
...“Hatiku sesak. Bisakah kamu bantu menyembuhkan hati ini?”...
...***...
Terdengar ketukan pintu. Abi menginterupsi agar orang yang mengetuk pintu itu masuk. Abi melirik, dan ternyata Chris. Temannya itu berjalan dan duduk di hadapannya.
“Lo nyari gue?” tanya Chris.
“Iya, gue mau nanya gimana kerja sama dengan Bu Friska? Gimana perkembangannya?” Abi bersandar pada kursinya.
“Lancar, gue akan kasih laporannya ke elo. Si Jay lagi survey tempat,” balas Chris.
“Ohh oke. Tadi ada perempuan di ruangan lo. Itu siapa? Kayanya bukan salah satu klien kita. Lo gak ngajak cewek bayaran ke kantorkan?” Chris langsung menggeleng.
“Bukan. Dia bukan cewek yang begitu. Dia teman lama gue...sekaligus...” Chris menjeda ucapannya. Ia bingung, haruskah ia mengatakan kebenarannya. Tidak, ia tidak boleh. Ia harus memikirkan kesehatan mental sahabatnya ini.
“Gak jadi abaikan aja. Intinya dia dulu teman gue,” Abi yang tidak ingin ambil pusing hanya mengangguk membalas ucapan Chris dan kembali berkutat dengan layar laptopnya.
“Lo udah makan siang? Kalau belum....” ucapan Chris terpotong ketika mendengar ketukan pintu dan suara pintu terbuka. Chris menoleh ke arah seseorang yang masuk ke ruangan Abi. Betapa terkejutnya Chris.
Chris langsung menoleh ke arah Abi. Sahabatnya itu belum melirik ke arah orang yang baru saja masuk, Abi masih fokus ke layar laptopnya. “Ada apa Evila? Apa masih ada yang harus saya kerjakan?”
Muka Chris merah padam. Bagaimana bisa orang itu dengan beraninya menemui Abi. Chris dengan tatapannya, seolah-olah memerintahkan agar orang itu segera keluar dari ruangan Abi.
Orang itu menggeleng. Ia memberikan tatapan memohonnya pada Chris. “Abi!” suara itu mampu mengusik Abi. Jelas itu adalah suara yang sangat familiar di pendengarannya. Ia segera menoleh, dan ternyata benar. Suara itu milik orang yang ia kenal.
Kini, suara yang ia kenal itu mampu membuat amarah Abi meluap. Rahang Abi mengeras, giginya mengatup dengan rapat. Tatapannya yang menyalang membuat orang yang memanggil Abi nyaris ciut. Chris hanya menggelengkan kepalanya. Ia memijit pelipisnya. Setelah ini ia harus berusaha untuk menenangkan Abi.
“Chris! Ini yang lo maksud teman lama lo?” tanya Abi.
“Abi, tahan emosi lo. Ingat Ghania!” Chris mencoba mengingatkan Abi sebelum semuanya terlambat.
Abi terkekeh. “Tenang aja. Ghania lagi gak ada disini,”
“Bukan gitu maksud gue. Lo...” Abi mengangkat tangannya di hadapan Chris. Menginterupsi Chris untuk diam.
Orang yang ada diantara mereka berdua, menatap Abi dengan perasaan takut. “A-abi. Ma-maaf,” Abi tertawa mendengar permintaan maaf itu.
Ia mengambil vas bunga dan seketika melemparnya tepat di dinding belakang orang tersebut. Orang tersebut memejamkan mata dan menutup telinganya. Ia tahu ini akan terjadi. Ia tidak boleh lari lagi. Ia harus menghadapinya.
Abi mencoba menenangkan dirinya. Dengan tenang, Abi menatap orang itu dengan tatapan dingin yang menusuk. “Kenapa datang? Kenapa gak nunggu aku sampai berhasil mencari kamu?”
Orang itu diam tidak menjawab. “Kita kan lagi main petak umpet. Kenapa kamu udah muncul sebelum aku berhasil nemuin kamu? Jawab, jangan diam aja,”
Orang itu memejamkan matanya. “Aku...aku bisa jelasin,”
__ADS_1
Abi menggeleng perlahan. Abi kemudian meletakkan jari telunjuk dibibirnya. “Sssstttt...gak ada lagi yang perlu dijelasin. Udah cukup jelas ko selama ini,”
“Abi...aku mohon maafin aku. Aku...aku...ingin ketemu Ghania,” Abi naik pitam ketika orang tersebut menyebut nama Ghania.
“Arabellaaaaa!” teriak Abi menggelegar, memenuhi ruangan tersebut.
Ya, orang yang membuat amarah Abi meluap, tidak lain dan tidak bukan adalah Arabella. Wanita yang dicari Abi sekaligus yang sudah ia anggap tiada. Kenapa wanita ini muncul tiba-tiba? Ia memang ingin bertemu Arabella, tapi untuk saat ini mentalnya belum siap. Hatinya belum siap untuk melihat seseorang yang sangat amat melukai hidupnya datang kembali.
Ara menangis mendengar teriakan Abi. Ia sampai terduduk di tempatnya. Chris mendatangi Arabella. Chris juga sama emosinya kepada Ara. Padahal saat Ara menjumpainya, Chris telah mengatakan untuk jangan muncul dihadapan Abi. Kesehatan psikis Abi akan memburuk.
“Ara, lo lebih baik pergi dari sini! Gue udah bilang sama lo, jangan sekarang! Kenapa lo datang?! Lo yang habis nanti!” Chris menarik tangan Ara berusaha mengajaknya keluar dari hadapan Abi. Tapi, wanita itu bersikeras untuk menetap. Ia menghempas genggaman Chris.
“Gak! Gue gak akan pergi! Gue ingin mengakui segala kesalahan gue. Gue ingin memperbaiki hubungan gue sama Abi dan Ghania,” setelah Ara mengatakan itu, ia menangis sesenggukan. Chris menatap Ara kemudian menatap Abi.
Abi membuka laci mejanya dan mengambil sesuatu. Ternyata foto ia bersama dengan Ara. Ia menghampiri wanita yang sebenarnya ia rindukan, tetapi juga ia benci.
Chris merasa ia harus siap siaga. Ia takut Abi berbuat sesuatu terhadap Ara. Ia tidak ingin ini semakin kacau. Ia tidak ingin, sahabatnya ini melakukan hal yang nantinya membuat ia rugi.
Abi melempar foto itu dihadapan Ara sampai bingkai foto itu patah dan kacanya pecah. Ara melihat dengan jelas di balik pecahan kaca itu, foto ia bersama dengan Abi.
“Hubungan yang mana yang ingin kamu perbaiki?” tanya Abi dingin. Ia berjongkok di hadapan Ara yang duduk terkulai.
“A-abi...” lirih Ara.
Abi mengambil foto itu, tak sengaja tangannya tergores serpihan kaca, namun tidak ia pedulikan. Kemudian tepat didepan wajah Ara. Abi merobek foto itu menjadi beberapa bagian.
“Abi...aku menyesal. Aku mohon maafkan aku, dan...dan izinkan aku bertemu dengan Ghania,” Abi menghela nafas kasar, ia melonggarkan dasinya.
“Kamu...tidak akan pernah bisa bertemu dengan Ghania. Dia masih kecil, jangan buat dia kebingungan dengan kehadiran kamu. Ghania gak butuh kamu, dia sudah cukup dengan ayahnya ini,” Abi berdiri. Ia hendak keluar dari ruangannya itu. Tetapi ditahan Ara.
“Kamu gak bisa bersikap seperti itu. Aku ibunya, aku berhak untuk menemui anakku. Sekali saja, aku mohon sekali saja,” Ara terisak.
Abi kemudian dengan marah mendatangi Ara, memegang kedua pundak Ara. Ia menggoncang tubuh itu.
“Sadar Ra! Hak yang kamu katakan sudah kamu sia-siakan dulu! Hak itu sudah gak ada lagi, semenjak kamu pergi meninggalkan Ghania! Ghania sudah berusia lima tahun, selama itu aku yang merawatnya Ra! Lima tahun yang lalu kamu sudah sia-siakan hak kamu sebagai ibu!
Apa yang kamu tahu tentang Ghania?! Apa kamu tahu dulu saat Ghania menangis tengah malam, membutuhkan pelukan kamu?! Apa kamu tahu dulu saat Ghania berulang kali mengalami demam tinggi, dan itu karena dia butuh sosok seorang ibu?! Apa kamu tahu, kata pertama apa yang diucapkan putri kecil kita itu?! Mama! Kata yang gak pernah aku ucapkan dihadapan Ghania, tapi kata itu yang ia ucapkan pertama kali!” Ara terisak mendengar itu, dan tanpa sadar Abi pun menangis saat mengatakan itu. Chris hanya diam, ia bisa melihat Abi ingin meluapkan segalanya.
“Apa kamu tahu, betapa cepatnya Ghania belajar jalan?! Apa kamu tahu semua itu?! Gak! Kamu gak tahu dan kamu tidak akan pernah tahu! Waktu yang sudah kamu sia-siakan dan gak akan pernah bisa terulang kembali! Aku mohon, jangan temui Ghania. Dulu aku memohon-mohon sama kamu untuk tidak pergi, sekarang aku kembali memohon, tapi aku mohon, kamu pergi. Jangan pernah kembali! Jangan pernah muncul dihadapanku atau pun Ghania! Jangan rusak kebahagiaan kami! Aku dan Ghania gak butuh kamu lagi Ra,” Abi melepas pegangannya pada pundak Ara. Ia meraup rambutnya dengan kasar.
Ia merasa kembali hancur ketika mengingat ia sendirian yang berjuang merawat Ghania tanpa ada seorang ibu disamping anaknya itu. Tapi, disisi lain, Abi merasa lega. Kepedihan yang selama ini ia rasakan, terluapkan.
Abi berdiri, ia menatap Ara. Kemudian, ia segera keluar dari ruangannya. Chris menyusul Abi meninggalkan Ara yang masih terisak dilantai. Abi berjalan dengan cepat. Chris mendatangi Evila.
“Evi, batalkan semua agenda Abi hari ini. Serahkan pada saya, saya yang akan ambil alih,” setelah mendapat anggukan dari Evila. Chris kembali mengejar Abi.
__ADS_1
“Abi! Lo mau kemana?” tanya Chris ketika sudah berjalan disamping Abi.
“Lo gak perlu tahu. Tinggalin gue sendiri,” Chris menggelengkan kepalanya.
“Jangan lakuin hal aneh,” Abi berhenti. Ia menatap Chris dan tersenyum tipis. Ia kemudian menepuk pundak Chris.
“Lo tenang aja. Gue cuma mau nenangin diri. Gue gak akan ngelakuin hal aneh. Lo handle kerjaan gue ya. Sorry and thank you bro,” Abi menepuk kembali pundak Chris. Kemudian pergi dari hadapan temannya itu.
Abi segera menuju ke mobilnya. Sebenarnya ia masih ingin berbicara dengan Arabella. Tapi nanti, ketika ia menenangkan dirinya terlebih dahulu, menjernihkan segala pikirannya. Ketika sampai di mobilnya, Abi segera pergi dari kantornya. Menuju suatu tempat, tempat yang sekiranya bisa membuat hatinya tenang.
.......
.......
.......
...#pojokan author...
...Hai readers ku tersayang...
...Aku kembali...
...Aku ikutan nangis pas bagian Abi bahas tentang Ghania...
...Ada gk yg ikutan nangis juga?:')...
.......
...Next episode aku kasih bocoran lagi...
...Satu fakta tentang Abi dan Arabella akan terkuak;)...
...Stay tuned terus^^...
.......
...Jangan lupa tinggalin jejak ya...
...Kalian baca tapi gk like cerita aku T_T...
...Jangan lupa like, vote, comment, dan share MHC biar makin banyak yg baca^^...
.......
^^^The Yelion❤️🍀🍁^^^
__ADS_1
^^^XOXO^^^