
..."Apakah aku masih terasa asing untuk mu?"...
...***...
“Bagaimana hasilnya?” tanya Abi.
“Sulit untuk menggali informasi lebih dalam pak. Karena keberadaan ibu Arabella seperti ditutupi oleh seseorang. Hanya ini yang bisa saya temui untuk saat ini,” seorang pria memberikan sebuah map kepada Abi. Ia adalah seorang ahli IT yang bekerja untuk Abi dalam menggali informasi tentang Ara.
Baru kali ini, Abi kembali menggunakan jasa orang ini. Abi membuka map tersebut. Abi melihat satu persatu isi map tersebut.
“Ibu Ara selama ini hidup dengan identitas palsu. Yang saya tahu tentu ini sangat sulit jika hanya bu Ara seorang yang melakukannya. Karena itu saya yakin, bu Ara punya seseorang di belakangnya yang mampu hingga membuat identitas palsu ini,” kemudian pria itu memberikan salah satu foto kepada Abi.
“Ini adalah salah satu foto yang tidak sengaja pernah diambil seseorang di acara perusahaan bapak. Bukankah ini yang duduk di barisan belakang itu ibu Ara pak?” Abi menganggukkan kepalanya.
“Ya ini dia. Bagaimana kamu bisa menemukannya? Jadi selama ini dia ada di Indonesia?” pria itu mengangguk.
“Foto ini saya dapat dari salah satu pengunjung yang datang di acara AFW tahun lalu. Pengunjung itu memasukkannya ke dalam sosial media, dari sana saya menemukan foto ini,” rahang Abi mengeras. Selama ini wanita yang ia pikir telah pergi keluar negeri ternyata berada di negerinya sendiri.
“Siapa nama yang ia gunakan di identitas palsunya?” tanya Abi.
“Ghania Fransisca,” Abi semakin geram. Mengapa ia menggunakan nama Ghania?
“Lalu, kenapa baru terbongkar sekarang?” tanya Abi lagi.
“Seperti yang saya bilang. Bu Ara punya orang dibelakangnya. Dan foto ini saja tanpa sengaja saya temui, apalagi saat itu kita hanya fokus mencari keberadaan bu Ara diluar negeri. Untuk nama palsu bu Ara, ini masih sebagai perkiraan saya. Saya berhasil mendapatkan daftar tamu AFW tahun lalu, tapi sepertinya belum terlalu lengkap. Diantaranya hanya nama ini yang informasinya tidak banyak saya temukan,” Abi menganggukkan kepalanya.
“Baiklah. Terima kasih atas bantuan kamu. Saya mau kamu kumpulkan lebih banyak informasi. Saya akan mengecek daftar pengunjung di AFW tahun lalu. Nanti akan saya kirimkan via email,” pria itu mengangguk dan mengundurkan diri dari hadapan Abi,
Abi memijit pelipisnya. Siapa orang yang membantu menutupi keberadaan Ara selama ini? Telepon genggam Abi berdering. Ada panggilan masuk.
Abi melihat ke layar handphonenya. “Zanna?” gumam Abi. Ada apa wanita ini menghubunginya?
Abi membiarkannya. Tapi Zanna menelfon Abi berkali-kali yang mau tidak mau akhirnya diangkat Abi.
“Hallo?”
“Pak! Maaf ganggu waktu bapak.”
“Ya ada apa?”
__ADS_1
“Saya mau bertemu dengan bapak dan membahas sesuatu dengan bapak.”
“Saya tidak punya banyak waktu Zanna. Saya sibuk akhir-akhir ini.”
“I-ini tentang...” terdengar keraguan dari suara Zanna.
“Tentang apa?” tanya Abi.
“Ten-tentang...bu Ara. Istri bapak,” Abi menegakkan duduknya. Apa ia tak salah dengar?
“Maksud kamu?” tanya Abi lagi.
“Tadi siang saya bertemu dengan wanita yang mengaku-ngaku sebagai ibu Ghania. Ketika saya searching di hp, wajah wanita itu benar-benar seperti istri bapak,” Abi lupa kalau wajah Arabella akan muncul jika orang-orang mencari namanya di pencarian handphone.
“Saya hanya ada waktu malam ini. Temui saya, nanti akan saya kirimkan alamat tempat kita bertemu. Jangan beritahu siapapun perihal ini,” Abi langsung memutuskan panggilan mereka.
Kenapa Ara menjumpai Zanna? Sial! Wanita itu semakin menjadi-jadi saja.
***
Abi menunggu Zanna dengan gelisah. Berkali-kali ia memandang ke arah pintu masuk. Ada perihal apa Ara menemui Zanna. Abi melirik jam di handphonenya. Kenapa gadis ini tak datang-datang?
“Ya sudah silahkan duduk. Maaf saya tidak bisa lama-lama bisa kamu sampaikan apa yang kamu maksud ditelpon tadi?” belum juga Zanna benar-benar mendaratkan badannya pada kursi, Abi sudah tak sabaran mendengar perihal Ara, istrinya.
“Tadi saat saya makan siang. Tiba-tiba istri bapak muncul. Lalu mengatakan pada saya bahwa ia ingin dipertemukan dengan Ghania dan bilang kalau saya akan jadi ibu Ghania. Istri bapak juga bilang, kalau dia tahu hubungan antara kita berdua,” jelas Zanna singkat dan jelas.
Pasti karena ucapannya yang mengatakan bahwa Zanna akan menjadi calon ibu untuk Ghania. “Lalu apa yang kamu katakan?”
“Saya bilang, saya gak ngerti dengan apa yang diucapkannya. Karena saya takut, saya langsung pergi setelah itu,” Abi menganggukkan kepalanya.
“Bagus. Apa setelah itu dia ngejar kamu?” Zanna menggelengkan kepalanya.
“Baik. Nanti jika kamu bertemu dia lagi. Tolong abaikan saja, dan pergi langsung dari hadapan dia. Kamu gak perlu mengatakan apa-apa pada dia. Mengerti Zanna?” Zanna diam tak menanggapi Abi. Dia hanya menatap Abi.
“Satu lagi, jangan katakan atau ceritakan pada siapapun. Saya mau kamu tutup mulut untuk itu,” Zanna merasa aneh.
“Jadi istri bapak masih hidup?” Abi menaikkan alisnya.
“Apa seperti itu yang beredar di orang-orang?” Zanna mengangguk.
__ADS_1
“Banyak yang mengira istri bapak sudah meninggal karena tak pernah muncul di depan publik,” Abi tersenyum sinis.
“Ya dia sudah lama tiada. Tapi entah kenapa bisa tiba-tiba kembali muncul”
“Hah?” Zanna bingung dengan yang diucapkan Abi.
“Kalau begitu saya permisi dulu Zanna. Terima kasih atas informasinya, saya harap kamu mendengarkan ucapan saya tadi. Jangan pernah membicarakan ini pada siapapun,” Abi hendak berdiri, namun ditahan Zanna.
“Tunggu pak. Ada lagi yang mau saya tanya. Apa maksud istri bapak bilang kalau saya akan jadi ibu Ghania?” Abi mendengus.
“Dia hanya asal bicara. Tidak perlu kamu hiraukan,” Abi kembali berniat pergi. Namun kembali Zanna menahannya dengan ucapannya.
“Tapi jika dia salah bicara. Ia tidak mungkin berniat menjumpai saya seperti itu. Ia pasti pernah bertemu saya, apa waktu kita tidak sengaja berpapasan saat di sekolah waktu itu?” rahang Abi mengeras. Kenapa gadis ini ingin tahu sekali?
“Zanna. Ini urusan saya, kamu gak perlu tahu atau ikut campur di dalamnya. Kamu hanya perlu ikuti apa yang saya katakan. Jika dia datang, tak perlu bicara apapun padanya. Sudah, sederhanakan?” Abi berusaha menahan kesabarannya. Kini ia lelah, ingin pulang.
“Tapi saya merasa memang bapak yang mengatakan hal itu. Otomatis bapak sendiri yang membuat saya masuk ke dalam masalah bapak. Jadi, bagaimana saya tidak mungkin ikut campur dan ingin tahu?” Abi benar-benar ingin mengumpat saat ini juga. Kenapa Zanna begitu keras kepala.
“Zanna! Cukup! Jangan kelewat batas! Saya bilang ini bukan urusan kamu. Hubungan kita hanya sebatas, saya atasan dan kamu karyawan yang bekerja di perusahaan saya!” ketus Abi. Zanna dibuat sakit hati mendengar ucapan Abi.
“Tapi kan bapak sendiri yang...”
Abi meletakkan sebuah kartu di depan Zanna. “Ini. Ini kartu kredit saya, silahkan gunakan semau kamu. Ini imbalannya, setelah ini jangan ikut campur tentang masalah saya dengan istri...bukan mantan istri saya. Kamu hanya orang asing Zanna,” setelah mengatakan itu. Abi pergi meninggalkan Zanna yang diserang bertubi-tubi dengan ucapan Abi yang begitu menusuk.
Zanna melirik ke arah kartu kredit yang diberikan Abi. Apa Abi pikir dengan uang segalanya selesai? Dianggap apa dirinya di mata Abi? Zanna mengeluarkan telepon genggamnya. Ia kembali melihat hasil jepretan foto Abi yang tersenyum lebar.
“Kenapa gue bisa jadi sesuka ini sama dia? Gue ingin tahu apa yang terjadi dengan masa lalu dia. Kenapa gue tiba-tiba takut dia bakal balik sama istrinya? Sial!” jika seperti ini, Zanna teringat Savian. Savian yang mampu menenangkan dirinya.
Zanna menelfon Savian. “Savikuuu...temenin gue dong. Ya please...alamatnya nanti gue kirimin. Cepat ya...bye bye,” Zanna langsung mematikan sambungan tanpa menunggu balasan Savian.
.......
.......
...Yang kesel sama Abi angkat tangan ✋...
...Happy reading tunggu next eps yaaaa...
^^^The Yelion ❤️🍁🍀^^^
__ADS_1
^^^XOXO^^^