
...“Ku pikir kamu tak peduli. Nyatanya kamu adalah salah satu orang yang begitu perhatian padaku”...
...***...
Sesaat sampainya di rumah, Zanna berlari dengan cepat menuju kamarnya. Ia bahkan tak peduli panggilan bundanya.
Tiba di kamar, Zanna segera mengambil kursi dan meletakkannya tepat di depan lemari pakaiannya. Zanna hendak mengambil kotak pakaian hadiah dari Abi.
Zanna mengambil kotak yang terletak di atas lemarinya. Ia segera membawanya ke kasur. Ia membongkar isi kotak tersebut.
“Gilaaa! Mahal banget!” teriak Zanna ketika melihat price tag pakaian yang ia kenakan ini.
Lalu, ia beralih mengambil sebuah amplop di dalam surat itu. Amplop yang terbungkus dengan elegannya. Penuh dengan nuansa emas.
Zanna menarik nafasnya perlahan. Apa jangan-jangan *design*nya Chris? Karena itu Chris begitu heboh tadi pagi.
Zanna membuka amplop tersebut, di dalamnya ada surat ucapan terima kasih. Kemudian, ada kartu kecil yang isinya ada kode *QR*. Dibawah kode itu ada tulisan ‘*Scan for more details*’. Sebelum ia meng-*scan* kode tersebut, Zanna kembali mengecek kertas-kertas di kotak itu.
“Tunggu! Gue mesti ganti baju dulu,” Zanna dengan cepat mengganti pakaiannya dengan pakaian santai.
Ia memegang pakaian pemberian Abi itu. Melihat ke bagian dalam baju tersebut. Zanna menekup mulutnya. Ia kembali melihat apa yang ia lihat barusan.
“Oh *my*...serius ini?!” Zanna kembali mengecek seluruh isi kotak itu.
“Beneran dong! Ya ampun!” belum puas, Zanna merogoh *handphone* di dalam tas. Ia segera meng-*scan* kode tadi.
Semua hal yang ingin Zanna ketahui sebenarnya sudah terpenuhi. Ini hanya ingin memantapkan kembali apa yang ia lihat. Setelah Zanna meng-*scan* kode *QR* tersebut, tertera bahan yang digunakan, harga dari pakaian ini, apa arti dari design pakaian ini. Bahkan, nomor seri dari baju ini pun ada di dalam Zanna.
Pakaian ini hanya di produksi sebanyak lima puluh stel untuk seluruh negara. Zanna merupakan salah satu pemilik pakaian limited edition ini. Zanna teriak histeris, ia memegang pakaian itu. Lalu loncat-loncat diatas ranjangnya.
“Abiiiii! Aku gak nyangka ini *design* kamu! Ya ampun beruntungnya akuuuuuu....” Zanna memeluk pakaian itu. Pantas saja Chris heboh.
Zanna memang akhir-akhir ini belum mengecek *fashion* terbaru bulan ini. Karena dari itu, ia tidak tahu kalau pria itu merilis *design* miliknya.
Zanna kembali mengecek *handphone*. Ia melihat dengan seksama, ternyata pakaian itu baru di produksi sepuluh buah untuk pertama rilis. Dan Zanna orang beruntung yang mendapatkan pakaian ini tanpa susah payah.
“Kok mau sih ngasih *design limited edition* gini ke gue? Jangan-jangan...Abi mulai ngasih gue perhatian. Aaakkkk!”
Zanna tak sabar untuk bekerja esok hari. Ia ingin segera menemui Abi dan mengutarakan rasa senangnya ini.
...***...
“Za! Coba kamu cek *design* yang ini. Kayanya bagian ini ada yang kurang, coba kamu tambahi sesuatu biar gak terlalu monoton kesannya,” Zanna tersenyum ke arah Lona, *partner* projeknya kali ini.
“Oke kak!” balas Zanna. Lona pun pergi dari meja Zanna.
Zanna melirik ke arah jam tangannya. Sebentar lagi jam makan siang. Semoga saja ia bisa bertemu dengan Abi.
Zanna mengambil handphonenya, dan mencoba menghubungi Evila.
__ADS_1
Zanna lega sambungan telfon diangkat Evila. “Kak! Aku ganggu gak?”
“*Gak kok! Lagi gak terlalu sibuk. Ada apatuh Za*?” tanya Evila diseberang.
“Pak Abinya bisa ditemuin gak? Ada yang mau aku omongin,”
“*Mmm...bisa sih. Jadwal pak Abi juga gak padat siang ini. Cuma kalau sekarang dia udah pergi duluan tuh Za*,”
“Kemana ya kira-kira kalau boleh tahu kak?” Zanna memanyunkan bibirnya. Apa ia juga tak bisa menemui Abi hari ini.
“*Yahh...kakak juga kurang tau. Pak Abi gak ada ngabarin mau kemana.Kayanya makan siang bareng pak Chris deh. Lagian Pak Abi cuma bilang kalau nanti siang bakal balik ke kantor*,” jelas Evila.
“Ya udah deh kak. Makasih ya, maapin kalau ganggu. Aku tutup telfonnya ya kak,” Zanna segera menutup telfonnya.
Ia kembali berkutat dengan pekerjaannya. Sepertinya ia harus menunda lagi untuk bertemu dengan Abi. Yah, mau bagaimana lagi. Pria itu super duper sibuk.
...***...
“Si Ara masih ngedatangin lo?” tanya Chris sembari menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
“Ya. Dia selalu berusaha untuk nemuin gue diluar kantor,” Abi memandang ke arah jalanan.
“Lo beneran nyuruh *security* untuk ngusir Ara kalau datang ke kantor?” tanya Chris.
“Iya, gue gak mau dia buat onar di kantor gue. Oh iya...lo yang ngasih nomor gue ke Ara?” Chris tersedak.
“Ya nggaklah. Ya kali,” Abi menatap Chris curiga.
“Lo gak bohongkan?” Chris melepas sendok dan garpu di tangannya. Kemudian melipat tangannya di dada.
“Gue kan udah pernah bilang. Gue gak akan ngasih info apapun tentang lo ke Ara tanpa persetujuan dari lo,” Abi menenggak minumannya.
“Terus kenapa dia bisa dapatin nomor gue?”
“Ya mana gue tau,” Chris mengedikkan bahunya. Ia kembali menyantap makan siangnya.
Abi menghela nafasnya. Ia kembali menatap ke arah jalanan. Ia masih belum ada waktu meladeni mantan istrinya itu. Sebenarnya bukan tidak ada waktu. Ia masih mau menghindar dari Arabella.
Wanita itu sudah menghantuinya sejak wanita itu pertama datang menemuinya, ia selalu muncul dihadapannya. Selalu dengan permintaan yang sama, ingin bertemu dengan Ghania. Takkan pernah Abi terima.
Karena sikap Ara, Abi bahkan menyewa *baby sitter* dan pengawal untuk Ghania. Ia takut Ara mengetahui sekolah Ghania dan membawanya pergi. Tak ada salahnya kan Abi antisipasi?
Bunyi kerincing pintu *cafe* membuyarkan pikiran Abi. Pria itu segera menyantap makan siangnya. Ia tak boleh berlama-lama mengabaikan Ara.
“Pak Abi!” seru seorang wanita yang mengejutkan Abi.
__ADS_1
“*Woooo*...Za...Zanna kan?” Zanna tersenyum lebar. Ia menganggukkan kepalanya dan tersenyum ke arah Chris. “Kamu mau makan siang juga disini?” lanjut Chris.
“Iya pak,”
“Kenapa gak di kantin kantor?” tanya Chris lagi.
“Karena saya suka *green tea*. Bu Cheris nyaranin *cafe* ini. Katanya *green tea* disini enak,” beritahu Zanna. Ia menatap Abi yang seolah-olah tak peduli dengan kehadiran Zanna.
“Ooooh...iya sih *green tea* disini enak,”
“Ya udah kalau gitu pak. Saya permisi nyari tempat dulu,” pamit Zanna pada Chris dan Abi.
Kalau saja Abi sedang sendirian. Pasti Zanna bisa berbincang dengan Abi. Zanna tidak berbohong kalau ia datang ke *cafe* ini karena *green tea*. Untunglah keputusannya ini membuat ia bisa kembali menatap wajah Abi.
Zanna mengambil meja yang tidak jauh dari Abi. Ia masih ingin berlama-lama menatap Abi. Sorot mata pria itu sangat tajam. Rahangnya yang bergerak setiap ia mengunyah membuat Zanna berteriak dalam hati. Belum lagi otot-otot tangannya.
Tampan. Ya Abi sangat tampan. Zanna menggelengkan kepalanya. Ia tersenyum lebar dengan riang Zanna membuka buku menu yang baru saja diberikan pelayan cafe. Zanna mau mengisi perutnya yang keroncongan ini terlebih dahulu.
Disisi lain, Abi yang mengetahui Zanna duduk tak jauh darinya dan sedang memperhatikannya tak mau ambil pusing.
Tunggu. Tiba-tiba Abi teringat sesuatu. Bukankah seminggu yang lalu ia berniat memberikan ucapan selamat pada Zanna. Ah sudahlah, membuang-buang waktu.
Tiba-tiba *handphone* Chris berbunyi. “Hallo?” sapa Chris. “Oh iya iya. Baik...oke...baik...bilang sama ibu, saya segera kesana,” Chris berdiri dari duduknya.
“Gue mesti ketemu nyokap gue. Gue cabut duluan ya,” Abi menganggukan kepalanya.
Abi mengecek *handphone*nya, ada panggilan masuk dari Ara. Abi menolak panggilan itu, kemudian mematikan benda persegi itu. Sepertinya ia mesti mengganti nomornya.
Abi segera mempercepat makan siangnya. Tak sengaja ekor matanya terarah ke Zanna. Wanita yang baru saja menerima pesanannya tampak riang. Abi mengerutkan keningnya. Ada tiga gelas di depan Zanna. Satu gelas yang sepertinya berisi *green tea*, lalu yang satunya sepertinya susu, dan satu lagi gelas kosong.
Zanna menuangkan sebagian isi *green tea* dan susu ke dalam gelas kosong tadi. Abi merasa tertarik dengan keribetan yang dilakukan Zanna. Jika ingin minum *green tea milk* tinggal pesan minuman tersebut dalam satu gelas. Untuk apa memesan terpisah-pisah seperti itu.
Sudahlah. Untuk apa ia peduli. Akhirnya Abi menyelesaikan makan siangnya. Ia segera bangkit dan menuju kasir.
Sebelum membayar, ia kembali menatap ke arah meja Zanna. Ia menimbang-nimbang. Entahlah.
Abi memberikan kartu miliknya kepada kasir. “Sekalian bayar untuk wanita yang ada di meja sana. Gak usah bilang saya yang bayar. Bilang aja sebagai ucapan selamat wisuda,” Abi menunjuk ke arah Zanna.
.......
.......
.......
...Happy Reading:)...
^^^The Yelion ❤️🍁🍀^^^
^^^XOXO
^^^
__ADS_1