
Samuel hari ini tidak masuk ke kantor, entah kenapa hatinya sedang tidak mood untuk pergi bekerja. Sepanjang hari Samuel duduk terdiam di atas sofa, ia sesekali melirik ke arah Bianca yang tengah menyapu rumah.
Tatapan mata Samuel tertuju pada tangan Bianca yang di balut oleh perban, ada perasaan bersalah di hatinya karena tidak membantu Bianca sama sekali. Tapi ego di dalam diri Samuel lebih tinggi, ia yang biasanya di goda oleh Bianca tidak ingin merendahkan dirinya karena Bianca kini bersikap berbeda kepadanya.
"Aku ingin makan yang pedas-pedas, apa kau bisa membelikan!" Ucap Samuel kepada Bianca.
"Bisa, Tuan ingin makan apa?"
"Baso iga yang ada di depan perumahan, belikan aku 2 porsi dan ini uangnya."
"Baik Tuan." Bianca langsung mengambil uang dua ratus ribu yang di berikan oleh Samuel kepadanya.
Samuel terdiam dengan wajah yang kesal, Bianca pun langsung begitu saja untuk membeli pesanan milik Samuel.
Cukup menunggu lama, akhirnya Bianca kembali pulang dengan membawa plastik berisikan baso yang Samuel inginkan.
"Ini Tuan." Bianca langsung memberikan pesanan Samuel, pria itu terdiam karena biasanya Bianca pasti akan mengambil satu porsi untuk dirinya sendiri.
"Apa kau mau?" tanya Samuel kepada Bianca.
"Jika Tuan memberikannya untuk saya, maka saya akan menerima nya."
Jawaban dari Bianca membuat Samuel terdiam dengan perasaan jengkel dan kesal, "Sebaiknya kau kembali bekerja!" Perintah Samuel.
"Baik Tuan."
Samuel langsung terdiam dengan mata yang melihat kepergian Bianca, "Ada apa dengan wanita itu! Kenapa dia menjadi seperti ini?!"
Bianca kini tengah menyapu rumah, ia sekarang berbeda dari dulu. Biasanya Bianca selalu mengeluh dengan pekerjaan yang di berikan oleh Samuel tapi kini wanita itu sama sekali tidak mengeluh.
Terdengar suara panggilan masuk ke handphone Samuel, tapi matanya menatap tajam dengan nama yang tertera pada layar ponselnya.
"Ada apa?"
__ADS_1
"Sayang, ada apa denganmu? Kau baru saja membentak ku?"
"Untuk apa kau menelpon ku?"
"Ah, aku hanya ingin mengatakan jika kedua orang tua ku sudah menunggu kedatangan mu bersama keluarga besar mu."
"Aku akan datang hanya untuk memastikan jika anak itu adalah anak ku, dan bukan untuk merencanakan pernikahan kita."
"Sayang, sudah berapa kali aku katakan jika anak ini adalah anakmu. Dan aku tidak bisa menunggu lagi, bagaimana tanggapan orang-orang kepada ku! Aku hamil dan aku belum menikah."
"Aku tidak peduli, lagi pula ini semua adalah keinginan mu. Dan aku bahkan tidak pernah merasa pernah menyentuh mu!"
"Sayang, sebaiknya kita bertemu. Aku harus menjelaskan semuanya kepada mu."
"Aku sedang tidak ingin bertemu!"
Samuel langsung mematikan panggilan dari Yurika, amarah di hatinya semakin membara jika mengingat kehamilan Yurika.
"Arg... Sial!" Samuel langsung melemparkan handphone miliknya.
"Arg.. Harusnya aku menyuruhnya untuk menggugurkan kandungannya saja!"
Samuel langsung duduk terdiam dengan tangan yang memijat pelipisnya, masalah yang ia hadapi sangatlah sulit.
Bianca yang berada di ruang tamu mendengar suara ribut-ribut dari lantai atas tepatnya di kamar Samuel.
Dengan rasa penasaran, Bianca berjalan ke lantai dua. Perlahan ia mengintip keadaan Samuel yang tengah duduk dengan ekspresi wajah yang seperti tengah menanggung beban hidup.
Bianca juga melihat bahwa kamar Samuel sekarang sangat berantakan, "Ada apa dengan pria itu."
Dengan menghela nafas panjang, Bianca mengetuk pintu kamar Samuel yang mendapat jawaban dari pria itu untuk langsung masuk.
"Ada apa?" tanya Samuel dengan tatapan mata yang tajam.
__ADS_1
"Maaf Tuan, tadi saya mendengar suara keributan."
"Tidak ada apa-apa, kau boleh pergi."
Suara handphone Samuel kembali terdengar, ia mengerutkan keningnya saat melihat nama adik perempuannya yang sudah lama tidak pernah ia hubungi.
Bahkan saking lamanya mereka tidak melakukan komunikasi, Samuel sudah tidak ingat jika dia memiliki seorang adik.
"Ada apa kau menghubungkan ku?"
"Kak.. Hiks... Hiks.."
"Ada apa dengan mu, Anna?"
"Ku mohon bantu aku, aku takut."
"Apa maksudmu? Selama bertahun-tahun kau tidak pernah menghubungi ku, bahkan kau pergi begitu saja dari rumah untuk menikah dengan pria itu. Kau sekarang datang dan meminta bantuan."
"Kak ku mohon, datang lah ke sini. Bantu aku, aku tidak ingin mati-"
"Mati?! Apa maksudmu, siapa yang akan membunuhmu?"
"Aku di fitnah telah berzina dengan pria lain dan sekarang keluarga Peter telah menetapkan hukuman mati untuk ku, kepala ku akan di penggal!"
"Ada maksudnya, ini sudah zaman modern. Mereka tidak bisa memutuskan hukuman begitu saja untuk mu."
"Ku mohon kak, datanglah ke sini. Bantu ku, aku tidak ingin mati-"
Samuel langsung mematikan panggilan dari adiknya, raut wajahnya langsung berubah serius. Kini pikirannya langsung tertuju pada Peter, pria yang menikahi adiknya tanpa persetujuan dari keluarganya.
Dari dulu Samuel tidak menyukai keluarga Peter yang masih memegang teguh pemikiran kolot mereka.
"Bianca, bereskan barang-barang ku dan pakaian mu. Kita akan pergi sebentar lagi!"
__ADS_1
Samuel langsung bangkit dan menelpon Juna untuk membantunya, ia tidak percaya pemikiran kolot dari suami adiknya akan membuat adiknya terjerumus pada hukuman yang tidak di dasari oleh hukum pemerintah.