My Heart Choice

My Heart Choice
39• Hadiah dari Tuhan


__ADS_3

...“Ku pikir, engkau datang ke arahku untuk menetap selamanya. Tapi pada kenyataannya kau hanya datang sekejap lalu kembali pergi”...


...***...


“Za! Bisa gak lo nungguin jawaban gue dulu? Jangan langsung matiin telfon kaya tadi,” ucap Savian, ketika Zanna baru saja masuk ke dalam mobil Savian.


“Karena gue tahu, lo pasti bakal datang ketika gue minta lo datang,” balas Zanna kemudian sibuk dengan handphonenya.


“Tapi lo gak bisakan ngelakuin hal yang sama seperti yang gue lakukan?” tanya Savian, namun suaranya begitu pelan.


“Apa?” Zanna menatap ke arah Savian dan Savian menatap dalam ke arah Zanna. Kemudian ia menggelengkan kepalanya.


“Gak ada. Jadi, kenapa lo tiba-tiba nyuruh gue jemput lo?” Zanna langsung menyimpan telfonnya.


“Ini tentang Abi,” Savian mendengus pelan. Lagi? Untuk kesekian kalinya, yang dibahas perempuan disampingnya ini selalu orang yang sama.


“Kali ini kenapa lagi? Lo ketemuan sama si Abi karena dia mau ngasih lo gedung?” Zanna memanyunkan bibirnya.


“Iihh bukan," Zanna menunjukkan kartu kredit yang diberikan Abi.


“Dia ngasih ini biar gue tutup mulut. Terus tadi dia nge-chat gue bilang. Kalau kartu kredit ini limitnya seratus juta. Terserah gue mau pakai untuk apa, terus dia bilang kalau kurang bilang ke dia,” Zanna menyimpan kembali kartu kredit itu. “Ditambah, gue ngerasa sakit hati banget waktu dia bilang. Gue hanya orang asing dan gue gak perlu ikut campur urusan dia,” lanjut Zanna.


“Lah kan emang bener?” Zanna memukul lengan Savian.


“Emang harus banget ngomongnya gitu? Orang bilang gini kek ‘Zanna, belum saatnya kamu mengetahui urusan saya. Tunggu ketika hubungan kita lebih dalam lagi, saya akan ceritakan semuanya’ kalau kaya gitu kan enak,” jelas Zanna.


“Za! Dia itu atasan lo. Sampai saat ini pun status itu belum berubah. Lo harus sadar, dia gak punya perasaan apapun sama lo,” nasihat Savian.


“Tau ah. Males ngomongin dia. Lagi kesel,” Savian kembali mendengus melihat tingkah Zanna.


“Ada orang disamping lo yang jelas-jelas punya perasaan untuk lo,” gumam Savian pelan.


Zanna menoleh ke arah Savian. “Lo ngomong apa sih Sapi. Dari tadi ngomong bisik-bisik mulu,” Savian diam, ia hanya langsung mengendarai mobilnya.


“Kita mau kemana?” tanya Zanna.

__ADS_1


“Udah diem aja duduk manis,” balas Savian.


...***...


“Wuihhh ini udah mau jadi?!” Zanna begitu terpukau dengan hal yang sekarang ia lihat.


“Iyalah, niat baik harus cepat disegerakan,” Zanna merangkul lengan Savian.


“Iihhh lucu banget! Ini boleh masuk gak?” tanya Zanna.


“Bolehlah. Kan lo salah satu pencetus idenya,” Zanna sumringah, ia segera menarik Savian untuk segera membuka pintu di depannya.


Savian mengeluarkan sebuah kunci dan membuka pintu tersebut. Saat sudah didalam, Zanna berteriak histeris. Ia melepas gandengan tangannya, lalu berlari kesana kemari.


“Saviiii...lucu banget serius. Gue gak sabar nunggu tempat ini dibuka,” Savian menghampiri Zanna.


“Paling beberapa minggu lagi lah baru opening. Gue mesti nyari beberapa furniture yang kurang dan aksesoris lainnya,” Savian tersenyum kecil melihat mata Zanna yang berbinar melihat sekeliling.


“Eh kaya’nya gue belum pernah nanya ini deh. Kenapa waktu itu lo tiba-tiba mau buat cafe?” tanya Zanna.


“Gue kepikiran lo waktu lagi nyari usaha apa yang mesti gue jalanin selain budidaya lobster,” Zanna menaikkan alisnya, meminta penjelasan. “Gue tau lo suka ke cafe. Makanya gue mau buka cafe,”


“Gue mau, kalau lo lagi mumet, lagi bete, lo gak perlu ke cafe lain. Datang aja ke cafe gue,” Savian berjalan melihat pajangan yang sudah terpasang di dinding.


“Lo mau nguras duit gue dengan nyuruh gue untuk datang ke cafe lo aja?” Savian terkekeh. Ia menatap Zanna.


“Ya nggaklah bego. Lo pikir gue mau nerima uang lo kalau lo kesini? Sumbu otak lo pendek bener. Seharusnya lo tahu ketika gue bilang gue buka cafe ini untuk lo dan ketika gue minta konsep cafe seperti apa yang lo suka,” Zanna terdiam, mencoba mencerna setiap kalimat Savian.


“Gue gak ngerti,” Savian menghampiri Zanna. Menarik kursi Zanna yang membuat wajah mereka begitu dekat. Savian menatap dalam ke arah mata coklat huzelnut itu.


“Gue mau ciptain tempat yang bisa buat lo nyaman. Gue mau ciptain tempat yang lo suka, gue mau ciptain tempat yang setiap lo lagi sedih, lo bisa datang. Gue mau cafe ini jadi tempat penghilang kesedihan lo,” Savian tersenyum kecil melihat wajah Zanna. Ia kemudian mencubit kedua pipi Zanna.


“Gue bener-bener buka cafe ini untuk lo. Bahkan gue gak peduli, mau ada pengunjung atau gak. Yang penting ada lo yang gue harapkan jadi pengunjung setia cafe ini. Anggap aja cafe ini hadiah wisuda, hadiah hari pertama lo kerja, apapun itu. Pokoknya cafe ini udah diciptakan untuk lo. Sini, ikutin gue,” Savian menarik tangan Zanna.


Menuntun Zanna ke sebuah ruangan. Kemudian Savian menunjuk ke sebuah pajangan. Mata Zanna lagi-lagi dibuat takjub.

__ADS_1


Sebenarnya bukan sebuah pajangan. Tapi ukiran yang dibuat dipermukaan dinding. Zanna menyentuh ukiran tersebut. Zanna menatap Savian dan menyorotkan mata meminta penjelasan Savian.


“Seperti yang gue bilang. Cafe ini diciptakan untuk lo. Makanya nama lo di ukir di dinding ini,” senyum Zanna merekah dengan lebar.


Namanya terukir di dinding. Lalu dibawah nama Zanna ada arti dari namanya ‘Hadiah dari Tuhan’. Zanna tersenyum ke arah Savian. Ia mendekat ke arah Savian.


Memeluk pria dihadapannya itu. Begitu erat, Zanna tersenyum begitu lebar dalam pelukan Savian. Bahkan tanpa Zanna sadari, air matanya keluar.


“Vian...lo baik banget sama gue. Setiap gue punya masalah, setiap gue lagi galau, lagi sedih. Lo selalu bisa ngilangin itu. Lo selalu jadi obat untuk segala sakitnya gue,” Savian membalas pelukan Zanna, tak kalah eratnya dengan Zanna.


“Gue harap omongan lo gak akan pernah berubah. Gue pegang kata-kata lo,” Zanna melepas pelukannya.


“Iyaa...pegang aja kata-kata gue. Btw karena lo nyuruh gue anggap ini cafe gue. Berarti ntar penghasilan cafe ini bisa dibagi ke gue juga dong?” tanya Zanna iseng.


Savian mengangguk. “Ya bisalah, nanti kalau dapat keuntungan gue kirim ke rekening lo,”


Zanna menendang kaki temannya ini. “Gue bercanda bego. Yakali, modal seluruhnya dari lo. Giliran keuntungan masa untuk gue,”


“Ya gak apa. Mau keuntungannya ada apa gak, rugi apa gak. Gue tetep kaya Za, jadi lo gak usah khawatir,” Zanna memutar bola matanya.


“Mulai songongnya nih anak. Tapi Savi...gue gak mau hanya gue yang ngerasain cafe ini. Lo harus nyari pengunjung sebanyak-banyaknya, jangan biarin cafe sebagus ini sepi. Okey?” Savian tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya.


“Nanti kalau rame, lo buka cabang. Diseluruh penjuru negeri kalau bisa,” Savian kembali menganggukkan kepalanya, kemudian mengacak-acak rambut Zanna.


‘Jadiin gue sebagai tempat lo pulang ya Za. Gitu juga gue, gue mau jadiin lo sebagai pelabuhan terakhir setiap gue selesai berlayar,’ bathin Savian yang kemudian menautkan tangan kekarnya ke tangan mungil Zanna.


‘Selain arti nama lo yang berarti cahaya cantik. Arti dari nama depan lo, Zanna, juga sangat gue suka. Hadiah dari Tuhan. Lo emang hadiah paling indah yang pernah gue terima dari Tuhan’ lanjut bathin Savian.


.......


.......


...Happy reading...


...Ditunggu next Eps yaaaa^^...

__ADS_1


^^^The Yelion 🍀🍁❤️^^^


^^^XOXO^^^


__ADS_2