
...“Dengan kehadirannya aku takut, usahaku untuk mendekatimu semakin jauh. Bisakah kau berjanji bahwa kau tidak akan meninggalkanku untuk dia?"...
...***...
“Zanna! Ini konsep yang diminta untuk direvisi. Ditunggu siang ini ya. Lalu ini laporan progress untuk rancangan yang akan dipamerkan. Nanti untuk masalah tempat, akan kakak urus dengan divisi lain,” tukas Lona sembari memberikan berkas-berkas yang harus Zanna urus.
Zanna begitu bersemangat hari ini. Kejadian kemarin yang membuat dirinya merasa bersemangat. Ia kembali mengingat percakapan ia dengan Abi kemarin.
“Kalau begitu saya dan Zico pamit pulang ya pak. Terima kasih untuk makanannya,” ucap Zanna sambil memberi aba-aba pada Zico untuk menyalami Abi.
“Kamu yakin tidak mau saya antar? Ghania sepertinya ingin sekali mengantar kalian berdua,” Zanna menggelengkan kepalanya.
“Gak usah pak. Saya tadi juga udah mesan taksi,” Zanna beralih ke arah Ghania yang ada disamping Abi. ia berlutut untuk menyamai tinggi Ghania.
“Ghania sayang. Aunty sama Zico pulang dulu ya. Nanti kalau ada kesempatan lagi, kita ketemu dan main bareng okey cantik?” ujar Zanna sembari mengelus pipi tembem Ghania.
“Aunty gak mau dianterin Ghania ke rumah aunty? Ghania mau banget nganterin aunty,” balas Ghania dengan nada memelas.
“Kak Za. Zi masih mau main sama Ghania. Ayo bial aja Ghania yang antal kita, bial dia bisa main sama Zi di lumah kita,” rengek Zico.
Zanna tertawa kecil melihat rengekan para bocah kecil ini. “Kak Za nanti harus jemput mobil sayang. Abis itu jemput kak Ze,” ucap Zanna kepada Zico. “Dan Ghania, istirahat dulu ya. pasti capek banget. Ghania istirahat yang cukup biar nanti kalau main sama Zico bisa sepuasnya oke?” akhirnya dengan berat hati Ghania menganggukkan kepalanya.
Abi yang melihat itu paham betul dengan keinginan Ghania. Ia tidak mau membuat anaknya ini sedih. “Nanti kalau papa punya waktu, kita jemput Zico sama aunty Zanna ya sayang?”
“Beneran ya pa? Kita ajak jalan-jalan?” Abi mengangguk.
“Maaf saya malah gak nganterin kamu, dan juga terima kasih udah mau datang ke rumah saya dan nemenin Ghania,”
“Iya pak terima kasih kembali. Nah itu, taksi pesanan saya udah datang,” Zanna menggandeng Zico menuju taksi mereka.
“Pak!” panggil Zanna.
“Ya?”
“Kalau gitu berarti saya bolehkan datang lagi ke rumah bapak? Ya tentunya untuk ngajak Zico main bareng Ghania?”
__ADS_1
“Ya boleh.”
“Pak!” panggil Zanna lagi.
“Ya?”
“Muka bapak itu gak cocok kalau datar-datar aja. Coba kalau bapak senyum kaya foto bapak sama Ghania di ruang keluarga itu. Behh...pasti cocok banget,” setelah mengucapkan itu Zanna langsung masuk ke dalam taksi.
Sial! Zanna langsung memukul kepalanya dengan berkas yang ia pegang. Mengingat bisa-bisanya ia mengatakan itu kemarin, ia yakin Abi semakin menganggap Zanna wanita kurang ajar.
“Lo emang gak punya malu Zanna! Bodoh banget. Lo harus jaga image lo di depan Abi,” gumam Zanna.
Zanna melirik jam di tangannya. Sudah jam makan siang. Ia harus mengisi perutnya yang sudah keroncongan ini.
Zanna berniat untuk makan di cafe depan gedung perusahaannya ini. Di lift Zanna bertemu Chris. Tampak Chris sibuk dengan telepon genggam miliknya.
Chris melirik ke arah Zanna. Ia tersenyum ke arah Zanna. Lalu setelah urusannya dengan penelpon telah selesai. Chris menyapa Zanna.
“Kamu mau makan siang Zanna?”
“Iya pak. Bapak juga?”
Zanna terkekeh, “Berarti saat ini bapak lagi sibuk banget ya?”
“Iyap. Saya harus nyusul Abi, ngelarin beribu-ribu dokumen...”
Tingg! Denting lift memotong ucapan Chris. “Saya duluan ya Zanna. Lain kali kita ngobrol lebih panjang lagi,”
Zanna ikut keluar dari lift. Ia melihat punggung Chris yang menjauh. Padahal ia tadi berniat menanyakan Abi pada Chris, tapi dari ucapan Chris ia sudah bisa menebak, kalau Abi pun sama sibuknya dengan Chris.
Zanna berjalan, menyapa karyawan yang berpapasan dengannya. Sesampainya di cafe seberang, Zanna menikmati waktunya beristirahat.
Menikmati waktu makan siangnya dengan tenang. Sampai ia merasa tidak nyaman, karena Zanna merasa ada yang memperhatikannya.
Zanna melihat ke arah belakangnya. Ada seorang wanita yang menutupi dirinya dengan topi dan masker. Tampak mencurigakan. Mata mereka beradu. Wanita itu mendatangi Zanna. Zanna mengantisipasi dengan memegang garpu di tangannya dengan erat.
__ADS_1
Wanita itu duduk di hadapan Zanna. Kemudian membuka topi dan masker miliknya. Cantik. Wanita di depan Zanna ini, ia akui begitu cantik. Namun, mata wanita itu seperti tidak asing bagi Zanna.
“Ada apa ya?” tanya Zanna hati-hati.
Wanita itu tak bergeming. Ia hanya menatap Zanna dalam diam. Zanna yang menjadi kikuk meletakkan garpu yang tadi dipegangnya.
Tiba-tiba dari mata wanita itu mengalir bulir-bulir air mata. Zanna panik, dia kan tidak ada melakukan apapun pada wanita ini. Mengapa ia tiba-tiba menangis di depan Zanna?
“I-izinkan saya bertemu dengan Ghania anak saya...hiks...hiks. Saya gak akan ganggu hubungan kalian berdua. Saya cu-cuma ingin bertemu Ghania,” Zanna mengerutkan dahinya. Ghania?
“Maksud anda? Saya gak ngerti apa yang anda bicarakan. Hubungan apa, lalu Ghania anak anda kenapa?” wanita itu terdiam.
“Kamu gak tahu siapa saya?” Zanna menggelengkan kepalanya. Tapi tunggu, selain matanya, wajah wanita ini juga tidak asing. Dimana ia pernah melihat wanita ini?
“Kamu dan Abi. Saya tahu hubungan kalian, saya mohon. Saya tahu kamu akan jadi ibu Ghania, jadi saya mohon mengerti, saya ibu kandung Ghania. Saya cuma ingin bertemu dengan putri kecil saya itu sebentar. Sebentar saja,” wanita itu menggapai tangan Zanna dan memegangnya dengan erat. Tampak raut wajah penuh harap dari wanita ini.
“Tapi maaf...sa-saya bukan...” wanita ini bilang ia ibu kandung Ghania. Berarti...dia istri Abi yang dikabarkan tiba-tiba menghilang itu?
“Maaf,” Zanna melepaskan pegangan tangan wanita itu. Ia segera pergi dari hadapan wanita yang mengaku ibu Ghania.
Apa yang dibicarakan wanita itu? Ia sama sekali tak mengerti. Ia dengan Abi? Apa jangan-jangan wanita yang berjumpa dengan Abi di sekolah Ghania itu wanita yang sama dengan wanita yang baru saja berjumpa dengan Zanna.
Tapi, kenapa wanita itu bisa mengatakan kalau Zanna akan menjadi ibu bagi Ghania. Apa Abi yang mengatakannya? Tapi kenapa? Banyak pertanyaan yang melintas dipikiran Zanna.
Apa yang sebenarnya terjadi antara Abi dan istrinya? Jika benar wanita tadi adalah istrinya, mengapa wanita itu sepertinya sulit bertemu dengan Ghania?
“Aishhh gue mesti ngomongin ini deh sama pak Abi,” gumam Zanna. Sebelum itu ia melirik ke arah cafe tadi. Melihat wanita itu masih disana, sepertinya masih menangis.
.......
.......
...Happy Reading my readers sayang...
...Tunggu next episode yaaawww:')...
__ADS_1
^^^Yelion ❤️🍁🍀^^^
^^^XOXO^^^