
Yurika berjalan dengan langkah cepat, kemarahan terpancar jelas di wajahnya. Tangan mulusnya mulai membanting-bantingkan barang-barang yang ada di depannya, sudah satu Minggu ia tidak mendapatkan kabar dari Ilona bahkan nomor WhatsApp nya telah di blokir oleh wanita tua itu.
"Kurang aja, dia telah ingkar janji. Bagaimana ini?" Yurika mulai bulak-balik ke sana ke sini, ia masih memikirkan Ilona yang kini mulai menjauhi nya.
"Jika seperti ini terus aku tidak bisa memanfaatkan wanita tua itu, lalu bagaimana dengan hidup ku."
Yurika yang kesal kembali mengecek handphone nya, ia berusaha untuk menghubungi Ilona tapi nomor wanita itu tidak bisa di hubungi.
Teriakan terdengar dari mulut Yurika, ia sangat marah dan frustasi dengan keadaannya saat ini. Lalu kaki Yurika mulai berjalan ke arah dapur, ia membuka lemari dan kulkas tapi tidak ada satupun makanan yang tersisa.
"Sial, bagaimana ini. Jika aku tidak bisa memanfaatkan wanita tua itu lagi, aku tidak akan bisa mendapatkan uang darinya lagi. Dan aku akan makan apa?"
Yurika mulai panik, ia kini tidak memiliki uang sama sekali. Bahan makanan nya pun sudah habis, sementara ia tidak memiliki sepeserpun tabungan karena semua uang nya sudah habis untuk membeli pakaian branded.
Terdengar suara ketukan di pintu rumah Yurika, wanita itu mulai menyipitkan matanya. Ia berjalan perlahan, tapi wanita itu sama sekali tidak ada niatan untuk membuka pintu.
"Yurika, keluar! Cepat bayar uang sewa nya!"
Terdengar suara teriakan dari seorang wanita yang terus menggedor-gedor pintu rumah Yurika, wanita itu hanya bisa duduk di pojok ruangan dan tidak berani untuk keluar dari rumahnya.
"Sial, kenapa sih harus nagih uang sewa dengan cara seperti itu." Gumam Yurika dengan alis yang mengkerut.
Tapi bukannya pergi wanita pemilik kontrakan terus menggedor-gedor pintu rumah Yurika dengan keras, kesal dengan sikap pemilik kontrakan yang seperti itu. Yurika langsung bangkit dan membuka pintu rumahnya.
__ADS_1
"Bisa gak sih Bu, tidak usah gedor-gedor pintu dengan keras! Ganggu tahu gak!" Maki Yurika yang kesal.
"Heh, cepat bayar uang sewa nya!" Anita langsung mengulurkan tangannya dan meminta uang sewa kepada Yurika.
"Besok aku bayar!" Jawab Yurika.
"Besok lagi besok lagi! Gak ada kata besok, kau harus bayar sekarang."
"ATM ku lagi bermasalah jadi tidak bisa ambil yang."
"Alasan, bilang saja kalau tidak punya uang."
"Bu, saya itu punya uang. Tapi jika ATM saya lagi ada masalah bagaimana?"
"Iya iya, bawel banget sih!" Yurika pun langsung menutup pintu rumahnya dengan kencang, ia sangat kesal dengan sikap Anita yang menagih uang sewa dengan cara seperti itu.
"Memangnya dia kira, dirinya siapa? Hanya seorang pemilik kontrakan saja bangga." Maki Yurika yang langsung duduk di tepi ranjang, ia mengambil handphone miliknya.
Kini pikirannya terus memikirkan bagaimana caranya ia bisa mendapatkan uang dengan cara singkat.
Lalu Yurika teringat dengan pria tua teman dari Moris yang kadang sering melihat ke arahnya, tanpa pikir panjang Yurika langsung menghubungi pria tua itu dan untungnya dia masih memiliki nomor pria itu.
Yurika berada di sebuah restoran, langkahnya mulai berjalan dengan anggun. Ia di tuntun menuju sebuah ruangan VIP yang tertutup dari tempat ramai.
__ADS_1
Saat Yurika masuk, ia sudah melihat seorang pria tua dengan perut buncit tengah duduk dengan senyuman mesum saat melihat dirinya datang.
"Yurika, aku tidak menyangka jika kau menghubungi ku duluan." Sambut pria itu dengan mata yang melihat Yurika dari atas sampai bawah.
"Om Gani, terimakasih sudah mau bertemu dengan ku." Yurika memasang wajah sedih, ia pun duduk di samping pria tua itu.
"Ada apa Yurika, coba cerita kepada ku." Gani langsung memegang pundak Yurika dan membiarkan wanita itu untuk bersandar di dadanya.
Dengan nada lembut dan lemah, Yurika mulai menceritakan semua masalahnya terlebih lagi tentang dirinya yang telah di usir dari keluarga Boenavista.
"Dan kini aku sudah tidak memiliki siapapun, aku sangat sedih. Om.." Yurika mulai menangis.
"Sudah jangan menangis, kau tidak sendiri. Masih ada Om di sini, jadi apa yang kau inginkan. Om akan lakukan untuk mu Yurika," pria itu tersenyum dengan mata yang tidak bisa menyembunyikan ketertarikan nya pada Yurika.
"Om sangat baik." Puji Yurika dengan tangan yang memeluk Gani.
"Tentu, asal kau menjadi gadis penurut. Om pasti akan mengabulkan apa yang kau inginkan," bisik Gani dengan senyuman.
Yurika tersenyum, ia tanpa ragu mencium pria tua itu dan duduk di pahanya.
"Apapun yang Om inginkan, akan aku lakukan."
"Kau memang gadis yang cantik, Yurika."
__ADS_1