My Heart Choice

My Heart Choice
17• Luka


__ADS_3

...“Kembali mengingatmu membuat luka lama ini kembali timbul. Sebegitu teganya kah kau meninggalkan ku? Tak pernahkah terpikirkan olehmu bagaimana diriku jika kau tinggalkan?”...


...***...


Setelah menidurkan putri kecilnya, ia memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya. Abi yang sebentar lagi menyelesaikan pekerjaannya tersenyum puas. Selama ini segala kerja keras yang ia lakukan hanya untuk putri kecilnya. Ia tak ingin putri kecilnya kekurangan satu pun, walaupun ada yang tak mampu ia berikan, seorang ibu untuk putrinya itu.


Sudah dari bayi, Ghania tak merasakan kasih sayang seorang ibu. Pria itu tersenyum jika mengingat senyum manis dari putri tersayangnya itu. Abi kembali berkutat pada pekerjaannya.


Ketika merasa telah selesai. Ia membereskan berkas-berkas yang mulanya bertebaran di meja kerjanya. Mematikan laptop dihadapannya. Setelah itu ia memutuskan untuk pergi ke dapur. Hari sudah tengah malam. Cuaca diluar pun tengah hujan, ia memutuskan untuk membuat kopi.


Tiba-tiba segelintir kenangan datang menghampirinya. Abi menghela nafas kasar. Ia ingat di keadaan yang sama, jika ia telah menyelesaikan pekerjaannya. Akan ada istri tercintanya membuatkan minuman hangat. Ia akan tersenyum menghampiri istrinya itu. Memeluknya dari belakang, lalu menenggelamkan wajahnya di leher jenjang istrinya itu. Menghirup aroma tubuh yang membuatnya merasa tenang.


“Kenapa begitu sulit untuk melupakan kamu?” Abi memijit pelipisnya. Ia menggelengkan kepalanya pelan.


“Lupakan dia Abi. Lo harus bisa bahagia, ada Ghania. Ingat selalu Ghania, jangan sampai Ghania ngelihat sikap menyedihkan lo ini,” ketika melihat kopinya itu telah jadi, ia langsung membawanya ke kamar.


Abi membuka pintu balkonnya. Karena hujan masih turun dengan deras, udara malam itu semakin dingin. Ia membiarkan udara dingin itu memenuhi kamarnya. Ia tak terlalu mempedulikan hal itu, toh dia sudah terbiasa dengan cuaca yang dingin seperti ini.


Ia menyeruput minumannya perlahan. Ia memutuskan untuk tak tidur malam ini. Lagi-lagi sekelebat kenangan menghampirinya. Ia ingat betul, saat istrinya itu masih ada. Sebelum tidur, mereka akan bersama-sama duduk di balkon, menghirup udara malam. Saling berpelukan, menyalurkan kehangatan satu sama lain, lalu menikmati minuman hangat.


Dia juga ingat betul. Istrinya itu pasti akan selalu ketiduran di dalam dekapannya. Lalu ia akan menggendong istrinya, membaringkannya di ranjang. Ia akan tidur dengan memeluk istri yang sangat ia cintai itu. Memandang wajah istrinya sesaat, mencium tiap sudut wajah istrinya, sebelum memutuskan untuk ikut terlelap.


Tiba-tiba emosi Abi meluap, ia mencengkram gelas yang ada ditangannya. Lalu tanpa disadari, ia membanting gelas tersebut. Kopi panas tersebut tumpah mengenai kakinya. Tapi ia tak menyadarinya, tidak terasa sama sekali rasa panas tersebut. Ia masuk ke dalam kamarnya, mengambil minuman yang ia sembunyikan di kamarnya. Minuman yang mampu membuat dia terasa melayang. Abi kembali menuju balkon. Ia membuka baju yang ia kenakan, lalu melemparkannya ke sembarang arah.

__ADS_1


Pria itu menenggak minuman tersebut langsung dari botol. Ia menenggak habis minuman tersebut. Tak butuh waktu lama dengan sebotol minuman itu, ia sudah merasa melayang. Ia telah mabuk. Kemudian, Abi tiba-tiba menangis. Ia meraung-raung, meraup rambutnya kasar. Ia kembali mengambil sebotol minuman yang sama.


Rahangnya mengeras. Ia kembali meminum sebotol penuh. Abi kembali meraung, memanggil-manggil istrinya. Pria itu ingat betul, bagaimana terpuruknya ia ketika ditinggalkan oleh wanita yang ia cintai itu.


“Ara! Kenapa teganya kamu meninggalkan aku?! Kenapa kamu tinggalkan putri kita?! Tak tahukah kamu dia selalu merindukan sosok ibu disampingnya?!” Abi bersandar di ujung ranjangnya. Ia terduduk, dengan memegang botol minuman yang telah kosong.


“Kenapa kamu tak mau menerima anak kita?! Apa salah dia?! Kamu bilang, kamu cinta sama aku. Tapi kenapa?! Kenapa kamu tak mau anak dariku?!” Abi membanting botol itu, tentu saja pecahannya berhamburan di lantai.


Ia memukul-mukul dirinya. Abi kembali menangis, ia meraung-raung. Terdengar memilukan bagi siapa saja yang mendengar. Kejadian ini sudah sering terjadi, ketika ia merindukan istrinya itu. Dia akan menghabiskan malamnya seperti ini. Terlihat menyedihkan. Ia akan terlihat begitu putus asa.


“Aku benci kamu Ra! Sangat membenci kamu! Tapi...tapi...aku juga sangat mencintaimu. Aku merindukanmu. Arghhhhh!” Abi mengambil pecahan tadi dan meremasnya dengan kuat. Darah segar mulai mengucur dari tangannya itu, tapi tetap tak ia pedulikan. Rasa sakit dihatinya itu, lebih menyakitkan dibanding luka di tangannya ini.


Ia berdiri, berniat untuk mengambil foto pernikahan miliknya. Abi berjalan melewati pecahan kaca tadi, kini kakinya pun ikut terluka. Tubuh pria itu sepertinya sudah mati rasa. Atau ini dikarenakan ia mabuk? Entahlah, pada intinya jika ada yang melihatnya, mungkin orang itu akan merasa ngilu melihat luka di anggota tubuh pria itu.


Abi berhasil mengambil foto pernikahan yang ia simpan di laci meja samping tempat tidur yang sebelumnya ia simpan disebuah kotak diatas lemari. Ia menatap wanita yang ada didalam foto tersebut. Rahangnya kembali menguat. Tangan yang satunya, ia kepalkan, sampai-sampai buku tangannya memutih saking kerasnya kepalan tersebut. Abi membenci istrinya tapi sekaligus cinta. Ia merindukan istrinya ini.


“Aku menunggu kamu Ra! Aku tunggu kamu memohon-mohon untuk kembali! Aku tunggu tatapan menyesalmu ketika melihat Ghania! Jika nanti kau menyesal, takkan ku biarkan kau menyentuh Ghania, bahkan sehelai rambut pun! Akan ku buat kamu menyesal! Arghhhhhh!” erangan itu menggelegar, diiringi suara petir setelahnya. Untung saja keadaan saat itu tengah ribut karena hujan dan petir. Jika tidak mungkin Abi akan membangunkan putri ciliknya itu.


Setelah itu, tubuh Abi melemas. Ia terisak kembali, perlahan-lahan isakannya melemah. Abi merasa kamarnya yang gelap semakin terasa pekat gelapnya. Mata pria itu tertutup perlahan. Kemudian Abi tak sadarkan diri, badannya sudah terkulai lemas. Bagaimana tidak? Darahnya terkuras dari luka-luka yang timbul.


Kini berdo’a saja semoga ada yang membantu pria itu. Entah itu Bu Nur asisten rumah tangganya yang mungkin terbangun untuk mengecek keadaan rumah tiap malam atau mungkin putri kecilnya yang terbangun tengah malam karena merindukan ayahnya.


.......

__ADS_1


.......


...#pojokanauthor...


...Hai! Aku update lagi^^...


...Pas ngetik part ini, aku ikutan ngerasain emosi Abi:(...


...Oh iya btw, kebenaran nya bakal terungkap nih. Sebenarnya istri Abi itu kemana....


...Stay tuned terus ya...


.......


...Ditunggu Eps selanjutnya^^...


...Jangan lupa tinggalkan jejak comment, like, vote, dan rate^^...


.......


...Love you all readerku tercinta ehe<3...


.......

__ADS_1


...The Yelion🍀🍁♥️...


...XOXO...


__ADS_2