
..."Kamu itu seperti cahaya dikegelapan. Kamu yang mampu menerangi diriku ini. Aku harap, aku pantas untukmu. Aku harap aku bisa mengiringi sinarmu yang begitu menyilaukan”...
...***...
...Saviku🐮...
Za, jangan lupa ntar malem dinner ama gua
^^^Yup! Saviku!^^^
Gak usah dandan
^^^Knp?Lo mau gue keliatan kek upik abu ha?!^^^
Bukan
Tanpa dandan pun lo udah cantik🥴
^^^Geli deh gue🤮^^^
^^^Lagian ngapain juga gue dandan, dinner doang elah^^^
^^^Bukan acara penting gitu^^^
Haha, ya udah pokoknya jangan lupa
Jangan nonton drakor dulu
Lo kalau nonton drakor gak bisa diganggu
Nanti ujung-ujungnya malah gak jadi dinner
^^^Wkwk baru aja gue mau nonton biar gak jadi pergi^^^
Zaaaaa...
^^^Canda, dah gue mau bantuin adek gue buat tugas^^^
Iya cahaya cantikku
^^^Haha, yashh pria sederhanaku^^^
Zanna tersenyum lalu mematikan handphonenya. Savian selalu bisa membuatnya tersenyum. Zanna berdiri lalu menghampiri adiknya.
“Yang mana yang gak tau?” tanya Zanna.
“Belum ada yang susah. Zi kan pintal,” jawab adiknya yang cadel sambil membusungkan dada. Zanna hanya tersenyum. Lalu saat ia memperhatikan adiknya. Terlintas satu hal.
“Zi! Mau gak sekolah di tempat kak Ze ngajar?” adiknya langsung menggeleng.
”Kenapa gak mau? Kan enak ada kak Ze disana,”
“Tapi kan kak Ze ngajal anak-anak kecil,” Zanna tertawa, padahal adiknya itu masih TK, bisa-bisanya dia menyebut seangkatannya anak kecil.
“Tapi, kan, Zi juga anak kecil,” ucap Zanna.
“Zi sudah besal, sebental lagi Zi jadi anak besal. Zi juga bental lagi bakal sekolah di melah putih,” ucap Zico adik Zanna.
“Sekolah di merah putih?” tanya Zanna bingung.
“Sekolah nya yang pake baju melah putih itu kakak,” Zanna memijat kepalanya. Imajinasi anak kecil itu hebat sekali. “Emangnya kenapa nyuluh-nyuluh Zi sekolah di tempat kak Ze?” tanya Zico.
“Biar kakak bisa ketemu sama pangeran tiap jemput kamu sekolah,” Zanna senyum-senyum sendiri setelah mengucapkan itu.
“Siapa pangelannya?” mata Zico berkaca-kaca.
“Ada abang-abang, ganteng kayak pangeran. Kakak mau dia jadi pangeran kakak,” Zanna masih tidak memperhatikan mata adiknya yang sudah dipenuhi air mata.
“Gak mau! Zi gak mau pindah kesana!” Zico menangis, melihat itu membuat Zanna bingung.
“Loh-loh kok nangis? Zi kok nangis?” Zanna menghapus air mata Zico, tapi ditepis oleh anak itu.
“Kak Za jahat, dulu kak Za bilang, Zi pangelan kakak. Kak Za bilang cuma Zi pangelan kakak. Sekalang Zi bukan pangelan kakak lagi?” Zico menundukkan kepalanya di meja, dan menopang kepalanya dengan lengan.
Zanna mengangkat kepala adiknya lalu memeluk adiknya itu. Zanna tak kuasa menahan tawanya. Adiknya ini lucu.
“Zi tetap pangeran kak Za. Zi punya tuan putri dua, kak Za sama kak Ze. Masa kak Za cuma punya pangeran satu?” Zico menghapus air matanya.
__ADS_1
“Jadi kak Za mau punya pangeran lagi?” Zanna mengangguk.
“Zi tetap pangeran kakak yang paling kakak sayang kok. Uuuh! Lucunya!” Zanna mencium pipi adiknya yang montel itu.
“Tapi kenapa kak Za mau punya dua pangeran?” Zico sudah menghentikan tangisannya. Ia sudah merasa lega bahwa kakaknya itu masih menganggap ia sebagai pangeran.
“Karena yang mau kakak jadiin pangeran ini, ganteng, lucu, cool, hot, bapakable lagi,” Zanna kembali tersenyum-senyum sendiri. Zico tidak mengerti dengan apa yang diucapkan kakaknya itu.
“Tapi Zi, tetap gak mau pindah sekolah. Zi gak mau ninggalin teman-teman,” Zanna mengacak-acak rambut adiknya.
“Ya udah gak papa. Kakak akan berusaha agar bisa mendapatkan pangeran kakak. Zi berdo’a ya,” Zi mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu kembali mengerjakan tugasnya.
Zanna lalu berpikir, dengan cara apalagi agar ia bisa bertemu dengan pangerannya itu. Satu-satunya cara adalah dengan menjemput kakaknya. Tapi nanti kakaknya pasti akan bertanya-tanya terus, dan sebenarnya Zanna malas juga melakukannya. Zanna mengusir pikiran itu. Terserah saja kakaknya itu mau bertanya apapun, yang penting ia bisa bertemu dengan pangerannya. Zanna akan mencoba. Ia akan mencoba segala cara, yang penting tidak dengan cara kotor. Zanna tertawa sendiri.
“Kamu kesambet apa? Kok ketawa-ketawa sendiri?” kakaknya memandang Zanna ngeri.
“Gak ada, lagi seneng,” Zeva masih memandang adiknya ngeri, lalu pergi menuju dapur disusul Zanna.
“Kak! Mau masak?” tanya Zanna.
“Iya,” jawab Zeva.
“Porsi aku tetap dibikin ya,” pinta Zanna.
“Kan kamu mau makan malam sama Savi nanti,” Zeva memutar mata jengah. “Jangan bilang untuk tengah malam?” Zanna mencubit pipi kakaknya itu.
“Tau aja deh,”
“Melar badan kamu nanti,”
“Bodo amat! Selagi bisa makan, maka makanlah,” Zeva hanya menggeleng-gelengkan kepala.
“Oh iya, mulai besok, kakak aku yang antar jemput ya,” Zeva menatap adiknya curiga.
“Tumben, biasanya kamu ogah-ogahan. Bahkan kamu tega ngebiarin kakak sering pulang pergi naik ojek online. Paling sesekali kamu mau antar jemput kakak, kayak tadi aja kamu terpaksa kan,” ucap Zeva penuh selidik.
Zanna membenarkan dalam hati. Ia malas sebenarnya. Tapi demi pangerannya. Tidak apa jadi supir untuk kakaknya. “Gak kok, aku ikhlas kok. Aku mau berubah jadi adik yang baik, yang selalu mengantarkan kakaknya pergi bekerja, lalu menjemput kakaknya pulang bekerja,” Zanna melembut-lembutkan suaranya.
“Bohong, kamu tuh gak bisa bohong Za,” Zanna menghela nafas.
“Tinggal iyain apa susah sih, aku malas ditanya-tanyain” Zanna mengerucutkan bibirnya.
Zanna berteriak dalam hati. Mulai besok, ia akan sering melihat pangerannya itu. Betapa baiknya Yang Maha Kuasa. Zanna menari-nari menuju kamarnya. Bunda Zana yang melihat Zanna seperti itu terheran-heran.
“Zanna kenapa kak? Kok dia kegirangan banget Bunda lihat,” tanya Karin, Bunda mereka.
“Ntah lah Bun, kebanyakan nonton drakor paling,” jawab Zeva.
“Ooh,” Karin ber-oh ria.
...***...
Zanna telah di dalam mobil bersama Savian menuju restoran tempat mereka makan malam. Jika Zanna dan Savian sudah bersama jangan harap ada suasana sunyi diantara mereka. Di dalam mobil penuh dengan candaan receh dari Zanna. Savian hanya tertawa walaupun terkadang candaan Zanna tidak lucu. Zanna pun tahu sebenarnya candaanya tidak lucu, tapi memang karena selera humornya terlalu receh. Dia bisa tertawa terbahak-bahak.
“Lo tau gak sih tadi gue minta Zico buat pindah sekolah,” ucap Zanna.
“Pindah sekolah? Kenapa lo nyuruh adek lo pindah?” tanya Savian menanggapi.
“Biar gue ketemu sama pangeran. Emm...calon pangeran sih, tapi Zico gak mau. Jadi cara satu-satunya ya gue harus antar jemput kakak gue,” Savian tersenyum mendengarnya.
“Kali ini siapa lagi?” Savian sudah tahu perangai Zanna.
“Orang tua murid kakak gue,” Savian mengerutkan kening. Apakah Zannanya ini mau menjadi pelakor seperti di drama-drama yang booming saat ini?
“Udah nikah kan pasti? Lo gila ya,” Zanna terkikik, sudah tahu respon pria disampingnya ini akan seperti apa.
“Iya udah nikah, cuma kakak gue bilang dia udah gak punya istri. Istrinya udah meninggal,” Zanna kembali tersenyum-senyum sendiri mengingat pria duda tadi.
“Syukurlah, gue kira gara-gara ada drama yang tentang pelakor itu, lo mau ikutan jadi pelakor,” ucap Savian.
“Ya enggaklah, gila-gila aja. Walaupun gue ini seleranya aneh, tapi gue masih tau kali batasan gue,” Savian hanya menanggapinya dengan gumaman.
“Tapi sayang banget, gue gak tau namanya. Gara-gara syok dengar dia tadi punya anak, jadi lupa nanyain deh,” ucap Zanna sedih. “Oh iya Savi, gue mau nanya something sama lo,” Savian melirik Zanna sebentar lalu kembali fokus menyetir.
“Mau nanya apa?” tanya Savian.
__ADS_1
“Lo...emm...pernah suka sama gue gak?” Zanna gugup bertanya ini, ia takut suasana menjadi canggung.
Savian sebenarnya terkejut, selama ia berteman dengan Zanna baru kali ini dia ditanyai begini oleh Zanna. Tapi ia mencoba menutupi rasa terkejutnya.
“Ya gak pernah lah! Gila-gila aja gue suka sama cewek aneh kayak lo gini,” Zanna tersenyum, percuma ia gugup tadi.
“Syukurlah, gue juga gak mau kalau suatu saat gue menyukai lo ataupun lo menyukai gue? Eh gak sih, sebenarnya gue suka sama lo, tapi suka dalam artian yang berbeda. Sebagai sahabat tepatnya, ya pokoknya intinya gua takut aja kalau diantara kita suka, nanti hubungan persahabatan ini pasti beda," Zanna menatap Savian. Dia menyayangi Savian sudah dari lama, ia tidak mau kehilangan sahabatnya ini jika ia menyukainya. Makanya Zanna tidak pernah menganggap Savian masuk ke dalam list pria pendamping Zanna.
“Iya gue tau, lagian gue udah ada cewek yang gue suka, dan lo kan juga lagi ngejar pangeran lo,” Savian tersenyum mengingat itu.
“Siapa yang lo suka?” tanya Zanna penasaran.
“Satu kampus sama kita,” Zanna ber-oh ria menanggapi. “Kasih tau gue ya kapan-kapan,”
Savian mengangguk. Lalu akhirnya mereka sampai juga di restoran. Savian dan Zanna keluar berbarengan. Zanna menyukai restoran itu. Tempatnya bagus. Cocok dijadikan tempat foto-foto untuk mengisi feed media sosialnya.
“Gila sih bagus banget, ada outdoor nya lagi. Untung lo ngajak gue kan, kalau gak mungkin gue gak bakal tau, apalagi gue jarang lewat sini,” Savian tersenyum melihat ketertarikan Zanna.
“Cocok jadi tempat inspirasi lo kalau lo butuh ide, gue sekali kesini aja. Pikiran bisnis gue langsung berkembang, ada sihirnya kali nih tempat,” Zanna tertawa mendengar itu padahal kiasan ucapan Savian tidak lucu menurut kebanyakan orang.
“Receh banget lo. Ya udah, kita di outdoor aja ya, nikmatin suasana malam,” Zanna mengangguk. Ia dan Savian pergi menuju lantai dua restoran tersebut. Bukan restoran kelas atas memang. Karena restoran ini sepertinya dikonsep untuk kalangan muda, terbukti ada grup akustik yang menyanyikan lagu-lagu anak muda masa kini, dan Zanna menyukai itu. Sesuai dengan seleranya.
Zanna duduk di kursinya dengan perasaan ringan. Hawa udara malam itu begitu sejuk. Zanna melirik kesekitar, dan lagi-lagi ia melihat hal yang menarik perhatiannya.
“Savi!” panggil Zanna berbisik. Savian melirik ke arah Zanna dan memberikan tatapan bertanya.
“Itu cowok yang gue bilang,” Zanna menunjuk pria yang dimaksud. Zanna sembunyi-sembunyi menunjuk pria itu.
“Yang mana?” tanya Savian.
“Itu, yang dimeja pojok itu. Yang lagi liat laptop itu,” Zanna mencoba kembali memberitahu Savian.
“Yang mana sih?” Zanna memutar mata jengah. “Oh yang itu, masih muda kelihatannya,” ucap Savian setelah melihat pria yang dimaksud Zanna.
“Ya kan masih muda kan, gue aja gak ada kepikiran kalau tuh orang udah punya anak,” Zanna tersenyum. “Saviiiiii...makasih banget karena lo udah ngajak gue kesini. Besok-besok kalau kita pergi makan, biar gue traktir,”
“Iya-iya gue tunggu janji lo. Ya udah lo mau mesen apa?” Zanna langsung melihat menu dengan semangat.
“Sesuai ucapan lo tadi sore, cah kangkung terus...apalagi ya masa cah kangkung doang. Nah ini....nasi pake ayam geprek, gambarnya kelihatan menggoda, sama kayak orang yang dipojok itu,” Savian menggeleng-gelengkan kepala.
“Ya udah, minumannya rekomendasi dari gue aja ya,” Zanna mengangguk menyetujui ucapan Savian. Setelah Savian memberikan pesanan mereka pada pelayan. Zanna kembali mengoceh.
“Nanti abis makan, gue mau nyamperin tuh cowok,” Zanna tersenyum jahil ke arah Savian.
“Gila lo! Jangan malu-maluin Za,” ucap Savian.
Zanna menggeleng. “Tenang aja, kalau misalnya nanti gue malu-maluin. Gue mau lo langsung ke mobil aja. Biar gue aja yang malu, hehe,” Zanna menyengir dan Savian hanya menatap Zanna takjub. Perempuan dihadapannya ini benar-benar aneh dan selalu penuh dengan kejutan.
“Tenang aja, tanpa lo suruh. Gue akan melakukan itu,” ucap Savian kemudian.
...***...
...#pojokanauthor...
...assalamu'alaikum...
...masih dalam keadaan sehat kan kalian semua?...
...tetap jaga kesehatan nya ya, dan pastinya #dirumah aja...
...btw ini part 2...
...gmn? dpt gak feel-nya? trs Zanna nya bakal malu2in Savian gk ya?^^...
.......
...Tetap tunggu kelanjutan kisah Zanna ini^^...
...Jangan lupa like, vote, comment, dan share biar bnyk yg baca cerita ini^^...
.......
.......
...Wanita penghuni surga (Aamiin^^)...
...XOXO...
__ADS_1
...Leonita_Wi🍀🍁♥️...