My Heart Choice

My Heart Choice
15• Dia Abi


__ADS_3

...“Bahkan dengan menyebut namamu saja membuat hati ini tenang, bahkan tak jarang berdebar. Lalu berbagai macam sikap yang kamu tunjukkan, selalu menambah kekagumanku”...


...***...


“Oh iya, kenalkan nama bapak ini...” pria itu menahan Bimo untuk lanjut berbicara dengan mengangkat tangannya.


“Perkenalkan nama saya Abi, dan ini asisten saya Evila,” Evila dan Zanna berjabat tangan saling mengenalkan diri. Setelah itu, pria yang bernama Abi mengajak Zanna berjabat tangan. Tentunya dibalas dengan semangat oleh Zanna.


“Kali ini nama asli kan?” tanya Zanna.


“Maaf? Maksudnya?” Abi menatap Zanna dengan tatapan bingung. Pria itu lupa pernah berbohong pasal namanya pada Zanna.


Zanna menggelengkan kepalanya. “Maaf abaikan saja. Kenalkan nama saya Zanna Letta Kirania, panggil saja saya Zanna,” Zanna mencoba bersikap profesional, karena ini menyangkut impiannya sekaligus untuk membuat pria yang menjabat tangannya ini terpukau. “Ah iya, perkenalkan ini teman saya,” Zanna mengenalkan Savian.


“Saya Savian. Temannya Zanna,” Savian memperkenalkan dirinya dengan nada dingin dan tatapan tajam pada Abi.


“Saya Abi,” pria itu sadar dengan sikap Savian. Tapi tidak mau ambil pusing, karena ia tidak memiliki urusan dengan teman Zanna itu. Savian menganggukkan kepalanya, lalu melepaskan jabatan tangan mereka.


“Sesuai yang dikatakan dosen nona Zanna. Saya tertarik dengan rancangan nona dan kalau diizinkan, apa boleh saya lihat design nona yang lainnya?” Abi menatap dengan tatapan datar, ia sebenarnya takjub dengan rancangan milik Zanna. Rancangan yang diciptakan gadis itu sesuai dengan standar perusahaannya.


“Tentu dengan senang hati. Pak Abi beserta Ibu Evila dan Pak Bimo silahkan duduk dulu. Saya ambilkan dulu buku rancangan saya,” Abi, Evila, dan Bimo duduk ditempat yang telah disediakan. Sedangkan Zanna pergi mengambil tas yang berisi buku rancangannya diikuti Savian.


“Za bersikap profesional ya Za. Jangan pecicilan, jaga image lo,” ingat Savian pada Zanna.


“Hehehe iya-iya. Gue bisa jaga sikap kali. Ini menyangkut impian gue, gak mungkin gue buat diri gue malu,” Savian mengacak-acak rambut Zanna.


“Ya udah gue boleh ganti baju? Gue mau nemuin keluarga lo ngasih tahu perihal ini. Nanti kita tungguin lo ditempat makan,” Zanna mengangguk, mempersilahkan Savian.


“Thanks ya Vi udah mau jadi model gue,” Zanna mengerlingkan matanya, dan dibalas dengan senyum manis Savian.


...***...


“Ini rancangan saya selama ini,” Zanna memberikan sketch book nya pada Abi.

__ADS_1


Pria itu melihat-lihat rancangan Zanna. Ia mengangguk-anggukan kepalanya. Jantung Zanna berdebar kencang. Bagaimana tidak? Pemilik perusahaan besar melihat design miliknya. Zanna berdo’a terus menerus dalam hatinya, berharap karyanya tidak mengecewakan.


Abi masih melihat semua rancangan milik Zanna. Ia tersenyum kecil, sangat kecil. Ternyata wanita yang membuat ia merasa risih ini memiliki bakat yang luar biasa, sangat disayangkan jika dilewatkan begitu saja.


“Saya tertarik dengan rancangan yang nona Zanna buat. Rata-rata rancangan yang nona buat bagus-bagus. Detailnya, modelnya, sesuai dengan standar perusahaan kami,” Zanna tersenyum mendengar itu, hatinya sedikit tenang, dan debaran jantung sedikit berkurang. “Saya berniat ingin membeli rancangan nona. Evila bisa berikan surat perjanjiannya,”


Asisten pria itu mengeluarkan map yang berisi surat perjanjian. Ia memberikan itu pada Zanna. “Map ini berisi surat perjanjian kerja sama. Nona Zanna bisa lihat sendiri, sesuai dengan yang ada disana. Jika rancangan nona sudah kami beli, hak cipta rancangan akan menjadi milik kami sepenuhnya. Jadi, kami berhak jika ingin merubah karya milik nona. Kami akan berikan nominal yang sesuai,” setelah mendengarkan ucapan dari Evila. Zanna kembali melihat isi perjanjian itu. Jika dilihat, isi perjanjian ini sangat menguntungkan untuknya. Zanna bercita-cita menjadi designer, agar ia dikenal lewat karyanya. Tapi, jika hak cipta karyanya ini tidak lagi miliknya, bagaimana ia bisa terkenal?


“Jadi, sesuai isi perjanjian ini. Jika rancangan saya dibeli, hak cipta jatuh pada perusahaan. Apakah nama saya tidak tercantum sama sekali pada rancangan yang saya buat, jika diproduksi nanti oleh perusahaan?” Zanna menatap ke arah Abi dengan tatapan menyelidik. Abi hanya menatap Evila, menyuruh Evila yang menjelaskan lewat tatapannya itu.


“Iya nona. Karena hak cipta jatuh pada kami. Tetapi agar memudahkan nona nantinya mencari kerja. Kami akan buatkan sertifikat untuk nona, yang pastinya memudahkan nona,” Zanna menggelengkan kepalanya pelan.


“Maaf saya tolak tawaran yang diberikan ini,” Zanna meletakkan surat perjanjian itu. Bimo melotot ke arah Zanna.


“Zanna ini kesempatan yang bagus, sayang dilewatkan,” Bimo mencoba untuk membujuk Zanna.


Zanna tak bergeming. Abi yang melihat itu kembali tersenyum kecil, masih sangat kecil. Setelah mendengar ucapan Zanna, ia tahu apa yang ada dipikiran Zanna. Wanita kecil ini mengingatkan pada dirinya dulu.


Zanna hanya mengangguk dan tersenyum menanggapinya. “Baiklah kalau begitu. Bagaimana jika kerja sama kita ubah? Nona mau bekerja di perusahaan kami?” Zanna sumringah, ia terdiam sejenak.


“Tentu saja. Siapa yang akan menolak bekerja di perusahaan yang sudah besar namanya itu,” Abi tersenyum tipis. Zanna terpukau, ketika pria itu tersenyum. Kadar ketampanannya semakin meningkat.


“Saya akan dengan senang hati menerima nona. Bakat yang nona miliki sangat disayangkan jika saya biarkan begitu saja. Tapi...” Abi menjeda kalimatnya. Menatap Zanna yang menunggu-nunggu perkataan selanjutnya.


“Standar designer di perusahaan kami rata-rata sudah sarjana. Nona mengertikan maksud saya? Melihat nona yang masih kuliah tentu menjadi pertimbangan untuk kami. Akan sulit membagi waktu antara bekerja dan kuliah. Mau tidak mau nona harus berhenti kuliah, jika ingin bekerja di perusahaan kami. Saya tidak bermaksud apa-apa, designer kami ada juga yang hanya lulusan SMA bahkan ada yang SMP.


Tapi karena nona kuliah di universitas yang sangat bagus, apalagi jurusan nona sudah banyak melahirkan designer-designer luar biasa. Akan sangat disayangkan jika kuliah nona terhenti. Kami akan langsung menerima nona, tanpa perlu wawancara, tanpa perlu melewati berbagai tes yang ada. Tapi nona harus berhenti kuliah. Apa nona mau?” Abi memperhatikan ekspresi Zanna. Ia menanti jawaban apa yang akan keluar dari mulut gadis itu.


Zanna bimbang. Benar-benar bimbang. Kuliahnya hanya sebentar lagi, sangat disayangkan jika berhenti begitu saja. Tapi ini juga kesempatan yang mungkin tidak akan datang dua kali. Perusahaan pria itu bukan perusahaan kecil. Banyak designer melamar kesana tiap tahunnya, melewati berbagai tes. Tapi dirinya akan diterima langsung tanpa embel-embel tes.


“Saya tidak bisa menunggu. Saya butuh keputusannya saat ini juga,” ucapan Abi semakin membuat Zanna merasa tertekan. Padahal rencananya Zanna ingin meminta waktu. Lalu mendiskusikan pada keluarganya. Zanna menghela nafas pelan.


“Maaf pak. Sepertinya saya harus melewatkan kesempatan ini. Kuliah saya sudah berada diakhir, akan sangat disayangkan jika saya tinggalkan begitu saja,” Zanna lesu setelah mengatakan itu. Tapi tanpa disangka, Abi malah tersenyum mendengar itu.

__ADS_1


“Bagus jika kamu memilih untuk kuliah. Memang benar-benar sangat disayangkan jika berhenti diakhir. Begini saja, saya tantang nona. Selesaikan kuliah nona tepat waktu. Jika bisa, saya akan meminta pak Bimo untuk menghubungi saya. Akan saya rekrut nona sebagai designer perusahaan kami tanpa tes. Lalu, saya akan membiayai kuliah nona. Tapi...jika misalnya nona sudah lulus lalu memutuskan tidak jadi bekerja di perusahaan kami. Tentunya, nona harus mengembalikan segala biaya yang telah dikeluarkan untuk kuliah nona. Bagaimana? Kesempatan bagus yang sayang untuk dilewatkan bukan?” Zanna ingin menangis rasanya. Tidak mungkin ia lewatkan.


“Tawaran ini tentu akan saya terima. Tidak mungkin saya tolak. Saya terima tantangannya pak. Akan saya gunakan kesempatan ini baik-baik, dan saya akan berusaha lulus tepat waktu, bahkan lebih cepat,” Abi tersenyum ke arah Zanna. Walaupun masih tersenyum kecil, tapi setidaknya lebih lebar dibanding sebelumnya.


“Baiklah kalau begitu. Berhubung saya masih ada urusan setelah ini. Saya undur diri. Untuk dokumen kesepakatan yang harus nona tanda tangani akan diurus asisten saya,” Zanna mengangguk. “Evila siapkan dokumen tersebut, dan kirimkan pada pak Bimo selaku dosen Zanna. Saya tunggu secepatnya,” Evila mengangguk.


Abi dan asistennya Evila undur diri. Zanna memandangi punggung pria itu sampai hilang dari pandangannya. Zanna semakin menyukai Abi. Walaupun kemarin saat mereka bertemu Abi bersikap kasar dan ketus. Tapi nyatanya, pria itu sangat baik.


“Kerja bagus Zanna. Saya bangga sama kamu. Ingat ini kesempatan bagus. Kamu harus cepat-cepat lulus agar bisa bekerja disana,” Zanna tersenyum, lantas ia menganggukkan kepalanya.


“Ini berkat bapak juga. Karena ajaran bapak dan dosen yang lain saya bisa dapat kesempatan ini. Makasih ya pak Bim,” Bimo tersenyum. Ia menepuk pundak Zanna, lalu pamit pergi.


Zanna ingin cepat bertemu keluarga dan temannya. Ingin membagi kebahagiaan ini bersama orang-orang tersayangnya. Zanna segera mengemas barang-barangnya. Lalu dengan semangat berlari menuju tempat yang telah Savian beritahu sebelumnya dimana teman dan keluarganya berada.


.......


.......


...#pojokan author...


...Yeay! Akhirnya setelah sekian lama, namanya kebongkar. Tenang aja kali ini Abi itu nama aslinya kok:)...


.......


...Ditunggu Eps selanjutnya...


...Love you all <3...


.......


...The Yelion🍁🍀♥️...


...XOXO...

__ADS_1


__ADS_2