
...“Bersabarlah sedikit lagi, hari yang membahagiakan akan datang. Kemarilah, istirahat dulu, aku siap menemani”...
...***...
Mobil Abi berhenti di lampu merah. Abi menghela nafasnya, sembari menunggu. Ia memijit pelipisnya, kemudian pandangan Abi terusik ketika ada yang mengetuk kaca mobilnya. Ternyata seorang anak kecil yang menawari bunga. Abi menurunkan kaca mobilnya.
“Berapa?” tanya Abi. Anak laki-laki itu tersenyum.
“Kalau bunga yang plastik lima ribu, kalau bunga asli sepuluh ribu aja. Beli ya om? Bunga yang asli baru dipetik dari kebun ayah tadi, jadi masih segar,” Abi tersenyum kecil. Ia mengelus kepala anak itu .
“Om ambil semuanya,” tampak raut terkejut anak itu.
“Ha?! Serius om?!” Abi mengangguk.
Abi melirik ke arah lampu lalu lintas. Sudah berwarna hijau.
“Boy, om ketepikan mobil dulu. Om tunggu kamu disitu,” si anak laki-laki tadi mengangguk, ia segera berlari ke tempat yang ditunjuk Abi.
Abi segera menuju pinggir jalan. Ia keluar dari mobilnya. Anak itu terlihat tengah menghitung jumlah bunga yang ia bawa. “Berapa semuanya?” tanya Abi.
“Emm...tunggu om,” anak laki-laki itu tampak bingung. “Oom bisa bantuin saya hitung?” Abi mengangguk.
“Ini jumlahnya seratus lima puluh ribu,” anak itu mengangguk-anggukkan kepalanya.
Abi mengeluarkan dompetnya, dan mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah. “Ini bukannya kebanyakan om?”
“Gak apa-apa. Bonus untuk kamu,” anak itu sumringah. Kemudian memberikan bunga-bunga tersebut kepada Abi.
“Makasih om,” Abi mengangguk dan menerima bunga-bunga tersebut.
“Habis ini kamu kemana?” tanya Abi.
“Mau pulang, bunga saya udah habis,” balas anak itu.
“Rumah kamu dimana? Mau om antar?” anak itu tampak berpikir.
Kemudian anak iu menyebutkan alamat rumahnya. Abi tersenyum, rumah anak tersebut sama dengan tempat yang akan ia tuju. “Om antar aja ya. Om sekalian mau kesana,” anak itu mengangguk.
Abi memasukkan bunga-bunga yang ia beli ke kursi belakang. Baru setelah itu ia membukakan pintu untuk anak laki-laki itu. Setelah anak laki-laki itu masuk, Abi juga segera masuk ke dalam mobilnya.
Diperjalanan tampak mata anak itu terlihat kagum. Ia berulang kali melihat ke arah luar dengan senyuman terlukis dibibirnya. Abi merasa senang. “Nama kamu siapa?”
“Nama saya Wisnu om,” balas Wisnu.
“Umur Wisnu berapa?” tanya Abi lagi.
__ADS_1
“Delapan tahun mau masuk sembilan,” jawab Wisnu lagi dengan riang.
“Kamu sekolah?” Wisnu menatap Abi. Ia memasang raut wajah sedih. Ia kemudian menggelengkan kepalanya.
“Wisnu gak bisa sekolah om. Wisnu mesti cari uang untuk bantu ayah,” hati Abi terenyuh. Ia terlalu lemah terhadap anak kecil.
Setelah itu mereka diam. Abi fokus menyetir dan Wisnu kembali melihat ke arah luar. Kemudian, beberapa lama Abi sampai di depan rumah kecil yang sangat sederhana milik Wisnu.
Abi keluar dan membukakan pintu untuk Wisnu. Anak itu tersenyum ke arah Abi. “Makasih om, makasih banyak,” ia kemudian berlari memanggil ayahnya.
Seorang pria paruh baya keluar. Abi melihat pria tersebut berjalan menggunakan kedua tongkat. “Wisnu! Udah pulang nak?” Wisnu menyalam tangan ayahnya. Ia kemudian bercerita perihal yang ia alami tadi, dan menunjuk Abi.
Pria tersebut mendatangi Abi. Ia mengucapkan terima kasih kepada Abi. Kemudian Abi berkenalan dengan pria tersebut. “Bapak hanya tinggal berdua dengan Wisnu?”
“Iya pak. Istri saya pergi meninggalkan Wisnu dan saya saat masih kecil,” ucapan pak Cahyo itu mengingatkan pada dirinya sendiri.
Abi melihat pekarangan rumah tersebut. Banyak beraneka ragam bunga. “Bapak yang menanam bunga-bunga ini?”
“Iya pak. Dengan keadaan saya seperti ini, hanya ini yang bisa saya lakukan,” Abi menganggukkan kepalanya.
“Bapak ingin tidak bekerja bersama saya? Bapak bisa mengurus kebun di rumah saya,” tampak wajah pria paruh baya tersebut sumringah.
“Tapi saya gak punya kendaraan ke rumah bapak,” balas pak Cahyo.
“Pak Abi terima kasih,” berulang kali pak Cahyo mengucapkan terima kasih. Abi pun memberi tahukan alamatnya.
“Kalau gitu saya pamit dulu pak. Saya masih ada urusan di sekitar sini,” ucap Abi.
“Bapak mau kemana? Bapak tahu jalannya?” Abi terdiam sesaat.
“Saya mau ke pemakaman yang ada di daerah sini. Saya sudah sering kesini, jadi sudah hafal,” pak Cahyo menganggukkan kepalanya.
“Ziarah kubur orang tuanya ya pak?” Abi menggelengkan kepalanya.
“Saya mau jenguk anak saya,” balas Abi. Sebelum pergi, Abi sempatkan mengelus kepala Wisnu. Melihat Wisnu, ia teringat dengan anaknya.
Lalu, Abi pun pergi dari rumah milik Wisnu. Ia mengendarai mobilnya menuju pemakaman yang ada disana. Ia melihat hamparan peristirahatan terakhir tersebut. Ia keluar dari mobilnya dan mengambil bunga yang ia beli dari Wisnu.
Ia berjalan menuju salah satu kuburan disana. Abi tersenyum melihat kuburan tersebut.
“Hei, boy! Ayah datang jenguk kamu,” mata Abi berkaca-kaca melihat nama yang ada di batu nisan tersebut.
Genta Putra Reiki. Itu nama yang tertulis disana. Kini sungai kecil mengalir di pipi Abi. “Genta, jagoan ayah. Gimana kabar Genta disana? Ayah rindu kamu boy. Adik kamu Ghania sudah besar sekarang, dia pintar. Kalau kamu masih ada disamping ayah. Kamu pasti sama pintarnya dengan Ghania. Kamu pasti akan lindungi Ghania kan kalau masih hidup?” Abi membasuh air matanya. Ia meletakkan bunga di kuburan anaknya itu
“Tadi ayah ketemu anak laki-laki. Namanya Wisnu, ayah langsung teringat kamu nak. Kamu rindu sama ayahkan? Ayah ingin peluk kamu. Kenapa Genta pergi cepat sekali nak?”
__ADS_1
Abi bercerita terus, bahkan air mata yang mengalir tak lagi mampu ia hapus. Ia menceritakan segalanya yang terjadi hari ini. Kuburan anaknya ini adalah tempat yang dapat membuat Abi tenang. Disini ia mampu mencurahkan segala hal yang ia lalui. Genta Putra Reiki adalah anaknya bersama Arabella. Anak tertua.
Saat melahirkan dulu, Abi diberitahu dokter kalau anaknya kembar. Betapa senangnya ia, tetapi saat dokter bilang salah satunya tidak dapat diselamatkan. Dunia Abi terasa runtuh. Dokter mengatakan bahwa penyebab kematian anaknya itu dikarenakan benturan pada rahim Arabella.
Ia tahu, memang saat itu Arabella melahirkan lebih cepat dari waktunya dikarenakan Arabella mengalami pendarahan. Wanita itu sering kali memukul kandungannya. Banyak hal yang Arabella lakukan untuk membahayakan janinnya.
Hati Abi terasa perih mengingat itu. Selama kehamilan Ara, tidak pernah sekalipun ia pergi memeriksa kandungannya, sebab itu Abi tidak mengetahui anak mereka kembar. Saat mendengar kabar salah satu anaknya meninggal. Abi menyuruh dokter itu untuk tutup mulut dari Ara.
Abi sengaja tidak memberitahukannya pada Ara. Itu agar hati Abi tidak sakit, karena pasti Ara tidak akan peduli jika bayinya pergi. Saat Ghania diberikan untuk disusui saja, Ara menolaknya mentah-mentah. Ia bahkan tidak peduli dengan tangisan Ghania saat itu. Hal itu semakin membuat Abi yakin untuk menutupi kalau mereka punya anak selain Ghania, yaitu Genta.
“Hati ayah sakit boy! Hati ayah sakit saat mendengar kamu pergi meninggalkan ayah ditambah sikap ibumu terhadap Ghania. Kalian berdua jiwa ayah. Maafkan ayah ya nak. Maafkan ayah dan ibu yang gak bisa menjaga kamu saat dalam kandungan. Maafkan ayah Genta,” Abi memeluk batu nisan anaknya.
Genta, salah satu alasan Abi semakin membenci Ara. Abi merasa karena Ara, anak laki-lakinya ini pergi. Ia merasa tidak pernah bisa memaafkan Ara atas kepergian Genta. Tidak akan pernah bisa. Bagi Abi, Ara bukanlah sosok ibu yang baik. Ia memang masih mencintai Ara, tapi tidak pernah terpikirkan olehnya untuk menerima Ara kembali.
Kini, Abi tengah bersiap untuk meluapkan kebenciannya terhadap Ara. Membalas segala perlakuan Ara terhadap anak-anak mereka. Akan Abi buat ia semenyesal mungkin. Wanita itu tidak akan pernah lepas lagi.
.......
.......
.......
...#pojokan author...
...Hehe akhirnya bisa update lagi:))...
...Gmn? Ada rasa kesel ke Ara?...
...Kasihan kah ke Abi?...
.......
...Terima kasih ya setia nunggu dan baca...
...Like dong kalau udah selesai bacaT_T...
...Biar aku semakin semangat nihhh:((...
...Jangan lupa vote, comment, dan share juga karya MHC ini...
...See you next episode^^...
^^^The Yelion❤️🍀🍁^^^
^^^XOXO^^^
__ADS_1