
...“Aku takkan menyerah. Takkan pernah menyerah untuk mendapatkan perhatianmu, walaupun hanya sedikit”...
...***...
“Ini pak kartunya saya kembalikan,” Zanna menyerahkan kartu yang diberikan Abi padanya beberapa hari lalu di meja kerja Abi.
Abi melirik ke arah kartu tersebut lalu kembali menatap ke arah Zanna. “Kamu gak pakai kartu ini sama sekali?”
Zanna menggeleng, “Saya gak butuh pak. Saya masih bisa beli sesuatu yang saya mau dengan uang saya sendiri,”
“Lalu kamu mau imbalan apa dari saya...sebagai tutup mulut tentunya?” Zanna menatap Abi. Ia sudah yakin Abi akan menanyakan ini, dan ia pun sudah memikirkan akan meminta apa pada Abi.
“Sebelum saya sampaikan apa yang saya mau. Saya ingin bapak menyetujui apapun yang saya minta nanti tanpa penolakan,” Abi mengernyitkan dahinya.
Apa yang akan diminta Zanna darinya? “Katakan dulu apa mau kamu, baru saya bisa putuskan untuk menolak atau tidak,” Zanna menggelengkan kepalanya.
“Saya gak akan sampaikan apa yang saya mau sampai bapak berjanji gak akan menolaknya. Atau....” Zanna menjeda ucapannya. Ia menatap Abi dengan seksama. “Atau...saya bocorkan masalah bapak ke media,” jantung Zanna berdegup setelah mengucapkan itu. Ia harus mendapatkan hal yang dia mau dari Abi. tak peduli walaupun ia harus mengancam Abi.
“Kamu mengancam saya?” tanya Abi sinis.
“Anggap saja begitu."
Abi memijit pelipisnya, memikirkan hal apa yang akan diminta Zanna. Jika Abi tak mengiyakan, ia takut Zanna benar-benar membocorkannya pada media, dan hal itu akan mempersulit dirinya untuk membalaskan dendam pada Ara. Abi menatap kedalam mata Zanna. Sorot mata wanita dihadapannya ini benar-benar tak bisa ditebak Abi.
Abi menghela nafas sebelum akhirnya mengiyakan permintaan Zanna. “Baik. Saya tidak akan menolak apapun permintaan dari kamu. Sekarang cepat katakan, sebentar lagi saya ada jadwal rapat,”
Zanna tersenyum sumringah. “Janji?” Zanna menyodorkan jari kelingkingnya pada Abi. Sial! Zanna mengutuk dirinya dalam hati, tapi sudahlah, sudah terlanjur. Kebiasaannya jika ingin berjanji pada orang, Zanna selalu menyodorkan jari kelingkingnya. Itu akan semakin membuat Zanna percaya dengan janji yang dibuat.
Abi menatap kelingking mungil Zanna. Ada saja kelakuan Zanna. Perilaku Zanna sama dengan anaknya, Ghania saat meminta Abi untuk berjanji, menautkan jari kelingking satu sama lain. Kekanak-kanakan. Sudah tak terhitung Abi menghela nafas di depan Zanna.
Daripada semakin memperlama, Abi menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Zanna. Abi melihat senyum lebar kembali terukir di bibir Zanna. Tampak jelas, wanita itu kesenangan hanya dengan hal seperti ini.
__ADS_1
“Janji. Jadi cepat katakan apa yang kamu mau?” Abi segera melepaskan tautan kelingking mereka.
“Oke. Saya punya tiga permintaan,” saat melihat Abi ingin membuka mulut. Zanna segera membungkamnya. “Eitss! Bapak udah janji untuk gak menolak, dan bapak gak membatasi berapa jumlah permintaan saya kan?” Abi mendengus.
“Baik, saya lanjutkan. Permintaan pertama, saya mau bapak selalu menerima bekal makanan dari saya. Yang kedua, saya gak mau bapak bersikap ketus ke saya. Dan yang ketiga, kalau saya chat bapak, bapak harus balas. Gimana? Gak sulitkan permintaan saya?” jelas sekaligus tanya Zanna dengan tatapan berbinarnya itu.
Abi yang dari tadi diam, memijit pelipisnya. “Zanna, apa saya bersikap ketus ke kamu?”
“Yap! Bapak sangat ketus, saya akan mengerti jika bapak bersikap seperti itu jika kita sedang berada di kantor. Tapi saya pikir saat diluar urusan kantor, status kita bukan lagi atasan dan bawahan. Ucapan bapak selama ini kepada saya begitu menyakitkan,” balas Zanna.
“Terserah kamu. Tapi saya keberatan dengan ketiga permintaan kamu itu,” Zanna mengedikkan bahunya.
“Kok keberatan sih? Lagiankan di ketiga permintaan itu, sama sekali gak ada tuh yang merugikan bapak. Semuanya menguntungkan bapak, bapak dapat bekal gratis dari saya, bapak dapat pahala kalau gak bersikap ketus ke saya, lalu bapak punya teman chatting. Bapak udah janji lho!” Zanna mengangkat jari kelingkingnya dan menggoyangkan kelingkingnya itu di depan Abi.
Abi melonggarkan dasinya. Ia menyandarkan tubuhnya pada kursi kerjanya itu. Zanna tersenyum kecil, Abi berulang kali memijit kepalanya, lalu menatap Zanna. Abi kembali menegakkan duduknya.
“Hah...baiklah. Saya turuti, terserah kamu saja. Yang pasti tetap dibatasan kamu Zanna, dan tutup mulut kamu. Sekarang kamu boleh pergi,” ucap Abi.
Zanna tertawa kecil. Kemudian, ia mengambil paper bag disampingnya yang sudah ia bawa dari tadi. Kemudian memberikannya pada Abi.
Zanna berbalik, lalu kembali menggoyang-goyangkan jari kelingkingnya. Ia tertawa kecil, melihat wajah muram Abi, sebelum akhirnya ia keluar dari ruangan Abi.
Abi melihat isi paper bag itu. Abi mengeluarkan isinya. Diatas kotak makan berwarna kuning itu ada note yang ditempelkan Zanna.
‘Sesibuk-sibuknya bapak. Selalu pastikan perut bapak terisi dengan makanan walaupun sedikit. Okey!’ seperti itu yang tertulis di kertas kecil itu, dan ditambah ada emot tersenyum yang digambar Zanna.
Abi membukanya. Isi bekal tersebut, roti sandwich dengan isian telur, daging, keju, dan sayur-sayuran.
Lalu setelah itu, handphone Abi berdering. Ada pesan masuk yang ternyata dari Zanna.
Bunyi pesan itu, ‘Ini pesan pertama saya. Jangan lupa dimakan bekal dari saya’. Dan Abi hanya membalas ‘Ya’ kepada Zanna.
__ADS_1
“Wanita aneh!” Abi segera meletakkan kembali telepon genggamnya itu.
...***...
“Ara. Sudahlah, kamu harus istirahat. Abi takkan mengizinkan kamu untuk bertemu Ghania,” ucap seorang pria kepada Ara.
“Gak bisa. Aku harus bisa bicara dengan Abi. aku ingin memeluk anakku itu,” pria itu mendekati Ara. Memegang pundak Ara.
“Ra...tapi kamu juga butuh istirahat. Biar aku yang urus Ghania, akan aku bawa dia ke hadapan kamu,” Ara menggelengkan kepalanya.
“Aku baik-baik aja. Biar aku yang urus, kamu bantu aku dengan menyembunyikan identitas asli aku, itu udah lebih dari cukup. Tolong jangan halangi aku. Bertahun-tahun aku pergi dari masalah. Sekarang biarkan aku bertanggung jawab untuk masalah yang ku buat,” pria itu mengelus-elus lengan Ara. Ia menatap Ara dengan perasaan iba.
“Baiklah. Tapi kamu harus selalu berjaga-jaga. Jangan sampai ketahuan, okey?” Ara menatap pria di depannya ini.
Ia menganggukkan kepalanya. “Makasih ya karena kamu udah bantu aku banyak hal selama ini,”
Pria itu tersenyum manis ke arah Ara. “My pleasure, dear!”
.......
.......
.......
...Terima kasih banyak untuk yang masih selalu setia baca MHC, apalagi yang rajin komen hehehe...
...Moga MHC selalu ditunggu yaaaa update Eps selanjutnya^^...
...Happy readings^^...
.......
__ADS_1
^^^The Yelion 🍀🍁❤️^^^
^^^XOXO^^^