My Heart Choice

My Heart Choice
24• Dia Yang Peduli


__ADS_3

..."Haruskah aku berhenti mencintaimu? Bukankah aku terlalu bodoh? Masih mengejar dirimu walaupun tahu akan terluka? Kenapa begitu sulit, padahal aku hanya ingin mencintaimu”...


...***...


Seketika badan Zanna lemas. Ia pasrah berada di pelukan Gamma. Hatinya begitu sakit. Bukankah Abi melihatnya? Kenapa ia tak berhenti dan menolong Zanna? Jika Abi seperti ini, kenapa tadi ia menolong Zanna dari Gamma saat di kampus? Banyak pertanyaan yang ingin dilontarkan Zanna.


“A...Abi,” lirih Zanna yang kemudian menangis.


Gamma yang mendengar Zanna menangis, terkejut. Apa ia membuat Zanna ketakutan? Apakah ia sudah keterlaluan? Gamma melepas pelukannya pada Zanna. Gamma melihat Zanna terisak, air mata sudah memenuhi pipinya. Gamma menghapus air mata Zanna, lalu kembali memeluk Zanna.


“Za maafin gue. Maaf gue jadi kasar, maaf Za. Please jangan nangis Za,” Gamma mengelus rambut Zanna.


“Lepasin gue Ga!” teriak Zanna kemudian. Ia tersadar, ia harus lepas dari Gamma. Tapi Gamma tak mau melepas pelukannya pada Zanna.


“Maaf Za. Maaf karena gue lo nangis,” mendengar itu Zanna kembali menangis.


“Bukan karena lo! Gue nangis bukan karena lo! Lepasin gue!” ronta Zanna ditengah isakannya.


Saat Zanna tengah berontak. Tiba-tiba Savian datang, dan langsung menarik Gamma. Pelukan Gamma pada Zanna lepas, Gamma terjatuh. Langsung saja, Savian meluruh ke arah Gamma dan menghujaninya dengan pukulan yang sangat keras.


“Lo apain Zanna brengsek?!” satu pukulan melayang ke arah pipi Gamma. Pria itu merintih, berusaha menangkis pukulan dari Savian. Gamma berdiri, ia lalu berusaha membalas pukulan Savian. Tapi karena amarah Savian yang memuncak, pukulan dari Gamma melesat.


Savian menarik kerah baju Gamma. Kembali memukul wajah Gamma, seketika darah segar mengalir dari ujung bibir Gamma. Zanna menangis, dan menarik Savian. Sahabatnya ini salah paham.


“Savi! Udah! Please berhenti,” Zanna memeluk tubuh Savian dari belakang. Zanna menangis, Savian yang tubuhnya tengah dipeluk Zanna pun tidak melanjutkan aksinya. Ia melepas tangan Zanna yang melingkar di badannya. Lalu membalikkan badannya ke arah Zanna.


“Lo gak apa-apa Za? Lo diapain dia? Kenapa lo gak ngehubungi gue?” Savian menggenggam tangan Zanna dan mengusapnya.


“Gamma ngajak gue balikan. Habis itu dia maksa gue untuk pulang sama dia, tapi bukan karena dia gue nangis,” Zanna menatap Savian dengan mata yang sudah sembab.


Savian menghela nafas. Savian menatap Gamma dibelakangnya. Menatap dengan tatapan penuh kebencian. “Jangan ganggu Zanna lagi. Dulu udah cukup lo buat Zanna nangis. Kali ini sekali aja lo buat Zanna ngeluarin air mata lagi, gue gak segan-segan ngelakuin hal lebih dari tadi Ga,”


“Lo pikir gue takut sama ancaman lo itu? Lagian kenapa lo harus ikut campur terus urusan gue sama Zanna?” rahang Savian mengeras dan tangannya mengepal dengan kuat yang membuat urat-urat di tangannya terlihat.


“Gue akan selalu ikut campur jika hal itu menyangkut dengan hal yang menyakiti Zanna. Gak ada yang boleh nyakitin Zanna, apalagi makhluk rendah seperti lo,” Zanna memegang tangan Savian, berusaha menyadarkan pria itu untuk tenang. Sifat Savian yang jarang diketahui orang adalah seperti saat ini.

__ADS_1


Savian akan sangat murka menyangkut hal yang menyakiti dirinya. “Savian udah. Gue mau pulang, ayo pulang,” Zanna menarik tangan Savian, namun Savian tak bergeming. Ia masih menatap Gamma dengan tatapan penuh amarah.


“Jangan pernah deketin Zanna lagi tanpa kemauan Zanna sendiri. Jangan anggap ancaman tadi main-main Ga. Cukup sekali gue kaya gini sama lo,” ucap Savian dengan dingin.


Setelah mengucapkan itu, Savian yang menarik Zanna pergi dari sana. Meninggalkan Gamma yang menatap Savian dengan kesal. Lagi-lagi ada saja yang menghalangi pertemuannya dengan Zanna.


Savian menuntun Zanna menuju mobilnya, ia membukakan pintu mobil untuk Zanna dan menyampirkan jaket miliknya di tubuh Zanna. Ia tersenyum kecil ke arah Zanna, lalu mengacak-acak rambut Zanna. Savian pun pergi menuju kursi pengemudi. Lalu menjalankan mobilnya.


“Lo gak jawab pertanyaan gue tadi. Kenapa gak ngehubungi gue?” tanya Savian.


“Kan tadi lo bilang, kemungkinan lo lama. Makanya gue mutusin untuk pulang sendiri. Tapi Gamma malah datang,” ucap Zanna pelan sambil menundukkan kepalanya.


“Lo lupa apa yang gue bilang tadi. Selama apa pun gue, lo harus tetap nunggu gue. Kan gue bilang, gue yang bakal jemput lo. Hubungi gue kalau lo udah selesai dinnernya,” Zanna cemberut mendengar perkataan Savian.


“Iya maaf. Lain kali kalau lo suruh nunggu, bakal gue tungguin walaupun gue sampe ubanan,” Savian menghela nafasnya, lalu melirik sekilas ke arah Zanna sebelum kembali fokus ke arah jalanan.


Zanna menatap Savian dengan seksama. Pria ini selalu ada ketika Zanna tengah berada dalam masalah. Kenapa pria ini begitu baik padanya? Coba saja Abi seperti Savian. Hah! Lagi-lagi Abi, Zanna kembali mengingat kejadian beberapa menit lalu. Dimana Abi tak mempedulikannya dan memutuskan untuk pergi. Hati Zanna kembali terasa sakit.


“Lo bilang tadi bukan Gamma yang buat lo nangis. Terus apa yang buat lo nangis?” tanya Savian.


Savian yang mendengarkan itu, merasa emosi pada Abi. “Tapi Savian, bisa aja dia emang gak tahu kalau itu gue,” Savian tersenyum kecut, Zanna masih saja mencoba membelanya.


“Ya terserah lo aja,” Savian fokus kejalanan. Savian merasa bersalah, seharusnya ia datang lebih awal tadi. Agar Zanna nya tidak diganggu Gamma dan tidak menangis karena si Abi itu.


“Savian. Kenapa lo baik banget sama gue?” Savian menatap Zanna. Ia tersenyum dengan lebar.


“Lo itu penting buat gue. Kalau lo sedih gue sedih, kalau lo senang gue juga ikutan senang. Karena gue sayang sama lo,” Savian menghentikan mobilnya ke tempat penjual makanan.


Sebelum Savian turun. Zanna segera memeluk lengan Savian. “Savi, makasih karena lo udah baik banget sama gue. Lo selalu ada saat gue lagi ada masalah. Lo emang sahabat terbaik gue,”


Savian mengelus kepala Zanna. “Iya gue emang sahabat terbaik lo,” Savian memberi penekanan pada kata ‘sahabat’, namun sepertinya Zanna tak menyadari itu.


“Ya udah lepasin pelukannya. Ayo turun, gue mau beli sate dulu,” ujar Savian.


“Untuk siapa?” tanya Zanna.

__ADS_1


“Untuk bunda sekalian juga untuk keluarga lo,”


“Untuk gue?” tanya Zanna.


“Nanti kalau uangnya berlebih,” Zanna mengerucutkan bibirnya. Savian hanya terkekeh, lalu mencubit bibir manyun Zanna.


...***...


Abi meraup rambutnya, kenapa ia mengabaikan Zanna tadi? Kenapa ia begitu tega, padahal jelas-jelas ia mendengar dan melihat Zanna meminta pertolongan padanya. Abi memutar balik mobilnya, menuju halte tempat Zanna tadi berada.


Namun sampai saat disana, ia tak melihat seorang pun. Apa Zanna dibawa pergi oleh pria bernama Gamma itu? Apa yang terjadi pada Zanna? Apa saat ini Zanna baik-baik saja? Terlalu banyak pertanyaan melintas di pikirannya. Abi merasa bersalah, ia memang sengaja tidak mempedulikan Zanna. Hanya karena ia berpikir, ia tak ingin repot-repot dengan urusan gadis itu.


Tapi jika ia tak ingin repot dengan Zanna. Kenapa saat Gamma mendatangi Zanna di kampus tadi, ia malah ikut campur? Abi merutuki dirinya, sepertinya besok ia harus menghubungi Zanna dan meminta maaf pada gadis itu. Abi mengendarai mobilnya menuju jalan pulang. Pikiran dan hatinya diliputi rasa bersalah. Ia benar-benar jahat tadi. Semoga saja Zanna mau memaafkan kesalahannya itu.


“Maafkan saya Zanna,”


.......


.......


.......


...#pojokanauthor...


...Yeay! Aku update lg^^...


...Stay tuned trs ya utk nunggu eps selanjutnya;)...


...Love you all...


.......


...The Yelion ♥️🍁🍀...


...XOXO...

__ADS_1


__ADS_2