
...“Ingin kembali bangkit dari keterpurukan, tetapi sulit. Mampukah kamu membantuku? Bisakah kamu mengiringi agar aku bisa kembali bahagia? Dan bisakah kamu selalu disisiku?”...
...***...
Pria itu mengendarai mobilnya dengan perasaan kesal. Bagaimana tidak? Ia yang sepulang kerja ingin menikmati waktu makan malam dengan santai malah diganggu oleh perempuan gila yang sok akrab padanya. Padahal hari ini, pria itu benar-benar lelah, kesana kemari untuk rapat dengan kliennya, belum lagi ia harus memantau segala pekerjaan karyawannya, ditambah segala urusan dokumen-dokumen perusahaan yang harus ia kerjakan juga.
Pria itu memakirkan mobilnya dipinggir jalan. Ia menyandarkan kepalanya pada stir mobil. Benar-benar lelah. Hari ini benar-benar lelah dari biasanya. Biasanya ia tidak akan mudah lelah seperti ini. Tapi kondisinya memang sedang tidak baik. Sudah dari kemarin ia merasa tidak enak badan, tapi hari inilah puncaknya.
Pria itu merogoh saku celananya. Ia menghela nafas. Pasti putri kecilnya sedang menunggu ia saat ini atau sudah tertidur. Pria itu kembali mengendarai mobil. Tak sabar untuk bertemu dengan putrinya.
Dipinggir jalan, ia melihat warung yang menjual sekoteng. Sepertinya akan cocok untuknya saat ini. Pria itu menghentikan mobilnya di dekat warung itu. Namun, saat ia mau membuka pintu mobil, ia melihat perempuan yang mengganggu makan malamnya tadi. Pria itu mengurungkan niat, telah hilang keinginannya membeli sebungkus sekoteng. Ia kembali mengendarai mobil, hingga akhrinya ia sampai di rumahnya.
Ia keluar dari mobilnya. Mengambil tasnya, lalu berjalan menuju pintu. Ia memencet bel, setelah beberapa lama. Seorang perempuan paruh baya membukakan pintu untuknya.
“Tuan sudah pulang? Ghania baru saja tertidur,” pria itu mengangguk.
“Ibu bisa langsung istirahat aja, pintu biar saya yang kerja. Maaf karena membuat ibu bekerja diluar waktu kerja. Ibu besok-besok gak usah tungguin saya pulang,” ucap pria itu.
“Gak apa-apa tuan. Oh iya tuan, tadi ibu baru saja membuatkan wedang jahe untuk tuan,” ucap perempuan yang tak lain asisten rumah tangga sekaligus pengasuh Ghania, Ibu Nur.
“Makasih dan ibu berhenti panggil saya tuan, udah lama ibu kerja disini. Ibu udah saya anggap ibu sendiri,” balas pria itu.
“Gak apa-apalah, udah kebiasa. Kalau gitu ibu ke kamar ibu ya,” pria itu mengangguk.
Setelah mengunci pintu, pria itu melempar tasnya ke sofa. Ia beranjak ke dapur. Meminum wedang jahe yang dibuatkan pengasuh anaknya tadi. Sesaat ia meminum minumannya, pria itu menangis, tidak histeris memang. Tapi siapa yang tidak akan menangis jika melihat seorang pria menangis dengan sungguh-sungguh. Pria itu meraup rambutnya kasar.
“Maafkan papa Ghania,” ucap pria itu ditengah-tengah tangisnya.
“Maafkan papa karena tidak ada waktu untuk kamu, maafkan papa nak. Papa tidak bisa menggantikan posisi mamamu. Papa sayang Ghania,” pria itu terduduk dilantai dapur.
Pria itu benar-benar merasa buruk. Ia merasa belum bisa menjadi sosok ayah yang baik untuk anaknya.
“Papa kenapa nangis?” tanya Ghania. Anak itu menatap papanya sembari memeluk boneka beruang kesayangannya.
Pria itu membentangkan tangannya, bermaksud mengajak anaknya kedalam pelukannya. Ghania menghampiri papanya itu. Selalu terasa hangat. Pelukan papanya benar-benar membuat Ghania merasa nyaman. “Masa iya papa nangis, sayang?” tanya pria itu.
__ADS_1
Ghania memegang pipi papanya. Tangan Ghania merasakan basah ditangannya. Lalu mengangkat tangannya didepan pria itu.
“Tangan Ghania basah habis pegang pipi papa, itu tandanya papa emang nangis,” pria itu menatap anaknya sendu.
“Ghania tidak rindu mama?” tanya pria itu.
“Rindu. Sangat rindu. Tapi, Ghania udah cukup punya papa aja,” Ghania memeluk leher papanya. Ia terlelap disana. Pria itu tersenyum tipis. Anaknya yang masih begitu kecil sangat mengerti dengan dirinya. Ia mengangkat badan anaknya. Ia tertawa melihat anaknya masih memegang boneka ditangannya.
Ia pergi menuju kamar anaknya. Membaringkan anaknya diranjang. “Ghania mau tidur sama papa,” anaknya itu memegang tangannya saat ia akan pergi.
Pria itu tersenyum, ia melepas dasinya, lalu tidur disamping anaknya.
...***...
Pria itu terbangun dengan kepalanya yang terasa pusing. Ia melihat disampingnya ada putrinya masih tertidur dengan lelap, jam masih menunjukkan dini hari. Dia tersenyum tipis, lalu mencium kening anaknya. Pria itu pun berdiri dari tidurnya dan keluar dari kamar anaknya perlahan. Ia berjalan sempoyongan menuju kamarnya, kepalanya terasa berat.
Sesampainya di kamar, ia kembali membaringkan badannya. Sepertinya hari ini ia akan izin tidak datang untuk bekerja. Pria itu menatap langit-langit kamarnya, menerawang kembali kejadian yang telah lalu. Ia pernah seperti ini, pulang dengan keadaan badan yang kurang baik. Namun perbedaannya, dulu ada istri yang menantinya pulang. Ia tersenyum kecut. Tapi kini, istri yang ia rindukan itu telah pergi. Meninggalkan dirinya bersama putri kecil mereka.
Pria itu berdiri ke arah lemari. Lalu mengambil kotak yang berada diatas lemari tersebut. Ia membukanya, disana ada barang-barang yang penuh dengan kenangan bersama istrinya. Ada foto pernikahan mereka berdua. Ia memegang foto pernikahan itu, menggenggamnya erat-erat. Ia tersenyum ketir, lalu menghela nafas berat. Istrinya pergi disaat kebahagiaan mereka sedang dipuncak-puncaknya. Pria itu tertawa, tapi tawanya terdengar menyayat siapa saja yang mendengarnya.
Sudah saatnya ia melupakan istrinya itu. Tidak ada alasan ia untuk terus larut dalam kesedihan ini. Istrinya pasti telah bahagia. Ia pun juga harus bahagia bersama putri cantiknya itu. Pria itu berdiri, lalu berjalan ke arah kamar mandi. Ia ingin menyegarkan badannya. Setelah menyegarkan badan, pria itu mengistirahatkan badannya kembali. Sembari menunggu pagi menjelang.
...***...
“Bangun putri kesayangan papa,” pria itu menciumi wajah putrinya yang membuat putrinya menggeliat karena kegelian. Putrinya tersenyum melihat ayahnya itu.
“Ghania masih ngantuk papa,” Ghania memeluk leher ayahnya.
“Papa aja udah seger, udah mandi, masa anaknya belum mandi. Kalau bangun dan mandi, nanti papa buatin pancake kesukaan Ghania,” putrinya itu melepas pelukannya. Lalu beranjak menuju kamar mandi.
“Jangan lupa gosok giginya ya!” ucap pria itu. Lalu turun, berniat membuatkan sarapan sesuai ucapannya pada anaknya itu.
“Eh udah bangun Tuan? Ibu bangunkan Ghania dulu ya,” ucap Ibu Nur.
“Ghania udah saya bangunkan Bu, tapi ibu ke kamar Ghania aja bantu Ghania siap-siap. Saya yang akan siapkan sarapan,” Ibu Nur mengangguk, lalu pria itu berjalan menuju dapur.
__ADS_1
“Tuan,” panggil Bu Nur.
“Iya bu?” pria itu menoleh.
“Kamu berhak bahagia, jangan larut dalam kesedihannya ya nak. Ibu dengar kamu nangis di dapur semalam. Kamu udah jadi ayah yang hebat untuk Ghania, jangan pernah nyalahin diri kamu. Eh ibu malah pakai kamu-kamu,” pria itu tersenyum.
“Makasih ya Bu. Saya malah senang ibu nyebut saya pakai kamu atau nama saya, dibanding tuan,”
“Nanti ibu belajar,” pria itu tertawa dan Bu Nur pergi menuju kamar Ghania.
Ibu Nur benar. Seharusnya ia tidak boleh terus-terusan menyalahkan dirinya. Sudah hampir dua tahun istrinya pergi, seharusnya ia sudah tidak merasa sedih lagi. Ya, ia harus lebih kuat lagi berusaha.
Pria itu tiba-tiba berpikir ditengah ia membuat sarapan. Ia memikirkan Ghania. Apa Ghania butuh kembali sosok seorang ibu? Tapi siapa? Ia sendiri masih belum yakin untuk membuka kembali hatinya ini. Pria itu menggelengkan kepalanya. Ghania sudah cukup memilikinya saja. Ya ia saja sudah cukup.
...***...
...#pojokan author...
...Kali ini penuh dengan cerita dari si papa muda dulu yawww...
...Semoga dapat feel-nya...
.......
...Tetap tunggu kelanjutan kisah MHC ini^^...
...Jangan lupa like, vote, comment, dan share biar bnyk yg baca cerita ini^^...
.......
...XOXO...
...Wanita penghuni surga (Aamiin^^)...
...Leonita_Wi🍁🍀❤️...
__ADS_1