
...“Terima kasih pernah hadir, aku benar-benar bahagia saat dimana bersama kamu. Aku mencintaimu”...
...***...
Zanna tak henti-hentinya menggerutu. Menurut Savian yang sedari tadi bersama Zanna dan tahu apa yang mengakibatkan Zanna menggerutu merasa jengah. Bagaimana tidak, yang dipermasalahkan Zanna hanya karena snack kesukaannya habis. Berkeliling hanya untuk mencari popcorn kemasan rasa caramel.
“Za, harus banget ya snacknya popcorn itu?” Zanna menghentikan kekesalannya.
“Vian, kalau gue gak mau tuh popcorn gak mungkin gua bela-belain keliling kesana kemari hanya demi itu. Gua pengen banget, dirumah stoknya udah habis,” Savian menghela nafas.
“Za, daripada keliling-keliling gak jelas. Mending kita ke bioskop, disana kan ada jual popcorn rasa caramel, lebih enak lagi,” Zanna mengerucutkan bibirnya.
“Iya sih lebih enak. Tapi aku pengennya yang kemasan, lebih murah,” Zanna tersenyum dengan lebar sampai deretan gigi putih dan rapi itu terlihat.
Savian diam tak mampu membalas lagi. Zanna yang ia kenal takkan pernah berubah. Akan selalu keras kepala jika menyangkut dengan apa yang ia inginkan. Kali ini Savian mengendarai mobil dengan tenang. Pasalnya Zanna telah berhenti mengoceh. Gadis itu tengah memainkan handphone.
“Viaaaaaaaaaaan!” teriak Zanna. Savian terkejut bukan kepalang. Ia lantas mengerem mobilnya, yang membuat ia dan Zanna terdorong ke depan. Untung saja tidak terbentur.
“Za! Lo gak lihat gue lagi nyetir?! Untung jalanan lagi sepi! Ngapain juga sih teriak-teriak?!” teriak Savian dengan nada tinggi, lalu kembali menjalankan mobil dan menepikannya ke pinggir.
“Ma-maaf,” Zanna pun terkejut. Ia mengaku salah, tapi yang lebih membuatnya terkejut, Savian yang membentaknya. Mata Zanna berkaca-kaca. Tak berapa lama, air matanya luruh dan membuat suara isakan dari mulutnya. Savian yang tadi tengah menutup matanya, mendengar suara isakan lantas melihat ke arah Zanna.
Savian merasa bersalah. Tidak seharusnya ia membentak Zanna. Kini Zannanya menangis dan itu karena dirinya. Savian melepaskan seat beltnya, lalu mendekat ke arah Zanna dan menggapai tubuh mungil itu. Savian memeluk Zanna, mengelus rambutnya dengan lembut. Zanna membalas pelukan itu.
“Maafin gue. Gue gak bermaksud ngebentak lo, gue syok tadi. Maafin gue ya Za,” Zanna masih terisak, namun didalam dekapan Savian, Zanna mengangguk.
“Gu-gue ju-juga minta maaf,” Zanna melepaskan pelukan. Ia menghapus air matanya seperti anak kecil. Savian yang melihat itu langsung mengacak-acak rambut Zanna.
“Kok lo bisa nangis sih? Biasanya gue, kakak lo, Riana, bahkan dosen lo bentak, lo gak sampe nangis gini?” tanya Savian.
Zanna yang telah menghentikan tangisannya, melihat ke arah Savian dengan puppy eyes. “Gue lagi rapuh, mood gue lagi mode berubah-ubah. Popcorn kesukaan belum dapet,” Savian tertawa.
“Terus kenapa lo teriak tadi?” Zanna mengambil handphonenya yang sempat terlempar tadi.
“Tadi gue lagi nanya ke Riana soal popcorn, berhubung dia lagi di minimarket, tapi disana stoknya juga habis. Terus Riana suruh tanya ke yang lain....” Savian mencubit pipi Zanna.
“Terus yang buat lo teriak apaan?” Zanna melepaskan cubitan di pipinya.
“Gue belum selesai ngomong, malah lo potong. Nah terus daripada gue chat teman yang lain satu-satu, mending gue tanyain di grup-grup, dan lo tau. Dosen gue ngechat, dia bilang dia lagi di minimarket dan popcorn kesukaan gue ada, bahkan ada banyak,” Savian terperangah.
“Lo tanyain juga ke grup yang ada dosen lo?” Zanna mengangguk. Savian benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Zanna.
“Ngapain lo nanya hal gak penting di grup yang ada dosen lo loh Za,” Zanna mengerutkan keningnya.
“Emang salah? Yang pentingkan gue gak nanyain hal aneh kaya’ misalnya telur apa ayam duluan yang turun ke bumi,” Savian tertawa lalu mengacak-acak rambut Zanna.
“Iya sih gak ada yang salah, cuma ya gimana, ya udahlah yang penting dapat. Minimarketnya dimana?” tanya Savian.
__ADS_1
“Bentar gue tanya,” Zanna menghidupkan handphonenya. Savian kira Zanna akan mengirimkan pesan teks, ternyata gadis ajaib itu mengirimkan voice note ke dosennya.
“Maaf pak Bimo yang saya hormati, jika saya merepotkan bapak kembali, tapi saya ingin bertanya dengan hati yang penuh harap ini. Alamat minimarketnya dimana ya pak? Please pak saya ingin sekali popcorn itu. Cacing diperut saya ngidam itu,” Zanna sumringah setelah mengirimkan pesan suara itu. Ia memperhatikan ruang obrolan dengan dosennya itu tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun. Beruntungnya dosennya itu cepat membalas pesan Zanna.
“Nih dosen gue udah ngasih alamatnya, eh tunggu ada vn dari dosen gue,” Zanna memutar pesan suara tersebut.
“Itu alamatnya Zanna, saya membalas pesan ini pun penuh dengan hati yang tulus. Saya mau imbalan, dan imbalannya saya mau kamu mengumpulkan tugas yang saya berikan dengan tepat waktu, jangan lelet seperti yang sudah-sudah ya Zanna. Otak saya yang cemerlang ini mengidam Zanna yang mengirim tugas tepat waktu,” Savian tertawa mendengar itu.
Zanna hanya diam, pukulan telak dari dosennya. Zanna mengirimkan stiker kucing dengan puppy eyes kepada dosennya, lalu disertai pesan ‘Baiklah pak’.
“Mampuslah gue, ah bodo amat, yang terpenting itu popcorn dulu. Ayo meluncur Saviku, oh iya rencananya gue beli dua. Cuma daripada besok-besok gue kepingin lagi terus pusing keliling-keliling begini, gue borong aja lah berapa banyak yang ada disana nanti. Tapi lo yang bayar ya Saviku. Please!” Zanna mengatupkan tangannya, lalu memandang Savian dengan penuh harap. Seperti biasa, Savian akan mengangguk menuruti apapun mau Zanna.
...***...
“Nah tu minimarketnya, huaaaa...seneng banget gue,” Zanna memandangi minimarket tersebut dengan gembira.
“Bocah-bocah. Dah turun cepat,” setelah memakirkan kendaraan Savian turun diikuti Zanna.
“Eh dosen gue masih disini dong, gua samperin dulu mau berterima kasih secara langsung. Ia menyelamatkan gue dari rasa kenginan yang dalam ini,” Savian hanya diam tidak menggubris, ia hanya mengamati Zanna yang berjalan dengan riang ke arah dosennya itu.
“Pak Bimoooo! Makasih ya pak, saya akan turuti apa yang otak bapak idamkan. Tugas dari bapak akan saya selesaikan tepat waktu. Eh kamu?” Zanna terdiam setelah melihat siapa yang tengah diajak bicara dosennya itu.
“Kamu? Sedang apa kamu disini?” tanya pria yang beberapa hari ini menghantui pikiran Zanna. Pria duda dengan satu anak tapi begitu tampan.
“Loh Zanna kamu kenal dengan teman saya?” tanya Bimo, dosen Zanna.
“Emm...belum kenal namanya, tapi udah dua kali ketemu dan ini yang ketiga kali,” pria itu hanya menatap dingin ke arah Zanna. Setelah itu ia pamit pada Bimo untuk undur diri. Setelah diiyakan Bimo, pria itu pergi dari hadapan mereka.
“Tunggu!” seru Zanna. Pria itu tetap berjalan. Savian yang melihat itu tetap diam. Ingin rasanya ia menarik pria itu untuk berhenti dan mendengarkan Zanna sebentar, namun ia tahu, pria itu merasa tidak nyaman dengan Zanna.
“Kamu dengar aku nggak?” pria itu berhenti secara tiba-tiba, membuat Zanna yang sedari tadi mengikuti dari belakang menabrak punggung pria itu.
“Aww! Punggung kamu keras banget sih!” Zanna mengelus keningnya. Pria itu berbalik.
“Kamu gak apa-apa? Maaf saya tiba-tiba berhenti,” tanya pria itu selalu dengan nada yang dingin. Namun berbeda dengan Zanna, pipinya terasa terbakar, jantungnya berolahraga lebih kencang.
“Kamu khawatirin aku?” Zanna menatap mata pria itu.
“Saya tarik pertanyaan saya tadi. Ada apa?” pria itu mengalihkan pandangannya ke arah yang lain, enggan menatap Zanna.
“Aku belum kenal nama kamu. Nama kamu siapa?” tanya Zanna masih menatap dalam pria itu.
Pria itu terdiam. Kemudian ia melihat Zanna dari atas sampai bawah. Ia menghela nafas.
“Jika saya kasih tahu nama saya. Bisa kamu jangan menahan saya lagi?” Zanna mengangguk dengan antusias.
“Tapi nama panjang, ya?” Zanna mengatupkan tangan.
__ADS_1
“Panggilan saya Ivan. Kepanjangan saya Ivan Widjaya,” setelah itu pria yang mengaku bernama Ivan itu pergi dari hadapan Zanna.
Zanna senang bukan kepalang. Ia berlari ke arah Savian yang tengah mengobrol dengan Bimo. “Viaaaaaaan!” Savian menutup telinganya, terlalu memekakkan telinga.
“Eh bapak masih disini?” tanya Zanna.
“Gak ini saya mau balik. Saya pegang ucapan kamu ya, tugas kamu harus dikumpul tepat waktu,” Zanna tersenyum lalu mengangkat tangannya, membuat gerakan tengah hormat.
“Siap pak. Pak Bimo tenang aja. Saya sekali lagi mengucapkan beribu-ribu terima kasih. Hati-hati dijalan ya pak, dadah bapak!” Zanna melambaikan tangan pada Bimo.
“Oh iya Viaaaaan! Akhirnya gue tahu nama cowok itu. Namanya Ivan. Ivan Widjaya,” Bimo yang jaraknya belum terlalu jauh, mendengar apa yang Zanna ucapkan.
“Pria tadi? Pria tadi yang dimaksud Zanna teman gue kan? Yang dikejar tadi? Ivan? Sejak kapan nama tuh pak duda Ivan? Pake-pake nama bapak gue lagi Widjaya. Ah tau ah, bodo amat,” Bimo pun benar-benar pergi dari minimarket itu.
“Ya udah. Lo udah tahu nama tuh cowok. Sekarang cepat ambil popcorn kesukaan lo itu, gue capek. Nih dompet gue, ambil apa yang lo mau. Gue tunggu di mobil,” Savian menarik tangan Zanna dan meletakkan dompet di tangan mungil itu. Lalu Savian pergi ke dalam mobil. Zanna loncat-loncat kegirangan.
“Makasih pak Bimo karena bapak saya dapat double kebahagiaan. Makasih Savian karena membiarkan gue jajan sepuasnya hingga membuat triple kebahagiaan. Makasih Ivan karena udah mau ngasih tahu nama kamuuu. Kebahagiaan aku maniac. Tinggal dapetin kamu biar bisa jadi savage!” Zanna berteriak, yang membuat pengunjung minimarket lain melihat ke arah Zanna. Tapi Zanna tidak peduli, ia masuk ke dalam minimarket dan mengambil apapun yang ia suka. Hari ini suasana hati Zanna begitu baik. Ia begitu senang.
...***...
...#pojokanauthor...
...Hai aku balik lagi...
...Maaf ya lama update hehe^^...
...Semoga dapat ya feel-nya...
.......
...Tetap stay ya readers tersayang semuaaa^^...
...MHC akan aku up secepatnya^^...
...Love u all<3...
.......
...Jangan lupa like, vote, comment, dan share cerita ini sebanyak-banyaknya biar gk kalian aja yg merasakan kegilaan Zanna^^...
.......
...Wanita penghuni surga^^ (Aamiin)...
...Leonita_Wi...
...XOXO🍀🍁❤️...
__ADS_1
.......
...FIND ME ON IG : @LEONITA782...