
...“Apa sudah saatnya aku menyerah saja dengan segala usaha yang telah ku lakukan selama ini?”...
...***...
“Evi, apa jadwal saya hari ini telah selesai?” tanya Abi.
“Sudah tidak ada pak untuk hari ini. Hanya saja ada beberapa berkas yang mesti bapak urus,” balas Evila.
“Ya sudah, bawakan secepatnya ke ruangan saya,” Evila mengangguk menerima perintah dari atasannya itu. Lalu Abi berjalan mendahului Evila dengan tegas menuju ruang kerjanya. Beberapa pegawai yang berpapasan dengan Abi menyapanya yang dibalas anggukan dan senyum tipis.
Saat Abi membuka ruang kerjanya. Ada Chris yang duduk di sofa ruangan itu. Chris berdiri, lalu tersenyum ke arah Abi.
“Udah selesai lo ketemu sama klien?” Abi hanya mengangguk, ia segera melepaskan jasnya serta melonggarkan dasi dan membuka beberapa kancing bajunya. Ia lalu mendaratkan badan lelahnya di kursi kerjanya.
“Ada apa lo ke ruangan gue?” tanya Abi. Chris berjalan ke arah kulkas kecil yang ada di ruangan itu dan mengambil minuman kaleng yang ada disana. Chris tampak berpikir, ruangannya seharusnya juga mewah seperti ruangan Abi.
“Minta duit dong,” Abi mengernyitkan keningnya. Netranya menatap Chris dengan heran.
“Gaji lo udah gede. Ngapain minta duit sama gue,” ucap Abi sembari membuka laptopnya.
“Perbaikan ruangan kerja gue. Gue mau ruangan gue kaya ruangan lo,” Abi menatap Chris dengan malas.
“Tujuan lo apa sebenarnya kesini? Gue mesti ngurus berkas lain, kalau gak ada hal penting yang mau lo bicarain, pergi dari ruangan gue,” Chris berjalan ke arah Abi, lalu menutup laptop di hadapan Abi.
“Penting banget. Lo mesti dengerin gue,” ujar Chris.
“Apa?”
“Nanti malam gue mau ngajak lo ke club. Gimana? Gue juga ngajak Bimo, Tyler, sama Tama juga,” Abi menyandarkan badannya.
“Lo tau semenjak gue punya Ghania, gue gak bisa keluar malam terlalu lama. Ghania suka bangun tengah malam nyariin gue,” Chris mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Sebentar aja gimana. Kan ada Bu Nur, ntar sebelum tengah malam, lo kalau mau duluan pulang boleh aja,” Abi tampak berpikir, sudah lama ia tak berkumpul dengan temannya di sebuah club. Ia pun tanpa pikir panjang menganggukkan kepalanya, menyetujui ajakan Chris.
“Nanti gue kabarin alamatnya,” Chris pergi dari ruangan Abi.
Ah! Tunggu, sepertinya ada yang terlewat. Benar saja, Abi kemarin sudah berniat menemui Zanna untuk meminta maaf. Ia harus cepat menyelesaikan pekerjaannya.
“Evi, mana berkas yang mesti saya urus? Kenapa lama sekali?” tanya Abi melalui telepon ruangannya.
Setelah itu, Evila dengan tergopoh-gopoh masuk ke dalam ruangan Abi. Memberikan setumpuk kertas, Abi menghela nafas melihat betapa banyaknya berkas tersebut. Abi melirik ke arah jam tangannya, hari sudah hampir malam.
“Jika Chris mencari saya. Katakan saya ada urusan sebentar,” Abi mengambil tumpukan berkas tersebut. Ia berniat membereskannya dirumah saja. Ia harus cepat menemui Zanna.
Abi pergi menuju parkiran mobilnya. Saat ia akan melajukan kendaraannya. Ia langsung terpikir akan sesuatu. Dimana ia harus menemui Zanna? Ia tak tahu Zanna berada dimana saat ini dan lagi haruskah ia repot-repot menemui Zanna untuk minta maaf? Abi mengacak rambutnya.
Ia mengeluarkan handphonenya. “Evila, kirimkan nomor nona Zanna sekarang juga,” sebelum Evila menjawab. Abi telah mematikan sambungannya. Ia melihat ada notifikasi masuk. Saat melihat nomor yang diberikan Evila. Abi langsung menelpon nomor tersebut.
Selang berapa lama, akhirnya ada suara dari seberang yang menanggapi.
__ADS_1
“Hallo?” sapa suara Zanna.
“Zanna?” Abi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Apa yang harus ia katakan.
“Ya, saya Zanna. Ini siapa?” tanya Zanna. Lalu Abi mendengar ada suara tawa diseberang. Sepertinya Zanna sudah baik-baik saja dan juga sepertinya ia tak perlu menemui Zanna hari ini. Kapan-kapan saja jika mereka bertemu lagi.
Abi segera mematikan sambungan. Lalu menyimpan kembali handphonenya. Sedangkan diseberang sana, Zanna kebingungan. Siapa yang menelponnya? Tidak mungkin salah sambung, karena tadi suara milik seorang pria menyebut namanya.
“Siapa Za?” tanya Riana.
“Gak tahu. Gak jelas,” Riana hanya ber-oh ria.
Tapi suaranya seperti ia kenal. Tapi siapa? Entahlah.
...***...
“Yo! Akhirnya datang juga nih orang. Abis darimana lo?” ucap Tyler, salah satu teman Abi.
“Ada urusan,” Abi mengambil kursi disebelah Chris.
“Jangan pesan alkohol,” Abi melirik ke arah Chris, ia menghembuskan nafasnya pelan.
“Iya gue tau,” balas Abi. Ia hanya memesan segelas jus.
“Lo kemana aja selama ini baru ikut ngumpul sekarang?” tanya Tama, teman Abi yang lain.
“Banyak proyek yang mesti gua handle. Ditambah gue gak bisa sembarangan keluar malem. Ada Ghania,” jawab Abi.
“Abi, lo tahu gak, nih si curut. Mau cerai sama istrinya,” ucap Bimo sembari menunjuk Tyler.
Abi hanya diam sambil menatap Tyler meminta pembenaran akan ucapan Bimo. Tyler menyunggingkan senyum smirk sembari menenggak minumannya, “Udah capek gua ngehadapi tuh cewek. Mending cerai ajakan?”
“Emang Lylia ngapain sampai lo nyerein dia?” tanya Chris.
“Tuh cewek uaaaang mulu pikirannya. Bukannya ngurusin anak, malah sibuk kesana kemari ngumpul sama temen-temennya. Diego malah ditinggal sama baby sitter,” Tyler menenggak habis minumannya kemudian memesan kembali.
“Udah gitu tuh cewek psycho sumpah. Waktu gue tarik kartu kreditnya, gilaaa...dia ngamuk woi sampai banting-banting barang. Ya udah alhasil gue talak dia, nyokap gue juga nyuruh cerai,” Abi dan yang lainnya menganggukkan kepala mendengar cerita Tyler.
“Terus Diego gimana? Hak asuhnya?” tanya Abi.
“Gue udah bicarain ke pengacara gue. Tuh cewek gak akan gue biarin dia dapat hak asuh Diego dan juga dia gak akan dapat sepeser pun harta gue setelah cerai. Udahlah gue males bahas tuh cewek psycho. Gue mau ikut nari dulu,” Tyler meninggalkan teman-temannya dan pergi ke lantai dansa.
“Inilah salah satunya gue gak mau nikah. Ntar ketemu cewek kek Lylia bisa kacau,” seru Chris yang tak di gubris teman-temannya.
“Kita mau ngikut Tyler. Lo ikut kagak?” Abi menggelengkan kepalanya.
“Ya udah kita senang-senang dulu ya bro. Kalau ada cewek cakep, gas aja,” Abi mendengus mendengar ucapan Tyler.
Abi melihat teman-temannya itu tengah menari dengan wanita di sekeliling mereka. Abi menghembuskan nafasnya kasar, ia kemudian meminum minumannya. Ia melirik ke arah jam tangannya. Sepertinya sebentar lagi ia harus segera pulang.
__ADS_1
“Hai! Aku boleh duduk disini?” Abi melirik ke arah sumber suara. Betapa terkejutnya ia melihat seorang wanita disampingnya ini.
Tiba-tiba saja amarah Abi meluap. Ia mengepalkan tangannya, badannya bergetar menahan amarah. Wanita disampingnya itu menatap Abi bingung. Abi berusaha menenangkan dirinya. Ia menatap wanita itu dengan seksama.
“Emm... kamu baik-baik aja?” wanita itu menyentuh lengan Abi, yang sontak langsung ditepis Abi dengan kasar. Ia menatap wanita itu dengan tatapan yang menusuk.
“Jangan! Jangan sentuh saya!” ucap Abi ketus. Abi langsung berlari keluar. Ia berjalan menuju parkiran tempat mobilnya berada. Abi segera masuk ke dalam mobilnya. Ia memukul stir mobil sekuat mungkin. Wanita yang menyapanya tadi. Wajahnya begitu mirip dengan Arabella. Abi bahkan merasa Arabella lah yang berada dihadapannya tadi. Abi menarik nafasnya perlahan.
Ia kemudian mengendarai mobilnya. Berniat pulang, jika ia kembali kedalam club, bisa saja ia kembali bertemu dengan wanita itu dan bisa saja emosinya kembali meluap bahkan lebih parah.
Abi tiba-tiba saja teringat Zanna. Sepertinya rasa bersalah pada Zanna kembali muncul. Ia harus menuntaskannya malam ini. Abi menepikan mobilnya, lalu merogoh saku dan mengambil handphonenya. Ia menghembuskan nafasnya perlahan sebelum memutuskan menelfon nomor Zanna.
Kenapa ia bisa tiba-tiba teringat Zanna? Abi menggelengkan kepalanya, ia langsung menekan tombol panggilan. Selang beberapa lama, panggilan tersambung.
“Hallo?” Abi memejamkan matanya mendengar suara Zanna. Kenapa ia tega malam itu meninggalkan gadis ini? Sekalipun Zanna membuat ia risih, tak seharusnya ia pergi meninggalkan Zanna malam itu. Dimana rasa kemanusiaannya?
“Zanna. Ini saya Abi,” akhirnya ia bersuara membalas sautan Zanna.
“Ooh pak Abi. Sebentar pak,” terdengar suara rusuh diseberang sana.
“Ada apa ya pak nelfon saya malam-malam begini?” tanya Zanna kemudian.
“Zanna. Sa-saya...minta maaf,” diseberang sana Zanna kebingungan. Kenapa Abi menelfonnya dan tiba-tiba meminta maaf?
“Minta maaf untuk apa pak?” Abi menghela nafasnya pelan.
“Zanna, saya minta maaf untuk malam itu. Maafkan saya,” ucap Abi akhirnya.
"Maaf,"
.
.
.
...Yeay! Akhirnya aku bisa update:)...
...Timekacih buat kalian yang udah baca MHC ini....
...Support aku terus agar aku bisa semangat update;)...
...Btw, aku mau minta saran nih, kira-kira visual untuk karakter MHC ini kalian maunya pake orang mana? Baratkah? Koreakah:)? Indonesiakah? Kalau visual yang aku siapkan orang barat sih, cuma aku mau minta saran dari kalian niiih hehe :D...
...Jangan lupa vote, comment, share, dan likenya ya^^...
...Aku akan berusaha update secepatnya^^...
^^^The Yelion♥️🍁🍀^^^
__ADS_1
^^^XOXO^^^