My Heart Choice

My Heart Choice
21• Dendam


__ADS_3

...“Semakin dekat diriku denganmu, semakin membuat rasa ini semakin besar. Bolehkah aku berharap bisa memilikimu?”...


...***...


Zanna berlari ditengah keramaian mall. Ia sudah sangat telat, Zanna sudah berencana pergi menonton dengan kakak, Riana, Savian, Kinanti, Deja, dan beberapa teman yang lain. Tetapi ada hal yang harus ia kerjakan tadi, jadi ia mengatakan akan menyusul. Zanna pikir, urusannya tidak memakan waktu lama. Nyatanya hal itu harus memakan waktu lama. Zanna saat itu dipanggil kepala divisi bagian design AGHA Corp. Ada rancangan yang tidak disetujui kepala divisi tersebut.


Zanna berniat untuk memperbaikinya di rumah. Ternyata ia diminta untuk memperbaiki saat itu juga. Belum bekerja tetap disana saja sudah sesibuk ini dirinya. Bagaimana jika nanti ia sudah benar-benar menjadi bagian dari perusahaan itu?


Sudah satu jam lebih Zanna terlambat dari waktu janjian. Zanna masih berada di lift. Ia sudah menghubungi kakaknya. Zeva bilang, mereka akhirnya terpaksa mengundur jam film yang akan ditonton. Dentingan lift terdengar, Zanna segera menerobos keluar. Saat Zanna sebentar lagi akan sampai di bioskop, naas ia menabrak seseorang. Zanna terjungkal, dan orang itu pun juga terjatuh. Begitu juga dengan barang belanjaannya.


“Hah...hah...hah...ma-maaf. Sa-ya gak sengaja. Saya yang sa-lah,” Zanna berdiri dan membantu orang tersebut berdiri. Nafas Zanna tersengal, ia kelelahan karena mulai berlari dari parkiran.


“Iya gak apa-apa. Lain kali hati-hati ya. Jangan lari-lari di mall. Ramai disini,” suara lembut itu membuat Zanna kembali melihat dengan jelas pemilik suara tersebut. Cantik. Padahal wanita itu menggunakan masker, tapi entah kenapa hanya dengan melihat bagian mata wanita itu. Zanna yakin wanita ini pasti cantik.


“Maaf ya kak, sekali lagi saya minta maaf. Kakak ada yang luka, barang belanjaan kakak ada yang rusak gak?” mata wanita itu terlihat menyipit, menandakan ia tersenyum dibalik maskernya itu. Ia merogoh kantong belanjaannya. Lalu mengeluarkan sebuah air mineral.


“Saya gak apa-apa kok. Barang-barang saya juga aman. Nih minum, kamu kelihatan capek banget,” Zanna langsung menerima minuman tersebut. Dahaganya langsung terpenuhi ketika air mengalir ditenggorokannya.


“Makasih ya kak. Kakak baik banget deh,” wanita itu terkekeh.


“Ya sudah, kalau gitu saya pergi ya. Ingat! Lain kali harus benar hati-hati lho ya,” Zanna mengangguk-anggukkan kepalanya.


Lalu melambaikan tangannya. Wanita itu juga melambaikan tangannya, lalu pergi dari hadapan Zanna. Seseorang tiba-tiba datang dari arah belakang Zanna, dan menepuk pundak Zanna.


“Lo lama banget. Kita udah nungguin lo dari tadi lho. Eh lo nya malah pelanga-pelongo disini,” Riana yang menepuk pundak Zanna, dan ada orang-orang yang menunggu Zanna dari tadi, melihat Zanna dengan tatapan tajam.


Zanna mengelus dadanya. Ia terkejut, tapi rasa bersalah menghampirinya ketika melihat pandangan dari kakak dan teman-temannya. “Sorry, tadi gue kira urusannya bakal bentar. Ternyata lama, terus tadi disini gue gak sengaja nabrak orang,”


“Ya udah yuk lah. Kita udah beli tiketnya, kira-kira lima belas menit lagi mulai,” ajak Zevana.


Mereka pun memasuki ruang bioskop, Zanna lega. Akhirnya ia bisa duduk, Zanna menikmati film tersebut dan tentunya dengan popcorn caramel kesukaannya.


...***...

__ADS_1


“Papa! Ghania rindu!” teriak Ghania dari panggilan video. Abi tersenyum.


“Iya sayang. Papa juga rindu sama Ghania,” Abi mengelus wajah anaknya dari layar handphone nya.


“Kapan papa pulang?” tanya Ghania yang begitu merindukan ayahnya.


“Sabar ya sayang. Sebentar lagi papa pulang kok. Kalau udah selesai pekerjaan papa disini. Papa pasti pulang, nanti papa bawain oleh-oleh dari sini,” Ghania berteriak diseberang. Malaikat kecilnya terlihat begitu senang.


“Jadi gak sabar nunggu papa pulang. Oh iya papa lagi dimana?” lucu sekali anaknya ini. Ingin ia cepat pulang, dan memeluk putri kecilnya yang menggemaskan itu.


“Papa lagi di tempat makan. Lagi makan siang,” terlihat ekspresi kebingungan tercetak di wajah Ghania.


“Makan siang? Kan udah malam, seharusnya makan malam papa,” Abi terkekeh. Ia lupa dengan perbedaan waktu Paris dan Indonesia.


“Disini masih siang. Ajaibkan ditempat papa?” saat Abi ingin memperlihatkan suasana yang masih terang karena matahari. Tiba-tiba Abi melihat seseorang.


“Ghania nanti papa video call lagi ya nak. Papa ada urusan mendadak,” Abi langsung mematikan sambungan dan memasukkan handphone nya ke dalam saku. Ia segera berlari keluar restoran. Abi melihat seseorang yang ia duga sebagai Arabella. Istrinya.


Tapi karena ramainya orang-orang. Ia kehilangan jejak wanita itu. Abi menghela nafas gusar. Apakah Ara tengah berada di Paris? Apakah yang ia lihat tadi adalah Ara? Atau ia hanya salah lihat. Abi langsung merogoh saku, dan mengambil handphone. Saat ia sudah hampir menekan nomor seseorang. Ia urungkan, Abi mengacak rambutnya. Ia kembali memasukkan handphone nya ke dalam saku.


Abi kembali masuk ke dalam restoran. Di mejanya tadi sudah ada Chris. Ia duduk di hadapan Chris. “Baru datang lo?” tanya Abi.


“Iya. Abis darimana lo?” ucap Chris santai. Chris adalah direktur perusahaan milik Abi. Ia merupakan teman lama Abi, yang ikut membantu Abi mengembangkan usahanya ini.


“Tadi gue lihat cewek. Perawakannya mirip Ara, tapi gue gak tahu, apa itu Ara atau bukan,” Chris memutar matanya.


“Abi. Lo kemarinkan udah dibilangin sama dokter. Lo gak boleh mikirin si Ara. Gue gak mau ya lo down lagi, dirawat lagi, terus urusan kantor akhirnya ke gue semua,” ucap Chris.


“Iya-iya. Gue lagi berusaha untuk gak mikirin Ara,” Chris mengacungkan jempolnya.


“Ini baru presdir kita, dirut kita, CEO kita. Apalagi sebutan lainnya?” Abi tak menghiraukan Chris. Ia segera memanggil pelayan dan memesan makanan untuk mereka.


Siang itu, ditengah makan siang, mereka juga membahas tentang pekerjaan. Membicarakan segala persiapan untuk rapat mereka. Tapi biar pun begitu, pikiran Abi juga bercabang pada Arabella. Masih diliputi rasa penasaran akan keberadaan wanita itu.

__ADS_1


“Abi, berhenti mikirin Ara. Lo gak pantes mikirin tuh perempuan. Dia udah nyakitin lo, dan juga Ghania. Gue tahu lo masih cinta kan sama Ara?” Abi terhenyak. Chris selalu tahu dirinya, ia tak pernah bisa berbohong pada Chris.


“Tapi rasa benci gue lebih besar. Gue mau nemuin dia bukan mau ngajak dia balik. Gue cuma mau buat dia nyesal, gue mau buat dia tersiksa sama seperti ketika gue dia tinggalin,” tatapan amarah saat Abi mengatakan itu jelas terlihat oleh Chris.


“Bro, gue gak melarang lo untuk dendam sama Ara. Karena gue juga tahu betapa jahatnya Ara. Tapi udahlah, kita juga gak tahu dia dimana. Biar aja dia datang sendiri, lo gak perlu buang-buang waktu lo untuk nyiksa dia. Lo tunggu aja waktu dimana Ara mohon-mohon sama lo, tanpa lo harus turun tangan,” Chris menyeruput minumannya.


Abi hanya diam, benar yang dikatakan Chris. Tapi rasanya, Abi lelah menunggu. Ara tak pernah datang, entah kapan penyesalan pada wanita itu akan datang. Abi ingin bertemu dan mempercepat rasa tersiksa itu. Tetapi, lagi-lagi ia tak boleh gegabah. Cukup sekali Ghania melihat dirinya tampak menyedihkan.


.......


.......


...#pojokanauthor...


...Yeay update lagi^^...


...Jangan bosan-bosan untuk baca MHC ya...


.......


...Jangan lupa like, vote, comment, share karyaku ini:)...


...oh iya follow akun ku ya...


...Trs follow ig ku juga dong di @leonita782...


.......


...Semangat menjalani hari yaa^^...


.......


...The Yelion♥️🍁🍀...

__ADS_1


...XOXO...


__ADS_2