
...“Sini peluklah aku. Hatimu lelah, istirahatlah sebentar. Jangan memaksakan diri”...
...***...
Abi membuka matanya perlahan. Sinar lampu yang pertama kali ia lihat, begitu menyilaukan. Ia melihat sekeliling, sepertinya ia sudah tahu dimana ia berada. Tidak ada orang di ruangan itu selain dirinya. Abi meringis, ia merasakan perih di kaki dan tangannya. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi pada dirinya. Ah! Kini ia telah ingat, ia terbawa suasana ketika mengingat istrinya itu. Betapa bodohnya dia.
Tenggorokannya terasa kering. Abi ingin minum, ia berusaha untuk mengambil air putih di nakas. Tapi tangannya terasa perih ketika digerakkan. Akhirnya ia pasrah, menunggu seseorang datang untuk membantunya minum. Sembari menunggu, ia kembali memejamkan matanya.
“Papa! Papa udah bangun?!” Ghania, malaikat kecilnya berlari ke arahnya. Memeluk ayah yang paling disayangnya itu. Abi tersentak, ia membuka matanya. Ia tersenyum, lalu mengelus kepala anaknya.
“Ghania...maafin papa ya karena papa sakit,” Abi merasa bersalah pada anaknya. Padahal ia berusaha mati-matian agar tidak terlihat sakit atau menyedihkan di hadapan anaknya.
“Kenapa papa minta maaf? Papa gak apa-apa kalau sakit, nanti Ghania rawat,” Ghania melepas pelukannya, gadis kecil itu duduk disamping papanya. Lalu memijit tangan papanya itu. Abi tersenyum. Terharu melihat sikap putrinya.
“Papa rindu mama?” Abi terkejut mendengar ucapan anaknya. “Semalam Ghania lihat foto papa sama mama diatas tempat tidur, biasanya kan gak pernah papa keluarin. Tapi pa, fotonya pecah,” Abi tersenyum, ia membelai rambut anaknya.
“Papa gak rindu mama kok. Semalam papa mau bersihin fotonya, tapi jatuh makanya pecah. Terus tangan sama kaki papa jadi kena,” Ghania menganggukan kepalanya. Ia percaya pada papa cerita karangan papanya itu.
“Aunty, sini duduk dekat Ghania. Jangan berdiri di pintu,” Abi yang mendengar itu, melihat ke arah pintu. Ia tak menyadari ada orang disana, ia terlalu fokus pada anaknya. Tapi Abi kembali dibuat terkejut, ia mengenal orang yang berdiri disana.
“Kamu? Zanna kan?” Ya, perempuan yang dipanggil Ghania adalah Zanna. Gadis itu tersenyum canggung ke arah Abi.
Ia berjalan mendekat ke arah ayah dan anak itu. Zanna kembali tersenyum dengan canggung. “Pak!” sapa Zanna canggung.
“Kamu kenapa bisa disini?” tanya Abi pada Zanna.
“Tadi Ghania kesasar terus ketemu sama aunty ini. Ternyata auntynya kenal Ghania, terus juga kenal papa,” jelas Ghania, yang dibalas anggukan oleh Abi. Tapi pria itu masih menatap Zanna, mencoba meminta penjelasan dari sisi Zanna.
Zanna yang mengetahui tatapan dari Abi, ia pun menjelaskan kejadian pertemuan ia dengan Ghania “Iya tadi saya ketemu Ghania. Dia kelihatan kebingungan, makanya saya datangin, dan nanya ke dia. Terus dia ngasih tahu saya, kalau bapak dirawat. Karena berhubung saya tahu nama bapak, saya tanya ke resepsionis. Setelah itu saya anterin pak,”
Abi mengangguk-angguk. “Terima kasih sudah antarkan anak saya,” Zanna menganggukkan kepalanya.
Pintu ruangan terbuka. Ternyata Bu Nur, terlihat raut wajah lega ketika melihat Ghania. “Tuan, maafin ibu lalai jagain Ghania. Tadi Ghania lagi main di taman. Terus ibu suruh Ghania tunggu sebentar, niatnya mau beliin makan siang, tapi tahu-tahu Ghania gak ada pas ibu balik. Maafin ibu,” raut wajah bersalah tergambar di wajah wanita paruh baya tersebut. Abi tersenyum.
“Gak apa-apa bu. Ini Ghanianya nih yang nakal, disuruh tungguin malah pergi,” Abi mencubit hidung kecil putrinya.
“Tadi Ghania mau balik ke kamar papa, tapi Ghania lupa kamar papa dimana. Untung aja ada aunty Zanna,” ucap Ghania.
__ADS_1
“Minta maaf ke nenek. Kamu buat khawatir nenek lho,” Ghania mengangguk menuruti perintah ayahnya. Ia meminta maaf pada neneknya itu.
Zanna semakin dibuat canggung. Ia merasa asing berada diantara mereka.
“Oh iya untung Tuan udah siuman. Tuan mau makan apa, biar ibu suapi,” Abi menggeleng.
“Tak usah Bu. Ajak Ghania makan saja, saya bisa sendiri kok,” Bu Nur mengangguk lalu menatap Zanna.
Zanna yang ditatap tersenyum ke arah Bu Nur. “Makasih ya mbak udah antar Ghania. Mbak kenal sama Tuan Abi?” Zanna mengangguk. “Oh ya sudah, kalau gitu saya tinggal dulu, mau ajak Ghania makan,” Zanna kembali mengangguk dan tersenyum ke arah wanita paruh baya itu.
Bu Nur dan Ghania pergi menuju ruang makan di kamar tersebut. Berhubung kamar yang dipakai Abi adalah kamar paling bagus di rumah sakit tersebut, wajar bila ada ruang makan. Ruang makan tersebut dibatasi tembok antara tempat tidur pasien. Jadi, walaupun Zanna tahu Bu Nur dan Ghania tetap berada di ruangan yang sama. Tetap saja ia merasa sendiri.
Zanna menatap Abi. Ternyata pria itu pun menatapnya. Zanna jadi gugup, padahal biasanya jika bertemu Abi, dia seperti tak mengenal rasa malu. Apa mungkin karena Abi adalah calon atasannya?
“Kalau gitu saya permisi dulu pak,” pamit Zanna seraya tersenyum.
Abi mengangguk. “Terima kasih sekali lagi sudah mengantarkan anak saya,” Abi tersenyum ke arah Zanna. Jantung gadis itu berdebar karena melihat senyuman dari pria itu.
“Iya pak sama-sama,” setelah itu Zanna kembali pamit. Saat ia telah berjalan menuju pintu, Zanna membalikkan badannya. Disana ia melihat Abi tengah kesulitan menggapai minumannya.
Zanna tampak berpikir. Lalu Zanna memutuskan kembali ke arah Abi. Ia mengambil gelas berisi air putih tersebut dan menyodorkannya ke arah Abi. Ia tersenyum dengan manis ke arah pria itu.
“Ah iya, terima kasih,” Abi meminum air tersebut. Niatnya ia ingin meminum air tersebut ketika Zanna pergi. Tapi, melihat gadis itu masih berdiri disampingnya, ia tak tahan, kerongkongannya sudah kering.
Setelah melihat Abi menghabiskan minumannya. Zanna meminta kembali gelas tersebut, Abi tampak bingung, tapi tetap ia berikan gelas kosong tersebut pada Zanna. Gadis itu tersenyum, ia meletakkan gelas itu kembali di nakas samping tempat tidur.
“Maaf pak sekali lagi. Bapak pasti belum makan kan?” Abi mengangguk.
“Boleh saya bantu?” Abi terdiam sesaat.
“Bantu?”
“Iya saya suapi?” Abi langsung menggeleng.
“Tidak usah, saya bisa sendiri,”
“Bapak aja megang gelas pakai tangan kiri. Gimana mau makan?” Zanna menekan salah satu tombol yang berada di tempat tidur itu. Tombol yang berfungsi untuk mengeluarkan meja untuk makan pasien. Zanna lalu mengambil makanan yang disediakan rumah sakit di atas meja.
__ADS_1
“Saya bilang saya bisa sendiri. Kamu tidak perlu repot-repot,” Abi mencoba menggerakkan tangannya. Tapi rasa perih kembali menjalar.
“Gak apa-apa kok pak. Saya tidak merasa direpotkan,” Abi merasa tidak nyaman. Ia ingin menolak, tapi gadis ini keras kepala. Apakah ia harus membentak Zanna seperti sebelumnya mereka bertemu? Tidak-tidak! Gadis ini sudah membantu putrinya tadi. Jika ia bentak, betapa tak tahu terima kasih dirinya ini.
“Saya bisa sendiri,” Abi mengambil piring dari tangan Zanna dengan tengan kirinya. Tetapi, lagi-lagi ketika ia mencoba menggerakkan tangan kanannya, rasa perih semakin menjadi-jadi. Sepertinya bius lokal pada tangannya itu hampir sepenuhnya hilang.
Abi tak menyerah, ia meletakkan piring tersebut. Lalu mencoba makan menggunakan tangan kiri. Namun, ia kesulitan, makanan tersebut malah berserakan. Zanna tertawa kecil.
“Bapak gak usah sungkan. Anggap saja saya suster,” Zanna mengambil sendok dari tangan Abi. Ia menyendok makanan tersebut, lalu mengarahkannya ke hadapan Abi.
Abi diam, ia tak membuka mulutnya. Ia merasa tak nyaman dan canggung. Bagaimana bisa gadis ini bersikap seperti ini padanya? Keras kepala! Perut Abi berbunyi, Abi mengutuk perutnya. Pasti suara perut itu didengar Zanna. Abi menatap nanar ke arah makanan yang ada disendok tersebut. Tapi harga dirinya masih menguasai ia saat itu.
“Papa! Kenapa makanannya cuma dilihat aja? Dimakan dong!” suara putrinya mengejutkan dirinya. Kini masalah baru muncul, putrinya itu pasti akan memaksa dirinya untuk makan.
“Papa gak nafsu makan. Gimana kalau Ghania suapi papa? Pasti nanti nafsu makan papa balik," untung saja pikirannya langsung bekerja.
“Gak mau. Ghania mau main sama nenek. Dari tadi malam, Ghania nungguin papa bangun. Ghania belum ada main sama sekali. Karena nungguin papa, Ghania juga gak sekolah,” Abi sepertinya tidak bisa menghindar lagi. “Lagian kan ada aunty. Tuh aunty mau suapin papa, ya kan aunty Zanna?”
Zanna tersenyum, Ghania membantunya kali ini. Lantas Zanna mengangguk. “Iya dong, orang sakit mana bisa makan sendiri. Jadi harus dibantuin,”
Bu Nur yang ada dibelakang Ghania hanya tersenyum. Setelah itu Ghania menarik Bu Nur pergi dari ruangan tersebut. Menyisakan Zanna dan Abi di ruangan tersebut.
.......
.......
...#pojokanauthor...
...Niatnya update jam 5 sore, tapi tadi ada urusan:)...
...Ditunggu Eps selanjutnya ya^^...
...Jangan lupa like dan tinggalkan comment kalian:)...
...Vote dan rate-nya sekalian Kaka:3...
.......
__ADS_1
...The Yelion♥️🍁🍀...
...XOXO...