
...“Mengingat dirimu saja bisa membuatku tersenyum, bagaimana dengamu? Apakah kamu akan tersenyum jika mengingatku?”...
...***...
Zanna benar-benar menepati janjinya pada dosennya itu, pak Bimo. Hari ini ia akan memberikan tugasnya itu sesuai tenggat waktu. Sambil bersenandung, ia berjalan menyusuri koridor kampusnya itu. Menyapa setiap orang baik yang ia kenal maupun tidak. Sampai di kantin kampus, Zanna melirik kesana kemari, mencari sahabat baiknya itu. Setelah menemukan sahabatnya itu, Zanna langsung menghampirinya. Ia memeluk Riana dari belakang.
“Riaaaa...gue seneng banget. Hari gue terasa indah banget belakangan ini,” Zanna menarik kursi disamping sahabatnya itu.
“Senang kenapa lagi? Masih karena cowok yang namanya Ivan itu?” Zanna mengangguk antusias, ia memain-mainkan rambutnya. Sedangkan Riana memutar mata jengah.
“Gue udah sering ngelihat lo senang karena berhasil dekat atau kenal sama cowok yang lo incer. Tapi kayaknya ini lebih senang dari biasanya. Emang si Ivan-Ivan itu orangnya gimana sih?” Riana menopang dagunya, melihat Zanna yang masih tersenyum-senyum.
Walaupun Riana sudah jengah dengan kelakuan temannya ini. Ia tidak akan pernah menolak cerita bagaimana Zanna bisa menyukai laki-laki yang ia temui. Bahkan jika sedang ingin, ia sendiri yang akan menanyakannya seperti saat ini.
“Dia itu ganteng, hot, bapakable, like a prince, badannya bagus lagi, tinggi, apalagi ya. Ah matanya, coklat kaya’ huzelnut, hidungnya mancung, rambutnya juga hitam banget. Pokoknya oppa-oppaan yang lo suka itu kalah,” Zanna menopang dagunya dengan kedua tangan. Membayangkan kembali laki-laki bernama Ivan.
Riana berdecih. Zanna akan selalu mengatakan laki-laki yang ia suka melebihi aktor-aktor tampan yang ia tonton didrama-drama. Padahal nyatanya, saat bertemu. Riana melihat oppa kesayangannya itu masih jauh lebih tampan.
“Halah lo dari dulu kalau nyeritain cowok selalu bilang lebih ganteng dari oppa gue. Nyatanya biasa aja, oppa gue jauh lebih tampan,” kini gantian Riana yang senyum-senyum sendiri membayangkan aktor korea kesukaannya.
“Kalau yang dulu, oke gua akuin, lebih gantengan oppa lo itu. Tapi sekarang ini, percaya sama gue, beneran gak bohong,” ucap Zanna.
“Yayaya walaupun lo bilang lebih ganteng, dihati gue cuma oppa Lee Jong Suk, Lee Min Ho, siapa lagi ya. Aduh banyak lagi dah,” balas Riana.
“Yeee...fakgirl lo,” cibir Zanna.
“Terus kali ini anak apa? Anak geng motor lagi? Atau anak bar banget? Atau om-om?” tanya Riana.
“Ya dia om-om sih, duda malah. Tapi masih muda Ri, masih kepala dua. Punya anak satu,” Riana membelalakkan matanya.
“Gila lo! Padahal dulu gue asal nyebut pas bilang orang-orang yang akan lo suka lagi. Tapi semua lo angkut, duda iya, om-om iya, udah punya anak lagi! Fix otak lo benar-benar lebih gak beres dari biasanya. Za kalaupun lo ada hubungan, gue rasa ayah sama bunda lo gak akan nyetujui. Yakali ngelepas anak perawan buat duda, beranak lagi,” Zanna memegang kedua pipi Riana.
“Ri lo gak boleh gitu. Mau gimana pun cowoknya, kalau baik dan bertanggung jawab ortu gue bakal setuju-setuju aja. Apalagi gue bahagia,” Riana melepas tangan sahabatnya itu.
“Ya walaupun Za. Susah banget sih ngasih tahu lo, keras kepala lo itu udah ngalahin kerasnya baja. Terserah lo aja deh,” Riana menyeruput minuman yang sedari tadi telah ia pesan.
“Nah tuh tahu, biarin gue kenal sama banyak cowok. Sampai nanti gue ketemu yang benar-benar pas. Udah ah cepet habisin minuman lo, temenin gue antar tugas ke pak Bimo,” ucap Zanna.
“Tumben lo ngumpulin tugas tepat waktu,” ucap Riana.
“Gara-gara pak Bimo udah bantuin gue nyari popcorn. Plus kalau bukan karena dia, gue gak akan ketemu sama Ivan, dan mungkin sampai saat ini gue belum tahu namanya,” Riana hanya mengangguk.
Setelah menghabiskan minumannya, Zanna dan Riana pun berjalan menuju ruangan pak Bimo.
...***...
__ADS_1
“Pak ini tugas saya,” ucap Zanna sembari memberikan tugasnya.
“Saya kira kamu gak akan menepati ucapan kamu,” Bimo mengambil tugas Zanna. Melihat yang dikerjakan Zanna.
“Gak mungkinlah pak saya gak menepati ucapan saya. Apalagi itu juga idaman otak bapak,” Bimo menggelengkan kepala.
“Zanna-Zanna design kamu itu bagus-bagus semua, tapi sayang kamu itu pemalas. Kalau kamu bisa secepatnya menyelesaikan skripsi kamu, bapak akan rekomendasikan kamu ke perusahaan yang bagus. Sayang jika bakat kamu ini disia-siakan,” ucap Bimo.
Zanna semakin sumringah. “Beneran pak?! Kalau gitu saya akan semangat nyusun skripsi saya. Terima kasih pak!”
“Iya saya serius. Teman saya punya perusahaan di bidang pakaian. Dan setiap tahun membuka lowongan untuk designer. Saya merasa kamu pantas untuk berada diperusahaan itu,” Zanna menganggukkan kepalanya semangat.
“Oh iya pak, karena bapak omongin teman. Teman bapak yang kemarin itu, boleh gak saya minta nomornya,” Bimo melihat ke arah Zanna.
“Untuk apa?” tanya Bimo.
“Ya untuk disimpen lah pak. Kemarin saya kelupaan minta nomornya,” ucap Zanna.
“Saya gak bisa memberikan nomor dia kesembarang orang. Bisa-bisa saya direpetin sama dia,” Zanna mengerucutkan bibirnya. Ia sudah menduga akan sulit mendapatkan nomornya. “Lagian kamu kenal dia darimana?”
“Waktu itu saya ketemu sama dia gak sengaja. Terus baru kemarin saya tahu namanya,” Zanna mengucapkan itu sambil membayangkan kembali pertama kali ia bertemu dengan pria itu.
“Namanya siapa?” Zanna membuyarkan lamunannya, lalu melihat ke arah Bimo.
“Lah bapak kok nanya saya, kan itu teman bapak, masa bapak gak tahu nama dia?” Bimo memutar matanya.
“Saya tahu namanya, tapi kemarin dia ngenalin nama dia siapa? Saya cuma mau mastiin sesuatu,” ucap Bimo.
“Lah tuh anak ngenalin diri sama nih cewek Ivan? Kok gitu? Tau ah bodo amat,” batin Bimo. Ia terdiam sesaat.
“Pak! Pak!” panggil Zanna, membuat Bimo kembali sadar.
“Eh iya kenapa?” tanya Bimo.
“Saya pamit dulu, tugas udah saya kumpul ya pak. Dadah pak,” setelah pamit Zanna pun pergi dari ruangan Bimo. Lalu menemui Riana yang menunggu diluar ruangan.
“Kok lama?” tanya Riana.
“Lagi bicarain Ivan hehehe,” ucap Zanna.
“Udah gue duga. Ya udah jadikan lo ke rumah gue?” Zanna mengangguk.
Mereka pun berjalan menyusuri koridor menuju parkiran. Saat tiba diparkiran, seseorang menghampiri mereka.
“Hai Zanna! Dan...hai Riana!” ucap seorang dihadapan mereka. Riana hanya mengangguk. Sedangkan Zanna tersenyum. “Lagi abis darimana?” tanya orang itu.
“Abis dari nganter tugas,” jawab Zanna. “Kamu ada kelas?” tanya Zanna.
“Iya setengah jam lagi. Zanna nanti malam ada waktu? Kita dinner?” Zanna tampak berpikir lalu melihat ke arah Riana, dan Riana menatap Zanna seolah-olah mengatakan ‘Terserah lo’.
__ADS_1
“Oke! Jemput aku di rumah Riana ya. Masih ingatkan rumahnya?”
“Iya masih inget kok. Nanti aku kirim jam berapa aku jemput. Kalau gitu aku duluan ya,” Zanna mengangguk, dan orang itu pun pergi.
Zanna dan Riana masuk kedalam mobil. Riana melihat ke arah Zanna.
“Jordan masih suka kaya’nya sama lo, dari kemarin selalu dekatin lo,” Zanna mengendarai mobilnya, keluar dari area kampusnya itu.
“Ya udah kan dia yang suka lagi sama gue. Gue kan gak suka lagi sama dia,” Zanna memutar lagu di handphonenya.
“Tapi Za, lo gak boleh begini. Kalian udah putus, gak usah kasih harapan ke dia lagi,” Riana mengingatkan.
“Gak ada salahnya kan makan malam bareng mantan? Gue emang sengaja ngasih dia harapan. Lagian kalau emang dia berharap, ya itu salah dia. Dulu aja mutusin gue pas gue lagi sayang-sayangnya sama dia. Sekarang? Berharap bisa balikan gitu? Ogah!” Riana diam setelah itu. Benar juga apa yang dikatakan Zanna.
“Gue akan buat dia sayang sama gue, abis itu gue tinggalin dia sama seperti dia ninggalin gue dulu. Demi cewek lain lagi dia ninggalin gue, gak ada otak tu orang,” ucap Zanna.
“Lo gini-gini sadis juga ya. Setiap mantan yang mutusin lo pasti lo bales. Gila lo Za,” Riana menepuk-nepuk lengan Zanna.
“Gak semua yang mutusin gue kali Ri. Hanya laki-laki brengsek yang mutusin gue karena hal gak masuk akal dan yang mutusin gue karena cewek lain. Gue akan balas hal yang sama, siapa suruh main-main sama queen Zanna. Tapi, kalau gue gak ketemu sama Ivan mungkin gue ada niatan balikan sih sama Jordan, hahaha," Zanna tertawa dengan keras.
Riana hanya diam. Pemikiran Zanna, tak bisa ditebak Riana, bahkan Savian yang telah berteman sejak kecil dengan Zanna pun selalu takjub dengan tingkah Zanna.
.......
.......
.......
...#pojokanauthor...
...Hai, gimana? Dapat kan feel-nya?...
...Enjoy ya^^...
...Selalu ikuti kisah Zanna^^...
...Jangan lupa vote, like, comment, dan share cerita MHC ini:)...
...Oh iya jangan lupa favorite kan ya cerita MHC ini...
...Biar kalian dapat notifikasi kalau aku update^^...
.......
...Wanita penghuni surga (Aamiin^^)...
...Leonita_Wi...
__ADS_1
...XOXO❤️🍀🍁...