My Heart Choice

My Heart Choice
10• Aku Sayang Kamu Savian


__ADS_3

...“Berjalanlah bersamaku. Kan ku pastikan perjalanan kita akan membuatmu bahagia”...


...***...


Ucapan Savian yang mengatakan bahwa restoran itu akan membuat pikiran kita menjadi jernih dan ide yang kita butuhkan pun akan didapatkan. Benar adanya. Zanna mendapat inspirasi setelah berada disana dan memesan minuman.


Zanna menggambar design pakaiannya. Ia selalu tersenyum ketika menemukan inspirasi untuk pakaiannya. Savian pun ikut tersenyum. Sudah cukup lama mereka disini, bahkan sudah hampir tengah malam. Tetapi bukannya sepi, restoran ini malah semakin ramai, karena berhubung restoran ini juga menjelma menjadi sebuah cafe.


Dengan waktu yang cukup lama itu, Zanna sudah mendapatkan beberapa design untuk pakaiannya nanti. Sedangkan Savian, dengan waktu yang berjam-jam itu, yang ia lakukan hanya memandangi Zanna, sesekali melihat sekeliling. Melihat ekspresi Zanna ketika sedang serius begitu menyenangkan.


“Savi, minuman gue habis. Gue boleh mesan lagi gak? Tapi kali ini sama cemilan ya,” Zanna meletakkan pensil di tangannya, lalu merenggangkan badannya.


“Iya boleh. Sebanyak apapun yang lo mau,” ucap Savian sembari tersenyum.


Zanna memandang curiga Savian. Ia menangkupkan wajahnya dengan kedua tangannya, lalu memandangi Savian. “Kok tumben lo bolehin gue mesan apapun?”


“Tumben lo bilang? Udah berkali-kali kita keluar bareng, dan itu selalu gue yang bayar. Tapi kalau lo yang traktir, bisa dihitung pake jari,” Zanna terkekeh mendengar itu. “Lagian lo aneh, gue traktir lo curiga terus. Giliran gak gue traktir, lo marah-marah,” lanjut Savian.


“Iya-iya maaf,” Zanna tersenyum dengan lebar. Gadis dengan rambut bergelombang itu membuka daftar menu. Melihat-lihat apa yang akan menjadi pilihannya.


“Gue mesan kopi boleh gak?” tanya Zanna pada Savian.


Savian lantas menggeleng. Zanna cemberut. “Lo besok nganter kakak lo kerja, habis itu lo ada kelas pagi. Kalau lo minum kopi nanti lo gak bisa tidur,” Savian menyeruput jus miliknya.


“Ya udah gue gak mesan kopi,” ucap Zanna.


Setelah Zanna memesan. Ia memandangi sekeliling, lalu fokus pada band akustik yang tengah bernyanyi.


“Sayang banget, gue gak bisa nemunin cowok itu lagi disini,” Zanna masih fokus melihat orang-orang yang tengah bernyanyi.


“Terus lo sedih?” tanya Savian.


“Tadi sedih sih, tapi sekarang gak lagi. Rasa sedih gue udah terobati karena datang kesini, dapat inspirasi yang buat kerjaan gue lancar sentosa. Dengerin suara orang merdu yang lagi nyanyi. Ditambah gue disini bareng sahabat gue yang paling baik,” Zanna berdiri, lalu pindah duduk di samping Savian. Zanna menyenderkan kepalanya pada bahu Savian.


Savian tersenyum melihat itu. Ia pun menyenderkan kepalanya pada kepala Zanna.


“Gue juga senang kalau lo senang,”


“Eh lo ingat gak tadi? Yang lamaran disini tadi?” tanya Zanna.

__ADS_1


“Iya ingat kenapa?” Savian mengambil tangan Zanna dan menggenggamnya.


“Romantis ya, gue pengen suatu saat dilamar kaya’ gitu. Cowoknya ngelamar pakai mic di depan semua orang, terus sebelum ngelamar ngungkapin isi hatinya. Habis itu dia nyanyi sambil main gitar, dan berakhir nanyain ke cewek mau atau gak nikah sama dia. So sweet banget,” Savian mengangkat kepalanya ketika Zanna ingin mengangkat kepalanya.


“Bukannya itu terlalu basi, udah sering orang-orang ngelakuin kaya gitu,” ucap Savian.


“Iya sih. Tapi gue yakin ketika orang-orang melakukan hal itu, pasti mereka nantinya gak akan berpikiran kalau itu cara yang basi. Tapi mereka pasti berdebar-debar, ngerasa itu adalah salah satu hal indah yang pernah mereka lakuin,” pesanan Zanna datang, dan Savian langsung mengambil cemilannya.


“Tapi kalau ditolak gimana? Bukannya malah jadi hal terburuk yang pernah terjadi?” Savian menyuapkan kentang goreng pada Zanna.


“Ya mungkin akan jadi hal buruk dalam hidup mereka. Tapi...nantinya ketika mereka bertemu dengan pasangan mereka yang sebenarnya, ada bahan cerita yang akan diceritakan. Si cowok misalnya, pasti ngebayangin waktu dia ngelakuin hal itu, dia bakal ketawa, berpikir bahwa apa yang dia lakukan begitu konyol dan lucu, dengan hal basi itu tadi,” Zanna memandang Savian, lalu beralih pada minumannya.


“Lo suka kalau dilamar kaya gitu?” tanya Savian sembari menatap Zanna yang sudah duduk di hadapannya.


“Suka, suka banget malah,” Savian tersenyum mendengar jawaban Zanna.


“Kalau gitu, gue juga mau lamar orang yang gue sayang nanti dengan cara yang lo suka, tapi pastinya bakal gue bedain dikit,” Savian menyeruput minumannya sampai habis.


“Loh kok lo mau pake cara yang gue suka?” tanya Zanna tak terima.


“Biarin, terserah gue dong,” Zanna berdecih.


“Savi, nanti habis minuman sama cemilan ini habis. Kita pulang ya, bentar lagi jam dua belas,” ucap Zanna.


Savian mengangguk. Kini yang mereka lakukan hanya melihat penampilan dari penyanyi disana, seraya menghabiskan makan dan minum. Menikmati suasana tempat itu bersama dan dengan perasaan yang berbeda. Savian tersenyum melihat Zanna ikut bernyanyi.


Setelah menghabiskan semuanya. Mereka berniat untuk pulang. Zanna benar-benar senang malam itu, walaupun dirinya sampai saat ini masih berharap bertemu pria itu.


Di perjalanan pulang, Zanna tidak berceloteh seperti biasanya. Ia hanya terdiam, menikmati bangunan yang seperti berlari. Lalu, perlahan-lahan kelopak mata indah itu tertutup. Zanna tertidur, dan Savian yang melihat itu lagi-lagi hanya bisa tersenyum. Gadis yang telah lama ia sukai itu, apapun yang ia lakukan akan selalu mencetak senyuman di wajah Savian.


Namun ketika sedih, Savian pun akan ikut bersedih. Sudah sedari lama juga, perasaan untuk melindungi Zanna sudah ada. Savian ingin dirinya selalu ada untuk Zanna. Mau ketika Zanna bahagia dan sedih, Savian ingin gadis itu melibatkan dirinya. Begitu pun dirinya, ia ingin melibatkan Zanna dalam hidupnya. Sampai akhir hayatnya ia ingin Zanna ada. Biarlah saat ini Zanna menyukai orang lain.


Ia akan menunggu. Menunggu Zanna berjalan ke arahnya. Merentangkan tangan dan memeluk dirinya. Dan mengatakan bahwa gadis itu ingin hidup bersama Savian. Pria itu menanti-nanti hari itu datang.


Savian menghela nafas. Lalu kembali fokus mengendarai mobil. Ketika sudah sampai, Savian memasukkan mobilnya ke dalam pekarangan rumahnya.


“Za udah sampai, bangun,” ucap Savian. Namun Zanna tak bergeming.


“Kebiasan, kalau tidur susah dibangunin,” Savian keluar, lalu setelah melepas seat belt Zanna. Ia menggendong Zanna, berjalan menuju rumah Zanna.

__ADS_1


“Assalamu’alaikum,” salam Savian. Ia kepayahan untuk memencet bel rumah. Savian mencoba untuk mengetuk pintu, walaupun kepayahan karena ia tengah mengendong Zanna.


“Wa’alaikumsalam,” balas Yuma. Ia tertawa.


“Ya ampun kebiasaan Zanna ya susah dibangunin. Savian, tolong ya antar Zanna ke kamarnya,” Savian mengangguk. Ia berjalan ke kamar Zanna. Membaringkan Zanna di ranjang. Lalu melepas sepatu yang masih melekat di kaki Zanna, dan menyelimutinya.


Savian melihat ke belakang. Ternyata bunda Zanna tidak mengikutinya. Savian tersenyum, lalu secara perlahan. Ia mencium kening Zanna.


“Good night my light,” Savian melihat sekeliling, dinding kamar Zanna penuh dengan tempelan kertas berisi design miliknya. Lalu ada juga foto-foto Zanna bersama banyak orang. Keluarga, teman, bahkan hewan peliharannya. Savian melihat ada bagian di dinding yang dipenuhi foto Zanna dan dirinya. Foto yang sama dengan yang ada di dompetnya. Foto mereka berdua tengah tertawa.


Savian tersenyum. Banyak foto Zanna dan dirinya yang dipajang. Lalu ada tulisan di bawah semua foto mereka berdua.


“Aku sayang kamu Savian. My simple man. Orang yang sederhana tapi selalu memiliki hal yang diluar kata sederhana. Kamu luar biasa! My dear friend” begitu tulisan yang tertulis.


"Aku sayang kamu juga Zanna," Savian menutup pintu, pamit, dan pulang.


.......


.......


...#pojokanauthor...


...Part 10 update...


.......


...Jgn lupa vote, like, comment, dan share...


...Jgn lupa untuk rate bintang 5^^...


...Stay tuned terus:)...


.......


...Wanita penghuni surga (Aamiin^^)...


...Leonita_Wi...


...XOXO❤️🍁🍀...

__ADS_1


__ADS_2