My Heart Choice

My Heart Choice
9• Perasaan Savian


__ADS_3

...“Aku merindukanmu. Bagaimana caranya agar aku bisa bertemu denganmu setiap hari?”...


...***...


 


Sudah berhari-hari berlalu semenjak Zanna mengetahui bahwa nama pria itu bukanlah Ivan Widjaya. Berhari-hari juga Zanna tidak pernah bertemu dengan pria itu. Zanna pikir mereka akan ditakdirkan bertemu kembali disuatu tempat secara kebetulan seperti biasanya.


Saat ia menjemput kakaknya bekerja pun, pria itu tidak pernah terlihat mengantar ataupun menjemput putrinya. Zeva, kakaknya itu bilang yang mengantar dan menjemput Ghania seorang ibu-ibu tua. Memang benar, Zanna pun pernah melihat orang yang dimaksud Zeva. Ingin rasanya Zanna mengikuti mereka ataupun bertanya pada ibu-ibu itu. Tapi nama pria itu pun ia tak tahu.


Zeva pasti tahu nama pria itu dari data milik Ghania. Tapi Zanna tidak mau bertanya pada kakaknya itu. Ia tidak mau kakaknya ikut campur dalam urusan percintaannya. Zeva terlalu cerewet jika menyangkut pria yang Zanna suka. Bahkan pernah sekali, Zeva mengajak Riana untuk mengikuti Zanna kencan dengan pacarnya dulu.


Zanna menghela nafas jika mengingat apa yang kakaknya lakukan dulu. Kini Zanna tengah berada di depan kertas-kertas kosong dengan pensil ditangannya. Ada design yang harus ia buat, tapi tidak ada sama sekali ide yang keluar dari pikirannya.


Zanna mengemas alat menggambar miliknya, lalu memasukkan ke dalam tas. Setelah itu, rambut panjang yang terurai itu ia ikat asal-asalan. Zanna keluar dari kamarnya. Turun menemui bundanya.


“Bun, Zanna ke rumah Savian ya,” pamit Zanna. Yuma, bunda Zanna mengangguk mengiyakan. Zanna berjalan menuju rumah Savian yang berada di depan rumahnya.


Saat Zanna berada di taman rumah Savian, Zanna terhenti. Ia mendengus, lalu berjalan menuju hamparan rumput yang luas, dan langsung berbaring disana menghadap langit. Zanna menutup matanya, membiarkan angin sore menerpa. Perlahan kesadaran Zanna hilang, ia tertidur.


Tanpa Zanna sadari, Savian melihat semua yang Zanna lakukan dari balkon rumahnya. Savian tersenyum, bagaimana bisa gadis itu tidak menyadari bahwa Savian berada di balkon. Saat melihat Zanna sudah terdiam dengan menutup mata cukup lama. Savian memanggil Zanna dari atas.


“Za!” Zanna tak bergeming.


“Zanna!” masih tak bergeming.


“Zanna! Jangan pura-pura gak dengar lo!” Zanna masih saja diam.


“Zannaaaaa...Lettaaaa...Kiraniaaa!” teriak Savian memanggil nama panjang gadis itu. Melihat tak ada respon sama sekali, Savian turun.


“Vian, kenapa teriak-teriak nak?” tanya Biba, bunda Savian.


“Anak bunda tuh tidur di taman kita kaya’nya,” Biba terheran.


“Siapa? Abang kamu?” Savian menggeleng.


“Zanna, bun,” Biba tertawa lalu melenggang pergi.


Savian berjalan menuju tempat Zanna berada. Benar saja, gadis itu tertidur. Savian tertawa, lalu duduk disamping Zanna yang tertidur. Savian melihat tas yang dijadikan Zanna sebagai bantal. Ia mencoba mengangkat kepala Zanna, mencoba memindahkan ke kakinya. Setelah berhasil memindahkan kepala Zanna. Savian melihat isi tas Zanna. Ia tersenyum kecil.

__ADS_1


“Lo pasti sama sekali gak punya ide buat nge-design. Sketch book lo masih kosong, kertas-kertas juga satu pun gak ada yang kecoret,” Savian memasukkan kembali benda-benda tersebut. Dan sekali lagi mencoba membangunkan Zanna, tapi Zanna benar-benar tertidur pulas.


Savian menghela nafas, lalu menyandang tas Zanna di dadanya. Savian mengangkat badan Zanna dan menggendongnya di punggung. Awalnya ia ingin membawa Zanna pulang ke rumah gadis itu. Tapi ia urungkan. Savian mengangkat Zanna menuju gazebo di belakang rumahnya.


“Za! Bangun Za, lanjutin ini tugas lo. Lagian udah sore malah tidur,” Savian mencubiti pipi Zanna.


Zanna merasa terusik dengan cubitan tersebut. Ia menepisnya, lalu kembali pulas. Savian tak mau membangunkan Zanna lagi. Ia hanya memandangi wajah Zanna. Bulu mata yang lentik, alis mata yang cukup tebal, hidung yang mancung, bibir tipis, serta kulit yang putih.


“Nak jangan dipandangin terus. Nanti suka,” tegur Biba lalu mendatangi mereka.


“Emang udah suka bun,” ucap Savian namun pelan.


“Kamu bilang apa tadi?” Savian menggeleng.


Biba duduk di samping Savian. Ikut menatap Zanna. “Cantik ya Zanna,”


Savian tersenyum. “Iya bun. Cantik,”


“Kapan kamu ungkapin perasaan kamu?” Savian memasang ekspresi seolah-olah bertanya.


“Bunda tahu kamu suka Zanna. Sejak lama kamu suka Zanna. Kamu gak bisa bohongi bunda kamu sendiri sayang,” Biba memegang tangan anaknya itu.


“Kamu ini, udah dibilang. Kamu gak bisa bohongi bunda. Kamu gak pernah bisa bohong Vian,” ucap Biba.


“Jangan bilang Zanna ya bun. Vian gak mau Zanna tahu,” Savian membalas genggaman bundanya itu.


“Nanti diambil orang loh,” Savian tersenyum.


“Vian gak mau Zanna menjauh kalau Vian kasih tahu perasaan Vian,” Savian melihat ke arah Zanna. “Lagian Zanna lagi suka sama orang.”


Biba mengelus tangan anaknya itu. “Kan belum pacaran sayang, coba aja ungkapin dulu,”


“Vian gak mau membebani Zanna kalau Vian ungkapin bun. Seperti ini aja Vian udah bersyukur, Zanna datang ketika dia sedih maupun senang ke Vian. Vian gak mau kalau Zanna canggung, dan gak berbagi cerita lagi ke Vian,” tatapan Savian sendu, dan Biba bisa melihat itu.


“Bun, Vian pasti ungkapin perasaan Vian. Tapi gak sekarang, akan ada masanya. Dan sepertinya Zanna juga gak pernah mandang Vian lebih dari seorang sahabat,” Savian tersenyum kecut. Biba diam, ia hanya bisa mengelus tangan putranya sebagai penenang.


Erangan kecil Zanna membuat ibu dan anak tersebut tersadar. Setelah menepuk pundak Savian, Biba pergi membiarkan Savian menghabiskan waktu bersama Zanna.


Zanna membuka perlahan matanya. Wajah Savian yang pertama kali terlihat. Zanna tersenyum ke arah Savian, dan dibalas Savian kembali.

__ADS_1


“Udah lama ya gue tidur?” tanya Zanna.


“Lihat langit, udah mau malam,” Zanna tersenyum.


“Otak gue lagi gak mau diajak kerja sama, sedangkan gue harus ngebuat design baru untuk event jurusan nanti,” Zanna duduk, lalu menggeser badannya dan menyandarkan kepalanya pada bahu Savian.


“Mau ke restoran tempat lo ketemu cowok itu?” Zanna sumringah, mengangguk semangat.


“Ya udah sekarang pulang sana. Mandi terus siap-siap,” Zanna berdiri, lalu pulang ke rumahnya setelah pamit pada Biba. Meninggalkan tas berisi alat menggambarnya. Savian menggeleng, selalu saja ceroboh.


“Gue tunggu lo Za. Selagi hati ini masih untuk lo, gue akan selalu nunggu lo,” gumam Savian seraya memperhatikan tas milik Zanna.


Di lain sisi, Zanna terdiam di depan pintu rumahnya. Ia bermimpi, saat itu ia sedang berhadapan dengan Savian. Dimimpinya itu Savian sedang mengungkapkan perasaannya. Savian mengatakan bahwa ia menyukai dirinya sejak lama.


Zanna menggeleng. Tidak mungkin Savian menyukainya. Savian sudah menyukai orang lain, begitu pun Zanna. Lalu Zanna masuk ke dalam rumahnya. Sekarang yang ia pikirkan hanya tugasnya, dan ia berharap saat di restoran nanti. Ia bisa berjumpa dengan pria itu.


.......


.......


.......


...#pojokanauthor...


...Maaf yaw aku updatenya tengah malam XD...


...Semoga dpt ya feel-nya^^...


.......


...Stay tuned terus:)...


...Jangan lupa like, vote, comment, dan share^^...


.......


...Wanita penghuni surga (Aamiin^^)...


...Leonita_Wi...

__ADS_1


...XOXO🍀🍁❤️...


__ADS_2