My Heart Choice

My Heart Choice
29• Arabella


__ADS_3

...“Aku takut kembali mencintai. Aku takut cinta yang aku beri nanti disia-siakan kembali”...


...***...


Flashback On


Ara memegang benda kecil di tangannya dengan gelisah. Sudah cukup lama ia di kamar mandi. Ia merasa cemas dengan kenyataan yang ia terima, ia bingung apa yang harus ia lakukan.


Jantung Ara tiba-tiba berdegup kencang ketika mendengar suara ketukan pintu. Terdengar sautan dari ibu Nur. “Nak! kamu baik-baik aja kan?”


Ara berusaha menetralkan suasana hatinya. “Iya bu. Ara baik-baik aja, kenapa bu?” saut Ara balik.


“Makan malam udah jadi, nak Abi juga sepertinya sebentar lagi sampai,” Ara menghela nafasnya. Ia mengusap wajahnya, kemudian merapikan rambutnya yang berantakan. Sebelum keluar dari kamar mandi, Ara membuang benda kecil yang ia pegang ke tong sampah.


Ara membuka pintu, “Ya udah yuk bu, Ara bantu siapin meja makan,” Ara segera berlalu dari bu Nur. Ia menuju dapur, membawa makanan yang telah dimasak ibu Nur ke meja makan. Ia menata semuanya, ia harus menghilangkan kegelisahannya ini. Abi tidak boleh melihat dirinya tengah gelisah.


Agak berapa lama, terdengar ketukan pintu. Pasti Abi, pikir Ara. Ia segera bergegas menuju pintu. Saat ia membuka pintu, benar saja terlihat Abi tersenyum sambil mengangkat paper bag yang ada ditangannya. Ara membalas senyuman hangat Abi.


“Apa ini?” tanya Ara mengambil tentengan tersebut, ia membukanya. Ara tersenyum kepada Abi.


“Semalam kamu bilang mau makan pancake. Jadi aku sempatin beli pancake kesukaan kamu,” ucap Abi.


“Makasih sayang. Ya udah yuk masuk, makan malam udah jadi tuh,” ujar Ara sembari mengambil tas kerja Abi.


Abi menarik tangan Ara. “Nanti dulu,” Ara menaikkan alisnya kebingungan.


“Ada apa?” tanya Ara.


“Aku udah beliin kamu pancake. Balasannya mana?” tagih Abi.


“Balasan apa?”


“Cium aku,” Abi menunjuk-nunjuk pipinya. Ara tertawa, lantas ia langsung mencium kedua pipi Abi. Kemudian dengan inisiatif sendiri, Abi mencium bibir Ara.


Ara langsung menepuk pelan dada Abi. “Udah sayang, nanti bu Nur lihat gimana? Udah ah yuk makan, aku udah laper nih,” Abi mengangguk, ia mengambil kembali tas kerjanya dari Ara. Lalu menggenggam tangan Ara.


...***...


“Sayang! Belum tidur?” tegur Abi. Ia melihat Ara tengah berada di balkon kamar, termenung menatap keluar.


Ara sepertinya tidak mendengar seruan Abi. Pria itu tersenyum, ia menghampiri Ara, memeluk istrinya dari belakang. Ara terkejut, ia melihat tangan kekar yang melingkar di pinggangnya. Ia menatap nanar tangan Abi. Ara mengelus kepala Abi yang bersandar di bahunya.


“Kok menung? Gak ngantuk?” tanya Abi lembut.


Ara menggelengkan kepalanya. “Udah selesai telfonan sama Chris?” Abi mengangguk-angguk. “Kamu mau ke ruang kerja?”

__ADS_1


“Nanti aja, aku mau meluk kamu dulu,” Ara tersenyum tipis.


Mereka berdua menikmati angin malam yang menerpa wajah mereka. Tiba-tiba sesuatu melintas dipikiran Abi. “Sayang!” panggil Abi.


“Hmm?”


“Aku lagi ngebayangin, main-main sama anak kita di taman rumah kita. Aku pengen ngelihat dia belajar jalan, pengen dengar kata pertama yang keluar dari mulutnya saat pertama kali bicara. Kita coba lagi ya?” Abi mencium leher istrinya.


Ara berusaha menghindar. “Jangan malam ini ya sayang. Besok aku ada penerbangan,” Abi menghentikan usahanya. Ia tersenyum.


“Habis kamu pulang nanti, kita coba lagi ya?” Ara mengangguk pelan.


“Ya udah, aku mau tidur. Sebelum itu kamu mau aku buatkan kopi?” Abi mengangguk. Ara melepaskan tangan Abi dari pinggangnya. Ia berjalan menuju dapur. Tiba-tiba ia teringat dengan benda yang ia buang tadi. Ara pergi ke kamar mandi, ia melihat benda tersebut di tong sampah. Ia segera mengambil benda tersebut.


Saat Ara sedang berjalan kembali menuju dapur, karena fokus melihat benda kecil di tangannya. Ia tidak sadar dan menabrak bu Nur. Benda itu terlepas dari pegangannya. Namun, belum sempat Ara mengambilnya. Bu Nur sudah duluan mengambilnya.


“Nak Ara?! Nak Ara hamil?” jantung Ara berdegup, ia melihat ke belakang, takut jika ada Abi yang mendengar.


“B-bu! Si-sini dulu,” Ara menarik tangan bu Nur. Ia menatap bu Nur dengan tatapan memohon.


“Ja-jangan bilang sama Abi dulu ya. Ara belum mau bilang, Ara belum si-siap,” ucap Ara terbata-bata.


“Belum siap kenapa nak?” Ara menelan ludahnya.


“Tapi nak. Nak Abi berhak tahu, siap gak siap coba bicarakan baik-baik,” Ara tersenyum tipis.


“Iya bu, Ara pasti beritahu. Tapi Ara butuh waktu ya bu, tolong ibu simpan rahasia ini. Ara mohon,” bu Nur yang melihat kecemasan di dalam mata Ara tidak kuasa menolak. Akhirnya ia mengiyakan permintaan Ara untuk merahasiakan kehamilannya ini.


Ara tersenyum melihat anggukan kepala bu Nur. Ia kemudian berjalan menuju dapur, membuatkan minuman untuk Abi.


...***...


Pagi itu, Abi dan Ara bersiap-siap untuk berangkat kerja. Ara kini tengah mempersiapkan setelan jas untuk Abi. Pria itu keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar di pinggang. Abi tersenyum ke arah Ara.


“Sudah rapi banget istriku ini,” Abi berjalan mengambil pakaian yang telah disiapkan Ara.


“Kamu kapan baliknya?” tanya Abi sembari mengenakan satu persatu pakaiannya.


“Besok atau mungkin dua hari lagi,” Abi mengerucutkan bibirnya.


“Lama banget. Ya udah kamu jaga kesehatan kamu ya. Karena...” Abi berjalan mendekat ke arah Ara, lalu memegang perut Ara.


“Disini nantinya akan ada jagoan kecil kita. Jangan maksain diri ya sayang kalau udah terasa capek,” Ara menatap nanar ke arah tangan Abi.


Ia kemudian memaksakan senyum ke arah Abi. “Iya, pasti aku jaga kesehatan,”

__ADS_1


Abi terlihat tengah berpikir, “Sayang, kenapa kamu gak berhenti kerja aja? Fokus aja untuk program kehamilan, ya?”


“Bi, kamu kan tahu....” helaan nafas Abi menginterupsi omongan Ara.


“Iya iya. Aku udah tahu kamu bakal jawab apa,” Abi kembali berkutat dengan pakaiannya. Kini posisi Abi membelakangi Ara.


Ara melihat punggung lebar Abi dengan sendu. Bukan hanya Abi sebenarnya, ia juga ingin memiliki seorang anak. Tapi tidak untuk sekarang, ia belum siap, sangat belum siap. Ara menghela nafas.


Ia kemudian langsung meluruh ke arah Abi. Ia memeluk pria yang sangat ia cintai itu dari belakang. Bagaimana perasaan Abi jika tahu, bahwa kini ia sedang mengandung anaknya? Pasti akan sangat bahagia. Tapi Ara benar-benar belum siap.


Abi terkejut, kemudian ia terkekeh melihat tangan mungil istrinya melingkar di badannya. “Ada apa nih tiba-tiba meluk? Takut rindu ya?”


Ara tertawa kecil. “Iya, kan aku mau pergi. Malam ini tidurnya gak dipeluk kamu deh,” Abi melepas tangan Ara, kemudian berbalik dan giliran ia memeluk Ara.


Abi mencium pucuk kepala Ara. Kemudian beralih ke kening Ara, dan tidak butuh waktu lama, bibirnya itu melesat ke arah bibir Ara. Istrinya itu terkekeh, kemudian mendorong Abi.


“Nanti make up aku berantakan. Udah ah siap-siap sana, nanti kita telat,” Abi tersenyum, dan menuruti perintah Ara.


.......


.......


.......


...Hai! Maaf ya lama update:'')...


...Kemarin banyak ujian, maklum udah kelas akhir:)...


...Maaf banget ya!...


...Karena sekarang udah gak ada ujian lagi, aku usahakan untuk cepat update...


...Do'ain ya moga aku rajin update sama Do'ain hasil ujian aku membuahkan hasil yang baik...


...Hehe, terima kasih juga yang masih setia nungguin...


...Bahkan nanyain kapan update:'''))...


...Aku terharu banget:'')...


.......


^^^The Yelion🍀🍁❤️^^^


^^^XOXO^^^

__ADS_1


__ADS_2