My Heart Choice

My Heart Choice
14• Dia Hebat


__ADS_3

...“Aku terpaku pada sosokmu itu. Tak dapat teralihkan pandangan ini darimu. Jangan pergi, tetaplah berada dalam lingkup penglihatanku”...


...***...


 


“Zanna! Cepat nak! Kamu ini!” Yuma yang membantu Zanna bersiap-siap tak henti-hentinya menyuruh Zanna mempercepat gerakannya.


“Masih pagi bun! Acara Za juga yang paling akhir,” Yuma menjeling matanya.


“Ya kan kamu harus siap-siap dari sekarang sayang. Biar model kamu juga nanti gak buru-buru loh,” Zanna yang telah siap membereskan barang yang akan ia bawa mendekat ke arah Yuma. Lalu memeluk bundanya itu dari belakang.


“Iya bunda iya. Nanti jangan lupa datang loh. Bunda harus kasih tepuk tangan paling keras waktu rancangan Zanna diperagain,” Yuma membelai kepala anaknya itu.


“Pastinya dong bunda datang. Bunda do’ain rancangan kamu bisa dilirik sama orang perusahaan ya nak,” Zanna mencium pipi Yuma, lalu melepas pelukannya.


Notif handphone Zanna berbunyi. Ia melihat pesan yang masuk. “Aamiin...Ya udah bun. Zanna berangkat ya, Savian ngabarin, dia udah siap,” Yuma mengangguk.


Zanna dan Yuma turun ke bawah. Disana sudah ada Savian yang tengah duduk bersama ayah Zanna. “Sini Savian bantu tan,” Savian mengambil barang yang dibawa Yuma.


“Barang yang di gue gak mau lo bantu angkatin juga?” Savian melihat sekilas ke arah Zanna. Ia menggelengkan kepalanya.


“Males banget. Angkat aja sendiri, wleee,” Savian menjulurkan lidahnya, lalu pergi. Zanna berdecih dan mengikuti Savian. Setelah memasukkan semuanya ke dalam mobil. Savian dan Zanna pamit pada orang tua Zanna.


“Ayah jangan lupa ikut bunda datang ke acara Zanna. Awas kalau nggak,” Zanna menyalami tangan ayahnya.


“Iya-iya cerewet,” ucap Kiran, ayah Zanna. “Savian hati-hati bawa mobil ya, jagain putri cerewet ayah ini,” ayah Zanna mengacak-acak rambut Zanna.


“Siap yah,” Savian tertawa, lalu ikut menyalami Kiran dan Yuma.


Mobil Savian pun keluar dari pekarangan rumah Zanna.


“Savi, gue deg-degan parah. Perasaan dulu kalau ada acara begini, gak gugup banget gue,” Zanna memegang tangan Savi.


“Yang kali ini penting banget, makanya lo gugup. Udah tuh ambil air, minum dulu. Acara juga masih lama,” Savian melepas pegangan tangan Zanna padanya, lalu membelai kepala Zanna.


 


...***...


 


Zanna dan Savian telah sampai di pekarangan acara diberlangsungkan. Sudah ramai mobil dan motor terparkir. Zanna semakin gugup. Zanna dan Savian segera menurunkan barang-barang yang ada di mobil, dan membawanya menuju ruangan yang ada di belakang panggung.


Bimo yang melihat Zanna datang, segera menghampirinya. “Zanna untung kamu udah datang,” Zanna tersenyum.

__ADS_1


“Iya dong, masa seorang Zanna telat di acara sepenting ini,” ucap Zanna.


“Terserah kamu aja, sekarang bukan itu yang terpenting. Kamu tahu adik tingkat yang perempuan yang seharusnya jadi model kamu sepertinya tidak bisa datang. Tadi bapak dapat kabar dari orang tuanya, dia kecelakaan waktu mau kesini. Terus yang satunya lagi belum ada kabar sama sekali,” Zanna terkejut. Pertama terkejut karena alasan kenapa adik tingkatnya itu tidak bisa hadir, dan yang kedua siapa yang akan memperagakan rancangannya ini.


“Terus yang kecelakaan, dia baik-baik aja pak?” tanya Zanna khawatir.


“Dia gak mengalami luka serius, cuma kondisi sehabis kecelakaan pastinya syok. Jadi kemungkinan dia tidak bisa jadi model kamu hari ini,” ucap Bimo.


“Syukurlah kalau dia gak kenapa-napa. Kalau masalah model, nanti saya coba hubungi adik tingkat yang lain,” Bimo mengangguk setelah mendengar ucapan Zanna.


“Secepatnya kamu harus dapat ya Zanna. Yang adik tingkat laki-laki model kamu ini karena sampai sekarang gak bisa dihubungi, kamu cari juga ya untuk persiapan siapa tahu dia juga gak bisa datang. Kalau misalnya gak ada adik tingkat yang bisa, kamu aja jadi modelnya dan cari teman cowok kamu,” Zanna menghela nafas lalu menganggukkan kepalanya. Bimo pergi dari hadapan mereka.


Savian yang berdiri dibelakang Zanna dan telah mendengar semua percakapan itu. Melihat pandangan Zanna yang sendu.


“Jangan sedih, mending sekarang lo coba hubungi adik tingkat yang lain,” Zanna mengangguk, lalu membuka handphonenya mencoba menghubungi adik tingkat yang ia kenal.


Setelah beberapa lama, Zanna berjongkok dan memegangi kepalanya. Sudah banyak yang ia hubungi, tidak ada satupun yang bisa menjadi modelnya. Riana pun sudah ia hubungi, tetapi sama, Riana pun tidak bisa, karena Riana saja akan datang terlambat hari ini. Savian ikut berjongkok dan merangkul pundak Zanna.


“Lo aja jadi modelnya Za,” ucap Savian. Zanna langsung melotot menatap Savian.


“Mana berani gue. Yang ada bikin malu gue nanti,” Zanna mengacak-acak rambutnya.


“Lo pasti bisa, cuma tinggal jalan doang. Pandangan lurus ke depan,” Zanna menjeling matanya.


“Sapiiii, kalau semudah itu jadi model, gak akan ada yang namanya sekolah permodelan,” Zanna menghela nafas kasar. “Ya udah gini aja, gue mau jadi modelnya, tapi pasangannya lo,” Savian mengerutkan keningnya.


"Please, cuma lo harapan gue saat ini Savi. Acara peragaan busana cuma beberapa jam lagi. Gak akan sempet nyari orang, dan lo tadi kan tahu orang yang gue kenal semuanya pada gak bisa. Kalau pun nanti ada, belum tentu nih baju muat kan. Please ya Savikuu,” Zanna berdiri menghadap ke Savian, lalu menangkupkan tangannya. Ia memandangi Savian dengan puppy eyes.


Savian melipat tangannya di dada, lalu mengeraskan rahangnya tampak berpikir. Savian memandangi Zanna yang masih menatapnya dengan tatapan memohon. Lalu ia menghela nafas. Tak ada pilihan lain selain menuruti keinginan Zanna. Demi impian Zanna, tak ada salahnya ia berkorban.


“Ya udah,” ucap Savian datar.


“Yeay! Savian emang the best forever. Kalau gue jalan bareng sama lo di catwalk, gue gak akan grogi,” Zanna tertawa, ia meloncat saking senang sekaligus berdebar. Zanna dan Savian pun berganti pakaian.


Setelah selesai, mereka pun keluar. Savian tersenyum, Zannanya terlihat semakin cantik. Zanna tersenyum ke arah Savian. Lalu, Zanna mengajak Savian ke tempat tata rias. Mereka disibukkan dengan persiapan nanti.


 


...***...


 


Zanna berkali-kali menghela nafasnya. Ia memegangi jantungnya yang terus berdebar. Saat ini ia tengah berdiri disamping Savian. Menunggu giliran mereka. Savian pun begitu, sebenarnya ia sudah sering tampil di depan publik. Tapi ini pertama kalinya ia tampil sebagai model. Jantungnya pun tak kalah kencang dari Zanna. Savian takut jika saat berjalan nanti ia tersandung seperti model-model yang pernah ia tonton.


Hingga akhirnya giliran mereka tiba. Peragaan busana yang Zanna rancang menjadi penutup, sebelum semua rancangan dipamerkan bersamaan. Zanna dan Savian berjalan bersama di catwalk tersebut. Dihadapan banyak orang dan kilatan dari kamera yang ada. Saat berjalan, Zanna melihat keluarga dan teman-temannya tengah tepuk tangan. Zanna ingin rasanya teriak saat itu. Ia masih berdebar. Savian yang berjalan di samping Zanna, melihat gadis itu tersenyum membuat ia ikut tersenyum.

__ADS_1


Setelah itu, semua rancangan ditampilkan bersamaan. Saat Zanna kembali melihat sekelilingnya ia melihat pria yang selama ini ingin ia temui. Pria itu duduk menatapnya, ah bukan, lebih tepatnya menatap rancangan yang Zanna kenakan. Namun seorang Zanna yang tingkat percaya dirinya tinggi, merasa bahwa pria itu tengah menatapnya. Zanna tersenyum ke arah pria itu, tapi tak ada balasan. Zanna tak ambil pusing. “Dia terpana ngelihat gue, makanya gak sadar kalau gue senyum,” bathin Zanna yang terlalu percaya diri. Jika acara telah selesai, Zanna berencana ingin menemui pria itu. Ia tak boleh melewatkan kesempatan ini.


 


...***...


 


Saat acara telah selesai. Zanna yang berniat ingin mencari dan menemui pria itu, tanpa disangka Zanna melihat, pria itu sendiri yang datang menghampirinya. Ada Bimo dan seorang wanita yang berjalan disamping pria itu.


Zanna tersenyum ke arah pria itu. Pria itu enggan menatap Zanna. Ia berjalan ke arah Zanna tanpa memperhatikan gadis dengan mata yang berbinar itu. Ketika jarak ia dan Zanna hampir dekat. Seketika ia berhenti, yang membuat Bimo dan wanita yang tak lain Evila, asisten pria itu ikut berhenti dan menatap pria itu.


Pria itu diam. Lalu menatap Zanna dengan tajam. “Pak! Kenapa berhenti pak?” suara Evila menyadarkannya, ia kembali membuang tatapannya dari Zanna.


“Bim, pakaian yang dipake mahasiswi lo itu, yang rancang emang dia?” Bimo mengangguk menjawab pertanyaan pria itu.


“Lo bukannya kenal ya sama tuh anak?” Bimo mencoba menanyakan hal yang selama ini membuatnya penasaran.


“Enggak. Enggak pernah kenal gue sama tuh anak,” pria itu tidak berbohong. Ia memang tidak mengenal Zanna. Walaupun pernah bertemu dan gadis itu selalu memperkenalkan namanya, pria itu tetap tidak mengingat namanya. Bukan karena dia pelupa, ia memang tidak ingin mengingat.


“Bukannya waktu diminimarket, lo ngomong sama dia? Bahkan tuh anak bilang ke gue kalau lo ngaku sebagai Ivan Widjaya, sejak kapan lo ganti nama?” Bimo masih berusaha bertanya.


“Gak penting itu sekarang, gue malas cerita. Sekarang intinya, gue tertarik sama rancangan dia. Tapi tuh anak buat gue risih. Jadi selama gue menjalin kesepakatan, lo harus temenin gue,” pria itu kembali berjalan ke arah Zanna.


Bimo hanya mendengus. Temannya yang satu ini susah sekali untuk menceritakan sesuatu. Bimo langsung menepis rasa penasarannya. Biarlah dengan kemauan sendiri, temannya itu bercerita.


Di lain sisi, Zanna berdiri dengan manis. Menunggu pria itu berdiri dihadapannya. “Savi! Lihat tuh! Dia ngehampiri gue,” Savian yang tengah duduk sembari memainkan handphone, beralih menatap apa yang dilihat Zanna. Ternyata orang yang dicari-cari Zanna selama ini.


Setelah pria itu berdiri dihadapan mereka. Savian menatap pria itu dengan tatapan dingin. Savian berdiri disamping Zanna dengan posesif. Savian tidak suka dengan pria itu, bukan karena pria itu saingannya. Tapi karena pria itu pernah mencaci Zanna dengan omongan yang kasar, yang tentu menyakiti hati Zanna.


“Zanna, kenalkan bapak ini salah satu pemilik perusahaan konveksi. Kamu pasti tahu kan brand AGHA. Bapak ini pemilik perusahaan brand tersebut. Dia tertarik dengan rancangan kamu,” Bimo tersenyum melihat ekspresi terkejut mahasiswinya itu.


Zanna yang semula tersenyum cerah, tiba-tiba hilang berganti dengan ekspresi terkejut. Tentu ia tahu brand terkenal tersebut. Brand yang mengeluarkan pakaian yang memiliki banyak peminat, dan selalu menjadi trend. Dia tidak menyangka pria yang ia sukai sehebat itu.


“Oh iya, kenalkan nama bapak ini....”


 


...#pojokan author...


...Yeay, nama "pria itu" bakal segera kebongkar nih:v...


...Terima kasih masih setia baca^^...


...The Yelion♥️🍀🍁...

__ADS_1


...XOXO...


__ADS_2