
...“Aku tak pernah berusaha meninggalkanmu. Tapi kamu yang berusaha pergi”...
...***...
Flashback On
“Ara!” Abi yang baru saja kembali setelah menemui dokter yang memeriksa Ara, langsung memeluk istrinya itu dengan rasa gembira yang teramat.
Kemudian, Abi berniat ingin mengelus perut rata istrinya. Disana sudah ada calon anak mereka. Namun, belum sempat Abi menyentuh perut istrinya. Ara menepis tangan Abi cukup keras. Abi mengernyitkan dahinya.
“Sayang...kenapa?” tanya Abi.
“Jangan sentuh! Jangan sentuh pembawa sial ini!” teriak Ara.
Seketika Abi merasa ada yang menghantamnya dengan kuat. Ia memandang wajah Ara dengan kebingungan.
“Ara...siapa yang kamu sebut pembawa sial?” tanya Abi pelan, kemudian ia memegang tangan Ara dengan lembut.
Ara menatap Abi dengan berkaca-kaca, lalu air mata yang sudah berkumpul di pelupuk matanya luruh seketika. Ara menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia melepas genggaman Abi.
“Aku gak mau bi. Aku gak mauuu...hiks,” Ara memukul-mukul dada Abi.
Abi langsung membawa Ara ke dalam pelukannya. Ada apa dengan istrinya? Apakah...tidak-tidak Abi tidak ingin memikirkan kemungkinan yang terlintas dipikirannya ini. Tapi ini menjadi tanda tanya besar bagi Abi. Apakah Ara tidak menginginkan anaknya ini?
...***...
Sudah tiga bulan sejak Abi mengetahui kehamilan Ara. Sejak itu pula, sikap Ara berubah drastis. Ara berteriak-teriak mengatakan bahwa ia tidak menginginkan anak yang berada dalam kandungannya ini.
Menangis tersedu-sedu tiap malam. Menolak vitamin serta susu ibu hamil yang diberikan untuknya. Bahkan tak jarang Ara menolak untuk makan. Keadaan Ara benar-benar kacau. Tentu saja Abi begitu khawatir dengan keadaannya.
Sering kali Abi mengalihkan pekerjaannya kepada Chris. Ia lebih memilih bekerja dari rumah. Saat ini, dengan melihat keadaan Ara, Abi merasa tidak percaya dengan istrinya itu. Ia takut Ara melukai anak dalam kandungannya. Pernah saat ia baru pulang kerja, Bu Nur berlari ke arahnya dan mengatakan Ara berusaha memukul-mukul kandungannya.
Abi merasa sakit mendengarnya. Apakah Ara lebih mencintai pekerjaannya dibanding anak mereka? Begitu tegakah? Abi ingin marah pada Ara, tapi menurutnya itu bukanlah jalan keluarnya. Ia hanya harus bersabar menghadapi sikap Ara.
Kini jadwal Ara untuk memeriksa kandungannya ke dokter. Abi menghela nafas sebelum membuka pintu kamarnya. Saat ia membuka pintu, terlihat Ara tengah tertidur di lantai tengah memegang seragam kerjanya.
“Sayang..” panggil Abi lirih sembari mengelus pipi Ara yang mulai menirus.
Ara tak bergeming. Akhirnya, Abi menggendong Ara dan memindahkannya ke atas ranjang. Ia menyelimuti Ara, kemudian membelai kepala Ara dengan lembut.
__ADS_1
“Ara...dikandungan kamu itu ada anak kita. Kamu gak sayang sama anak kita? Kenapa saat aku minta kamu untuk ikut program hamil, kamu mengiyakan? Jika kamu memang ingin terus bekerja, kenapa gak terus terang aja sayang?” Abi mengusap matanya yang sudah mengeluarkan bulir air mata.
“Aku gak pernah melarang kamu. Aku gak pernah memaksa kamu Ra. Tak apa jika memang kamu belum siap punya anak dan belum siap meninggalkan pekerjaan kamu. Jika begini...bukan hanya anak kita yang kamu sakiti, tapi diri kamu sendiri dan juga...menyakiti aku Ra,” Abi menghela nafasnya pelan.
Ia mencium kening Ara, kemudian ikut berbaring disamping ara dan memeluk Ara. Abi harus bertahan disisi Ara, demi Ara dan anak mereka.
Ara menggeliat, ia membuka matanya dan melihat Abi tengah memeluknya. Tangan kekar Abi yang melingkar dibadannya dilepas Ara.
Ara bangun dari tidurnya. Ia duduk dan menatap Abi dengan seksama. “Abi!” panggil Ara.
Abi berusaha tersenyum, “Kenapa hmm? Ada yang kamu mau?” Ara mengangguk.
Abi merasa senang. Apakah Ara tengah mengidam sesuatu? Abi ikut duduk dan menatap Ara dengan antusias.
“Aku ingin...setelah anak kamu ini lahir..” Abi menginterupsi ucapan Ara.
“Anak kita. Dia bukan hanya anak aku, dia anak kamu,” Ara menggeleng cepat.
“Aku gak menginginkan anak ini Abi,” bagai petir yang menyambar hatinya. Ia merasa sakit mendengar ucapan Ara.
“Lalu kenapa kamu mengiyakan ketika aku mengatakan tentang keinginan memiliki seorang anak? Kenapa kamu gak nolak?! Kamu tinggal bilang kamu gak siap!” emosi Abi meluap, pertanyaan yang selalu terlintas di kepalanya akhirnya tercurah.
“Lalu? Apa kamu pikir ini gak menyakiti aku? Sikap kamu yang seperti ini apa kamu pikir gak menyakiti aku? Ra...menikah itu gak hanya atas permintaan satu pihak! Aku gak akan marah jika kamu menolak saat itu. Dulu, setiap aku lihat kamu berinteraksi dengan anak kecil, aku berpikir kamu ingin punya seorang anak. Makanya aku tanya sama kamu, aku senang jika kamu ingin punya anak. Tapi aku juga gak mempermasalahkan jika kamu ingin menunda dulu!” teriak Abi memenuhi kamar tidur mereka.
“Maaf...” Abi memejamkan matanya mendengar permintaan maaf Ara. Abi berusaha menenangkan dirinya.
Setelah merasa cukup tenang. Ia menggapai tangan Ara, mengelusnya dengan lembut. “Ra, lupain perdebatan kita tadi. Sekarang, aku minta kamu terima ya anak kita?” pinta Abi penuh harap.
Ara bisa melihat itu. Tapi, ia saat ini benar-benar tak menginginkan anak yang ada dalam kandungannya ini. Ara menggelengkan kepalanya. Abi langsung melepas tangan Ara.
“Aku gak bisa. Aku udah terlanjur membenci anak ini. Aku gak siap,” Abi meraup rambutnya kasar.
Ia berdiri, kemudian pergi ke arah balkon kamarnya. Ia tidak ingin lagi mengeluarkan nada tinggi di hadapan Ara. Ia takut kandungan Ara terjadi sesuatu.
Melihat itu, Ara turun dari kasur dan mengikuti Abi. Ia melihat punggung kekar itu membelakanginya. Ia benar-benar tidak bisa menerima anak ini. Ia ingin anak ini lenyap. Jika anak ini tidak ada, pekerjaannya pasti tidak akan hancur dan hubungannya dengan Abi juga tidak akan seperti ini.
“Abi..” panggil Ara pelan.
Abi tidak merespon sama sekali panggilan Ara. Pria itu hanya fokus menatap ke arah langit. “Aku...aku gak menginginkan anak ini..”
__ADS_1
“Cukup Ra!” seru Abi, masih tanpa menoleh ke arah Abi.
“Jangan mengatakan hal itu berulang kali! Itu semakin membuat luka besar di hati aku!” ketus Abi.
Ara meremas-remas tangannya. Ia punya solusi untuk ini. “Abi...kita gugurin anak ini ya?” Abi langsung menoleh ke arah Ara.
“Kamu gila Ra? Semudah itu kamu mengatakan itu?” Ara hanya diam.
“Kamu pilih...” Ara menjeda ucapannya.
“Aku akan kandung anak ini dengan baik, tapi setelah anak ini lahir, aku ingin kita bercerai. Atau...” Abi benar-benar dibuat takjub dengan ucapan Ara, ia sampai tak lagi mampu berkata-kata.
“Atau...kita gugurkan anak ini dan kita gak mesti cerai, lalu biarkan aku menyiapkan diri aku dulu untuk nantinya mempunyai anak,” Ara tak mampu menatap mata Abi yang sudah menatapnya sangat tajam.
Abi tiba-tiba tertawa. Ia benar-benar merasa seperti orang gila saat ini. Apakah yang dihadapannya ini benar-benar Ara yang ia kenal? Apakah ini wanita yang sama dengan yang ia cintai selama ini? Apakah ini wanita lembut yang Abi temui dulu?
Abi kembali menatap Ara dengan tatapan dingin nan tajam. Ia mengeraskan rahangnya, serta mengepalkan tangannya dengan keras sampai buku-buku tangannya memutih.
“Kamu...benar-benar gila Ra! Aku gak akan pilih keduanya!” teriak Abi.
“Gak! Kamu harus pilih! Kamu harus pilih! Pilih Abi!” Ara juga ikut berteriak.
“Hahaha...baik...baik Arabella Ardana Putri. Jika seperti itu...aku pilih pilihan pertama. Aku akan lebih memilih ‘anak aku’ yang tidak bersalah itu, dibanding aku harus memilih kamu yang jelas-jelas bersalah,” Abi kemudian pergi dari harapan Ara.
.......
.......
.......
...#pojokanauthor...
...Hayoo siapa yang greget sama sikap Ara?...
...Hahaha...enjoy terus yaaa...
...Tunggu next episode nyaa...
^^^The Yelion 🍀🍁❤️^^^
__ADS_1
^^^XOXO^^^