My Heart Choice

My Heart Choice
1• Papa Muda


__ADS_3

..."Bagaimana caranya agar kamu bisa melihat ke arahku sekali saja? Bukankah aku yang selalu ada untuk kamu? Apakah ternyata aku yang selalu ada kalah dengan yang baru datang dihidupmu?"...


...***...


Zanna mengendarai mobilnya dengan sedikit kesal. Bagaimana tidak, ketika ia sedang asiknya di toko buku. Bundanya menelfon dan menyuruh ia menjemput kakaknya. Ia mencoba menenangkan diri dengan menghidupkan lagu-lagu. Zanna melirik jam di dashboard mobil. Sebentar lagi kakaknya selesai bekerja.


Sesampainya Zanna di tempat kakaknya bekerja. Zanna menidurkan dirinya sebentar, masih ada waktu baginya untuk memejamkan mata. Belum sampai semenit Zanna memejamkan mata, handphonenya berdering. Ia melihat siapa yang mengganggu waktu istirahatnya yang sangat sebentar ini. tapi saat melihat siapa penelfon, Zanna langsung menegapkan badannya.


“Assalamu’alaikum Zanna,” suara diseberang.


“Wa’alaikumsalam, iya Bunda,” Zanna membuat suaranya super lembut.


“Kamu udah dimana, nak? Gak lupa kan untuk jemput kakak?” Zanna menganggukkan kepalanya dan ia sadar bahwa anggukannya itu tidak dapat dilihat bundanya.


“Gak lupa kok Bun, ini udah di depan,” Zanna kembali menyandarkan badannya.


“Ya udah, Bunda mau mastiin aja sekalian mau nitip sesuatu,”


“Mau nitip apa, Bun?” tanya Zanna.


“Nanti mampir ya ke toko kuenya Tante Biba, beliin bolu pisang sama brownies yang atasnya kacang almond jangan keju. Tadi Bunda udah telfon Tante Biba, jadi tinggal ambil sama bayar, oke anakku,” Zanna tersenyum.


“Oke Bun, nanti aku nambah kue boleh ya,” ucap Zanna dengan nada merayu.


“Ya udah, dasar anak Bunda satu ini, jangan sering ngemilin makanan yang manis-manis kamu, diabetes nanti nak,” Zanna tertawa sambil mengalihkan pandangannya pada sekitar, dan terpaku dengan apa yang baru saja dilihatnya.


“Bun, Zanna tutup ya telfonnya, dadah Bun. Assalamu’alaikum muaahh,” Zanna langsung menutup telfon sebelum Bundanya menjawab salam. Ia langsung keluar dari mobil dan ia menghampiri apa yang dilihatnya tadi.


Zanna memperhatikan apa yang dilihatnya, tiba-tiba jantung Zanna berdebar tak karuan. Zanna mengutuk dirinya karena mudah sekali berdebar pada pria yang baru ia jumpai. Zanna tersenyum ramah lalu menyapa pria yang membuat ia terpana tadi.


“Selamat pagi menjelang siang,” orang yang disapa Zanna menoleh ke arahnya lalu ke arah lain. Ia menunjuk dirinya.


“Kamu nyapa saya?” Zanna mengangguk dan tersenyum dengan manis. “Kenapa nyapa saya?” tanya pria itu.


Zanna tetap tersenyum, “Gak ada pengen nyapa aja,” pria itu mengangguk.


“Pagi juga,” ucap pria itu dengan nada datar.


“Kenalin nama saya Zanna Letta Kirania, panggilannya Zanna,” Gadis itu masih mempertahankan senyumnya walaupun ia tahu pria dihadapannya tidak menghadap ke arahnya dan seperti tidak peduli padanya. “Wajar pertama kali ketemu,” batin Zanna.


“Saya gak nanya dan tidak ingin tahu,” ucap pria itu dingin tanpa menatap Zanna.


Zanna masih berusaha tersenyum dan bersabar. “Gak papa, cuma ngasih info aja, siapa tau kamu ketemu aku di suatu tempat nanti,”


“Saya gak butuh info nama kamu dan saya juga berharap gak ketemu kamu disuatu tempat nanti,” pria itu masih tidak menatap Zanna. “Cewek gila” batin pria itu.


Belum sampai Zanna berbicara, bel yang memekakkan telinga berbunyi dan pria itu pun celingukan mencari orang. “Kamu mau jemput adik kamu?” tanya Zanna.


“Bukan,” pria itu masih mencari-cari orang yang dicarinya. Anak-anak murid TK sudah berhamburan keluar, tapi salah satu anak yang dicari pria itu belum tampak dipenglihatannya.


“Terus ngapain disini? Oh jangan-jangan kamu penculik anak ya, kamu ganteng-ganteng kok penculik,” pria itu memutar matanya kasar.


“Bisa diam gak! Saya bukan penculik anak!” ucap pria itu dengan nada ketus.


“Syukurlah, lagian masa seganteng kamu mau nyulik anak,” Zanna mengurut dadanya.


“Papa!” teriak seorang anak perempuan menghampiri pria itu.


Pria itu berjongkok, lalu memeluk anak perempuan itu. “Tumben lama keluarnya sayang?” ia mencium pucuk kepala anak tersebut. Zanna hanya terdiam memperhatikan.


“Eh ayahnya Ghania, tadi Ghania buang air kecil dulu, makanya terlambat keluarnya,” ucap guru anak perempuan tersebut yang tidak lain kakaknya Zanna, Zeva. Pria itu mengangguk dan tersenyum. Ia berdiri lalu pamit pada Zeva dan tidak dengan Zanna.


“I-itu anak kamu?” langkah pria itu tertahan mendengar pertanyaan Zanna. Ia menatap Zanna dan terkejut melihat mata Zanna berkaca-kaca. Tapi ia tidak peduli, ia menganggukkan kepalanya. “Kandung?” tanya Zanna lagi, kini air mata yang tertahan dimatanya turun membasahi pipinya. Pria itu mengangguk kembali, lalu pergi menggendong anaknya menuju mobil mereka.


Zanna menangis, ia kembali mengutuk dirinya, kenapa ia mudah sekali menangis dengan hal yang bahkan sepele. Zeva memperhatikan Zanna lalu mengguncang bahu Zanna. “Kamu kenal?” tanya Zeva. Zanna tidak menggubris, ia pergi menuju mobilnya.


Zeva yang heran dengan adiknya itu segera menghampiri.


“Kamu kenapa nangis Za?” tanya kakaknya.

__ADS_1


“Nggak ada, gak usah hirauin aku. Oh iya, Bunda nyuruh beli kue di tempat Tante Biba tadi,” Zeva mengerutkan kening.


“Aku lupa tokonya dimana, kakak arahin nanti,” Zanna segera menjalankan mobilnya. Ia merasa sakit hati mendengar bahwa pria itu sudah punya anak dan pastinya sudah menikah. Ia menyukai pria itu, jatuh cinta pada pandangan pertama kah?


Saat diperjalanan, Zanna hanya terpaku ke arah jalanan.


“Kamu belum jawab pertanyaan kakak tadi. Kamu kenal sama cowok tadi?” tanya Zeva masih penasaran.


Zanna hanya menggeleng. “Terus tadi kok bisa kamu bicara?” Zanna menghela nafas.


“Emang sejak kapan aku gak bisa bicara? Ini aku lagi bicara,” Zeva memukul pelan kepala adiknya itu.


“Bukan itu maksud kakak, maksudnya kenapa bisa bicara sama papanya Ghania tadi kalau emang gak kenal? Gak mungkin kan kamu tiba-tiba ngajak dia bicara?” Zanna berasa dihunus pedang, memang begitu kenyataannya.


“Emang gitu,” ucap Zanna.


“Apanya emang gitu?” Zanna merasa ingin melakban mulut kakak nya ini.


“Emang aku yang tiba-tiba ngajak cowok tadi bicara,” ucap Zanna kesal.


Zeva tertawa. Adiknya ini memang sedikit sakit sepertinya. Zeva mengambil botol minumnya. Meminum habis air didalamnya. Lalu kembali tertawa. Zanna mencengkram stir mobil dengan kuat. Ia kesal. Sudah dihadapi dengan kenyataan yang begitu pahit. Ditambah suara tawa kakaknya yang begitu menyebalkan.


“Bisa diam gak sih! Aku sumpal mulut kakak mau!” bukannya berhenti Zeva malah makin keras tawanya.


“Kamu gila Za, asli. Orang yang baru kamu temui tiba-tiba kamu ajak bicara gitu. Kakak udah bayangin sih pasti kamu nyapanya kegirangan banget kan?” Zanna tak menjawab ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Lagian itu beneran anak kandungnya?” tanya Zanna mencoba untuk mengalihkan pikiran kakaknya itu.


Zeva berhenti tertawa, “Iyap,” Zanna merasa lemas mendengarnya.


“Berarti udah nikah lah ya?” Zeva mengerutkan kening, pertanyaan bodoh apa itu.


“Ya iyalah, kalau belum nikah tapi punya anak kandung gimana ceritanya. Kamu udah mau sarjana masih aja punya pertanyaan bodoh gitu,” Zeva menjitak kepala adiknya pelan. “Tapi kakak dengar-dengar dari guru lain, dia udah gak punya istri sih,” telinga Zanna langsung menangkap itu dengan cepat. Zanna tiba-tiba tersenyum.


“Cerai?” tanya Zanna.


“Katanya sih meninggal,” Zanna berpikir, pria tadi tampak masih muda, tidak terlihat sama sekali bahwa pria itu telah menjadi seorang ayah.


“Karena emang masih muda, masih kepala dua kok kakak dengar dari guru-guru lain,” Zanna terbelalak.


“Seriously?!” Zeva hanya mengangguk.


“Disana belok kiri,” Zanna menyetir mobilnya dengan senang. Ada kesempatan. Ia berharap bertemu dengan pria itu suatu hari nanti. Tidak peduli mau dia duda, mau dia punya anak, mau dia apa pun itu, Zanna sudah menyukai pria itu. Mungkin benar, dia jatuh cinta pada pandangan pertama.


“Nah itu tokonya,” ucap Zeva memecah lamunan Zanna akan pria itu.


Setelah Zanna memakirkan mobil. Ia dan Zeva masuk ke dalam toko itu. Berhubung pemilik toko itu ada disana.


“Hai cantik! Udah lama ya gak ke toko Tante,” Zanna terkikik lalu memeluk Biba begitu juga Zeva.


“Iya ya udah lama juga, abisnya setiap Bunda mesen pasti minta antar sama kurir toko. Ini tumben-tumbenan aja Bunda nitip,” ucap Zanna.


“Ya udah kalian langsung ambil pesanannya atau mau milih makanan yang lain dulu?” tanya Biba.


Zanna dan Zeva memutuskan untuk memilih makanan yang ada disana dulu. Sudah lama mereka tidak ke toko milik Biba itu. Membuat mereka kalap dengan keragaman makanan yang ada disana.


 


Perut Zanna tergoncang melihat makanan yang menarik nafsu makannya itu. Ia mengambil berbagai macam makanan dan memasukkan ke keranjang. Tengah asik memilih makanan. Seseorang menepuk bahu Zanna yang lantas membuat Zanna kaget bukan kepalang.


 


“Banyak amat tuh makanan yang dipilih,” setelah melihat siapa yang mengganggu kenikmatan hakikinya. Zanna memutar mata jengah.


“Apaan sih ganggu aja! Awas! Jangan nodai pemandangan indah ini,” Zanna mendorong pelan bahu orang itu.


“Gak rindu gitu sama gue?” Zanna kembali memutar matanya jengah.


“Savian Resvan Zachery, tolonglah, tiap hari gue ketemu lo, ngapain juga rindu. Yang ada eneg gue liat muka lo tiap hari, kagak di rumah, kagak di kampus. Sekarang disini, muka lo aja yang gua liat,” cerocos Zanna.

__ADS_1


“Bukan Resvan tapi Rezvan chubbyku,” ralat Savian.


“Bodo amat, ngapain lo disini?” Zanna kembali memilih-milih. Diikuti Savian dibelakang.


“Kan gak salah gue disini, orang yang punya toko emak gue,” Zanna lupa akan hal itu.


Savian Rezvan Zachery. Teman masa kecilnya, tetangganya, teman Paud, TK, SD, SMP, SMA, bahkan kuliah mereka di tempat yang sama. Kedekatan orang tua mereka membuat Zanna dan Savian berteman hingga saat ini. Saking dekatnya, mereka sering merayakan ulang tahun bersama padahal jarak tanggal lahir mereka jauh. Savian Maret dan Zanna Agustus. Orang tua Savian menyuruh Savian menunggu sampai bulan Agustus untuk merayakan ulang tahunnya. Agar bisa samaan dengan Zanna, itu yang dijawab orang tua Savian jika ditanya. Sampai-sampai teman-teman mereka, menyangka mereka lahir ditanggal yang sama. Zanna tersenyum mengingat kebersamaan dia dan Savian.


“Kok ngelamun?” Zanna tersadar lalu menggelengkan kepala. Ia kembali berkutat dengan makanan. Tidak dipedulikannya Savian yang terus mengoceh di belakangnya.


Zanna dan Zeva yang telah selesai melakukan urusannya. Berniat untuk pulang. Tapi ketika Zanna akan masuk mobil, Savian menahan tangannya.


“Pulang sama gue ya?” pinta Savian. “Ada yang mau gue omongin,” lanjutnya.


“Lo lupa?” Savian mengerutkan keningnya. “Kakak gue masih belum bisa naik mobil,” Savian menepuk jidatnya.


“Oh iya gue lupa. Sorry-sorry,” ucap Savian.


“Emang ada apa nyuruh gue pulang sama lo?”


“Ngajak makan siang bareng, ada tempat baru buka, enak katanya,” Savian tersenyum lebar. Zanna memegang pipi Savian. Lalu mengangkat kantong belanjaannya dihadapan Savian.


“Kalau udah ada ini, gue kayaknya gak akan makan siang sapi alias Savi,” Savian mencubit pipi Zanna.


“Gak papa lah abis makan tuh kue-kue lo makan siang lagi. Orang Indonesia itu belum makan namanya kalau belum makan....,” ucapan Savian terpotong.


“Dek, bisa gak pacaran nanti aja. Badan kakak pegel. Mau pulang,” rengek Zeva.


“Apanya yang pacaran?! Gila ya!” Zeva hanya terkikik, lalu kembali masuk ke mobil.


“Ya udah pulang gih, kalau dinner gimana?” Zanna mengangguk mengiyakan ajakan Savian.


“Cah kangkung disana katanya enak, lo pasti suka,” ucap Savian.


“Yayaya ingatin aja sore nanti, takut lupa. See ya Savi ku,” Zanna masuk kedalam mobil. Lalu mobilnya pergi dari hadapan Savian.


Savian melihat mobil Zanna pergi. Ia tersenyum.


.......


.......


.......


...#pojokanauthor...


...Yeay part 1 update...


...Dapatkah feel-nya? Aku harap dapat ya^^...


...Galak ya ayahnya Ghania XD...


...Papa muda dia ituuuuu, makanya Zanna suka hahaha^^...


...Nanti di part selanjutnya bakal ditampilkan kegilaannya Zanna hehe...


...Tetap nantikan part selanjutnya ya teman-teman^^...


.......


...Jangan lupa like, rate, comment, dan bantu aku meng-share cerita ini, biar banyak lagi yang baca^^...


.......


...Pantengin terus cerita aku^^...


.......


...Wanita penghuni surga (Aamiin^^)...

__ADS_1


...The Yelion♥️🍁🍀...


...XOXO...


__ADS_2