan Zanna.


“Ri! Kok gue ditinggal sih?!” teriak Zanna sambil mengejar Riana.


“Perbaiki otak lo dulu, baru temenan lagi sama gue,” ketus Riana.


“Ishh lo kok gitu, berarti lo gak menerima gue apa adanya dong,” ucap Zanna memelas, sambil menyamakan langkah kaki Riana yang semakin cepat berjalan.

__ADS_1


“Bukan gak mau nerima lo apa adanya, gue gak mau lo kenapa-kenapa, dan gue gak mau dengerin tangisan lo terus hanya karena gak berhasil ngejalin hubungan sama orang-orang aneh yang lo suka. Lo harus serius cari orang yang baik dan latar belakangnya baik juga Za!” Riana semakin mempercepat langkahnya.


“Huhu ternyata sahabatku sangat menyayangiku,” Zanna memeluk badannya sendiri. “Ishh laju amat sih jalan lo, pelan-pelan Ri,” ucap Zanna.


“Bodo!” Riana hanya tersenyum mengerjai sahabatnya itu.


...***...


 


“Hai kenalin, nama aku Zanna Letta Kirania.” Zanna tersenyum seraya mengulurkan tangannya.


“Saya gak mau tau nama kamu,” ucap pria dihadapan Zanna dengan ketus tanpa membalas uluran tangan Zanna.


“Padahal kita udah sering ketemu, tapi kamu gak pernah mau kenalan sama aku. Tapi aku yakin sebenarnya kamu ingat kan nama aku?” pria itu diam. Dalam pikiran pria itu, tentu saja ia mengingat nama Zanna. Berulang kali Zanna memperkenalkan diri setiap bertemu dengan dirinya.


“Nama kepanjangan kamu siapa sih? Aku tau nya nama panggilan kamu doang,” kembali Zanna memancing percakapan.


“Gak mau saya kasih tau,” ucap pria itu dingin.


“Pelit banget, gak boleh tau pelit-pelit,” pria itu menghela nafas kasar.


“Aku gak pernah ngikutin kamu dan juga harus dong kita kenalan, biar akrab, biar gak aku aja yang sok akrab. Lagian pertemuan kita ini bukan hanya kebetulan. Tapi takdir,” pria itu menatap tajam Zanna. Yang ditatap terpana dengan mata coklat pria itu, indah tapi tajam sekaligus.


“Takdir ya? Saya benci takdir saya karena bertemu kamu terus,” pedih, ucapan itu sedikit menggertak hati Zanna. “Lagian kenapa kamu bersikukuh sekali ingin berkenalan dengan saya?!” lanjut pria itu masih dengan nada yang lumayan tinggi tetapi masih terasa dingin.


“Karena aku suka sama kamu! Pertama kali kita ketemu, aku udah suka sama kamu!” jawab Zanna tak kalah meninggi.


“Kamu gila ya?! Suka sama orang yang baru kamu temui bahkan gak kamu kenal?!” pria itu melonggarkan dasinya.


“Iya aku gila karena suka sama orang yang hanya beberapa kali aku jumpai! Aku juga gak mau sebenarnya menyukai kamu, tapi aku gak bisa halangi perasaan aku! Salah ya karena menyukai seseorang?” mata Zanna berkaca-kaca.


“Selalu itu ya senjata wanita? Ngomongnya perasaan terus? Sekali-kali kaum kalian itu jangan ngandalin perasaan aja, pake pikiran juga, biar gak melakukan hal bodoh hanya karena berdasar rasa suka ataupun cinta! Kamu kelihatannya berpendidikan, jadi sebelum keluar kata-kata saya yang nantinya hanya membuat kamu sakit hati. Coba kamu pikir, kamu yakin menyukai saya yang seorang duda beranak satu ini?” Zanna menunduk, ia tidak ingin memperlihatkan air mata yang sudah mengalir. Lalu Zanna menghapus air matanya. Ia kembali mengangkat kepalanya.


“Ya! Aku suka kamu, gak peduli mau kamu duda, mau kamu punya anak. Yang penting kamu gak milik perempuan lain,” pria itu memijit pelipisnya.


“Saya minta tolong, bisa kamu tinggalkan meja saya ini? Sebentar lagi klien saya datang. Masih banyak meja lain di restoran ini. Ah! Jangan meja di restoran ini! Tapi cari meja di restoran lain, saya gak mau membuat kepala saya pusing hanya karena ada kamu disini,” pria itu mengalihkan pandangannya dari Zanna dan lebih memilih melihat ke arah lain.


Zanna tersenyum walaupun hatinya masih terasa sakit. Ia tidak boleh menyerah. Ia masih harus mengejar pria ini. Zanna berdiri, lalu pamit pada pria itu.

__ADS_1


“Baik, aku pergi. Tapi aku bakal ngejar kamu, sampai kamu suka sama aku juga,” ucap Zanna lalu berbalik akan pergi. Pria itu melirik Zanna yang sudah membelakanginya bersiap pergi. Tapi pria itu mengucapkan hal yang membuat Zanna terdiam.


“Saya gak akan suka kamu, karena saya akan menolak kamu terus,” air mata Zanna kembali luruh. Ia berjalan meninggalkan meja pria itu dan keluar dari tempat itu tanpa menoleh ke belakang sedikit pun. Sakit. Hatinya sakit.


Zanna terus berjalan sambil menangis. Ia menuju tempat parkir. Lalu, setelah Zanna sampai di mobilnya, ia masuk ke dalam mobil. Ia menangis tersedu-sedu. Hal yang membuat Zanna masih ingin mengejar pria itu, karena baru pria itu yang menolaknya seperti ini. Mungkin Zanna akan berhenti mengejar pria itu, jika pria itu menolaknya secara halus. Tapi karena pria itu menolaknya sampai membuat ia sakit hati seperti ini, ia akan berusaha keras juga.


Zanna mengendarai mobilnya masih dengan isakan. Zanna melajukan mobilnya dengan cepat. Sampai akhirnya, mobil Zanna oleng dan menabrak dinding terowongan. Cukup parah. Bagian depan mobil benar-benar hancur dan Zanna....bercucuran darah. Zanna masih tersadar, tapi kesadarannya perlahan menghilang, ketika ia mendengar suara ramai orang-orang. Tidak berapa lama kemudian, hanya kegelapan yang menyelimuti Zanna.


.......


.......


.......


...Loh?! Zanna nya kenapa? Kok baru prolog udh kecelakaan2 gitu? Kalau penasaran tetap stay yaa dan tungguin up selanjutnya^^...


.......


.......


...#pojokan author...


...Assalamu'alaikum!...


...Hai Leonita_Wi disini...


...Ini karya pertama aku di noveltoon...


...Mohon bantuannya semua^^...


...Aku harap kalian menyukai ceritaku ini...


...Jangan lupa nantikan episode selanjutnya^^...


...Dan jangan lupa juga like, comment, dan fav kan^^...


...The Yelion🍀🍁♥️...


...Penghuni surga (Aamiiinn^^)...

__ADS_1


...XOXO...


__ADS_2