
...“Jangan pergi bukankah kamu berjanji untuk terus melindungi ku? Sekarang kenapa kamu pergi dan mengingkarinya?”...
...***...
Kini setelah Zanna membuat beberapa design. Ia sekarang disibukkan untuk event jurusannya. Mereka ditugaskan untuk membuat pakaian hasil karya tangan mereka sendiri, dan akan dipamerkan di event tersebut.
Sudah beberapa hari, ketika sudah memikirkan bahan apa yang akan ia gunakan pada pakaiannya. Zanna sibuk pergi ke toko kain untuk membeli bahan. Terkadang ia ditemani kakaknya, atau Riana, bahkan pastinya ditemani Savian.
Sampai saat ini pun Zanna belum bisa bertemu pria itu. Tapi karena kesibukannya, ia tidak terlalu kepikiran. Pernah suatu waktu ketika Zanna tengah berada di toko kain, ia melihat sosok tinggi dengan tubuh kekar pria itu. Tapi selalu hilang tidak dapat ditemukan. Beberapa kali terulang, tapi selalu saja sama. Bahkan pernah salah orang.
“Bahan untuk pakaian lo udah dapat semua Za?” tanya Riana yang saat ini tengah berada di rumah Zanna.
“Belum, masih ada beberapa. Pak Bimo nyuruh gue buat empat design untuk acara pameran itu. Tapi untuk bahan baju, baru untuk dua design. Pusing gue mikirin bahan untuk dua design itu,” Zanna kembali mengecek bahan-bahan yang telah ia beli tadi.
“Kenapa gak disamain aja?” tanya Riana lagi.
“Pengennya gitu. Cuma gue pengen ganti-ganti bahannya. Tapi kalau emang gue masih bingung, gue samain aja,” balas Zanna.
Gadis tinggi semampai itu berjalan menuju meja belajarnya. Duduk di sana dan Zanna meremas rambutnya. Pikirannya kacau. Akhir-akhir ini ia lelah sekali. Sudah berhari-hari ia tidur hanya beberapa jam. Zanna melipat tangannya di atas meja dan menyandarkan kepalanya di tangan.
“Semangat ya Za. Demi cita-cita lo,” Riana mengelus pundak Zanna, lalu berjalan keluar dari kamar Zanna.
Zanna menegakkan kepalanya. Ia berjalan menuju balkon kamarnya. Menghirup udara sore itu, ia melihat ke arah rumah Savian. Ternyata Savian juga berada di balkon. Zanna melambaikan tangannya, dan dibalas lambaian juga oleh Savian.
“Gue ke rumah lo ya! Bareng Riana! Siapin makan sama minum!” teriak Zanna, lalu Zanna keluar dari kamarnya. Mencari Riana.
“Ria! Lo dimana?!” teriak Zanna saat telah berada diruang keluarga rumahnya.
“Taman belakang! Gak usah teriak-teriak!” balas Riana teriak.
Zanna berjalan menuju taman belakang rumahnya. “Lo sendiri juga teriak,”
“Hahaha...kenapa lo manggil gue?” Riana tengah bersama Yuma dan Zeva.
“Ke rumah Savian yuk! Tadi gue bilang bakal ke rumah dia bareng lo,” ucap Zanna.
“Ada makanan gak?” Riana menaik-naikkan alisnya.
“Ada. Tenang aja, rumah Savian gak akan mungkin gak ada makanan,” Zanna tertawa.
“Zanna, jangan repotin Savian terus nak,” tegur Yuma.
“Zanna gak pernah ngerepotin dia. Savian sendiri yang nawarin direpotin. Kan sayang kalau nolak tawaran orang,” Yuma menggelengkan kepalanya.
“Oh iya Za. Ayah besok lusa pulang. Ayah minta kamu jemput di bandara,” ucap Yuma.
“Okey sip. Nanti bunda telfon ayah, bilang oleh-olehnya jangan lupa. Kalau gak ada oleh-oleh, ayah gak boleh pulang,” Yuma terkekeh mendengarnya.
Zanna dan Riana pergi menuju rumah Savian. Ternyata Savian sudah menunggu mereka di pintu utama.
__ADS_1
“Bunda lo di toko?” tanya Zanna.
“Iya, toko lagi direnovasi. Jadi bunda mesti mantau beberapa hari ke depan,” Zanna ber-oh ria mendengar itu.
“Ya udah langsung ke gazebo aja. Udah disiapin makan sama minum disana,” Zanna menggeleng.
“Gue mau ke kamar lo,” Zanna berjalan masuk ke dalam rumah, dan berlari ke arah tangga menuju kamar Savian.
“Gak ada sopan santunnya tuh anak,” Riana menggelengkan kepalanya.
“Ya tapi gitu-gitu gue suka,” Riana memutar matanya mendengar ucapan Savian.
“Percuma kalau sikap lo masih pengecut, gak berani ungkapin rasa suka itu,” Savian hanya tersenyum tipis. “Keburu diambil orang ****** lu,” Riana berjalan meninggalkan Savian.
Ucapan Riana tidak ada yang salah. Savian berjalan menuju dapur. Menemui asisten rumah tangga.
“Bu bisa bantuin Vian angkat makanan yang ada di gazebo ke kamar Vian gak?” tanya Savian sopan.
“Tentu bisa lah. Udah Vian ke kamar aja, biar ibu yang antar nanti,” Savian menggeleng.
“Banyak makanannya bu. Kalau sendiri nanti bolak balik,” ART yang biasa disapa Bu Asni tersenyum. Anak dari majikannya ini selalu sungkan jika meminta tolong.
Savian dan Asni menggotong makanan serta minuman ke kamar Savian. Disana Zanna dan Riana sibuk merecoki kamar Savian.
“Eh ibu. Aduh maaf ngerepotin bu,” ucap Zanna ketika melihat Asni mengangkat makanannya.
“Gak apa-apa nak,” Asni tersenyum ke arah Zanna. Lalu pergi meninggalkan mereka.
“Lo berdua udah ngacir ke kamar gue. Gimana mau minta tolong,” Savian menghidupkan musik handphonenya yang sudah terhubung ke speaker.
“Besok masih nyari bahan?” tanya Savian yang dibalas anggukan Zanna.
“Kamar lo rapi banget ya Vi,” ucap Riana. Ia sudah beberapa kali ke kamar Savian, masih saja takjub.
“Emang kaya teman lo. Kamarnya berantakan,” Zanna hanya berdecih mendengar itu.
Mereka menghabiskan waktu sore itu. Entah membicarakan hal tidak penting, mendengarkan curhat Zanna yang merindukan pria duda itu. Karaoke, bahkan bermain games.
Namun ada hal yang menarik perhatian Riana. Ekspresi Savian ketika mendengar Zanna yang sesekali membahas pria duda yang ia sukai. Savian tersenyum, tapi terlalu dipaksakan. Zanna tidak merasakan itu, tapi Riana tahu dengan jelas.
“Savi, jalan-jalan yuk,” ajak Zanna.
“Jalan-jalan kemana?” Savian melihat ke arah Zanna.
“Keliling komplek, terus ke tempat yang banyak jualan cemilan kek cinlok eh cilok gitu,” ucap Zanna memohon.
“Udah banyak makanan disini Za,” Riana mengingatkan.
“Pengen Ri. Udah lama juga gak makan makanan kaki lima gitu,” Zanna tetaplah Zanna dengan sifat keras kepalanya.
“Ya udah ayo. Ambil jaket, sweater, atau hoddie di lemari gue, cuaca lagi dingin. Ri lo ambil juga,” Zanna berjalan riang menuju lemari Savian. Mengambil hoddie warna kuning sekalian mengambilkan untuk Riana.
__ADS_1
“Naik mobil?” tanya Savian.
“Nggak. Jalan kaki aja,” Savian mengangguk.
...***...
Mereka bertiga berjalan menuju tempat penjual jajanan mangkal. Mata Zanna berbinar melihat jajanan disana. Savian dan Riana hanya melihat Zanna yang sibuk memesan.
“Lo manjain banget si Zanna,” Riana mencoba untuk memulai pembahasan mengenai Zanna.
“Selagi itu hal baik dan gue masih mampu kenapa nggak,” Riana terdiam sejenak mendengar itu. Bucin garis keras adalah julukan yang cocok untuk Savian.
“Nanti dia ketergantungan sama lo,” ucap Riana.
“Gak masalah. Lagian permintaan Zanna gak pernah yang aneh-aneh Ri. Dia juga udah lama hadir dihidup gue, wajarkan kalau dia kebiasa datang ke gue,” Savian tersenyum ketika Zanna melihat ke arah Savian.
“Tingkat kebucinan lo kalau ibarat penyakit udah kronis banget,” Savian tertawa mendengar itu. “Apa yang lo suka dari Zanna sampai lo begini?”
Saat Savian akan menjawab pertanyaan Riana. Zanna menghampiri mereka.
“Lo berdua kok malah berdiri disini doang. Ri lo gak mau beli apa gitu. Cepat ah ikut gue,” Zanna menarik tangan Riana.
Savian mengikuti dua gadis di depannya. Ia hanya bisa mengikuti dan membayar makanan yang dipesan mereka. Sesekali Zanna menyuapi Savian, dan tentunya diterima dengan senang hati. Tak peduli ia menyukai atau tidak makanan yang disodorkan. Savian terlalu menyayangi Zanna.
.......
.......
...#pojokanauthor...
...Part 11 update^^...
...Semoga dpt feel dan tetap suka ya:)...
...Oh iya, part 12 masih tentang Savian yaww:v...
.......
...Jangan lupa untuk vote, like, comment, dan share cerita MHC ini;)...
.......
...Wanita penghuni surga (Aamiin^^)...
...Leonita_Wi...
...XOXO❤️🍁🍀...
__ADS_1