My Hot Maid

My Hot Maid
Surat wasiat Samuel


__ADS_3

Bianca menangis dan panik, ia menjelaskan tentang keadaan Samuel tapi Bianca tidak mengetahui kenapa Samuel bisa seperti ini.


"Hiks.. Hiks... Hiks.. Dok, apa Tuan ku memiliki penyakit serius? Seperti kanker?" tanya Bianca.


"Tidak, tapi sepertinya mentalnya sedikit terganggu. Apa selama beberapa hari ini dia mengalami stress yang berat?"


"Tidak, Tuan selalu ceria dan tidak memiliki masalah."


"Emm.. Aneh sekali, tapi kau tenang saja majikan mu akan baik-baik saja."


"Terimakasih, Dokter."


Tak beberapa lama Samuel mulai membuka matanya, ia melihat Dokter di sampingnya dan juga Bianca.


"Bianca!" Panggil Samuel dengan nada lemas, ia kembali menutup matanya.


"Ada apa Tuan?" jawab Bianca dengan mata yang berkaca-kaca.


"Panggil pengacara ku."


"Untuk apa anda memanggil pengacara?" tanya Bianca yang duduk di samping Samuel.


"Sepertinya aku sudah merasakan ajal ku."


"Tuan, apa yang kau bicarakan?" Bianca langsung menangis saat mendengar perkataan Samuel.


Perlahan Samuel membuka matanya, "Aku ingin menulis surat wasiat sebelum kematian ku."

__ADS_1


Tangisan Bianca terdengar kencang, ia langsung memeluk Samuel yang tengah terbaring. Samuel terdiam, hatinya tersentuh saat melihat betapa sedihnya Bianca ketika mendengar hal itu.


"Tuan..." Panggil Bianca dengan air mata yang bercucuran.


"Iya Bianca?" Mata Samuel menatap Bianca hangat, entah kenapa hatinya terasa senang ketika melihat wanita di depannya tengah menangisi dirinya.


"Jika kau ingin menulis surat wasiat, jangan lupa tulis juga nama ku di dalamnya dan berikan aku 80% kekayaan mu."


Jeng....


Seketika senyuman hangat di wajah Samuel langsung pudar, tatapan mata yang tajam dan aura kemarahan terpancar jelas dari wajahnya.


"Bianca, jadi itu yang kau pikirkan!" Maki Samuel yang langsung bangkit dan mentoyor kepada Bianca dengan keras hingga wanita itu menjerit kesakitan.


"Aw.. Sakit, Tuan kau kenapa?"


Bianca hanya memonyongkan bibirnya, ia merasa tidak memiliki salah sama sekali tapi entah kenapa Samuel tiba-tiba marah dan mengusirnya.


"Jadi karena kau sudah bangun, kau bisa jelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepada mu."


Samuel langsung melihat Dokter Damian yang merupakan temannya saat masa kuliah, "Ceritanya saat panjang, Damian."


"Ceritakan lah, mungkin aku bisa membantumu."


Samuel langsung menceritakan semuanya kepada Damian, ia menceritakan tentang perasaan yang terus tidak menentu saat melihat Bianca terutama bagian tubuhnya yang menonjol.


Setiap melihatnya membuat Samuel seperti berada di sebuah kegembiraan yang tiada dua, tapi ia harus menahan semuanya yang mengakibatkan dirinya pingsan dengan keadaan mimisan.

__ADS_1


Tapi di sisi lain, Samuel juga merasakan perasaan merinding ketika berduaan dengan Bianca terutama saat wanita itu menggodanya dan memanggil namanya, suaranya sangat menakutkan.


Damian yang mendengar hal itu mulai kembali bertanya, apakah Samuel pernah melakukan hal seperti itu kepada Bianca. Di saat itu pula Samuel langsung menceritakan saat dirinya mabuk, ia sangat malu mengakui jika dirinya melakukan hal itu kepada Bianca. Dan Samuel tidak bisa mengakui jika dirinya telah melakukan hal itu kepada Bianca karena selama ini ia selalu menghina wanita itu.


"Tapi apa sebelumnya kau pernah memegang oppai milik wanita itu? Maksud ku sebelum kejadian kau mabuk."


"Pernah, tapi saat itu entah kenapa aku tidak merasakan hal seperti ini."


"Emm.. Mungkin itu semua karena kau menahan emosi di hatimu. Jadi semua ini terjadi, kau malah seperti seorang pria polos yang baru memegang oppai. Lagi pula apa istimewanya gadis itu? Dia bahkan menggunakan pakaian yang 2 kali lebih besar dari ukuran tubuhnya dan kau malah sampai mimisan karena hal seperti itu."


Samuel menghela nafas saat mendengar Damian mengejeknya. "Kau bisa mengatakan hal itu karena belum pernah melihat apa yang ada di dalamnya, bagian dalamnya sangat indah dan wangi. Ketika hidung ku berada di dekat bagian itu, aku seperti mencium bau surga yang membuat ku merasa senang dan memilih kembali pingsan."


"Kau terlalu berlebihan sekali, semua oppai setiap wanita itu sama dan tidak ada yang istimewa. Aku sudah sering menjelajahi setiap bagian tubuh wanita dari berbagai wanita yang berbeda, tapi tidak ada yang istimewa semuanya sama."


"Tidak, oppai Bianca sangatlah istimewa dan berbeda. Ketika aku menyentuhnya, aku bisa merasakan sensasi yang berbeda. Lembut, kenyal, halus, wangi dan bagi ku oppai nya memiliki tekstur yang sangat-sangat berbeda. Saat aku meremasnya aku merasakan tekstur yang sangat sempurna dan hal itu tidak bisa ku jelaskan dengan kata-kata."


Damian tertawa saat mendengar perkataan dari Samuel, baginya apa yang di katakan oleh Samuel hanyalah omong kosong. Memang Damian mengakui jika wanita itu cantik tapi Damian sama sekali tidak melihat oppai besar yang di katakan oleh Samuel, lalu Damian langsung menyuruh Samuel untuk beristirahat.


Saat keluar dari ruang rawat Samuel, Damian sudah di hadang oleh Bianca. "Dokter, bagaimana keadaan Tuan ku? Apa dia baik-baik saja? Lalu tadi dia kenapa tiba-tiba marah?"


"Keadaannya sudah membaik dan mungkin besok dia sudah bisa pulang, sebaiknya kau juga harus pulang."


"Terimakasih Dokter, tapi aku akan tetap di sini untuk menjaganya."


"Baiklah."


Kini Bianca duduk di ruang tunggu, tapi ia sangat penasaran dengan kondisi Samuel. Perlahan Bianca membuka pintu kamar rawat Samuel, ia melihat majikannya tengah terbaring di atas ranjang dengan mata yang menutup.

__ADS_1


Bianca masih tidak mengerti kenapa tiba-tiba Samuel mengusirnya keluar dari kamar, memangnya apa salahnya hingga ia harus di usir dan di maki seperti itu.


__ADS_2