
...“Senyuman itu perlahan-lahan tak lagi dituju untukku. Maaf telah mengecewakanmu”...
...***...
Flashback On
“Feb, gue mau nanya sesuatu sama lo,” Febby melihat ke arah Ara.
“Nanya apaan?” tanya Febby.
“Kira-kira maskapai kita nerima gak sih kalau misal suatu saat kita hamil?” Febby menghentikan aktivitasnya. Lalu berkacak pinggang menatap Ara.
“Kenapa lo nanya gitu? Lo ada rencana mau punya anak?” tatap Febby curiga.
Ara terdiam sejenak. “Hahaha belum ada kepikiran kalau gue, masih mau nikmati waktu berdua dulu sama Abi,” balas Ara.
“Sesuai diaturan maskapai kita, gak boleh sih Ra. Kalau lo mau mutusin untuk hamil, itu sama aja dengan kita ngundurin diri,” Ara menggigit bibir dalamnya. Bagaimana ini?
“Oh iya ya. Bu Siska kan juga udah pernah ngebahas ini. Ya udah, siap-siap yuk,” Ara tersenyum ke arah Febby. Kemudian Ara beralih menyiapkan barang-barangnya.
Ia sebenarnya tahu, maskapai tempat ia bekerja memang mengizinkan pramugari untuk menikah, tapi tidak untuk hamil. Apa yang harus ia lakukan? Ia begitu mencintai pekerjaannya ini. Tidak pernah sekalipun terpikir untuk berhenti. Tapi, bagaimana cara ia menyelesaikan masalah ini?
Ara menghela nafas kasar. Kemudian ia segera menyeret kopernya dengan langkah gontai. Tiba-tiba rasa mual menyerang Ara ketika ia mencium bau yang terasa menyengat di hidungnya. Ara mencoba menahannya, ia mempercepat langkahnya.
Ara bersusah payah untuk sampai di kabin pesawat. Ia kemudian segera mencari tempat duduk. Berusaha untuk mengurangi rasa mual yang menyerang dirinya.
Mata Ara berkaca-kaca. Baru diawal saja ia sudah kesusahan, bagaimana seterusnya? Ia pun juga tidak bisa berlama-lama menyembunyikan kehamilannya ini dari pihak maskapai dan juga Abi.
Ara bertekad, sebelum perutnya semakin membesar ia harus mencari solusi atas masalahnya ini. Kini ia harus fokus bekerja. Ia tetap harus profesional, ia berharap semoga saja rasa mual tidak menyerangnya kembali.
...***...
Ternyata harapannya tidak terkabul. Berulang kali Ara merasakan mual. Yang paling parah ketika pesawat akan mengudara. Ara melihat pantulan dirinya di cermin. Sudah berulang kali ia bolak-balik ke kamar mandi. Sekarang wajahnya tampak pucat, beberapa kali ia memuntahkan isi perutnya.
“Ra, lo baik-baik ajakan?” tanya Febby yang tengah memijit telapak tangan Ara.
“Iya gue gak apa-apa. Kayanya gue salah makan,” ucap Ara berkilah.
“Ya udah lo istirahat aja dulu ya. Bentar lagi kita landing kok tahan dikit lagi ya,” Ara mengangguk kemudian Febby pergi meninggalkan Ara untuk istirahat.
Tak berapa lama kemudian. Saat pesawat akan mendarat, suara bising yang memenuhi ruangan membuat Ara pusing. Kini ia benar-benar tidak kuat. Ia merasa sebentar lagi kesadarannya hilang. Ara memegang apapun yang ada disampingnya dengan sekuat tenaga.
__ADS_1
“Feb...” panggil Ara lirih. Keringat sudah bercucuran, padahal ruangan tersebut dingin.
Ara tidak kuat lagi, akhirnya ia ambruk. Perlahan-lahan kegelapan mulai menyelimuti Ara. Saat itu, Ara mendengar sayup-sayup suara Febby yang memanggil-manggil namanya.
...***...
Abi memandang jam tangannya dengan gusar. “Pak, percepat lagi ya pak,” ucap Abi ke supir taksi.
Pikirannya begitu kalut. Ia amat khawatir dengan Ara. Tadi saat tengah menghadiri rapat, tiba-tiba ada telfon dari Ara. Ia pikir Ara menelfonnya untuk mengabari kalau istrinya itu sudah sampai di tujuan. Jadi, Abi mengabaikannya menunggu rapat ini selesai.
Namun, berulang kali panggilan atas nama Ara muncul di handphonenya. Ara biasanya tidak pernah menelfonnya bertubi-tubi. Abi langsung menginterupsi rapat tersebut dan segera mengalihkannya ke Chris.
Ia mengangkat telfon dari Ara. Namun bukan suara istrinya yang ia dengar, tapi suara orang lain.
“Hallo!” suara seorang wanita asing yang terdengar di telinga Abi.
“Iya? Ini siapa?” tanya Abi.
“Abi! Ini aku Febby,” ucap Febby diseberang.
“Oh Febby. Iya ada apa? Bukannya ini hp Ara yang kamu pakai?” tanya Abi.
“Iya ini hp Ara. Aku gak punya nomor kamu. Tapi itu gak penting sekarang. Aku mau ngabarin kalau Ara tadi tiba-tiba pingsan, dan sekarang lagi di rumah sakit,” Abi seketika langsung khawatir.
“Dia belum siuman, masih diperiksa sama dokter,” Abi melonggarkan dasinya.
“Tolong kamu kirimkan alamat rumah sakit dan nomor kamarnya sekarang. Saya segera kesana, tolong jaga Ara selagi menunggu saya tiba,” Febby mengiyakan, kemudian panggilan terputus.
Ketika ia sudah menerima alamat dari Febby. Tanpa pikir panjang, Abi langsung memesan tiket menuju tempat istrinya berada.
...***...
Taksi yang mengantar Abi akhirnya sampai disebuah rumah sakit. Abi segera mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah. Tidak peduli uang yang ia berikan melebihi ongkos seharusnya.
Abi keluar dari taksi dan segera berlari menyusuri koridor rumah sakit, mencari kamar tempat istrinya dirawat. Saat ia berhasil menemukan kamar istrinya itu, Abi langsung membuka pintu.
Ia melihat orang-orang yang berada di ruangan itu menatap ke arahnya. Abi hanya fokus pada Ara yang terbaring lemah dan pucat tengah menatapnya.
Mata Abi berkaca-kaca. Ia langsung meluruh ke arah Ara dan memeluk orang tercintanya itu.
“Sayang! Kamu kenapa? Kamu gak apa-apakan? Dimana yang sakit? Kenapa kamu bisa pingsan? Kenapa kamu bisa disini?” bertubi-tubi pertanyaan dilontarkan Abi.
__ADS_1
Febby dan beberapa teman Ara yang berada di ruangan tersebut. Seakan mengerti, mereka keluar meninggalkan Abi dan Ara.
Ara terdiam, ia tidak bisa menjawab. Ia hanya menatap Abi dengan berkaca-kaca. “Mana dokternya? Sebentar aku temui dokternya,” jika Abi menemui dokter, maka Abi akan mengetahuinya.
Ara ingin menghalangi Abi. Tapi ia tidak sanggup, badannya masih terasa lemas. Ia hanya menatap nanar ke arah punggung Abi yang perlahan keluar dari ruangan. Ara tak tahu apa yang harus ia lakukan setelah ini. Karena dokter yang memeriksanya telah memberitahukan kepada atasannya bahwa ia tengah mengandung. Pekerjaannya hancur sekarang. Impiannya tak lagi bisa ia gapai.
Ia memegang perutnya. Ini karena kehamilannya, pekerjaan yang begitu Ara cintai, hancur lebur bagai buih di lautan. Entah iblis apa yang merasuki Ara, tapi Ara merasa karena anak ini. Karirnya hancur. Ara menyalahkan anak yang tengah dikandungnya ini. ia membenci anak ini.
Air mata mengalir dari matanya. Ara mulai menangis tersedu-sedu. Ia benci, begitu membenci anaknya ini.
“Aku...hiks...aku gak mau...aku gak mau anak ini,” perlahan tangis Ara mereda, badannya terasa semakin lemas.
Ara hanya mampu diam. Ia hanya tinggal menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Ara merasa benar-benar hancur sekarang.
Selang berapa lama. Ara melihat Abi membuka pintu dan masuk menghampiri Ara, dengan senyum menghiasi bibir Abi. Entah kenapa, biasanya ia akan sangat senang melihat senyuman lebar Abi. Tapi kini, ia sedang tidak ingin melihat senyuman itu. Senyuman itu terasa menyakitkan, begitu menyakitkan.
.......
.......
.......
...#pojokanauthor...
...Akhirnya update lagi......
...Btw, fyi gak semua maskapai penerbangan kok yang begini...
...Tetap ada maskapai yang memberikan cuti hamil dan melahirkan, dan pramugari tetap bisa bekerja...
...Cmiiw;)...
...Enjoy ya...
...Beberapa episode masih akan membahas masa lalu Abi dan Ara, biar kalian gak bertanya-tanya alasan Abi dan Ara pisah :))...
...Enjoy yaaa...
...Terima kasih buat yang masih setiaaa nungguin MHC;))...
^^^The Yelion❤️🍁🍀^^^
__ADS_1
^^^XOXO^^^