
...“Dari awal, saat menyukaimu. Aku sudah merasa kamu itu berbeda. Daya pikatmu itu memikatku. Bahkan aku masih tidak peduli jika kamu menyakitiku terus. Sepertinya aku ini masokis”...
...***...
Zanna menyelesaikan makanannya dengan cepat. Saking cepatnya sering kali ia tersedak. Ia tidak sabar menghampiri pria itu, dan Zanna takut jika ia terlalu lama makan, pria itu akan pergi. Sudah berkali-kali Savian mengingatkan untuk makan pelan-pelan, tapi tidak dihiraukan oleh Zanna. Padahal pria itu, kelihatannya masih lama disini, melihat begitu santainya pria itu menyantap hidangan yang dipesannya.
“Za, udah gue bilang berkali-kali, makan pelan-pelan. Gak baik makan buru-buru gitu,” Savian kembali mengingatkan Zanna.
Zanna menenggak minumannya sampai habis. “Vi, tuangin air putih dong, pedes banget cabenya gila! Doer gak bibir gue kelihatannya?” Savian tertawa melihat Zanna melihat bibirnya ke layar handphone. Savian menuangkan air putih ke dalam gelas Zanna, yang langsung diminum Zanna.
“Gak doer Za,” beritahu Savian.
“Syukur deh, kalau bibir gue kelihatan doer di depan dia kan bikin malu,” ucap Zanna kembali melihat bibirnya dilayar handphone.
Zanna pun menyelesaikan makannya. Ia diam sejenak. Mulutnya masih terasa panas. Ia minum kembali. Lalu mengelus dadanya, dan menghela nafas.
“Oke gue samperin dia ya,” Zanna berdiri tapi ditahan oleh Savian.
“Lo yakin? Nanti dia risih Za, lo terlalu agresif kalau begini,” Savian mengingatkan gadis di depannya ini.
“Siapa tau dia suka yang agresif gimana?” Savian menghela nafas.
“Za, yang gue lihat cowok kayak dia itu, gak suka sama cewek agresif. Lo lihat cara makannya itu kalem banget, santai, gue yakin seratus persen dia gak akan suka kalau lo agresif gini,” kembali Savian mengingatkan.
“Ya kan itu apa yang lo lihat. Kita gak tau yang sebenarnya gimana, makanya biar kita tau gue coba. Terserah lo mau bilang gue agresif, intinya gue suka sama dia. Lo ngajak gue ngomong mulu, nanti keburu pergi itu orang,” Zanna menyudahi percakapannya dengan Savian. Dengan perasaannya yang campur aduk, ia menghampiri pria itu.
“Kamu sendiri aja?” ucapan macam apa ini? Seperti preman-preman malam kalau lihat cewek saja.
Pria itu melihat Zanna. Lalu ia mengangguk dan kembali melanjutkan makanan. Zanna tersenyum. “Aku duduk disini ya,” ucap Zanna yang langsung duduk di kursi depan pria itu. Pria itu menghentikan makanannya. Apa-apaan perempuan ini? Seenaknya sendiri, padahal ia belum ada mengiyakan Zanna duduk.
“Ada apa?” ucap pria itu menatap Zanna.
“Kamu gak ingat sama aku?” tanya Zanna disertai senyum manisnya.
“Apa kita pernah berjumpa?” pria itu menanyai balik.
“Berarti kamu lupaaa...” ucap Zanna seraya menunjuk pria itu dengan jarinya.
Pria itu menatap jari telunjuk Zanna yang teracung. Betapa tidak sopannya perempuan ini. Pria itu mencoba mengingat wajah Zanna. Apa ia pernah berjumpa dengan Zanna sebelumnya.
“Kita ketemu disekolah anak kamu tadi. Aku yang waktu itu nyapa kamu,” Zanna mencoba mengingatkan pria itu.
Sekarang pria itu ingat. Perempuan gila yang mengajaknya kenalan tadi ternyata sama dengan perempuan dihadapannya sekarang. Pria itu menghela nafas. Bagaimana bisa ia berjumpa lagi dengan perempuan ini?
“Ya saya ingat,” ucap pria itu.
“Syukurlah. Siapa tau kamu lupa, kenalin nama aku Zanna Letta Kirania. Kalau nama kamu siapa?” Zanna menjulurkan tangannya berniat berjabat tangan. Pria itu tidak mengindahkan tangan Zanna, yang membuat Zanna menarik kembali tangannya.
“Ada apa kamu mengajak saya berbicara?” Zanna tersenyum setidaknya pria ini tidak langsung mengusir Zanna.
“Pengen kenalan aja, boleh?” Zanna masih memasang wajah yang dihiasi senyum manis.
“Gak boleh,” Zanna cemberut.
“Yahhh...kok gak boleh? Kan kenalan doang,” Zanna memasang wajah penuh harap.
“Saya tidak ingin berkenalan dengan kamu, dan maaf sebelumnya, kamu mengganggu saya makan. Bisa kamu tinggalkan saya?” Zanna menggelengkan kepalanya. Pria itu benar-benar kesal dengan Zanna.
“Gak mau,” rahang pria itu mengeras.
“Kamu sebenarnya mau apa dari saya? Saya benar-benar terganggu dengan kedatangan kamu di meja saya,” pria itu mencoba melanjutkan makan yang tadi tertunda.
__ADS_1
“Aku mau kamu,” pria itu bisa saja tersedak kalau makanannya sudah berada di dalam mulutnya. Pria itu mengerutkan keningnya, memasang wajah penuh tanda tanya.
“Maksudnya?” Zanna menggeleng.
“Gak ada...hehehe,” Zanna cengengesan. “Aku temani kamu makan ya,” lanjut Zanna.
“Gak perlu,” balas pria itu dingin.
“Cuma temani kok, aku gak akan ajak kamu bicara sampai kamu selesai makan, oke?” pria itu menghempaskan sendok dan garpu ditangannya. Yang membuat bunyi benturan dengan piring.
“Kamu bisa pergi gak?! Sudah saya katakan kalau saya terganggu, tapi kamu masih tidak mengerti?! Kamu buat nafsu makan saya hilang! Sekali lagi, saya merasa terganggu dengan kamu, bisa kamu pergi?!” pria itu menenggak minumannya.
“Gak mau,” balasan Zanna ini membuat pria itu serasa ingin meledak.
“Kamu gak punya sopan santun ya? Saya benar-benar kehilangan nafsu makan saya,” pria itu berdiri, dan mengambil jas disampingnya. “Kamu perempuan, cobalah untuk bersikap yang sopan terhadap orang lain,” nasihat pria itu sebelm melangkah pergi meninggalkan Zanna.
“Kok kamu pergi? Makanan kamu belum habis loh,” tanya Zanna.
“Pakai telinga kamu, sudah saya katakan, kamu buat nafsu makan saya hilang. Jika nafsu makan saya tidak hilang pun, saya gak mau makan ditemani cewek gila seperti kamu,” pria itu pergi dari hadapan Zanna setelah mengucapkan itu.
Zanna terdiam. Ia menundukkan kepalanya. Lalu menghela nafas. Savian yang masih berada dimeja mereka tadi menghampiri Zanna. Ia duduk dikursi bekas pria tadi. Menatap Zanna yang masih menunduk.
“Udah gue bilang, dia pasti gak suka kalau lo agresif gini. Tadi tuh cowok ngomong apa sama lo? Gue lihat tadi dia ngomong sama lo pakai muka kesal gitu,” ucap sekaligus tanya Savian.
“Dia bilang dia keganggu sama gue. Gue buat dia hilang nafsu makan, terus bilang gue harus belajar sopan ke orang lain. Terus dia bilang gue gila Vi,” Zanna mengangkat kepalanya, memperlihatkan raut muka sedihnya.
“Dia ngomong blak-blakan gitu?” tanya Savian. Zanna mengangguk.
“Gak punya hati ya tuh cowok. Kalau gak suka ngomong baik-baik dong,” Zanna menghela nafas.
“Tapi emang gue yang salah. Benar kata lo, seharusnya gue jangan agresif gitu, tapi gue gak bisa kalem-kalem,” Zanna mengerucutkan bibirnya. “Gue pengen pulang Vi,” lanjut Zanna.
“Ya udah. Ambil tas lo dan jaket gue. Gue ke kasir dulu,” Zanna mengangguk. Ia berjalan lesu menuju meja mereka tadi. Mengambil barangnya dan Savian. Zanna melihat pria itu masuk ke dalam mobilnya. Ia menghela nafas. Apa ia masih harus mengejar pria itu? Entahlah kepala Zanna pusing. Setelah Savian membayar makanan. Mereka pun berjalan menuju parkiran dan masuk ke mobil berniat pulang.
...***...
“Gue kira lo tidur, soalnya gak ada berkicau,” Savian tertawa.
“Lagi malas berkicau gue. Nah tuh ada warung sekoteng, kesitu ya Vi, pengen yang hangat gue,” Savian menepikan mobil.
“Lo ngapain beli yang hangat. Orang ada pelukan gue nih, gak kalah hangat sama sekoteng kok,” Zanna menatap datar Savian.
“Najis gue, udah ah Vi. Lo makin gila sumpah,” Savian tertawa, lalu ia turun dari mobil diikuti Zanna.
“Uhhhh harumnya enak,” Savian tersenyum.
“Buk, sekotengnya dua ya. Kami dimeja luar ya,” ibu penjual sekoteng mengangguk. Savian menarik tangan Zanna. Lalu mendudukkannya dikursi.
“Enak banget harumnya Vi, fix ni sekoteng pasti enak,” Zanna tak sabar menikmati sekotengnya.
“Udah ngehibur belum?” tanya Savian yang dibalas muka bingung Zanna.
“Lo udah merasa baikan setelah kejadian tadi belum?” perjelas Savian.
“Ohh, udah kok. Santuy gue mah,” Savian mengacak-acak rambut Zanna.
“Masih banyak cowok lain kok Za. Jangan ngejar orang yang buat lo sakit hati. Gue kasihan lihat lo begini,” Zanna manggut-manggut.
Ia tersenyum ke arah Savian. Membenarkan apa yang diucapkan Savian.
“Tapi dia unyu Vi, hehehe..” Savian memutar matanya. Percuma ia menasehati perempuan bebal ini.
__ADS_1
“Gue masih lapar Vi. Beliin gue sate ya nanti yang dekat rumah,” Savian menjitak pelan kepala Zanna.
Perempuan ini, sepertinya tidak pernah benar-benar merasa sedih. Jika sedih pun pasti mudah untuk membuatnya kembali tersenyum. Savian melihat Zanna dalam. Yang ditatap tidak sadar dirinya tengah ditatap. Ia melihat orang berlalu lalang dijalanan. Savian mempertanyakan dirinya. Jika ia nanti menemui seseorang yang bisa ia sukai nanti. Bagaimana dengan Zanna? Pasti ia tidak akan bisa sering-sering menemani Zanna, atau sekedar mengajak Zanna makan seperti hari ini. Savian sudah terbiasa dengan kehadiran Zanna dihidupnya.
“Kalau lo pergi dari hidup gue, kayaknya hidup gue akan hampa Za,” ucap Savian tiba-tiba.
“Ha?” Zanna menganga, terkejut sekaligus bingung.
“Gak usah gitu juga kali muka lo. Kan gak ada yang salah dari ucapan gue. Kenapa lo terkejut gitu?” Zanna mengatupkan mulutnya.
“Ya tiba-tiba aja lo ngomong gitu,”
“Dari kecil hidup gue selalu ada lo. Bahkan kita udah sering juga ngelakuin hal sama-sama kan. Makanya pasti akan terasa hampa kalau lo pergi,” Zanna tersenyum.
“Gue gak akan pergi. Gue akan selalu ada untuk lo,” Zanna menggenggam tangan Savian. Savian tersenyum dan membalas genggaman Zanna.
“Udah ah, gak biasa gue disuasana begini sama lo,” mereka tertawa bersama. Lalu menikmati malam itu dengan sekoteng hangat.
.......
.......
...#pojokanauthor...
...Assalamu'alaikum semuaaa.......
...MHC kembali lg^^...
...Kalau kalian jadi Zanna, masih mau ngejar papah muda itu gk? hahaha...
...Semoga feel-nya dapat ya...
.......
...Oh iya berhubung aku updatenya malam takbiran...
...Gimana nih malah takbiran kalian?...
...Masih dirumah aja kan?...
...Kalau aku always dirumah aja:')...
...Stay healthy ya guys, jangan langgar aturan pemerintah...
...Sayangi sekitar dan sayangi diri♥️...
.......
...Minal Aidin wal Faidzin semuaa...
...Mohon maaf lahir dan bathin🤗...
.......
...Tetap tunggu kelanjutan kisah MHC ini^^...
...Jangan lupa like, vote, comment, dan share biar bnyk yg baca cerita ini^^...
.......
...XOXO...
__ADS_1
...Wanita penghuni surga (Aamiin^^)...
...Leonita_Wi🍁🍀❤️...