
...“Aku tahu permintaan maaf pun takkan pernah bisa mengubah kenyataan bahwa kita tak lagi bisa bersama”...
...***...
“Wuahhh! Papa besar banget panggungnya!” Ghania melepas tangan Abi, ia berlari di atas panggung.
Abi tersenyum melihat Ghania. “Sayang! Hati-hati ya. Larinya pelan-pelan aja,” saut Abi. Setelah memastikan anaknya itu nyaman, Abi menghampiri Zanna dan tim lapangan yang lain.
Mendiskusikan segala persiapan untuk AFW nanti. “Satu lagi saya lupa sampaikan. Ketika saya dan Ghania selesai berjalan di catwalk. Tim nanti tolong siapkan mic dan berikan kepada saya. Saya ingin memberi kata penutup di acara itu,” jelas Abi kepada karyawannya.
“Lalu nanti untuk bagian yang ngurus poster, banner dan segala macam. Buatkan banner foto saya dan anak saya, Ghania. Nanti Evila yang akan kirimkan fotonya. Saya ingin di AFW kali ini memperkenalkan anak saya,” lanjut Abi menjelaskan.
Para tim lapangan termasuk Zanna hanya mengiyakan segala perintah Abi. Kemudian setelah dirasa tak ada lagi yang perlu Abi sampaikan. Abi membubarkan karyawannya untuk kembali melanjutkan pekerjaan masing-masing.
“Zanna, kesini sebentar!” panggil bu Cheris. Zanna yang saat itu mau menyusul Abi, mau tak mau berbalik dan menghampiri kepala designer itu.
“Iya bu?” saut Zanna.
“Pak Abi ada nyerahin design busana dia dengan Ghania gak?” Zanna menggelengkan kepalanya.
“Gak ada bu. Pak Abi cuma bilang untuk masalah busana beliau dengan anaknya, kita gak perlu ikut campur. Beliau mau menyiapkan sendiri,” bu Cheris menganggukkan kepalanya.
“Oh okey. Saya cuma mau mastikan lagi. Oh iya Zanna, kekurangan yang disampaikan pak Abi tentang dekorasi atau pun kekurangan yang ada di busana yang mau diperagain udah kamu catat semua kan?” tanya bu Cheris.
“Udah bu. Nanti akan saya sampaikan lagi ke tim masing-masing yang ngurus,” balas Zanna.
“Ya udah kalau gitu. Saya mau balik ke kantor. Kamu masih mau disini atau mau ikut saya dan Lona balik?” Zanna langsung menolak ajakan bu Cheris.
“Saya masih ada beberapa urusan disini bu,” setelah itu bu Cheris hanya menganggukkan kepalanya dan pamit pada Zanna.
__ADS_1
Setelah melihat bu Cheris pergi. Zanna segera pergi menuju Abi berada. Ia melihat Abi tengah menemani Ghania.
“Pak! Bapak gak balik ke kantor?” tanya Zanna yang mengejutkan Abi.
Abi lantas menggeleng menjawab pertanyaan Zanna. “Terus saya balik sama siapa dong?”
Abi menatap Zanna tajam. “Kamu, kan bisa nebeng sama yang lain. Atau kamu naik taksi.”
“Rumah bapak, kan searah sama kantor. Ya pak?” Abi mengepalkan tangannya.
“Zanna, kamu tahu, kan sikap kamu ini udah kelewatan? Kamu gak bisa sedikit profesional? Kamu juga tahu, kan kelakuan kamu ini termasuk tidak sopan? Apalagi kepada saya selaku atasan kamu?” Zanna menundukkan kepalanya. Abi benar, ia sudah kelewatan.
Ghania yang melihat ayahnya memarahi Zanna datang dan memegang tangan wanita yang dimarahi ayahnya ini. Zanna melihat ke arah tangan mungil Ghania.
“Papa! Ayo anterin aunty Zanna aja. Bukannya tadi papa bilang kue muffin yang mau papa kasih ke Ghania ketinggalan di kantor?” sial! Abi melupakan itu. Abi sudah mengatakan kepada Ghania akan memberikan kue muffin.
“Ayo papa! Kita ambil muffinnya sekalian antar aunty Zanna!” Ghania menarik tangan Zanna, pergi meninggalkan Abi dibelakang.
“Papa cepetan! Nanti kalau kue muffin nya hilang gimana?” Ghania mempercepat langkahnya, masih menggenggam tangan Zanna dan menariknya.
...***...
“Aunty, kue muffin buatan aunty enak banget. Ghania suka. Aunty mau gak buatin lagi untuk Ghania?” mata yang berbinar dari gadis kecil itu tampak sekali kalau ia begitu menginginkannya.
“Mau dong! Nanti aunty buatin juga kue yang lain, kaya' cookies, kue tart mini, Ghania suka, kan?” Ghania mengangguk dengan semangat. Bocah kecil itu tak sabar menunggu kue yang dijanjikan Zanna.
“Kalau gitu Ghania pulang dulu ya,” pamit Ghania yang dibalas anggukan dari Zanna. Tak lupa Ghania melambaikan tangannya pada Zanna.
Namun, gadis kecil itu berhenti berjalan menghampiri Abi. Ia malah berbalik dan berlari ke arah Zanna. “Ghania lupa bilang sesuatu. Aunty nunduk dulu, Ghania mau bisikin sesuatu,” tangan mungil Ghania menyuruh Zanna untuk mendekat.
__ADS_1
Zanna menuruti permintaan anak cantik itu. Ia mendekatkan wajahnya kepada Ghania. Tiba-tiba kecupan lembut mendarat di pipinya.
Setelah mencium pipi Zanna. Ghania segera berlari ke arah ayahnya yang sedari tadi memperhatikan mereka disamping mobilnya.
“Terima kasih aunty Zanna,” teriak Ghania meninggalkan Zanna yang terpaku.
Zanna hanya melihat Ghania dan Abi yang sudah masuk ke dalam mobil dan perlahan mobil itu meninggalkannya. “Coba bapaknya yang nyium gue.” Zanna tertawa kemudian ia masuk ke dalam gedung kantor. Ia bahkan tak menyadari kalau ada dua orang yang memperhatikan dirinya dari dalam mobil.
“Ra!” panggil Nove.
“Aku ingin Nov. Aku ingin pipi aku dikecup seperti tadi oleh Ghania,” air yang sedari tadi tergenang di pelupuk mata, akhirnya luruh. Ara menangis dan meninggalkan keheningan di dalam mobil itu. Tanpa isakan, air mata miliknya keluar.
Pria disampingnya itu hanya mampu memeluk dan memberikan sedikit penenang dari pelukannya. Mengelus punggung Ara.
“Keluarin aja semuanya Ra,” setelah itu, air mata wanita itu semakin deras keluar.
.......
.......
...Ini gimana ceritanya siii...
...Yang baca banyak tapi yg komen dan like dikit?...
...Apa hapus aja kali ya MHC disini trs pindah ke lapak sebelah?:((...
...Ggg canda..........
^^^The Yelion ❤️🍁🍀^^^
__ADS_1
^^^XOXO^^^