
...“Aku ingin memulai kembali. Tapi aku tahu perjalanan menuju kata kembali masih panjang. Bisakah kamu membuat perjalanan panjang itu menjadi mudah?”...
...***...
“Ayah coba lihat sini! Cantikkan?” Ghania menunjukkan gambar yang ia buat. Abi tersenyum, ia mengelus kepala anaknya dengan lembut.
“Bagus! Anak papa makin jago aja ngegambarnya,” puji Abi.
“Iya dong. Papa aja jago ngegambar masa Ghania nggak,” Abi tertawa kecil, pasti karena anaknya sering melihat ia membuat design pakaian makanya ia berkata seperti itu.
“Ghania kalau udah besar mau jadi apa?” tanya Abi.
“Ghania mau jadi pelukis. Ghania mau gambar banyak-banyak,” Abi tersenyum, ia mencium kepala anaknya itu dengan penuh kasih sayang.
“Ghania sayang. Papa boleh nanya sesuatu gak?” Ghania melihat ke arah Abi, gadis kecil itu menganggukkan kepalanya.
“Ghania mau gak ketemu mama?” tanya Abi.
“Emang mama bisa temuin Ghania?” tanya Ghania balik. Abi menganggukkan kepalanya dengan berat hati.
“Bukannya papa bilang. Mama udah pergi jauh dan gak akan kembali?” Abi menatap anaknya itu dengan iba. Salahkah ia menjauhkan anaknya ini dari ibunya? Abi hanya takut, Ara menyakiti Ghania. Abi tidak ingin memberikan kenangan buruk pada Ghania.
“Kalau Ghania ingin sekali bertemu mama. Mungkin nanti mama akan berusaha untuk datang,” ucap Abi.
“Kalau mama datang, nanti mama pergi lagi gak?” Abi tak tahu harus menjawab apa. Sudah jelas, Ara tidak akan bisa kembali menjadi bagian dari keluarga kecil ini. Tapi sulit menjelaskannya pada Ghania. Ia masih terlalu kecil untuk mengerti.
“Ghania mau ketemu mama kalau papa juga mau ketemu mama,” lanjut Ghania.
“Maksudnya?” tanya Abi.
“Iya kalau papa mau ketemu mama. Kalau papa rindu mama dan mau ketemu mama. Ghania mau juga, tapi kalau papa gak mau ketemu mama, Ghania gak mau juga,” Abi menarik Ghania kedalam pelukannya.
“Nanti papa hubungi mama biar Ghania bisa jumpa ya,” Ghania mengangguk dalam pelukan Abi. Kemudian Ghania mendongakkan kepalanya ke arah Abi.
“Tapi papa. Kalau mama gak bisa nemuin Ghania. Gak masalah kok,” Abi menggelengkan kepalanya. Ia semakin erat memeluk anaknya itu. Berkali-kali mencium pucuk kepala anaknya.
__ADS_1
...***...
“Kamu bisa cariin nomor perempuan itu?” tanya Ara.
“Kamu tahu siapa namanya?” tanya balik seorang pria disamping Ara.
“Aku gak tahu nama lengkapnya. Tapi...waktu aku nemuin Abi kemarin. Abi manggil perempuan itu dengan nama Zanna,” ucap Ara.
“Agak sulit, mengingat nama Zanna tidak mungkin hanya dia seorang. Mmm...tapi kamu tahukan wajahnya seperti apa?” pria itu menatap Ara yang menganggukkan kepalanya.
“Tapi kamu bisa memperkecil server pencarian kamu. Aku rasa si Zanna ini bekerja di perusahaan Abi,” pria itu menganggukkan kepalanya.
“Okey, kalau gitu. Moga aja benar,” pria itu langsung berkutat dengan komputernya.
“Ini orangnya?” pria itu menunjuk ke sebuah foto yang muncul.
Ara menganggukkan kepalanya, “Iya dia orangnya.”
“Ternyata gak sulit. Kamu benar, dia bekerja di perusahaan Abi belum lama ini sebagai designer,” ucap pria itu.
Ah! Ternyata seorang designer. Mungkin karena itu Abi menyukai Zanna. Mereka berjalan di jalan yang sama. Bekerja di bidang yang sama dan tentunya jika mereka menikah. Zanna tak perlu memusingkan masalah kehamilan seperti dirinya dulu.
“Eh iya. Cepet banget. Makasih ya...Dante,” jantung pria itu berdegup mendengar Ara memanggil namanya. Lantaran Ara sangat jarang memanggil nama aslinya. Wanita di sampingnya ini selalu memanggil dirinya ‘Nove’ nama yang ia buat untuk dunia virtual.
“Nov, kamu udah makan?” pria itu tersenyum. Lihat, Ara kembali memanggil nama samarannya itu.
“Belum. Kamu udah? Kalau belum juga mau aku masakin sesuatu?” Ara mengangguk senang. Nove tersenyum, ia mengelus kepala Ara, kemudian mencium kening Ara dengan lembut.
“Kalau gitu tunggu ya,” Ara memegang keningnya. Ia terkekeh kemudian kembali menganggukkan kepalanya.
Ara melihat sosok Nove dari belakang. Pria itu berjalan menuju dapur, tampak pria itu langsung berkutat dengan bahan-bahan masakan yang ada di kulkas apartemen mereka.
Ara tak bisa membayangkan jika Nove tidak ada dalam hidupnya. Jika Nove tidak datang saat Ara pertama kali keluar dari rumah Abi. Mungkin saat ini Ara akan merasa sendirian.
Nove yang membantu hidupnya mulai sejak itu. Ara benar-benar merasa beruntung. Saat itu jika tidak ada Nove. Ara tak tahu apa yang harus ia lakukan. Pekerjaan yang sangat ia cintai, jadi sulit untuk kembali ia jalani di negerinya ini. Ara yang begitu merasa bersalah kepada Abi tidak ingin membuat hidup pria itu sulit.
__ADS_1
Maka dari itu, ia meminta Nove untuk membuat dirinya seperti seolah-olah hilang. Nove banyak membantu Ara untuk kembali menjadi pramugari, walaupun sulit tapi Nove berhasil. Ara bisa menjadi pramugari lagi di maskapai luar negeri. Ia sangat berterima kasih untuk itu.
“Ara! Kalau sampai waktu cuti kamu selesai, tapi kamu belum bisa bertemu dengan Ghania bagaimana?” tanya Nove yang masih berkutat dengan masakannya.
“Aku akan berhenti,” balas Ara. Nove menghentikan aktivitasnya. Ia melihat ke arah Ara.
“Berhenti yang mana? Dari pekerjaan atau berhenti berusaha bertemu dengan Ghania?” tanya Nove lagi.
Ara hanya tersenyum. Tak membalas pertanyaan Nove. Toh, nanti pria itu akan tahu dengan sendirinya. Yang pasti, Ara harus lebih berusaha. Kemarin saat menemui Abi, lagi-lagi Abi tak mengizinkannya dan mengusirnya. Mantan suaminya itu masih begitu marah pada dirinya.
Sudahlah, itu memang sudah menjadi resiko akibat perbuatannya dulu. Ara menghela nafas, perjalanannya masih panjang. Ara berjalan menghampiri Nove.
“Kamu mau masak apa?” tanya Ara melihat ke masakan yang tengah dibuat Nove.
“Chicken teriyaki. Kamu suka kan?” Ara mengangguk. Ia memeluk lengan Nove.
“Aku lagi motong lho Ra. Jangan peluk dulu,” Ara tertawa. Ia melepas pelukannya.
“Makasih ya Nov,” ucap Ara.
Nove tersenyum dengan lembut ke arah Ara, “Sure love!”
.......
.......
.......
...Happy reading...
...Fyi nama Nove itu dibacanya bukan "Nov" tapi tetap "Nove" okeyy^^...
...Ditunggu next eps...
...In syaa Allah aku update kalau gk 2 hari sekali 3 hari sekali yaaa:)))...
__ADS_1
^^^The Yelion 🍀🍁❤️^^^
^^^XOXO^^^