
...“Percayalah, sekelam apapun masa lalumu, seberapa besar pun luka yang pernah menimpamu. Akan ada seseorang yang menerima kamu sepenuhnya dan menyembuhkan segala luka pada dirimu”...
...***...
Perasaan yang teramat senang menyelimuti diri Zanna. Ia begitu senang bisa berkunjung ke rumah pria dingin yang ia sukai ini. Tadi saat mobilnya tiba-tiba mogok, Zanna merasa kesal. Tapi kini, ia bersyukur karena masalah yang terjadi pada mobilnya.
Tanpa kesengajaan bisa membuahkan hasil yang amat sangat luar biasa. “Zanna, kamu tunggu disini saja bersama Zico. Saya dan Ghania mau ganti baju dulu,”
Zanna mengangguk dan tersenyum begitu manis kepada Abi. Tiba-tiba bulu kuduk Abi meremang. Ia merasa geli dengan senyuman Zanna yang menurut dirinya senyum Zanna mengerikan.
Setelah Abi pergi, Zanna melihat sekeliling ruang tamu. Tak ada pajangan sama sekali, hanya jam dinding yang menghiasi tembok putih itu.
“Non. Ayo langsung ke ruang makan aja. Tunggu pak Abi nya disana aja,” suara bu Nur mengagetkan Zanna.
Zanna mengangguk. Lalu menggandeng Zico menuju ruang makan. Saat menuju ruang makan, mereka melewati ruang keluarga. Disana Zanna melihat ada foto Abi bersama dengan Ghania. Zanna berhenti dan terpukau, karena difoto itu Abi tersenyum dengan lebar. Selama ini, Zanna tak pernah melihat senyum Abi seperti itu.
Di depan publik, Abi memang sosok yang ramah. Tapi, Abi tak pernah tersenyum yang begitu lebar seperti difoto, ia hanya menyunggingkan senyum tipis selama ini di depan orang-orang.
“Kak Za! Ayo kenapa belhenti?” Zico menarik-narik tangan Zanna.
“Zi duluan aja ikutin nenek ya. Ada yang mau kakak urus dulu oke?” Zico menggelengkan kepalanya.
“Gak mau! Zi gak mau sendili, takut,” Zanna memasang raut sedih.
__ADS_1
“Masa Zi udah gede takut. Kak Za sebentar aja kok urusannya, ya?” Zico merengut. Tapi akhirnya ia kembali mengikuti bu Nur.
Zanna mengelurkan *handphone* dari sakunya. Ia tidak boleh melewatkan kesempatan ini. Ia tidak tahu kapan bisa berkunjung lagi ke rumah Abi.
Ia mendekat ke arah foto itu. “Ya ampun, ganteng banget. *Akhhh* tolong, jantung gue jangan *deg-degan* gini dong!” Zana memegang dadanya. Berusaha meminimalisir detak jantungnya.
Ia kemudian memotret foto tersebut. Ia harus menyimpan foto Abi yang sangat langka ini. Setelah memotret foto Abi, Zanna melihat hasil jepretannya.
Ia senyum-senyum sendiri dibuatnya. Bahkan Zanna tak menyadari kalau Abi mendekat ke arahnya. “Nona Zanna. Apa yang kamu lakukan disini?”
Zanna hampir saja menghempaskan *handphone* miliknya saking terkejut dengan kemunculan Abi. “Sa-saya cuma lagi liat foto bapak sama Ghania. Bapak disini ganteng banget. Emm...maksud saya bapak ganteng dan Ghania cantik banget disini,”
Untung saja Abi tidak memergoki ia saat memotret fotonya. Di meja makan, tampak Zico dan Ghania yang sudah duduk dengan manis. Akhirnya mereka makan dengan tenang. Masing-masing dari mereka menikmati makanan mereka.
Setelah makan, Ghania dan Zico pergi untuk bermain berdua. Sekarang Zanna bingung ia harus apa, ia ingin berbincang dengan Abi tapi Abi seperti seolah-olah tak tertarik untuk mengobrol dengan Zanna.
“Kamu kenapa jam segini sudah pulang?” tanya Abi. Ternyata Zanna salah, Abi mau membuka percakapan diantara mereka.
“Eh apa? Oh itu...kerjaan saya tadi udah pada selesai, jadi saya dibolehin pulang lebih cepat,” Abi menganggukkan kepalanya.
“Saya dengar...ah kita mengobrol disana saja biar lebih santai,” Abi berdiri dan pergi menuju ruang keluarga. Zanna berteriak dalam hati, ternyata ia tidak didiamkan Abi.
Zanna kembali bisa melihat foto tampan Abi. “Silahkan duduk,” Abi menunjuk sofa di hadapan Zanna. “Saya dengar kamu salah satu yang meng-handle project AGHA Fashion Week tahun ini?” Zanna mengangguk dengan semangat.
“Iya pak. Saya merasa senang sekali bisa dipercayai meng-handle acara besar itu, mengingat saya belum lama bekerja,” binar mata Zanna tampak dari mata Abi.
“Saya harap dari acara AFW nanti, selain mengenalkan brand AGHA lebih luas lagi. Saya harap wawasan kamu semakin luas tentang dunia fashion ini. Saya mempekerjakan kamu bukan semata-mata karena kamu berbakat. Tapi saya juga ingin bakat yang ada pada diri kamu ini semakin berkembang,” jelas Abi.
Zanna tersentuh mendengar ucapan Abi. “Tentu saja pak. Saya akan belajar terus dan mengambil pengalaman sebanyak-banyaknya,” balas Zanna.
__ADS_1
“Emm..pak saya mau mengucapkan banyak terima kasih untuk bapak,” ucap Zanna.
“Terima kasih? Untuk apa?” tanya Abi.
“Untuk hadiah wisuda saya waktu itu. Saya merasa terhormat bisa memakai pakaian hasil design milik bapak. Saya ingin berterima kasih secara langsung pada bapak, tapi selalu tidak punya waktu untuk menyampaikannya. Makanya di kesempatan ini saya baru bisa berterima kasih,” ucap Zanna.
Abi jadi mengingat, saat wisuda Zanna ia sudah menyuruh Evila saja yang mencarikan hadiah yang cocok untuk Zanna. Namun saat ia sudah duduk di meja kerjanya dan melihat rancangan yang ia buat. Ia berubah pikiran, ia menghubungi Evila dan mengatakan bahwa hadiah untuk Zanna adalah pakaian hasil rancangan miliknya. Abi merasa itu hadiah yang pantas untuk Zanna.
“Tidak usah merasa sungkan. Kamu berhak dan pantas mendapatkan itu,” Zanna menganggukkan kepalanya kecil.
“Saya juga ingin berterima kasih untuk traktiran bapak,” Abi diam, ia berusaha mencerna. Traktir? Kapan ia mentraktir Zanna?
“Green tea milk sebagai ucapan selamat wisuda,” ucap Zanna membuat Abi teringat. Jadi Zanna tahu ia yang membayar pesanannya.
“Tentu saja saya tahu bapak yang bayar. Tidak mungkin cafe itu tahu saya perempuan yang baru wisuda. Juga saya yakin bukan pak Chris yang bayar, karena saya lihat pak Chris pergi duluan tanpa menuju kasir,” apa-apaan wanita ini? Apa ia bisa membaca pikiran Abi? Tidak mungkin!
“Ah ya! Sama-sama,” Abi tak tahu harus membalas apa.
“Tapi sebenarnya pak. Bapak gak sepenuhnya mentraktir saya. Sebenarnya setelah bapak pergi saya mesan makanan sebagai teman minum saya,” ujar Zanna.
Abi diam. Ia tak mengerti maksud Zanna. Apa maksud Zanna, ia harus mengganti biaya makan Zanna saat itu?
“Ya sudah tinggalkan saja nomor rekening kamu. Nanti akan saya transfer biaya makan kamu saat itu,” Zanna terkekeh. Ternyata Abi tak paham dengan candaan yang Zanna buat. Kalau begini, sekalian saja Zanna meneruskan candaannya.
“Gak usah pak. Sebagai gantinya, gimana kalau saat bapak ada waktu. Bapak temani saya makan. Yaa...sebagai ganti biaya makan saya waktu itu,” Zanna menahan tawanya. Raut wajah Abi tampak kebingungan.
Abi benar-benar tak paham. Jadi dia berutang pada Zanna? Bukankah bukan urusannya jika Zanna ternyata memesan sesuatu selain minuman itu. Ah sudahlah, ia iyakan saja. Toh, ia juga yakin akan sangat sulit untuk mereka pergi makan bersama ditengah kesibukan pekerjaan ini.
“Ya sudah. Lain kali,” Zanna tersenyum ke arah Abi. Ia jadi semakin memiliki banyak kesempatan untuk bertemu Abi.
.......
.......
.......
...Happy reading...
...Maaf ya suka ngaret hehehe:')...
^^^The Yelion 🍀🍁❤️^^^
^^^XOXO^^^
__ADS_1