My Heart Choice

My Heart Choice
7• Toko Mainan


__ADS_3

..."Pegangan tanganmu itu membuat jantungku berdebar. Ingin terbang rasanya. Tanganmu yang besar itu terasa hangat"...


...***...


“Gue pinjam baju lo ya Ri,” Zanna tengah membuka lemari Riana, mencari-cari baju yang sekiranya cocok


“Gue larang pun lo bakal tetap makai baju gue,” Riana saat ini tengah menonton drama korea sembari memakan cemilan.


Zanna tertawa, lalu setelah mendapatkan baju yang akan ia kenakan. Ia segera beranjak menuju kamar mandi, mandi dan mengganti bajunya. Lalu berdandan sedikit, tentunya masih menggunakan barang-barang milik Riana.


“Udah cantik belum?” Riana melirik ke arah Zanna. Lalu ia mengangguk.


“Ada yang kurang gak?” tanya Zanna lagi.


“Ngapain lo harus perfect banget? Niat banget lo balas dendam?” Riana menghentikan sejenak kegiatan menonton drama. Ia melihat Zanna dari atas sampai bawah. Cantik. Memakai apapun Zanna akan tetap cantik. Padahal yang Zanna kenakan saat ini hanya atasan polos warna maroon dan celana kulot warna putih.


“Anggap aja emang gue niat banget buat balas dendam,” Zanna melihat kembali dirinya lewat cermin. Zanna memegangi pipinya. “Gue manis banget sih,”


Riana mendengus. “Eh Za. Tapi apa lo gak pernah berpikir? Cowok yang putus dari lo bukan hanya karena mereka mata keranjang yang gak bisa setia sama satu orang. Bisa jadi karena sikap lo yang buat mereka selingkuh,” Zanna memutar badannya mengarah ke hadap Riana.


“Sikap gue yang gimana? Gue gak pernah dekat sama cowok lain selama pacaran sama seseorang. Gue gak pernah rewel jadi cewek, gue gak posesif, walaupun gue gak posesif gue juga gak cuek-cuek amat,” Riana diam sejenak tampak berpikir.


“Kalau itu lo mesti tanyain ke mereka yang putus karena selingkuh dari lo,” Zanna memutar matanya.


“Ri, untuk apa nanyain lagi? Emang gak bisa diomongin baik-baik dulu? Kenapa harus selingkuh?” Riana mengedikkan bahunya.


“Tapi coba nanti lo tanyain gitu sama Jordan. Apa alasan dia dulu bisa selingkuh dan berakhir mutusin lo?” ucap Riana.


“Tau ah, liat ntar aja kalau ingat gue tanyain. Btw kok belum datang ya si Jordan?” Riana kembali hanya mengedikkan bahunya.


Setelah Zanna mengucapkan itu. Bunyi bel rumah Riana berbunyi. Tebakan Zanna sepertinya itu adalah Jordan. Dan benar saja, ibu Riana berteriak.


“Zanna! Ini ada orang yang namanya Jordan nyariin kamu!” teriak ibu Riana.


“Iya bu! Tolong bilangin tunggu sebentar!” balas Zanna dengan teriak pula.


Zanna melihat kembali ke arah cermin. Ketika merasa tidak ada yang kurang, ia berjalan menuju rak sepatu Riana dan mengambil sepatu milik Riana.


“Gue balikin pas lo ke rumah gue,” Riana hanya melemparkan bantal ke arah Zanna, namun dapat dielak Zanna. Ia berjalan menuruni tangga, lalu melihat ibu Riana, Hilda. Tengah berbicara dengan Jordan.


“Ibu, Zanna pamit ya. Nanti Zanna langsung pulang, jadi gak balik kesini,” Zanna menyalami tangan Hilda.


“Loh gak nginap disini? Udah lama kamu gak nginap disini,” ucap Hilda.


“Udah lamaan apaan bu. Baru tiga hari yang lalu Zanna nginap disini,” Hilda tertawa. Lalu setelah itu Zanna dan Jordan pamit. Riana turun dan menghampiri ibunya.


“Kak itu siapa Zanna? Pacar?” tanya Hilda pada putrinya.


“Bukan bu. Mantan Zanna,” Hilda memasang tampang takjub.


“Keren ya Zanna, walaupun udah putus masih jalan sama mantannya. Lah kamu boro-boro jalan sama mantan. Pacar aja gak ada,” Hilda pergi setelah mengucapkan itu.


“Ibu! Belum ada laki-laki yang pas!” teriak Riana pada ibunya yang telah berada di dapur.


“Gimana mau dapat yang pas? Selera kamu itu tinggi banget, harus yang seperti Lee Min Ho atau Lee...Lee apa tu satu lagi?” Riana mendengus.


“Lee Jong Suk. Ihh ibu...nanti Riana bakal dapat pacar kok,” Riana berlari ke arah kamar. Jika tidak ibunya akan terus mengoceh.


...***...


Zanna dan Jordan makan malam dengan tenang. Setelah Zanna menghabiskan makanannya, ia memperhatikan Jordan yang masih makan. Merasa diperhatikan, Jordan jadi kikuk. Ia makan dengan kaku.


“Ke-kenapa ngelihatin aku Za?” tanya Jordan.


“Emang iya aku lihatin kamu?” Jordan diam. Tak tahu menjawab apa. Ia pun kembali melanjutkan makan.


“Boleh aku tanya sesuatu?” tanya Zanna yang membuat Jordan kembali menghentikan makannya.


“Nanya apa?” Jordan menaikkan alisnya.


“Kenapa dulu kamu selingkuh dan mutusin aku?” selera makan Jordan hilang. Ia meletakkan sendok dan garpunya. Jordan menundukkan kepalanya, merasa malu. “Apa sikap aku yang buat kamu melakukan itu? Adakah sikap aku yang buat kamu kesal?” lanjut Zanna


“Nggak Zanna. Gak ada yang salah dari sikap kamu dulu. Emang aku aja dulu yang brengsek,” ucap Jordan.


“Emang sekarang udah gak brengsek?” tanya Zanna ceplos, ia tak memperhatikan bagaimana ekspresi Jordan yang menahan rasa malu saat itu. Jordan hanya diam.

__ADS_1


“Jadi canggung ya? Sorry. Ya udah habisin makanan kamu, atau udah gak selera ya?” Zanna lagi-lagi membuat Jordan tak dapat membalas ucapannya. Zanna tidak peduli mau Jordan canggung atau pun tidak. Ia melihat ke sekeliling, lalu melihat ke arah luar, berhubung tempat mereka duduk saat ini dekat jendela besar yang mengarah ke jalanan.


Sesaat tak ada yang menarik. Namun setelah Zanna melihat seorang pria berjalan melewati cafe tempat Zanna makan malam, dan tepat berjalan melewati pandangan Zanna. Ia segera berjalan keluar, tidak peduli tatapan bingung Jordan yang ditinggal pergi.


Zanna mengejar pria yang ia yakini Ivan. Berulang kali Zanna memanggil nama Ivan, namun tidak digubris sama sekali. Pria itu berjalan dan masuk kedalam toko yang menjual mainan anak-anak. Zanna pikir, ia pasti membelikan mainan untuk anaknya. Zanna pun ikut memasuki toko tersebut, namun ia kehilangan sosok pria itu. Zanna mengelilingi rak demi rak, berusaha agar tidak terlihat mencurigakan. Zanna berpura-pura memilih-milih mainan.


Lalu Zanna menepuk pundak yang ia yakini Ivan. Namun ternyata sosok yang ia tepuk bukan Ivan. Zanna mengucapkan maaf pada orang itu, dan beralih ke sisi lain, Zanna menundukkan kepala disana.


“Kok gak ketemu sih,” gumam Zanna.


“Permisi, bisa geser sedikit?” Zanna tersenyum, ia kenal suara ini. Suara orang yang ia cari. Saat Zanna mengangkat kepalanya, ternyata benar. Ivan yang dicarinya berada dihadapannya.


Pria itu membelalakkan matanya. Ia langsung berbalik arah dan pergi menghindari Zanna. Pria itu berjalan dengan cepat, namun Zanna pun juga mempercepat langkahnya. Pria itu berhenti, dan untuk kedua kalinya. Zanna menabrak punggung pria itu. Zanna meringis sedikit.


“Kalau gue pergi dari toko ini, sedangkan gue belum beli mainan yang gue janjiin ke Ghania. Gue gak nepatin janji, tapi kalau gue masih disini, gue yakin nih cewek pasti bakal ngikutin gue,” bathin pria itu. “Bodo amatlah, demi Ghania,” lanjut bathin pria itu.


Pria itu berbalik arah, dan berjalan menuju rak tempat ia bertemu Zanna tadi. Ia melihat mainan-mainan yang ada disana. Sedangkan Zanna, benar saja ia mengikuti pria itu. Tapi kali ini Zanna diam, tidak ingin merecoki pria itu. Ia tidak mau membuat pria itu pergi dengan cepat seperti yang sudah-sudah.


Tapi tetap saja, Zanna yang sudah berniat diam itu, merasa gatal ingin berbicara. Zanna menghela nafasnya, dan akhirnya mengeluarkan suara.


“Boleh minta nomor kamu gak?” pria itu diam, lalu melihat ke arah Zanna.


“Kamu ngomong ke saya?” tanya pria itu.


“Ya iyalah. Emang siapa lagi?” pria itu kembali berkutat dengan mainan yang ia cari untuk putrinya.


“Yah dikacangin lagi,” Zanna kembali diam. Lalu tiba-tiba handphonenya berdering. Zanna merogoh celana kulotnya itu. Melihat siapa yang menelfon, ternyata Jordan.


Zanna menepuk dahinya. Ia lupa bahwa ia pergi ditengah-tengah makan malam dengan Jordan. Zanna menggeser tombol ke arah tombol hijau, lalu menempelkan benda persegi itu ke telinganya. Suara khawatir Jordan terdengar pertama kali.


“Zanna! Kamu dimana? Baik-baik aja kan? Kok pergi tiba-tiba,” Zanna menggigiti kuku jarinya. Ia merasa bersalah pada Jordan.


“A-anu Jordan. Maaf ya aku pergi tiba-tiba, ada urusan mendadak,” terdengar helaan nafas Jordan.


“Tapi kamu baik-baik aja kan?” tanya Jordan lagi.


“Iya, aku baik-baik aja,” balas Zanna.


“Masih lama? Aku masih dicafe, nungguin kamu,” Zanna melirik ke arah pria itu.


“Za! Kamu dengar aku?” lamunan Zanna buyar.


“Eh iya, apa tadi? Suara kamu hilang gak dengar jelas,” alasan Zanna.


“Aku tetap tunggu kamu aja, lama juga gak apa-apa. Asal kamu gak pulang sendiri,” Zanna menghela nafas.


“Kamu tahu urusan aku apa sekarang ini?” tanya Zanna.


“Urusan apa?” balas Jordan.


“Aku lagi ngejar orang yang aku suka, dia lagi di depan aku. Tapi dia cuek,” Zanna mengeraskan suaranya ketika membicarakan hal tadi. “Kamu masih mau nungguin aku walaupun urusan aku yang seperti aku bilang tadi?”


Agak lama, Jordan terdiam. “Ma-masih. Aku tunggu kamu,” lalu sambungan dimatikan dari Jordan. Zanna mengerucutkan bibirnya. Jordan terlalu keras kepala.


Zanna menyimpan kembali handphonenya kedalam saku. “Kamu belum jawab permintaan aku tadi, boleh gak aku minta nomor kamu?”


“Gak,” jawab pria itu.


“Udah aku duga,” Zanna berdecih, lalu melihat pria itu masih saja kebingungan mencari mainan.


“Kamu nyari mainan yang gimana? Dari tadi sepertinya gak dapat-dapat,” pria itu melihat ke arah Zanna. Sebenarnya gengsi meminta tolong pada perempuan disampingnya ini. Tapi cara agar ia bisa cepat keluar dari toko ini dan menghilang dari perempuan ini adalah dengan meminta bantuan.


“Saya bingung kalau disuruh milih barang. Sebenarnya saya udah dapat, tapi...tapi saya bingung mau pilih yang mana,” jika boleh berteriak, ingin rasanya Zanna teriak.


“Lucu banget. Gemesss...kenapa harus malu-malu sih, makin suka kan aku,” teriak Zanna dalam hati. Lalu Zanna melihat mainan yang berada ditangan pria itu.


“Bagusan yang ini. Lebih lengkap. Biasanya anak-anak suka yang lengkap gini, apalagi anaknya cewek. Kalau lengkap begini, biasanya bakal naikin semangat mereka,” pria itu menganggukkan kepalanya. Ia pun meletakkan mainan yang satunya pada tempatnya.


“Makasih,” setelah berterima kasih pria itu pergi menuju kasir, diikuti Zanna dibelakang.


Mereka pun keluar dari toko tersebut. Pria itu berdiri didepan Zanna. “Sekali lagi saya ucapkan terima kasih,”


Zanna mengangguk dan tersenyum lebar. “Kembali kasih,”


“Kalau begitu, saya pamit dulu,” ucap pria itu.

__ADS_1


“Tunggu! Minta nomor handphone kamu dulu,” pinta Zanna.


“Maaf, saya tidak bisa memberikan nomor saya ke orang yang belum saya kenal,” tolak pria itu.


“Ya makanya kenalan, biar kata belum kenal berubah jadi kata sudah kenal,” Zanna tersenyum lebar menampilkan deretan gigi putihnya.


Pria itu terdiam. Tampak berpikir. Lalu membuka handphonenya, dan seperti tengah menghafal sesuatu. “Bimo itu dosen kamu?” tanya pria itu kemudian.


Zanna mengangguk. Pria itu pun ikut mengangguk-anggukkan kepalanya. Pria itu merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah pena. Lalu kembali merogoh saku jasnya.


“Maaf saya gak ada kertas. Oh iya tadi kamu bawa handphone kan? Sini handphone kamu, biar saya simpan nomor saya,” saat Zanna baru akan mengeluarkan handphonenya. Tiba-tiba ia berpikiran sesuatu.


“Aduh! Handphone aku habis batrai gara-gara nelfon tadi. Emm...kamu tulis di tangan aku aja gimana?” Zanna menyodorkan tangannya.


Pria itu melihat tangan Zanna. Enggan sebenarnya, namun ya sudahlah, daripada ia terjebak makin lama dengan perempuan ini.


Pria itu menggapai tangan Zanna, lalu menuliskan sebuah nomor ditangan mungil itu. Setelah menuliskannya, dengan segera pria itu melepas pegangan tangannya pada Zanna.


“Itu nomor saya. Kalau gitu saya pamit,” Zanna menganggukkan kepalanya semangat.


“Hati-hati. Dadah...nanti aku telfon ya, lima menit aja,” pria itu tidak menggubris. Ia pergi dari hadapan Zanna.


Zanna meloncat-loncat kegirangan. Ia lalu segera kembali ke cafe tempat Jordan menunggunya. Jordan tengah memainkan handphonenya. Senyuman Zanna hilang berganti keluhan kecil.


“Maaf ya lama,” ucap Zanna mengejutkan Jordan. Zanna duduk dikursinya tadi.


“Eh iya gak apa-apa,” Jordan tersenyum. “Masih mau makan sesuatu?” Zanna hanya menggeleng. “Mau ke suatu tempat?” Zanna kembali menggeleng.


“Terus? Ohh masih mau disini?” Zanna tetap menggeleng.


“Aku mau pulang, lagian udah malam juga,” Zanna menggigit bibirnya.


“Aku buat kamu gak nyaman ya?” tanya Jordan.


“Nggak kok. Aku cuma pengen pulang aja,” balas Zanna.


“Kita baru ketemu sebentar. Aku juga masih mau ngomong sesuatu,” Zanna memejamkan matanya sejenak, lalu membuka matanya.


“Ya udah. Kamu mau ngomong apa?” Zanna melihat ke arah Jordan.


“Ka-kamu mau balikan sama aku? Aku udah berubah Za. Aku gak bakal kaya dulu lagi, aku benar-benar udah berubah. Aku gak jadi Jordan yang brengsek lagi,” Zanna menghela nafas. Ia terdiam cukup lama, yang membuat suasana diantara mereka semakin canggung. Degup jantung Jordan pun tak karuan, begitu juga Zanna.


.......


.......


.......


...#pojokanauthor...


...Ini part paling panjang^^...


...2000 word lebih...


...Niatnya masih mau lanjutin, bagian Zanna sama Jordan ngobrol cuma ini aja udah panjang apalagi kalau aku tambah....


.......


...Aku mau kasih kabar juga...


...Kalau aku update cerita setiap 2 hari sekali...


...Atau 3 hari sekali...


...Stay tuned trs ya...


...Jangan lupa like, vote, comment, dan share cerita ini^^...


.......


...Wanita penghuni surga (Aamiin^^)...


...Leonita_Wi...


...XOXO🍁🍀❤️...

__ADS_1


__ADS_2